
Hari mulai senja, Feri pun duduk beristirahat sambil memikirkan kemana langkah selanjutnya, ia duduk di simpang empat taman kota.
terlihat olehnya beberapa orang yang sibuk di lampu merah, ada yang menawarkan koran, ada penjual minuman dingin, dan juga pengamen jalanan yang menghampiri tiap-tiap mobil yang berhenti di saat lampu merah.
Feri mengambil air mineral dari samping tas ransel nya, dan meminum beberapa teguk untuk sekedar membasahi kerongkongan nya.
tidak jauh dari tempat ia duduk, sayup-sayup terdengar kata-kata bentakan, Feri pun menoleh ke arah suara tersebut, terlihat jelas olehnya di samping sebuah toko elektronik, seorang pemuda seumurannya yang membawa gitar sedang terpojok di dinding oleh tiga orang berpakaian serba hitam yang terlihat sangar mengepung nya, salah satu dari ketiga orang sangar tadi menarik kerah baju pemuda bergitar tersebut.
"cepat setor!" teriak lelaki sangar dengan mata melotot yang menarik kerah baju pemuda bergitar tadi.
"tolong jangan di ambil dulu bang, saya belum makan" jawab pemuda bergitar tersebut dengan tangan di tangkupkan tanda menghiba.
Feri pun berdiri melihat kejadian yang ada di dekatnya, dengan langkah yang di percepat ia menghampiri nya.
"jangan banyak alasan!" bentak lelaki sangar yang di sebelah kanan, dengan tangan yang di kepal di samping kepala bersiap melayangkan tinjunya.
baru saja akan mengarah kan tinjunya.
"aaargh... aaargh..!"
pekikan panjang seperti kesakitan.
Dua orang temannya menoleh ke kanan secara bersamaan karena bingung mendengar teman mereka meringis.
"ada aa.." belum selesai pertanyaan itu, mereka melihat seorang lelaki gagah dengan tegapnya menangkap pergelangan tangan teman mereka.
Feri pun melepaskan tangan lelaki sangar yang tadi di tangkapnya.
lelaki sangar yang tangannya di tangkap dan di remas Feri tadi Mundur dua langkah, sambil terbungkuk-bungkuk masih merasakan kesakitan akibat cengkeraman feri.
"siapa kau? beraninya ikut campur!" hardik lelaki yang tadi menarik kerah baju pemuda bergitar tadi.
"kau belum tau siapa kami ya?" teman lelaki sangar yang satupun unjuk bicara sambil melotot.
"aku hanya orang yang tidak suka dengan penindasan, apalagi main keroyokan, heeh.. pengecut!" jawab Feri dengan tegas.
mendengar ucapan tegas dari Feri, mereka pun semakin marah merasa di remehkan.
"ciaaaat.. salah seorang dari mereka melayangkan tinjunya ke arah Feri.
__ADS_1
ketika lelaki yang menyerang tadi sudah dekat dengan Feri.
"aaoowww...." tiba-tiba tubuh lelaki tadi terpental kira-kira 5 meter ke arah nya semula dan juga menjatuhkan salah seorang temannya yang terkena imbas tertimpa tubuh yang terpental karena tendangan kilat yang keras di dadanya.
melihat dua orang temannya ambruk ke tanah secara bersamaan, lelaki yang satunya pun marah, dan bersiap untuk menyerang Feri.
tangan lelaki yang masih berdiri ini dengan cepat mengambil sesuatu di bagian pinggang kirinya.
"rupanya kau sudah bosan hidup ya?" sambil mengarahkan sebilah pisau belati dan bersiap melakukan serangan.
melihat lelaki yang berdiri di depan nya menghunuskan sebilah pisau, Feri masih tampak tenang. dan ini membuat lelaki yang akan menyerang jadi sedikit ragu, namun melihat kedua temannya yang masih meringis dan terbaring kesakitan. dia pun memberanikan diri untuk menyerang.
"Hiiiiyaaatt.." dia maju mencoba menikam bagian dada feri.
