Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku

Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku
Nyonya Halimah terkejut.


__ADS_3

malam itu terasa salah satu malam yang sangat panjang bagi feri, karena reaksi pengobatan matanya tersebut membuat ia tidak bisa tidur, rasa perih, gatal dan panas di rasakan mata nya silih berganti, belum lagi ia harus mengganti daun sirih yang kering karena efek penyerapan racun di matanya, malam itu feri mengganti daun sirih tersebut sebanyak 3 kali.


dan saat subuh datang rasa sakit yang di rasakan mata nya sudah tidak terasa lagi, dan saat mega-mega pagi baru terlihat, feri mulai berjalan keluar kamar seperti biasa lagi, karena penglihatan nya sudah kembali normal.


ia pun melangkah keluar rumah untuk menikmati udara pagi yang segar.


"oh tuan muda.. bagaimana keadaan anda?sudah baikan?" tanya seorang penjaga dengan ramah.


"iya sudah baikan.. penglihatan saya juga sudah pulih kembali, anda Yadi kan?" sahut feri dan balik bertanya dengan sopan.


"gimana tuan muda bisa kenal saya?" tanya Yadi dengan tatapan bingung.


"saya ingat suara anda sewaktu memberikan daun sirih dan kapur malam tadi!" jawab feri dengan tersenyum kecil.


Yadi pun memahami dan tersenyum.


"mulai sekarang panggil saja saya feri! jangan ada tuan mudanya!" pinta feri dengan sopan.


"ii..iya mas feri!" sahut Yadi dengan mengangguk.


"ada tempat untuk sedikit meregangkan otot-otot nggak? tempat latihan?" tanya feri dengan serius.


"oo..ada mas di belakang rumah, ada taman kecil yang cocok untuk latihan, dan biasanya master Hardi dan anak-anak nya latihan disana!" jawab Yadi dengan pasti.


"kalau begitu saya permisi ke belakang dulu ya, terima kasih!" sahut feri dengan semangat.


"iya mas.. silakan!" jawab Yadi singkat.


feri pun melangkah menuju belakang rumah yang di tunjukkan Yadi, sedangkan di dalam rumah.


"tok.. tok.. feri! master Hardi memanggil setelah mengetuk pintu kamar.


karena tidak mendengar jawaban, ia pun membuka kamar tamu tersebut.


"kemana dia?" gumam master Hardi dalam hati.


master Hardi memperhatikan meja kecil di samping tempat tidur sesaat yang terdapat kain sapu tangan yang malam tadi di gunakan feri untuk mengikat daun sirih di mata nya, dan 6 lembar lipatan daun sirih yang telah kering.


"apakah lukanya sudah sembuh?" lagi-lagi master Hardi bertanya dalam hati.

__ADS_1


kemudian ia pun melangkah keluar dari kamar dan menuju depan rumah.


"Yadi, apa kau melihat feri?" tanya master Hardi serius.


"oh dia lagi latihan di taman belakang rumah master!" jawab Yadi dengan pasti.


tanpa menjawab master Hardi segera berjalan menuju belakang rumah, tak lama kemudian ia melihat feri sedang melakukan meditasi di tengah taman rumput yang masih terlihat basah karena embun pagi, ia hanya tersenyum kecil melihat feri yang masih fokus meditasi.


feri yang menyadari kedatangan seseorang, segera membuka matanya, dan perlahan berdiri.


"selamat pagi master!" sapa feri dengan penuh hormat.


"pagi juga, bagaimana keadaan mata mu?" tanya master Hardi dengan serius.


"sudah 99 persen sembuh master!" sahut feri pasti.


"yang 1 persennya kenapa?" tanya master Hardi tegas.


"masih ada rasa panas sedikit, tapi itu hanya sisa dari efek penyerapan racun nya saja!" ucap feri dengan yakin.


"bagus lah kalau begitu!" sahut master Hardi dengan ekspresi senang.


tiba-tiba terdengar pintu belakang rumah terbuka.


feri sedikit menunduk hormat, sedang kan master Hardi hanya tersenyum kecil melihat kehadiran istrinya.


