
"Tetapi Pak, aku takut kesempatanku akan hilang jika aku tidak bertindak cepat. Aku tidak bisa lagi menahan keinginanku untuk membalas dendam pada Abiyasa. Apakah ada cara agar aku dapat tetap melaksanakan rencanaku dan menghindari penangkapan?" tanya Rian tidak sabar.
"Pak Rian, saya memahami bahwa Anda sedang mengalami ketidakpuasan dan penyesalan yang mendalam, tetapi menghindari penangkapan tidaklah benar. Melakukan tindakan semacam itu hanya akan memperburuk situasi dan melibatkanmu dalam kegiatan ilegal, sehingga anda bisa menjadi seorang DPO."
"Sebagai pengacara untuk Anda, saya wajib membantu Anda dalam proses hukum yang adil dan memastikan Anda mendapatkan keadilan. Kita harus mencari solusi yang terbaik dan tentunya lebih baik juga untuk masalah ini."
"Tapi pak, aku merasa tidak ada jalan lain. Aku tidak bisa lagi menahan amarahku dan ketidakpuasan ini. Apakah ada cara untuk mempersiapkan rencanaku sambil tetap mengikuti proses hukum?" tanya Rian cepat, setelah pengacaranya selesai memberikan penjelasan dan pengertian.
"Pak Rian, saya mengerti bahwa Anda merasakan kebencian dan keinginan untuk membalas dendam, tetapi kita tidak boleh terburu-buru. Sebagai gantinya, kita dapat mempersiapkan strategi hukum yang kuat untuk memperoleh keadilan yang Anda inginkan. Kita dapat menyusun bukti-bukti yang relevan dan merancang argumen yang lebih kuat dalam persidangan. Dengan cara ini, Anda dapat mengungkapkan kekecewaan dan mencari solusi yang lebih baik melalui proses hukum yang sah."
Rian merenung sejenak sebelum akhirnya membuang nafas panjang. "Hahhh... Aku mengerti bahwa apa yang aku pikirkan mungkin tidaklah benar. Aku percaya, bapak akan membantuku untuk menemukan jalan yang lebih baik. Aku akan berusaha untuk mengendalikan emosiku dan bekerja sama denganmu untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik."
Pengacara tersebut akhirnya tersenyum senang mendengar perkataan Rian. "Itu sangat baik, pak Rian. Saya akan berada di sisi Anda dan membantu sebisa mungkin."
Rian menganggukkan kepalanya mengiyakan, kemudian pengacara tersebut melanjutkan kalimatnya lagi. "Mari kita fokus pada strategi hukum yang kuat dan mencari keadilan yang seharusnya Anda terima. Bersama-sama, kita akan melalui proses ini dengan integritas dan memastikan bahwa hak-hak Anda dihormati."
Rian memahami dengan benar, bahwa melaksanakan rencana balas dendam tidak akan membawa ketenangan untuk rencananya. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengubah pendekatannya dan memilih jalur yang lebih positif. Dia berencana untuk pura-pura berkelakuan baik dan menunjukkan penyesalan atas tindakan masa lalunya agar dapat diberikan kemudahan dan kesempatan untuk bebas.
Akhirnya Rian menurut. Dia berpikir untuk mengubah rencananya. Dia akan pura-pura berkelakuan baik agar diberikan kemudahan dan kesempatan untuk bisa bebas. Dia juga membicarakan tentang taktik ini bersama dengan pengacaranya.
Rian membicarakan perubahan strategi ini dengan pengacaranya. Mereka membahas kemungkinan konsekuensi dan keuntungan dari pendekatan ini. Pengacara memberikan nasihat hukum dan membantu Rian merencanakan cara yang tepat untuk melaksanakan taktik ini.
***
Pada saat yang sama, di tempat yang berbeda. Aji yang sudah sadarkan diri, merasa tertekan dengan keadaannya yang sekarang. Dia putus asa karena tidak bisa bebas melakukan apa saja yang dia inginkan. Dia bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupnya, sekarang juga.
Situasi yang dihadapi oleh Aji sangat menyedihkan dan berat. Aji mulai merasa tertekan dengan keadaannya yang sekarang. Dia menyadari bahwa dia telah berbuat jahat dan tega pada adiknya, Abiyasa.
