
Abiyasa masih berduka dengan kematian istrinya, yaitu Ajeng. Tapi tuntutan kerja tidak bisa diabaikan begitu saja, apalagi ini adalah pertemuan dengan investor yang datang dari Eropa.
Investor ini akan membawa kemajuan untuk perusahaannya yang sedang diguncang masalah setelah kasus Rian dan Aji, ditambah dengan rumor tentang dirinya yang katanya merebut kedudukan di perusahaan keluarganya. Jadi Abiyasa mau tidak mau harus bisa mengenyampingkan kepentingan pribadi dan perasaannya untuk kemajuan perusahaan.
"Indra, saya minta tolong untuk mengatur pertemuan dengan investor yang dari Eropa itu," pinta Abiyasa.
"Baik, sudah semuanya mas Abi. Mas Abi mau di mana pertemuan tersebut?" tanya Indra, yang berpikir jika Abiyasa akan menginginkan suasana yang berbeda.
"Di kantor saja, Indra."
"Baik, mas. Pertemuan akan dilakukan di kantor perusahaan besok pukul 10 pagi. Semuanya sudah disiapkan dengan baik."
Abiyasa menganggukkan kepalanya kepala mendengar penjelasan yang diberikan oleh Indra, yang ternyata sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.
"Baik. Saya akan mengonfirmasi kembali dengan investor tersebut dan mengatur ruangan serta kebutuhan lainnya."
Abiyasa kembali mengangguk mendengar perkataan Indra yang mengatur jadwalnya. "Baik, terima kasih Indra. Namun, satu hal lagi, investor itu terutama ingin bertemu dengan saya dan tidak mau bertemu dengan orang lain. Jadi, pastikan semua sesuai dengan keinginannya juga "
"Saya mengerti."
Sebenarnya, Abiyasa sudah meminta Indra yang melakukan meeting saat dirinya masih dalam keadaan berduka seperti ini. Tapi investor tersebut tidak mau jika bukan dengan Abiyasa sendiri. Jadi Indra hanya menemani saja sebagai asisten pribadi Abiyasa. Sebab, investor ini seorang gadis yang memiliki keturunan dari darah Indonesia.
"Seharusnya kamu saja yang menemani pertemuan tersebut sebagai asisten pribadi saya. Pastikan semuanya berjalan lancar dan jangan ragu untuk memberikan saran jika dibutuhkan. Tapi, ahhh... nona Anna memang tidak suka jika kedatangannya diabaikan."
Abiyasa mengeluh saat mengingat bahwa Indra tidak bisa mewakilinya dalam pertemuan tersebut. Semua itu karena nona Anna, investor yang akan meeting bersamanya besok tidak mau jika tidak bertemu dengan bos dari perusahaan secara langsung.
Sebagai seorang profesional, Abiyasa harus menyeimbangkan antara kepentingan pribadinya dan kepentingan perusahaannya. Dia harus dapat mengontrol emosinya dan fokus pada pertemuan dengan investor untuk memastikan kesepakatan yang baik. Hal ini tentu tidak mudah, terutama karena dia sedang dalam masa berduka yang dalam. Namun, sebagai seorang pemimpin yang baik, Abiyasa harus dapat memisahkan antara kepentingan pribadinya dan kepentingan perusahaan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
***
__ADS_1
Siang hari, di kantor perusahaan.
"Welcome, Nona Anna. Nice to meet and chat with you about business."
"Thanks, Tuan Abiyasa. Lebih baik menggunakan bahasa Indonesia. Saya lebih suka menggunakan bahasa Indonesia jika berkunjung ke tanah leluhur saya ini."
Nona Anna ternyata pandai berbahasa Indonesia. Mungkin ini karena dia memiliki darah Indonesia sehingga dia juga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung dengan beberapa rekan bisnisnya di indonesia.
"Oh, begitu. Baiklah, saya akan mengulangi pertemuan kita ini. Ehemm!"
Abiyasa mulai bersikap formal lagi, kemudian menyambut dengan bahasa indonesia mengulang ucapannya di awal tadi.
"Selamat siang, terima kasih nona Anna. Anda telah menyempatkan waktu untuk bertemu dengan saya."
Abiyasa menjabat tangan investor tersebut, yaitu Nona Anna, saat pembukaan meeting.
Pertemuan di awal yang terkesan kaku, kini mulai berjalan dengan lancar dan pembahasan mereka juga tidak bertele-tele.
"Saya senang mendengarnya. Kami baru saja mengalami beberapa masalah internal, tapi saya yakin kami dapat mengatasinya dan mengembangkan perusahaan dengan cara yang lebih baik."
