Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Kegundahan Ajeng


__ADS_3

Ajeng sedang berada di kantor. Dia tidak ada kelas untuk mengajar, jadi hanya berdiam diri di belakang meja kerjanya. Dia merenung dalam keheningan. Perasaannya sedang berkecamuk setelah mengetahui rahasia besar yang selama ini disembunyikan oleh suaminya. Seolah-olah dia baru mengenal suaminya lagi, meskipun mereka telah bersama selama beberapa bulan terakhir ini sebagai sepasang suami istri.


Ajeng memang baru tahu sehingga memikirkan apa yang dia rasakan saat ini. Dia memang baru saja mengetahui tentang rahasia besar suaminya yang tidak pernah diketahui oleh siapapun. Dia juga sama seperti orang-orang lainnya, yang menganggap jika Abiyasa itu adalah orang yang bodoh dan tidak bisa berpikir layaknya orang-orang normal pada umumnya.


Tapi nyatanya suaminya adalah orang yang cerdas dan memiliki kemampuan yang luar biasa yang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun. Bahkan keluarga suaminya juga tidak mengetahuinya.


Perasaan Ajeng yang awalnya tidak peduli dan tidak suka dengan suaminya kini mulai berubah. Tapi dia juga sadar, jika rasa ini sebenarnya bukan hanya pada saat dia mengetahui kebenaran tersebut. Tapi sudah ada jauh sebelumnya, hanya saja Ajeng tidak menyadarinya secara pasti.


"Aku tidak percaya kalau aku baru saja mengetahui rahasia besar yang selama ini disembunyikan oleh suamiku. Dia adalah orang yang sangat cerdas dan memiliki kemampuan yang luar biasa."


"Meskipun alasannya adalah untuk melindunginya dirinya sendiri, tapi kenapa? apa yang sebenarnya terjadi?"


Dia mengingat kembali semua momen dan percakapan yang pernah mereka lakukan bersama, meskipun memang tidak pernah ada yang berarti. Namun, kini semuanya terlihat berbeda dan tak terduga. Dia merasa bahwa dia telah menganggap suaminya seolah-olah adalah orang yang biasa-biasa saja, bahkan dia pernah merendahkan suaminya dengan menyebutnya bodoh. Sama seperti yang dilakukan oleh mamanya, yang sering menyebut suaminya dengan bodoh.


Namun, kini dia menyadari bahwa suaminya adalah seorang yang sangat cerdas dan memiliki kemampuan yang luar biasa. Sebuah rahasia besar yang selama ini disembunyikannya dan tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun.


Abiyasa memang sudah mengaku pada Ajeng, bahwa perannya menjadi orang bodoh dan idiot adalah untuk melindunginya dirinya dari seseorang. Tapi Abiyasa tidak pernah menyebutkan nama dari orang yang dihindari. Abiyasa meminta Ajeng untuk tidak mengatakan rahasia ini pada siapapun, meskipun itu adalah orang-orang terdekat atau keluarga mereka sendiri.


"Apa yang telah aku lakukan selama ini? Aku merendahkan kecerdasannya, menyebutnya bodoh, dan tidak menghargai kemampuan dan potensinya. Bagaimana aku bisa berbuat seperti itu pada suamiku?"


"Aku merasa sangat bersalah dan malu. Aku harus memperbaiki hubungan kami dan memberikan perlakuan yang pantas pada mas Abi, karena bagaimanapun juga dia adalah suamiku."


"Namun, apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Apa yang harus aku katakan atau lakukan agar dia tahu bahwa aku menyadari kesalahanku dan ingin memperbaiki hubungan kami?"

__ADS_1


Ajeng bingung dengan apa yang akan dia lakukan. Dia masih tidak percaya dengan semua yang sudah dia ketahui tentang Abiyasa.


"Apakah aku harus meminta maaf terlebih dahulu? Atau apakah aku harus memulai dari awal dan belajar lebih banyak tentang dia?"


"Apa yang dia pikirkan tentang aku? Apakah dia merasa kesal atau marah karena aku tidak pernah memperlakukannya dengan baik?"


