Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku

Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku
Menjadi beban pikiran.


__ADS_3

tidak lama setelah tubuh tuan muda Elson di bawa masuk ke rumah, sebuah mobil BRV berwarna silver datang dan seseorang turun dengan membawa sebuah tas hitam berpakaian putih, seperti seorang dokter langsung masuk ke rumah tuan besar Edwin.


"feri, bagaimana kalau kita mencari tempat untuk ngobrol sambil santai sebentar!" ajak Suroso serius.


"ide bagus paman!" sahut feri bersemangat.


"kamu kesini pakai motor ya fer?" tanya Qohar dengan santai.


"iya paman, kalian di depan aja, nanti kami akan mengikuti!" sahut feri sopan, sambil berjalan ke arah motor nya yang terparkir dekat pos penjaga.


setelah beberapa saat meninggalkan kediaman keluarga Bernard, mobil Innova rebound hitam yang berisi kelima iblis memasuki sebuah cafe yang cukup besar dan ramai walaupun telah hampir tengah malam.


feri dan Surya yang mengendarai motor, masuk mengikuti mobil tersebut.


setelah memasuki cafe dan memilih meja tempat duduk, mereka semua segera memesan makanan dan minuman.


"feri apakah master Nakamura masih ada?" tanya Suroso dengan santai membuka obrolan.


"masih paman, dan suatu saat nanti saya akan kembali untuk mengajak nya kesini, setelah apa yang saya cari berhasil!" sahut feri dengan sopan.


"memang nya apa yang kau cari?" tanya Qohar dengan penasaran.


"saya mencari asal usul dan keluarga saya, dan saya telah mendapatkan sedikit informasi tentang keberadaan keluarga saya, walaupun menurut cerita ayah saya telah meninggal, tapi saya masih mempunyai beberapa kerabat lagi!" sahut feri dengan semangat.


"semoga secepatnya kau bisa menemukan keluarga mu itu!" sahut wagiso menyemangati sambil menepuk pundak feri.


"terima kasih paman!"


obrolan yang penuh keakraban itu terus berlanjut cukup lama.


tak terasa jam sudah menunjukkan jam 2 dini hari, akhirnya mereka pun berpisah di depan cafe tersebut.


"kalau kau perlu bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi kami!" pinta Suroso dengan tegas.


"oke paman, terima kasih!" sahut feri dengan tersenyum ramah.


setelah itu mereka pun pulang ke rumah masing-masing, untuk beristirahat.


pagi hari sekitar jam 8, feri terbangun karena kaget mendengar bunyi suara hp nya, setelah di lihat dengan fokus ternyata master Law yang menelpon.


"halo yah!" sapa feri dengan serak dan pelan.


"kamu dimana?" tanya master Law tegas.


"masih di rumah yah!" jawab feri dengan santai sambil bangun dari baringnya.


"kau tidak kerja lagi ya?" tanya master Law dengan lantang.


"iya yah, saya sudah istirahat dari toko bangunan!" sahut feri dengan suara malas.

__ADS_1


"bagus lah kalau begitu, jadi sekarang kau ku tunggu di rumah, ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan dengan mu!" pinta master Law dengan pasti.


"iya yah, saya mandi dulu sebentar!" sahut feri dengan cepat.


"mmm.. cepatlah!" ucap master Law singkat.


setelah panggilan terputus, feri segera membangun kan Surya agar secepatnya bersiap untuk pergi ke rumah master Law.


dengan tergesa-gesa mereka berdua segera bersiap.


dan tak berapa lama mereka pun segera berangkat.


"Surya.. kita sarapan dulu di tempat biasa!" pinta feri dengan tegas.


mendengar ucapan itu Surya hanya mengangguk sambil tersenyum, karena ia pun merasa lapar.


ketika sedang sarapan di warung makan tersebut.


"Surya.. waaah.. tampilan kamu keren sekarang, sudah nggak ngamen lagi ya?" sapa seorang gadis yang cukup manis, seumuran Surya.


"eeh.. Jaleha, istirahat aja dulu ngamennya, sambil nyari kerjaan yang lebih baik!" sahut Surya salah tingkah dengan senyuman tipis.