Rasa bersalah yang mendalam menghantuinya karena dia menyadari bahwa dia telah menyakiti satu-satunya adik yang dimilikinya. Perasaan bersalah ini semakin membebani pikiran dan emosinya.
__ADS_1
Dalam keadaan seperti itu, Aji mengucapkan beberapa perkataan yang mengungkapkan perasaan dan pikirannya yang terpuruk.
"Aku merasa seperti aku tidak bisa lagi melanjutkan hidupku. Semua yang aku lakukan pada Abiyasa, adikku sendiri, begitu jahat dan kejam. Aku tidak pantas hidup. Hahhh..."
"Bagaimana aku bisa begitu serakah dan tidak bisa menyayangi Abiyasa dengan baik? Dia adalah satu-satunya keluargaku, dan aku telah merusak semuanya. Perasaan bersalahku sangat menyiksa. Dia bahkan tidak langsung membunuhku, padahal kesempatan itu ada."
"Aku merindukan saat-saat ketika kami masih bersama dan bahagia sewaktu masih anak-anak. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri atas semua kesalahan yang telah aku lakukan. Bagaimana aku bisa begitu kejam pada adikku?"
Aji merasakan kehilangan yang mendalam karena menyadari bahwa keserakahannya dan ketidakmampuannya untuk menyayangi Abiyasa sebagai seorang kakak yang baik telah merusak hubungan mereka. Ia merasa tidak bahagia karena menyadari betapa pentingnya adiknya baginya dan bagaimana ia telah menyia-nyiakan hubungan mereka sebagai saudara, selama ini.
Pikirannya terjepit oleh perasaan bersalah dan kehilangan. Aji bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupnya saja.
"Semua ini adalah kesalahanku sendiri. Aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan setelah semua yang aku perbuat. Hidupku adalah hukuman yang harus aku tanggung."
"Aku ingin mengakhiri hidupku untuk menghentikan rasa sakit dan penderitaan ini. Tidak ada harapan bagi diriku lagi. Apa gunanya terus hidup jika aku hanya merusak segalanya?"
"Argh..."
Aji mengamuk dengan berteriak-teriak marah. Dia ingin membenturkan kepalanya sendiri beberapa kali ke dinding. Dia ingin menyiksa dirinya sendiri dalam keadaan tertekan atas rasa bersalah. Dia ingin mengamuk pada dirinya sendiri sehingga luka-luka tubuhnya semakin banyak dan berdarah-darah.
Sayangnya, kedua kaki dan tangannya terikat oleh tali yang kuat. Dia tidak bisa bergerak dengan bebas.
"Ini pasti dilakukan Abiyasa dengan sengaja. Dia bahkan sudah berpikir sangat jauh, jika aku akan putus asa dan berpikir untuk mengakhiri hidupku sendiri."
"Hiksss... betapa jahatnya aku."
"Aku tidak layak untuk mendapatkan pengampunan. Aku pantas untuk mati!"
"Arghhh... Abiyasa! Bunuh saja, aku!"
__ADS_1
"Abiyasa! Cepat bunuh aku!"
Aji terus berteriak-teriak memanggil nama adiknya, yaitu Abiyasa. Sedangkan Abiyasa sendiri saat ini sedang tidak berada di markas. Hanya ada anak buahnya Indra saja yang berjaga-jaga, sebab Abiyasa dan Indra sedang melakukan pertemuan dengan pihak pengacara.
Beberapa saat tadi, Abiyasa mendapatkan kabar tentang banding yang diajukan oleh pamannya telah diterima oleh pihak pengadilan. Hal ini membuatnya kembali sibuk dengan kasus pamannya, yang telah menggelapkan dana perusahaan.
"Abiyasa! Lepaskan aku!"
"Biarkan aku mati! Tidak perlu kamu berbelas kasih padaku. Abiyasa, br3ngs3k!"
Di dalam perkataan-perkataan Aji yang penuh penyesalan, dia tetap memaki-maki Abiyasa. Dia merasa jika adiknya itu telah membuatnya tidak berbuat sesuka hatinya, dengan cara mengikatnya seperti sekarang.
"Sialan loe, semuanya! Br3ngs3k!
"Cepat lepaskan aku! Biarkan aku mati!"
***
Hai-hai...
TK mau promo Novel teman ya, novel ini juga ikut dalam event lomba menulis novel mengubah takdir.
Novel ini punya othor Santi Suki.
Cus yuk...
__ADS_1