
Cang Ahlun mengambil tisu di atas meja untuk menyeka keringat yang tiba-tiba banyak keluar di dahinya, karena mendengar jawaban feri yang akan melibatkan nya dalam masalah besar.
"kau anak kemarin sore sudah mau menggurui Tuan Rangga? haaah!" lelaki tadi menunjuk pada feri dengan mata melotot karena tersinggung dengan jawaban feri.
"Herman..! duduk lah dulu!" seru Tuan Rangga pada lelaki di sebelah nya.
setelah lelaki yang di panggil Herman tadi duduk, Tuan Rangga berdiri.
"ku akui keberanian mu, karena selama ini belum pernah ada yang berani menolak keinginan ku, apalagi berani berkata kurang ajar seperti tadi!" Tuan Rangga berkata dengan gigi menggeritik serta menyipitkan matanya menahan marah.
feri hanya diam dan tersenyum dengan tenang nya menatap pada Tuan Rangga yang berdiri dekat di hadapan nya.
"aku adalah tipe orang yang tidak suka dengan penolakan, dan jangan harap kau bisa lagi bekerja pada orang lain, termasuk disini!" ancaman dengan nada serius.
melihat kondisi semakin memanas, Cang Juki berdiri dan berjalan mendekati feri dan Tuan Rangga.
"ee..Tuan Rangga mohon jangan di tanggapi serius perkataan feri tadi, dia masih anak-anak jadi belum bisa menyampaikan pendapat nya dengan baik" pinta Cang Juki dengan penuh hormat.
"Cang Juki tidak usah membela saya, karena saya tetap dengan pendirian saya, dan juga tetap menolak tawaran Tuan Rangga, karena ini masalah pribadi, jadi saya tidak akan membawa-bawa toko ini dalam masalah, bagi saya berani berbuat, maka saya juga berani bertanggung jawab" feri berkata mencoba menenangkan Cang Juki.
semua yang mendengar ucapan feri jadi tambah terkejut atas keberanian nya.
Cang Juki tertunduk lesu tak berdaya lagi dengan usaha nya tadi yang tak membuahkan hasil.
Herman yang tadinya duduk tiba-tiba berdiri, mendekati Tuan Rangga dan berbisik, Tuan Rangga nampak mengangguk-anggukkan kepala mendengar bisikan Herman.
__ADS_1
"baiklah, karena kau tetap menolak tawaran ku, jadi jangan lagi kau salahkan aku, karena kau harus menanggung konsekuensi nya!" ancam Tuan Rangga pada feri.
"tadi sudah ku katakan, kalau kau menolak bekerja padaku, maka jangan harap lagi bisa bekerja pada orang lain, bersiaplah untuk cacat seumur hidupmu!" mendengar ucapan ancaman Tuan Rangga dengan penuh penekanan.
membuat suasana semakin tegang, para karyawan menjadi merinding takut dan tidak bisa membayangkan kalau feri nantinya akan di buat cacat seumur hidup, Cang Ahlun dan Cang Juki ternganga mendengar nya.
puluhan orang anak buah Tuan Rangga nampak bersiap-siap, hanya menunggu perintah dari Tuan mereka.
tiba-tiba hal yang tidak mereka sangka terdengar.
"Disini terlalu sempit untuk berkelahi, bagaimana kalo di gudang belakang!" feri berkata masih dengan tenang nya.
Cang Juki membalikkan bola mata mendengar ajakan feri yang akan melawan puluhan orang tersebut di gudang.
sementara mereka berpikir bahwa feri tidak akan menang melawan puluhan orang yang nampak terlatih tersebut, dan menganggap feri mencari mati.
Cang Ahlun dan Cang Juki berlari kecil mengikuti feri.
"lho serius mau ngelawan orang sebanyak itu fer?" tanya Cang Ahlun dengan tatapan tak percaya.
feri hanya mengangguk dan terus berjalan.
kurang lebih 40 orang sudah mengepung feri yang masih terlihat santai.
di bagian kanan gudang nampak Cang Ahlun, Cang Juki dan karyawan toko berkumpul menyaksikan kejadian yang akan di mulai tersebut.
__ADS_1
sementara di sebelah kiri dekat pintu gudang berkumpul Tuan Rangga, Herman dan 4 orang yang lain seperti pengawal pribadi Tuan Rangga.
ketika semuanya bersiap.
"Tuan Rangga sebelum nya saya punya beberapa permintaan yang harus Tuan tepati!" feri berkata dengan lantang.
"apa itu? katakan, sebelum tangan dan kakimu remuk!" jawab Tuan Rangga dengan tidak sabar.
"pertama: apabila ada barang-barang yang rusak akibat pertarungan ini, maka Tuan harus menggantinya!,
kedua: apabila aku yang menang, Tuan tidak boleh mengganggu ku dan semua teman-teman ku!,
ketiga: apabila anak-anak buah mu cacat karena pertarungan ini, maka kau harus membayar kompensasi pada tiap orang senilai 100 juta rupiah!,
bagaimana Tuan apakah anda setuju?" feri menyampaikan semua syarat yang di mintanya.
"aku setuju,,, dan juga kau harus ingat, bahwa anak buah ku bukan hanya mereka yang sudah mengepung mu, masih ada 5 orang ini yang harus kau kalah kan!" jawab Tuan Rangga dengan kepercayaan diri yang tinggi.
karena merasa hal yang mustahil feri sanggup menang melawan puluhan anak-anak buah nya yang semuanya terlatih.
keyakinan Tuan Rangga sangat wajar karena dia telah menggandeng salah satu perguruan ternama sebagai pengawal-pengawalnya, dan berani membayar mahal untuk perguruan bela diri Elang hitam yang di pimpin oleh master Herman.
sedikit informasi, bahwa perguruan bela diri Elang hitam adalah perguruan yang memenangkan pertandingan bela diri beregu se Indonesia, dan 4 orang yang bersama Tuan Rangga dan master Herman adalah para pendekar yang memenangkan pertandingan tersebut.
namun reputasi perguruan mereka ternoda, karena menerima bayaran dari orang-orang kaya untuk melakukan kekerasan bahkan kejahatan, untuk menghancurkan saingan bisnis yang diinginkan mereka, bisa di katakan mereka semua adalah pasukan bayaran.
__ADS_1
bahkan perguruan ini tidak hanya beroperasi di Jakarta, tapi juga di kota-kota besar lainnya.