"Tentu saja, kami mengerti bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan sendiri. Apa yang sudah Anda lakukan untuk menangani masalah internal Anda?" tanya Nona Anna menanggapi perkataan yang diucapkan oleh Abiyasa mengenai perusahaannya.
Abiyasa kemudian memberikan penjelasan secara singkat dan jelas tentang apa yang sudah dia lakukan untuk menangani beberapa permasalahan yang ada di perusahaannya ini.
"Kami sedang memperbaiki struktur organisasi dan meningkatkan kualitas kontrol internal kami. Selain itu, kami juga berencana untuk memperluas pasar ke luar negeri dan meningkatkan penjualan dengan strategi pemasaran yang lebih efektif."
Abiyasa kemudian mulai membicarakan rencana bisnisnya dan menjelaskan kepada investor tentang langkah-langkah yang akan dia ambil untuk memperbaiki kondisi perusahaan. Sedangkan nona Anna juga menanyakan beberapa pertanyaan tentang masalah internal dan bagaimana Abiyasa berencana untuk menanganinya. Abiyasa memberikan penjelasan yang cukup detail dan meyakinkan, sehingga investor terkesan dan mulai merasa lebih percaya.
Setelah membahas masalah internal, Abiyasa dan investor membicarakan tentang peluang-peluang bisnis yang tersedia dan rencana untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan di masa depan. Mereka membicarakan strategi untuk meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar perusahaan ke wilayah lain. Investor tertarik dengan rencana bisnis Abiyasa dan menawarkan bantuan dalam bentuk sumber daya dan koneksi di Eropa.
__ADS_1
Pertemuan tersebut berlangsung dengan lancar, dan Abiyasa berhasil meyakinkan investor tentang prospek bisnis perusahaannya. Meskipun masih dalam masa berduka, Abiyasa mampu mengatasi perasaannya dan fokus pada pertemuan tersebut untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Nona Anna mendengarkan dengan seksama, memperhatikan setiap perkataan Abiyasa agar tidak terlewatkan.
"Itu terdengar menjanjikan. Bagaimana Anda berencana untuk melaksanakan strategi tersebut?" tanya Nona Anna, mencari tahu tentang poin-poin untuk penilaian yang akan dia lakukan agar bisa memberikan keputusan tentang kerjasama mereka nanti.
"Kami sedang mencari mitra strategis dan investor seperti Anda untuk membantu kami dalam ekspansi internasional. Kami juga akan mengembangkan program pemasaran digital yang lebih agresif dan berfokus pada produk-produk baru dengan potensi yang baik di pasar."
"Hemmm... sepertinya menarik dan tentu saja kami sangat tertarik dengan rencana Anda, dan kami juga memiliki sumber daya dan koneksi yang dapat membantu Anda dalam ekspansi ke Eropa. Apakah Anda tertarik untuk bekerja sama dengan kami?"
Nona Anna memberikan tawaran dengan cepat, karena dia merasa bahwa Abiyasa bisa mempresentasikan perusahaannya dengan sangat baik.
"Tentu saja, saya sangat tertarik untuk bekerja sama dengan Anda. Bagaimana kita dapat melanjutkan pembicaraan ini?"
Nona Anna mengangguk setuju. "Baiklah, saya akan menyediakan informasi lebih lanjut tentang program investasi kami dan kita dapat melanjutkan diskusi selanjutnya di kemudian hari."
"Terima kasih banyak. Saya sangat menghargai kesempatan ini, Nona Anna."
Setelah meeting selesai, Nona Anna diantar supir perusahaan untuk pembeli ke hotel yang dijadikan sebagai tempat menginap. Sedangkan Abiyasa dan Indra melanjutkan meeting bersama beberapa kepala staf devisi untuk membicarakan langkah yang akan segera dilakukan setelah kerjasama dengan Nona Anna ditandatangani.
Beberapa saat kemudian, setelah a biasa kembali ke ruangannya sendiri, Indra memberitahu Abiyasa jika dia telah berhasil menemukan siapa orang yang sudah melakukan pembunuhan terhadap Ajeng sesuai dengan beberapa bukti yang ditemukan di rumah sakit malam itu.
"Perawat itu, mas Abi. Perawat tersebut yang sudah melakukan pembunuhan."
Indra mengatakan bahwa, perawat yang berjaga malam itu, dan sudah akrab dengan Ajeng justru yang melakukan kesalahan dan itu atas perintah seseorang.
"Ini tidak mungkin, Indra. Bagaimana bisa? Dia adalah seorang perawat yang merawat Ajeng dan kami juga sudah sangat terkesan dengan sikap ramahnya."
Abiyasa tidak percaya dengan laporan yang diberikan oleh Indra, mengenai perawat yang katanya telah meracuni Ajeng.
__ADS_1