
"Arghhh!"
Tuk tuk tuk
"Aku pantas mati!"
Aji ngamuk pada tubuhnya sendiri. Dia, berhasil melepas tali yang mengikat tangan dan kakinya. Jadi, dia bisa melukai dirinya sendiri. Aji juga membenturkan kepalanya pada dinding hingga berdarah-darah.
"Hai, apa yang kamu lakukan!"
"Aji, apa yang sedang kamu lakukan? Ini sangat berbahaya! Berhentilah!"
Salah satu penjaga berteriak keras, meminta kepada Aji supaya tidak melanjutkan apa yang dilakukannya sekarang.
Aji tidak peduli. Dia mengamuk dan memaki-maki anak buahnya Indra. Dia tidak peduli karena ingin mengakhiri hidupnya saja karena rasa bersalah atas semua yang sudah dia lakukan pada adiknya.
Anak buahnya Indra cepat menghubungi temannya yang lain supaya datang membantunya untuk mengatasi Aji, tahanan mereka yang sedang mengamuk.
Bug bug bug
"Arghhh..."
"Pergi! Pergi kalian semua!"
"Kalian semua tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku! Biarkan aku mengakhiri semuanya!"
Aji berteriak-teriak dan mengamuk. Dia bergerak sesuka hatinya, menyerang segera arah tanpa aturan.
Bug bag bug
Tag bug dug
__ADS_1
Akhirnya mereka beradu jotos, karena Aji ingin lepas dan melakukan apa saja yang tidak inginkan. Sedangkan anak buahnya Indra, berusaha untuk menghentikan kelakuan Aji yang bisa membahayakan dirinya sendiri dan juga mereka, karena akan dianggap tidak becus menjaga satu orang tahanan saja.
"Kamu gila, Aji! Kamu tidak boleh menyakiti dirimu sendiri seperti itu!" cegah anak buahnya Indra dengan sekuat tenaga menyingkirkan tangan Aji yang memukuli dadanya sendiri.
"Sudah cukup! Aku membenci diriku sendiri dan aku tidak peduli apa yang terjadi padaku!" teriak Aji lagi. "Kalian tidak akan pernah mengerti betapa beratnya perasaan bersalahku. Aku harus menghilang! Aku harus mati!" Aji melanjutkan kalimatnya lagi.
Hal ini terjadi karena psikologis yang sangat buruk bagi Aji. Dia mengamuk, memaki-maki anak buah Indra, dan tidak peduli dengan akibat yang ada pada dirinya sendiri. Dia tidak peduli dengan apapun.
Perasaan bersalah yang sangat kuat atas tindakan yang dilakukan terhadap adiknya, Abiyasa, membuatnya merasa ingin mengakhiri hidupnya.
"Sudah cukup, Aji! Saya tidak akan membiarkan kamu melanjutkan tindakan bodohmu ini!"
Untung saja salah satu anak buahnya Indra menghentikan aksi Aji. Dengan cepat, anak buahnya Indra mengikat tangan dan kakinya Aji lagi, yang sempat terlepas, supaya tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menyakiti dirinya sendiri.
Anak buah Indra yang menyadari bahwa Aji sedang mengamuk pada tubuhnya sendiri segera mengambil tindakan untuk menghentikan perilaku tersebut. Dia dengan cepat mendekati Aji dan mengikat tangan serta kakinya agar Aji tidak bisa melanjutkan aksinya yang dapat menyakiti dirinya sendiri.
"Ini semua gara-gara aku! Adikku menderita karena aku. Aku tidak pantas hidup!" Aji berteriak dengan suara keras.
Anak buah Indra menampar pipi Aji, berusaha untuk menyadarkan. "Kamu tidak sadar diri, Aji! Bagaimana bisa kamu berpikir melakukan hal-hal seperti ini? Pak Abi akan marah besar!"
"Kamu pikir aku peduli dengan apa yang terjadi? Semua ini tidak berarti apa-apa lagi! Abiyasa akan senang saat melihatku mati."
Anak buah Indra menggunakan tali untuk mengikat tangan dan kaki Aji dengan kuat agar tidak bisa lepas. Dia menggunakan teknik pengikatan yang efektif untuk memastikan bahwa Aji tidak bisa melepaskan diri dan melanjutkan perilaku berbahaya.
"Cuihhh! Tinggalkan aku sendiri! Kehidupan ini sudah tidak berarti bagiku lagi!" maki Aji dengan meludahi wajah anak buahnya Indra.