"maaf nyonya saya jadi merepotkan anda disini, perkenalkan saya feri nyonya!" sapa feri dengan sopan.


"aku Halimah istri mas Hardi, sama sekali nggak merepotkan kok!" sahut istri master Hardi dengan ramah.


"mamah ingat nggak, dengan anak tuan Fahri Handoyo? kalau tidak salah hanya beda 4 bulan dengan kelahiran Hadri!" tanya master Hardi dengan serius.


"iya.. mamah ingat, emang nya kenapa yah?"


sahut nyonya Halimah penasaran.


"dia inilah feri Handoyo, anak dari tuan Fahri Handoyo, yang dulu hilang akibat penyerangan 21 tahun yang lalu!" master Hardi berkata dengan yakin dan tegas.


nyonya Halimah terkejut mendengar nya, dengan tatapan belum percaya ia melangkah pelan mendekati feri.

__ADS_1


"maafkan bibi tuan muda, bibi tidak mengenali tuan muda!" nyonya Halimah berkata dengan gemetar, dan dengan kedua tangan nya mendekap wajah feri serta meneteskan air mata.


mata feri sedikit berkaca-kaca karena terharu, kemudian ia meraih kedua tangan nyonya Halimah, dan mencium tangan kanannya dengan lembut.


nyonya Halimah memeluk feri dengan erat, dan menyembunyikan wajahnya di dada feri, dengan raungan tangis yang menjadi-jadi.


feri pun membalas pelukan tersebut dengan air mata yang berurai.


setelah beberapa saat, nyonya Halimah melepaskan pelukannya.


"tuan muda kemana saja?" ucap nyonya Halimah lembut dengan suara sesenggukan.


"nanti saya ceritakan nyonya!" sahut feri pelan, sambil menyeka air mata nyonya Halimah dengan penuh kehangatan.


"panggil saja saya bibi tuan muda!" pinta nyonya Halimah dengan lemah lembut.


"iya.. tapi bibi juga jangan memanggil saya tuan muda lagi, panggil saja feri!" sahut feri dengan tersenyum kecil.


nyonya Halimah hanya tersenyum dan mengangguk setuju, dan meraih wajah feri yang lebih tinggi dari nya, kemudian mengecup kening feri dengan lembut.


"kok ayah nggak cerita malam tadi?" ucap nyonya Halimah sedikit cemberut, sambil mengarahkan pandangan nya pada master Hardi.


"kalau malam tadi langsung ku ceritakan, takut nya malah mengganggu istirahat nya feri yang cedera malam tadi,hi..hi..!" sahut master Hardi dengan ekspresi sedikit mengejek.


"mmm.. benar juga ya.. ya sudah, biar ku siapkan sarapan dulu ya!" gumam nyonya Halimah sambil mengangguk seraya berjalan masuk ke rumah.


master Hardi dan feri hanya tersenyum melihat kepergian nyonya Halimah.


"mast.." ucapan feri terhenti melihat master Hardi mengangkat tangan kanannyanya tanda menyela.


"kau memanggil istriku bibi, jadi mulai sekarang kau panggil saja aku paman!" pinta master Hardi dengan tegas.


"ii..iya paman, saya mengerti!" jawab feri tersenyum.


"tadi paman bilang, aku hanya beda 4 bulan dengan Hadri, apakah dia anak paman? dan dimana dia?" tanya feri penasaran.


"iya, Hadri anak sulung ku, sekarang dia masih kuliah di Inggris kira-kira 1 tahun lagi selesai!" jawab master Hardi.


"kalau Hadri anak sulung, berarti dia pasti mempunyai adik kan?, anak paman ada berapa?" tanya feri dengan serius.

__ADS_1


"anak ku ada 3, Hadri yang pertama di Inggris, yang nomor 2 Hidayat sekarang SMU kelas 2 di malang tempat ibu mertua ku, dan yang nomor 3 Haniyah masih kelas 3 SMP, malam tadi dia sudah ketiduran karena kecapean baru pulang dari kemah Pramuka nya.


feri mengangguk tanda mengerti.


__ADS_2