Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku

Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku
Penagih hutang.


__ADS_3

pagi hari itu nampak cerah, feri pun membuka jendela dan pintu rumah untuk menikmati suasana yang cerah tersebut, aktifitas di luar rumah mulai semakin ramai.


"bang.. jadi kita mencari alamat yang kemaren?" tanya Surya sambil mengusap matanya yang masih sayu.


"iya jadi.. tapi sebelum itu kita ke toko bangunan sumber cahaya terlebih dahulu!" sahut feri santai.


"lebih baik kamu cepat mandi, kita cari sarapan di luar saja!" pinta feri tegas.


"oke bang..!" jawab Surya bersemangat.


tak berapa lama Surya sudah keluar dari kamar nya, feri sedikit memperhatikan pakaian Surya yang bisa di bilang lusuh dan kusam.


"nanti ku belikan kau pakaian yang layak Sur!" gumam feri dalam hati.


"berangkat sekarang ya bang?" ucap Surya dengan tegas, membuat feri tersadar dari lamunannya.


"kemaren saat menjemput ku kau nggak bawa gitar, dimana gitar mu?" tanya feri dengan penasaran dan alis mata yang berkerut.


"ooh gitar, kemaren setelah abang menelpon minta jemput, ku titipkan pada temanku, biar nggak ribet!" sahut Surya pasti.


"mmm..!" gumam feri sambil mengangguk mengerti.


kemudian mereka pun keluar dan langsung mengendarai motor yang di kemudikan Surya.


"mau sarapan dimana bang?" tanya Surya tegas.


"kamu saja yang pilih, aku ngikut aja!" sahut feri santai.


"kita sarapan nasi uduk aja ya bang!" pinta Surya dengan tersenyum.


"terserah kamu saja!" jawab feri dengan singkat dan pasti.


setelah berhenti di sebuah warung makan yang cukup sederhana, mereka pun masuk dan memesan makanan, 2 orang yang melayani pembeli nampak sibuk karena cukup banyak orang yang mengantri, setelah menunggu sesaat pesanan mereka pun datang, mereka pun menikmati nya dengan lahap.


setelah membayar nya feri pun mendatangi Surya yang telah menunggu di atas motor, kemudian mereka segera pergi.

__ADS_1


setelah mendekati toko sumber cahaya, seperti biasanya sebuah mobil CRV selalu terparkir di depan toko yang sudah buka, feri pun melangkah menuju ke dalam toko.


"waah.. feri, hampir pangling aku, tambah ganteng aja dengan penampilan seperti ini!" ucap Ali yang tersenyum kagum.


"feri.. baru beberapa hari nggak ketemu sudah berubah tambah keren!" puji Widya yang melihat feri.


feri hanya tersenyum menanggapi pernyataan teman-teman nya tersebut.


"Cang Ahlun ada di ruangan ya?" tanya feri serius.


"ada.. lagi bersama Cang Juki di dalam!" sahut Widya dengan pasti.


"aku mau kesana dulu, ada yang mau ku bicarakan!" ucap feri seraya berjalan ke arah ruangan Cang Ahlun.


ketika sudah mendekati ruangan Cang Ahlun.


"feri.. kamu sudah datang ya?" tanya Lia dengan bersemangat.


"kemaren sore aku sampai, aku mau bicara sama Cang Ahlun dulu ya!" pinta feri sambil tersenyum tipis.


"tok..tok.. permisi Cang!" ucap feri setelah mengetuk pintu.


"oh feri.. masuk fer, duduk, kapan kamu datang?" tanya Cang Ahlun dengan pasti.


"terima kasih Cang, kemaren sore saya sampai!" sahut feri dengan sopan sambil duduk di kursi depan meja kerja Cang Ahlun.


"begini Cang.. sebelum nya saya minta maaf kalau saya lancang atau kurang sopan, rencananya saya akan mengundurkan diri dari bekerja disini!" ucap feri dengan sopan.


Cang Ahlun menarik napas dalam-dalam sesaat mendengar ucapan feri.