"Hai Aji, kamu membahayakan dirimu sendiri dan orang-orang di sekitarmu! Kami harus menghentikanmu sekarang juga!" tegas orang yang tadi diludahi Aji.
"Apa gunanya hidupku jika aku hanya akan melukai orang-orang di sekitarku? Aku juga punya hobby melukai mereka. Apa kamu ingin tahu rasanya?" tanya Aji tidak peduli.
"Apa yang kamu pikirkan, Aji? Kamu harus mengendalikan dirimu sendiri dan berhenti melukai dirimu sendiri! Pak Abi, sangat menyayangimu sebagai saudara. Apa yang buatmu merasa kurang?"
__ADS_1
Aji terdiam. Dia, dalam keadaan yang hancur dan terdistorsi, mengamuk dengan amarah dan keputusasaan. Dia ingin sekali melemparkan benda-benda ke sekelilingnya, merusak barang-barang, dan mengeluarkan teriakan-teriakan frustasi.
"Ini sudah keterlaluan, Aji! Kamu perlu dihentikan sebelum terjadi hal yang lebih buruk!"
Sayangnya, anak buah Indra berusaha mengatasi segalanya dengan mengikatnya, kemudian membawanya untuk menjaga jarak dengan Aji. Ini mereka lakukan untuk melindungi diri mereka sendiri, sambil tetap berusaha meredakan situasi.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu katakan! Aku ingin pergi dan mengakhiri semuanya!" Aji tetap berteriak-teriak.
"Kamu bisa merusak dirimu sendiri, Aji! Kami tidak akan membiarkan itu terjadi! Dan tugas kami adalah menjagamu, jadi kamu harus menurut!"
Setelah mengikat tangan dan kaki Aji, anak buah Indra mengamankan ikatan tersebut dengan cara yang terkunci atau sulit dibuka. Hal ini dilakukan agar Aji benar-benar tidak bisa melakukan apa pun untuk menyakiti dirinya sendiri.
"Aku takut menghadapi akibat perbuatan-perbuatan buruk ku. Aku lelah, sangat lelah. Biarkan aku mati, atau kalian bunuh saja aku sekalian!"
"Jangan bodoh! Apa yang terjadi denganmu, Aji? Saya tidak akan membiarkan kamu melanjutkan kegilaan ini! Mana Aji yang angkuh dan tidak terkalahkan?" ejek anak buahnya Indra, mengurus emosi Aji supaya tidak lemah seperti ini.
"Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Lebih baik aku pergi dan menghilang dari hidup ini."
Secara tiba-tiba, suara Aji melemah. Dia tidak lagi berteriak seperti tadi, seakan-akan dia sudah menyerah pada keadaan dirinya yang sekarang ini.
Aji putus asa, dengan rasa bersalah atas semua yang dia lakukan selama ini. Hal itulah yang membuat Aji tidak peduli dengan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Dia mengalami krisis emosional yang parah dan menginginkan akhir yang tragis karena beban yang dirasakannya, atas semua perbuatannya terhadap Abiyasa.
"Aji, kami minta maaf. Tapi kami tidak bisa membiarkan kamu merusak dirimu sendiri. Kami akan menghentikanmu dengan cara apa pun yang diperlukan!"
Saat anak buah Indra menyelesaikan tugasnya, dia tersenyum sebagai tanda lega karena sudah keberhasilan dalam menghentikan aksi Aji. Senyumnya itu mengungkapkan kelegaan dan kepuasan, bahwa mereka berhasil mencegah Aji melukai dirinya sendiri. Mereka tidak akan mendapatkan hukuman dari Indra atau pun Abiyasa, saat kepulangan kedua Bos tersebut.
Anak buahnya Indra tentu saja merasa kekhawatiran, jadi mereka harus bisa tegas terhadap tindakan berbahaya yang dilakukan oleh Aji. Mereka ingin memastikan keselamatan Aji dan orang-orang di sekitarnya dengan menghentikan perilaku yang merugikan tersebut.
Itulah sebabnya, anak buah Indra bertindak dengan cepat dan cerdas untuk mengamankan Aji dengan mengikat tangan dan kakinya, mencegahnya melanjutkan tindakan berbahaya terhadap dirinya sendiri.
"Apa kita perlu menghubungi pak Indra atau pak Abi?" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Tidak usah. Yang penting sekarang semuanya sudah aman."