"oh iya Leha, kenalin nih bang feri saudara angkat ku!" ucap Surya dengan mengkode feri.


feri hanya tersenyum dan sedikit mengangguk pada Jaleha, gadis itu pun tersenyum menyambut nya.


"Surya, bisa ngomong berdua sebentar?" ajak Jaleha sedikit malu.


"bentar ya bang!" pamit Surya sambil melangkah keluar.


feri tersenyum melihat tingkah Surya yang tidak seperti biasanya.


setelah Surya keluar dan menemui Jaleha.


"mau ngomong apa?" tanya Surya dengan ramah.


Jaleha terlihat sedikit ragu dan malu untuk bicara.


"Leha.. kami lagi terburu-buru, abang ku itu lagi di tunggu seseorang yang penting!" ucap Surya lagi dengan perhatian.


"nanti deh ku wa kamu aja ya, ntar nggak selesai ngomong nya kamu dah mau pergi!" sahut Jaleha sedikit gugup dan kembali lagi ke warung tersebut.


Surya hanya bengong melihat tingkah Jaleha.


Jaleha ketika kembali ke warung sempat berpapasan dengan feri yang baru selesai membayar makan mereka, dan mereka pun saling menyapa dengan tersenyum.


"ini non Leha pesanannya!" ucap ibu penjual sambil menyerahkan plastik.


feri yang mendengar itu tiba-tiba berbalik kembali.

__ADS_1


ketika Jaleha sedang sibuk mengambil uang.


"ini aja bu uangnya!" ucap feri sopan dengan menyerahkan selembar uang 100 ribuan.


Jaleha sedikit terkejut melihat feri yang kembali dan membayarkan belanjaannya.


setelah feri menerima uang kembaliannya.


"terima kasih bang!" ucap Jaleha sedikit kaku.


"seperti nya ada sesuatu yang menjadi beban pikiran kamu ya?" tanya feri serius menatap raut wajah Jaleha yang bingung.


jaleha hanya menunduk terdiam.


"ayo kita bicarakan di luar saja!" ajak feri sopan.


Surya yang mendapati feri keluar dan diiringi Jaleha nampak bingung melihat nya.


dan saat mereka sudah berkumpul.


"maaf kalau abang sedikit ingin tahu masalah yang kamu hadapi, jadi cerita lah, siapa tau kami bisa membantu!" pinta feri sopan.


Jaleha menghela napas nya sejenak.


"maksud saya tadi ingin meminjam uang pada Surya, tapi saya nggak enak karena saya juga paham dengan keadaan nya!" ucap jaleha tergagap dengan tatapan sayu.


"memang nya uang untuk apa?" tanya Surya pelan dengan penasaran.


"untuk nebus obat ibu!" jawab Jaleha singkat.


"emang ibu sakit apa?" tanya Surya serius.


"3 bulan yang lalu ibu kena serangan jantung, dan telah di operasi untuk memasang alat bantu di jantung nya, dan untuk menambah biaya operasi itu ayah juga meminjam uang pada seorang rentenir, karena tidak bisa membayar toko ayah di sita, dan sekarang kami hanya bertahan dengan menjual beberapa barang yang bisa menghasilkan uang!" ucap Jaleha bercerita sambil menangis tersedu-sedu.


Surya sedikit gelisah dan bingung mendengar cerita tersebut.


"begini saja, kamu pulanglah duluan, siapa tau orang tua mu menunggu makanan itu, untuk obat biar kami belikan, kamu bawa resep obatnya kan?" ucap feri dan bertanya dengan pasti.


Jaleha hanya mengangguk dengan tatapan sedih, kemudian menyerahkan resep obat tersebut pada Surya.


"pulanglah..nanti kami menyusul! pinta Surya dengan penuh perhatian.


mendengar itu Jaleha segera menyeka air matanya dan melangkah pergi.


"Sur.. rumah jaleha nggak jauhkan?"


"sur.. surya!" panggil feri nyaring di dekat telinga surya, karena masih melamun menatap kepergian Jaleha.


"ooh.. iya bang?" sahut Surya terkaget dari lamunan.

__ADS_1


"kamu suka ya sama dia?" goda feri dengan tersenyum kecil.


wajah Surya terlihat malu mendengar ucapan feri.


__ADS_2