"apa ada masalah saat kau bekerja disini!" tanya Cang Ahlun sedikit sinis.


"tidak Cang, sama sekali tidak!" sahut feri tegas.


"terus apa alasanmu?" tanya Cang Ahlun tegas.

__ADS_1


"pertama tujuan saya ke Jakarta ini untuk mencari asal usul keluarga saya Cang, dan kebetulan saya sedikit sudah mengetahui siapa kedua orang tua saya, menurut cerita yang saya dengar, ayah saya sudah meninggal sekitar 21 tahun yang lalu, sedangkan untuk mengetahui keberadaan ibu saya, saya harus mencari seseorang yang terakhir kali bertemu dengan ibu saya, dan alasan yang kedua saya di sarankan master Law untuk mengikuti seleksi menjadi pengawal khusus yang akan di laksanakan beberapa hari lagi.


jadi dengan berat hati saya minta izin untuk berhenti bekerja di toko ini, karena dulu saya di izinkan Cang Ahlun untuk bekerja, jadi saya juga mengharapkan izin Cang Ahlun untuk saya berhenti di toko ini!" ucap feri dengan sopan menjelaskan semua maksud nya.


"kalau memang itu rencana mu, dan juga yang terbaik menurut mu, aku akan selalu mendukung rencana mu, semoga nanti nya kau menjadi orang yang sukses feri!" sahut Cang Ahlun dengan tersenyum ramah.


"terima kasih Cang atas do'a dan dukungan dari encang!" ucap feri tersenyum sambil menjabat dan mencium tangan kanan Cang Ahlun.


"kalau begitu saya permisi untuk bertemu teman-teman dan berpamitan ya Cang!" pinta feri bersemangat, dan ketika feri akan melangkah.


"braak.. Cang Ahlun..!" suara pintu di buka dengan kasar, serta teriakan seseorang dengan membentak.


feri menatap tajam pada seorang lelaki dengan tubuh besar dan wajah yang sangar berewokan, kira-kira berumur 40 tahunan yang masuk lalu mendekati Cang Ahlun dengan mata melotot.


"hei Cang Ahlun, ini sudah telat 1 Minggu dari janji mu dahulu, kalau hari ini kau tidak bisa bayar, maka toko ini akan kami sita!" lelaki tadi berkata dengan kasar sambil menggebrak meja.


"tolong kau kasih tau tuan Bahar, beri aku waktu 5 hari lagi dan semua nya pasti ku bayar, kalau sekarang uangnya masih kurang!" pinta Cang Ahlun dengan memohon dan wajah yang pucat ketakutan.


"aku kesini untuk mengambil uang, bukan janji!" sahut lelaki tadi dengan kasar sambil menggebrak meja lagi.


melihat situasi yang mulai memanas feri pun mendekati Cang Ahlun.


"ada apa ini Cang?, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya feri dengan penasaran.


melihat feri mendekati Cang Ahlun.


"hei bocah ingusan.. lebih baik kau keluar, tidak usah ikut campur!" bentak lelaki tadi pada feri.


"saya tidak akan ikut campur, kalau anda bisa bicara dengan sopan pada orang yang lebih tua!" sahut feri dengan tegas.


"namaku Basit penagih hutang sekaligus tangan kanannya tuan Bahar, siapa pun yang tidak bisa bayar hutang maka akan berhadapan dengan ku!" ucap lelaki bernama Basit tadi dengan sombong nya.


"memang nya berapa hutang Cang Ahlun pada tuan anda?" tanya feri dengan tatapan mata yang tajam.


Basit tersenyum dengan sinis, dan tatapan yang meremehkan pada feri.

__ADS_1


"Cang Ahlun telah berhutang 500 juta pada tuan Bahar, dan ia setuju untuk mengembalikannya dengan bunga 10 persen dalam waktu 1 bulan, dan sekarang ia sudah telat 1 minggu, dan sebagai jaminannya toko ini akan menjadi milik tuan Bahar apabila Cang Ahlun tidak bisa membayar nya!" Basit berkata dengan mata melotot dan kasar.


__ADS_2