"huup.." feri mengelak ke samping, dan dengan kecepatan nya mengarahkan pukulan balasan dengan tapak tangan ke bagian dada tanpa di sadari lelaki tadi.
"duuupp.."
"aaarghh.."
lelaki itu pun terlempar ke dekat dua temannya yang lebih dulu terbaring kesakitan di tanah.
dengan sisa-sisa tenaga dan masih merasakan sakit pada bagian tubuh mereka, ketiga orang ini pun berusaha berdiri.
"tunggu pembalasan kami!" ancam salah seorang dari mereka.
"ayoo kita cabut!" mereka pun berdiri sembari masih merasakan sakit pada tubuh mereka dan terhuyung-huyung menjauh dari tempat itu.
"kamu tidak apa-apa?" tanya Feri sambil mendekati pemuda yang membawa gitar.
"tidak apa-apa, terimakasih bang!" jawab nya dengan pandangan penuh kagum pada Feri yang telah menolong nya.
"iya.. sama-sama" sahut Feri singkat.
"oh iya, Abang dari mana? dan mau kemana?" tanya pemuda tadi.
belum sempat Feri menjawab pertanyaan tadi.
"kenalin bang saya Surya!" sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Aku feri.." salam kenal.
"aku dari desa di kabupaten A, untuk tujuan aku juga masih belum tau!" jawab Feri tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"kalau Abang mau, Abang boleh tinggal sementara di gubuk ku!" menawarkan feri alternatif, karena belum mempunyai tujuan yang pasti.
"mm.. boleh, tapi nggak ngerepotin kan?" tanya Feri dengan tatapan serius.
"nggak lah bang, justru aku senang ada Abang yang Sudi nemanin aku, aku kan tinggal sendiri!" Jawab Surya dengan senyuman yang bahagia.
"ayo bang!" Surya mengajak Feri berjalan menuju rumah nya.
"umur Abang berapa sih?" tanya Surya.
"21, kamu?" feri bertanya balik.
"berarti tidak salah saya memanggil Abang, saya masih 19" jawab Surya sambil terkekeh.
setelah berjalan melewati beberapa gang yang sempit, dan berada di daerah kawasan yang bisa di bilang kumuh karena padatnya perumahan penduduk, beberapa warga nampak memperhatikan feri karena belum pernah melihatnya, feri hanya mengangguk dan tersenyum pada warga saat mereka melintasi daerah tersebut,sekitar 25 menit berjalan mereka sampai di depan sebuah rumah kayu yang sederhana, nampak beberapa bagian rumah tersebut sudah agak lapuk dan juga kurang terawat.
"ayo bang kita masuk!" Surya mengajak sambil membuka kunci pintu rumahnya.
karena jarak pintu rumah dengan jalan gang itu kira-kira cuma 2 meter.
feri mengangguk setuju dan mengikuti Surya dari belakang.
setelah di dalam Surya meraba-raba dinding, untuk menyalakan saklar lampu.
"ceklek" tiba-tiba lampu pun menyala menerangi ruangan tersebut.
"maaf ya bang kotor, karena jarang saya bersihkan" Surya tersenyum kecut, sambil mengambil beberapa gelas dan piring yang tergeletak di ruangan itu, dan membawanya ke belakang.
feri hanya tersenyum, melihat wajah malu pada teman pertama nya di kota Jakarta ini.
"mungkin Abang mau mandi dulu? sambil menunggu saya siapkan makan malam, nah.. ini kamar Abang!" sambil Surya membuka pintu kamar yang kedua dari pintu utama, dan menyalakan lampu kamar tersebut.
feri masuk dan meletakkan tas ranselnya di sebelah kasur yang terhampar di lantai, keadaan nya cukup bersih dan rapi, di kamar itu hanya ada kasur dan bantal yang tertata rapi serta sebuah rak dari kayu.
Feri pun membuka baju dan mengambil handuk dalam ranselnya.
__ADS_1