Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku

Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku
Transfer pembayaran.


__ADS_3

mendengar penjelasan dari Basit feri pun mengerti permasalahan yang ada di hadapan nya.


"memangnya berapa hutang Cang Ahlun?" tanya feri dengan serius.


"kalau ku sebutkan, memangnya kau mampu membayarnya?" tanya Basit dengan ujung bibir yang terangkat sebelah tanda sinis.


"bagaimana kalau aku mampu bayar?" tanya feri dengan tatapan yang dingin.


Basit memperhatikan feri dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"penampilan kamu sih boleh juga, tapi aku belum yakin kamu mampu membayar nya bocah!" sahut Basit dengan tatapan sinis meremehkan.


"hei.. anak buah lintah darat, tugas anda cuma menagih hutang, jadi cepat katakan berapa hutang Cang Ahlun?" tanya feri dengan serius dan sedikit memprovokasi.


"cuih.. dasar bocah ingusan, berani sekali menghinaku, hutang nya 500 juta, di tambah bunga 20 persen jadi total nya 600 juta, kalau kau bisa membayarnya sekarang juga, maka aku akan keluar dari toko ini dengan merangkak, tapi kalau kau tidak mampu membayar maka aku akan mematahkan salah satu kakimu untuk penghinaan mu!" bentak Basit dengan sombong.


"deal.. anda harus tepati janji tadi!" sahut feri dengan bersemangat.


Cang Ahlun yang sejak tadi diam saja, menjadi gelisah dan serba salah.


sedangkan feri mengeluarkan hp nya dari saku celananya.


"berikan nomor rekening boss anda?, dan bersiap lah untuk merangkak keluar!" ucap feri dengan yakin.


dengan sedikit ragu Basit mengambil hp nya dan memperlihatkan sebuah nomor rekening,


"apa bocah ini serius bisa membayar?" gumam Basit dalam hati sambil memperlihatkan nomor rekening di layar hpnya.


setelah beberapa saat memasukkan nomor rekening tersebut.


"nomor rekening BCA ************** atas nama Bahar Smith kan?" tanya feri dengan pasti.


"be benar!" sahut Basit sedikit tergagap, karena gugup melihat feri dengan serius untuk melakukan transfer pembayaran.

__ADS_1


"600 juta.. telah berhasil!" ucap feri tersenyum sinis.


"a apa itu benar?" tanya Basit dengan panik.


"kalau anda tidak percaya, silakan anda telpon tuan Bahar Smith untuk memastikan, saya feri Handoyo yang melakukan transfer pembayaran ke rekening nya, dan tolong aktif kan mode loud speaker nya biar bisa kita bersama!" ucap feri dengan tegas dan bersemangat.


wajah Cang Ahlun berubah bingung karena belum percaya sepenuhnya feri mampu membayar uang sebanyak itu.


sedangkan Basit dengan tangan yang sedikit gemetar mencoba melakukan panggilan telpon, dan ketika panggilan tersebut di terima.


"ha halo boss, apakah a ada transfer pembayaran, 600 juta da dari fe feri Handoyo?" tanya Basit dengan tergagap dan wajah memucat.


"iya ada.. kenapa bicara mu seperti itu? apa kau salah makan ya?" tanya tuan Bahar dengan lantang, yang di dengar mereka semua karena menggunakan mode loud speaker.


tanpa menjawab Basit mematikan panggilan tersebut dengan tatapan kosong.


Cang Ahlun yang mendengar semua itu, terkejut dengan mata terbelalak memandang feri.


Basit terdiam sesaat dengan wajah pucat, dan terlihat sedang memikirkan sesuatu, feri yang melihat gelagat yang aneh dari Basit mulai bersiap-siap akan kemungkinan yang tidak terduga.


"ternyata ka kau pemuda yang ka kaya, tapi jangan harap aku akan merangkak!" ucap Basit yang awalnya ragu-ragu menjadi kasar lagi.


ketika ia berbalik akan melangkah keluar dari ruangan itu, feri menepuk pundaknya tanda mencegah, Basit pun berbalik ke arah feri dengan serangan tinju nya mengarah ke wajah feri.


dengan sigap feri mampu menghindar dan membalas serangan.


"buuk.. aaarghh!" suara tendangan yang keras ke bagian perut Basit dan diiringi erangan kesakitan yang nyaring, membuat Basit tertunduk memegangi perutnya yang terkena tendangan, belum sempat lagi ia bersiap karena rasa sakit akibat tendangan, kaki feri tiba-tiba mengarah ke belakang kakinya dan mendorong tubuhnya yang membuat ia terjungkal ke belakang karena tersandung kaki feri.


saat tubuh nya terbaring di lantai, feri berjongkok meraih kerah baju Basit dengan tatapan tajam dan bersiap untuk melayang kan tinjunya.


"cukup feri.., jangan kau teruskan!" pinta Cang Ahlun dengan penuh harap.


mendengar permintaan Cang Ahlun feri pun melepaskan kerah baju Basit dengan sedikit melempar kesal.

__ADS_1


"sekarang cepat anda minta maaf dan berterima kasih lah pada Cang Ahlun, kalau ia tidak menghentikan ku, anda pasti sudah ku buat babak belur karena berani ingkar janji!" ucap feri dengan tatapan dingin.


basit sedikit bangun dan duduk sejenak, karena masih merasakan sakit di bagian perut nya akibat tendangan keras feri tadi.


kemudian berusaha bangkit untuk berdiri dengan berat dan susah payah.


"Cang Ahlun aku minta maaf atas perkataan dan perbuatan ku yang kasar pada anda tadi, dan juga terima kasih atas belas kasihan anda!" ucap Basit dengan serius serta sedikit membungkuk hormat dan nada yang tulus.


"ia aku maafkan, dan sampai kan juga permintaan maaf ku pada tuan Bahar karena tidak bisa membayar tepat waktu!" ucap Cang Ahlun dengan ramah.


kemudian Basit sedikit bergeser ke arah feri.


"terima kasih sudah melepaskan ku tuan muda, maaf kan karena sudah meremehkan anda!" ucap Basit dengan tatapan menyesal.


"iya paman.. sama-sama!" sahut feri singkat.


"aku permisi.. Cang Ahlun, tuan muda!" Basit berkata seraya melangkah meninggalkan ruangan tersebut.


Cang Ahlun dan feri hanya mengangguk santai, dan setelah Basit keluar.


"feri terima kasih atas bantuan mu, ku usahakan secepatnya untuk membayar uang tadi padamu!" ucap Cang Ahlun dengan penuh hormat.


"tidak usah terburu-buru Cang, santai aja!" jawab feri dengan pasti.


"aku terpaksa meminjam uang pada lintah darat tersebut bulan yang lalu, karena uang tagihan barang ku gunakan untuk biaya operasi anakku di luar negeri, dan saat pembayaran barang telah jatuh tempo terpaksa aku cari jalan pintas tersebut!" ucap Cang Ahlun bercerita dengan menyesal.


"iya Cang, saya paham atas situasi yang seperti itu!" sahut feri dengan yakin.


"maaf sebelumnya kalau aku terlalu ingin tau, uang yang kau gunakan tadi apakah uang mu?, aku tidak ingin kalau nanti nya akan menimbulkan masalah untuk mu, karena telah membantu ku!" ucap Cang Ahlun dengan ragu-ragu.


"kalau untuk uang tadi Cang Ahlun tidak usah khawatir, itu uang bagian pribadi punya saya.


Cang Ahlun terlihat lebih tenang saat mendengar ucapan feri, tanpa bertanya lagi lebih jauh.

__ADS_1


__ADS_2