Ajeng memandang dengan tatapan mata yang kosong. Dia bergumam seorang diri, memikirkan tentang langkah selanjutnya yang harus diambil. Dia tahu bahwa dia harus berbicara dengan suaminya dan mengungkapkan perasaannya, namun dia merasa cemas dan khawatir tentang reaksi suaminya.


"Aku harus berbicara dengan mas Abi. Aku harus mengungkapkan perasaanku dan meminta maaf atas kesalahan yang telah aku lakukan selama ini. Aku harus menunjukkan kepadanya bahwa aku juga bisa menjadi istrinya yang bisa dipercaya."


"Tapi aku tidak tahu bagaimana reaksi mas Abi ketika aku mengungkapkan semua perasaanku. Bagaimana jika dia justru menertawakan pengajuan?"


Ajeng mengambil nafas dalam-dalam dan menenangkan dirinya sendiri. Dia kemudian bersiap-siap untuk mempersiapkan dirinya nanti saat berbicara dengan suaminya dan mengungkapkan semua perasaannya dengan jujur dan terbuka.


Entah sudah berapa lama Ajeng duduk termenung seorang diri meja kerjanya. Dia sedari tadi juga bergumam seorang diri dengan lamunannya.


Tiba-tiba ponselnya berdering memberikan notifikasi pesan. "Hhhh..."


Ajeng membuang nafas panjang kemudian memeriksa ponselnya ketika menerima pesan teks dari suaminya. Dia membuka pesan tersebut dan membaca dengan perasaan terkejut dan bahagia.


Suaminya, yang selama ini dianggapnya sebagai orang yang tidak romantis, karena idiot, mengirimkan pesan romantis yang menyentuh hatinya. Dia merasa tidak percaya bahwa suaminya dapat mengungkapkan perasaannya seperti itu, dan perasaannya terhadap suaminya semakin meningkat.


Jangan lupa makan siang dan beristirahat. Jika sudah waktunya untuk pulang, segera pulang ke rumah tidak perlu mampir-mampir.

__ADS_1


Ajeng tersenyum lebar dan merasa sangat bahagia membaca pesan "romantis" dari suaminya. Dia merasa dihargai dan dicintai, dan semua keraguan dan kekhawatirannya tentang hubungan mereka seakan lenyap dalam sekejap.


Padahal jika untuk orang lain yang sudah biasa menerima pesan atau berbalas pesan dengan suaminya, tentu berbeda dengan apa yang dirasakannya saat ini.


"Mas Abi, ini beneran dari dia?" tanya Ajeng dengan wajah tidak percaya.


Dia merasa senang bahwa suaminya memiliki sisi yang romantis dan perhatian, dan merasa lebih dekat dengannya daripada sebelumnya. Dia merasa bersyukur memiliki suami seperti Abiyasa.


Dulu, dia tidak mau tahu apapun yang dilakukan oleh Abiyasa dengan ponselnya. Apalagi setiap kali Abiyasa memegang ponsel, yang ada hanya game dan video-video kartun atau yang lucu-lucu.


"Jadi, selama ini dia tertawa-tawa hanya karena melihat video-video lucu itu, bukan karena dia idiot?"


Sekarang Ajeng mulai memahami kebiasaan suaminya jika sedang bermain-main dengan ponselnya. Semua itu hanya pengalihan perhatian dari orang-orang, karena dia tidak bisa selamanya sepanjang hari dengan tampang bodoh.


"Mas Abi. Apa kamu tidak capek selama ini berperan sebagai seorang yang bodoh?"


"Hhh... apa yang bisa aku lakukan agar mas Abi bisa menjadi dirinya sendiri?"


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Ajeng, yang sedang galau dengan perasaannya sendiri pada Abiyasa. Padahal Abiyasa adalah suaminya sendiri.


Suami yang pernah dia tolak dan tidak dia anggap karena mereka menikah dengan paksaan mamanya, yang sebenarnya memiliki banyak hutang pada keluarga Abiyasa.


Dengan kata lain, Ajeng adalah tumbal mamanya untuk melunasi hutang-hutangnya.

__ADS_1


__ADS_2