
setelah para tamu undangan pergi, hanya tersisa karyawan toko dan beberapa orang anggota keluarga Cang Arsyad yang ikut membereskan bekas tempat acara tersebut.
"Cang, saya dan Wawan duluan ya!" Salim dan Wawan pamit kepada Cang Ahlun, karena mereka bersama keluarganya masing-masing.
"ooh iye, makasih ye! Salim, Wawan maaf sudah merepotkan" jawab Cang Ahlun.
"iya Cang sama-sama!" jawab mereka bersamaan.
"kami duluan ya teman-teman!" mereka juga pamit pada karyawan yang tersisa dan juga Surya yang masih membantu beres-beres.
"oke.. hati-hati!" Mita yang menjawab, sedang yang lain hanya mengangguk setuju.
setelah membereskan sebagian yang mereka bisa, mereka pun pamit.
"feri..!" terdengar suara Cang Arsyad memanggil.
"iya Cang?" feri berbalik dan mendekati Cang Arsyad.
"sekali lagi terima kasih ye, mungkin urusannye akan lebih gawat kalo lho nggak ada tadi!" Cang Arsyad berkata sambil sedikit menunduk dengan tulus.
"iya Cang, sama-sama, sudah kewajiban kita saling bantu dalam kesusahan" jawab feri.
"kalo ada waktu jangan sungkan main-main kesini!" pinta Cang Arsyad.
"iya Cang, kapan-kapan saya pasti kesini" jawab feri serta meraih tangan Cang Arsyad bersalaman dan mencium tangannya.
yang lain pun melakukan hal yang sama.
"kami pamit Cang, semuanya duluan ya!" ucap Ali kepada orang yang ada di sekitar halaman rumah tempat acara tersebut.
setelah di luar rumah, Ali, Lia, Widya mengarah ke parkiran motor.
"kalian kesini pakai apa?" tanya Lia yang melihat feri dan Surya berjalan menjauh.
"kami tadi naik angkot" Surya menjawab sambil melambaikan tangannya.
"iya.. kalian duluan aja" timpal feri menjawab.
"ya udah.. sampai besok ya!" Ali menjawab dan bergerak berlawanan arah dengan arah tujuan feri dan Surya, di ikuti Lia yang di bonceng Widya.
__ADS_1
mereka pun berjalan keluar dari komplek perumahan itu, sesampainya di pinggir jalan raya suasana agak sepi karena memang sudah hampir tengah malam.
mereka pun berjalan di sisi jalan, sambil sesekali menengok ke belakang siapa tau masih ada angkot yang lewat.
singkat cerita mereka sampai di rumah setelah berjalan kurang lebih 2 jam, karena sudah biasa maka tidak ada rasa lelah yang mereka rasakan, setelah berganti pakaian serta membersihkan diri, mereka pun tidur untuk beristirahat.
keesokan harinya, seperti biasa selalu saja Surya bangun terakhir, di lantai beralaskan tikar sudah tersedia sarapan pagi, Surya dengan jelas mendengar desiran air di kamar mandi.
"eeh.. sudah bangun ya Sur?" tanya feri sambil menggosok-gosokan handuk pada rambutnya.
"mmm.." Surya menjawab dan berlalu ke kamar mandi.
setelah sarapan bersama keduanya pun berangkat untuk memulai pekerjaan mereka masing-masing.
seperti biasa para karyawan toko menunggu Cang Ahlun dan Cang Juki untuk membuka toko dengan mengobrol.
"feri.. kamu sekarang terkenal!" ucap Ali seraya memperlihatkan sesuatu pada layar ponsel Android nya.
"kok bisa ada video pertarungan malam tadi?" tanya feri pada Ali dan yang lainnya dengan raut wajah heran.
"malam tadi ada merekam kejadian itu, terus di upload di media sosial!" jelas Lia yang juga mengetahui soal video itu.
maklum lah feri berasal dari pedesaan yang jauh di pelosok, jangan kan media sosial, jaringan telekomunikasi pun nggak ada, kecuali para teman sekolah SMA nya yang tinggal di desa yang dekat kabupaten.
seperti biasa Cang Ahlun dan Cang Juki datang, dan mulai membuka toko tersebut.
hari ini pengantaran bahan bangunan cukup banyak, membuat para pekerja gudang sibuk semuanya, Wawan dan feri mendapat tugas mengantarkan bahan bangunan.
setelah beberapa kali mengantar bahan bangunan ke beberapa tempat, mereka istirahat siang bersama di patri toko.
"feri di panggil Cang Ahlun di ruangan nya!" seru Ali setelah mendapati feri yang lagi makan siang di patri.
"iya bentar, aku habis kan makanan ku dulu!" jawab feri setelah menelan makanan dalam mulutnya.
setelah selesai feri bergegas ke ruangan Cang Ahlun.
"tok..tok.. permisi Cang!" feri meminta izin masuk.
"iye masuk aje!" Jawab Cang Ahlun masih dengan logat Betawinya dari dalam.
__ADS_1
ketika pintu ruangan terbuka.
"encang mema.. ehh Cang Arsyad" feri belum selesai bicara tersentak karena disana ada juga Cang Arsyad.
"gimana keadaan Cang? sehat?" feri bertanya dengan basa-basi, sambil bersalaman, mencium punggung tangan Cang Arsyad.
"sehat.. seperti yang lho lihat sekarang!" jawab Cang Arsyad.
"duduk sini fer!" pinta Cang Ahlun mengambil sebuah kursi lagi.
feri pun duduk dengan sopan.
"feri.. ini ada sedikit hadiah untuk lho, mohon di terima!" Cang Arsyad memberikan sebuah plastik kecil yang di dalamnya ada sebuah kotak kecil.
"hadiah untuk apa ini Cang?" feri bertanya ketika menerima plastik tersebut.
"itu sebagai tanda terima kasih encang buat lho, karena berhasil mengamankan situasi malam tadi, dan kata si Ahlun lho belum punya benda itu!" Cang Arsyad berkata sambil menepuk pundak feri.
"emang apa sih isinya Cang" tanya feri penasaran.
"lho buka aje fer, biar tahu!" Cang Ahlun yang menjawab dengan sedikit mengangkat kepalanya pada Cang Arsyad.
Cang Arsyad hanya mengangguk setuju.
feri mengambil kotak kecil yang ada di dalam plastik tersebut, terlihat gambar sebuah telpon seluler dan tulisan Oppo A54 membuat mulut feri ternganga terkejut.
"gimana?? lho senang kan?" Cang Arsyad bertanya kepada feri yang masih terkejut atas hadiah Cang Arsyad untuk nya.
"terima kasih Cang.. terima kasih!" sorot mata feri mengatakan bahwa ia sangat menyukai hadiah tersebut.
"lho bawa tu hp sana cari nomer nye yang bagus, kalo lho belum paham tanye aje sama Salim atau Wawan!" Cang Ahlun meminta feri untuk cepat keluar mencari nomor hpnya.
"kalo gitu saya permisi dulu, terima kasih Cang Arsyad, Cang Ahlun!" feri berdiri dan menundukkan kepalanya kepada 2 orang tadi tanda terima kasih, dengan senyuman penuh kebahagiaan.
feri berlalu cepat setelah menutup pintu ruangan Cang Ahlun.
"wan sini wan..!" feri memanggil Wawan yang sedang duduk istirahat dekat tumpukan semen.
Wawan segera mendekat, dan mereka berdua berjalan ke arah luar gudang untuk mencari toko counter hp.
__ADS_1