
"Hahaha..."
"Aku rasa itu sudah terlambat untuk itu, Indra. Kau tahu bahwa aku bisa membayar pengacara terbaik untuk membantuku. Dan, selama kalian tidak memiliki bukti yang kuat, aku tidak akan bisa dihukum."
Aji menantang Abiyasa dan Indra. Dia terlalu sombong dan pongah, dipikir bahwa tidak akan tersentuh oleh hukum yang biasa dia beli dan permainkan.
"Kamu bisa saja melarikan diri dari hukuman, tapi kamu tidak bisa melarikan diri dari hukuman yang aku ciptakan. Kamu akan merasakan akibat dari apa yang sudah kamu perbuat selama ini, kakakku tersayang."
Sekarang, gantian Abiyasa yang mencemooh Aji dengan sindiran. Dia sudah muak dengan semua tingkah laku kakaknya yang tidak pernah berubah sedari dulu.
"Hahaha, kamu selalu terlalu naif, Abi. Apa yang bisa kamu lakukan padaku? Bahkan Tuhan sekalipun tidak bisa menyentuhku. Dia tidak ada di sini untuk mempermasalahkan kehidupanku. Hahaha..."
Abiyasa merasa sangat kesal dan tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia melangkah menuju Aji dan memukulnya. Indra berusaha menghentikan Abiyasa, tapi sudah terlambat.
Bug
"Uhhh!"
"Ini untuk mulutmu yang kotor dan tidak pernah bisa berkata dengan baik!"
Bug bag bug
Aji oleng dan ambruk di sofa apartemennya sendiri, mendapatkan beberapa pukulan keras yang dilakukan oleh Abiyasa sendiri dengan tangan kosong. Sedangkan Indra dan yang lainnya masih diam mengawasi saja .
Abiyasa terus memukul Aji tanpa ampun, bahkan kondisi Aji telah babak belur, tapi Abiyasa belum puas saat ingat dengan semua perbuatan Aji. Dia ingin membunuh kakaknya juga untuk balas dendam atas kematian istrinya, Ajeng.
Tapi Aji juga tidak meminta maaf ataupun menyesal. Dia justru tersenyum sinis mengejek Abiyasa.
"Hehhh, hanya segitu?" ejek Aji dengan mengelap bibirnya yang sobek dan terasa perih.
__ADS_1
Abiyasa terus memukul kakaknya, Aji, dengan amarah yang memuncak. Dia tidak bisa mengontrol emosinya saat mengetahui bahwa kakaknya yang telah merencanakan kematian istrinya, Ajeng.
Tangan Abiyasa yang terus menghujamkan tinjunya ke wajah dan tubuh Aji yang sudah babak belur. Tidak ada sedikitpun penyesalan atau permintaan maaf dari Aji. Sebaliknya, senyum sinis yang ada di wajahnya membuat Abiyasa semakin marah dan kecewa.
Dug
"Apa yang membuatmu senang?" teriak Abiyasa, sambil menendang perut Aji.
"Kamu memang pria yang lemah, Abi. Kamu tidak bisa menghadapi kenyataan dan memilih melarikan diri. Kamu pantas saja kehilangan Ajeng, karena kamu tidak mampu melindunginya dengan baik! Hahaha..."
Aji terus saja berkata-kata dengan nada mengejek, meskipun bibirnya telah robek dan penuh darah.
"Argh... awas kau!"
Bug bag bug
Mendengar ejekan itu, Abiyasa semakin tidak bisa mengontrol amarahnya dan memukul Aji semakin keras. Dia merasa seperti takdir telah memilihnya untuk hidup di dalam kesedihan dan kesulitan, tapi ia tidak pernah menyangka kalau yang merencanakan semua ini adalah kakak kandungnya sendiri.
Tapi Indra juga diam dan tidak lagi mencegah Abiyasa. Dia membiarkan Bos-nya itu menumpahkan kekesalan dan kemarahannya pada Aji, yang memang sudah sangat keterlaluan selama ini.
"Urus dia, Indra!" perintah Abiyasa sambil berlalu pergi.
Namun, saat Abiyasa baru saja melangkah, Aji tiba-tiba bangkit dan mencoba menyerangnya dari belakang. Abiyasa berhasil menghindar dan memutar tubuhnya untuk menyerang balik Aji.
Indra dan yang lainnya hampir saja mencegah Aji, tapi sudah didahului oleh Abiyasa sendiri.
Ternyata, meskipun Aji telah babak belur, tapi nafsu pembalasan dendamnya pada Abiyasa tidak bisa dihentikan begitu saja.
Bug bug bug
__ADS_1
Brukkk
"Pergi sana! Kamu tidak layak menjadi kakakku! Kamu adalah monster!" teriak Abiyasa sambil memukul wajah Aji kemudian mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.
Aji terus mencoba melawan, meskipun tubuhnya telah lemah dan terluka parah. Dia tidak mau menyerah dan mencoba memprovokasi Abiyasa dengan lebih banyak ejekan.
"Kamu memang lemah, Abi. Kamu tidak mampu menjadi pria sejati dan melindungi wanita-mu. Ajeng pantas mati karena memilihmu sebagai suaminya. Dia seharusnya memilih pria yang lebih kuat dan mampu melindunginya!" ejek Aji. dengan tersenyum sinis.
Kata-kata tersebut semakin membuat Abiyasa marah dan tidak sabar lagi untuk menyelesaikan perkelahian ini. Namun, tiba-tiba ia teringat kata-kata Ajeng tentang menjaga diri dari amarah yang berlebihan. Dia menyadari kalau ia tidak bisa menjadi seperti kakaknya, yang hanya mencari balas dendam dan mengedepankan emosi saja.
Indra hanya diam saja sedari tadi, berdiri dengan menyaksikan kedua saudara kakak beradik tersebut berkelahi. Dia tidak mungkin ikut campur karena urusan keduanya sebenarnya terjadi sejak lama, yaitu sejak mereka masih kecil dulu.
Indra berpikir bahwa rasa iri memang membuat otak dan pikiran tidak berjalan seimbang sehingga membuat seseorang kalap dan melakukan apa saja karena hatinya sudah gelap. Tidak bisa melihat bagaimana ikatan persaudaraan dan tali darah yang seharusnya bisa saling membantu, mengasihi dan menyayangi.
'Iri hati memang membutakan mata hati juga.'
Indra yang lama ikut dengan Abiyasa, juga ikut merasa terpukul dengan pengakuan perawat yang mengungkapkan bahwa Ajeng meninggal karena kesalahannya atas perintah yang diberikan oleh Ruhian. Sedangkan Ruhian juga ternyata dikendalikan oleh Aji. Ia merasa sangat sedih dan marah sekaligus.
Sedih karena istri dari Bos-nya harus mengalami kematian yang begitu tragis dan tiba-tiba, dan marah karena ia merasa bahwa ada orang yang sejauh itu memanfaatkan situasi sulit tersebut hanya untuk keuntungan pribadi karena uang.
Namun, setelah mengetahui bahwa dalang di balik kematian Ajeng adalah kakak Abiyasa sendiri, Aji, Indra merasa sangat terkejut dan sedih. Meskipun sebenarnya dia sudah menduganya, tapi tetap saja tidak pernah menyangka. Ia merasa seperti mengetahui bagaimana perasaan Abiyasa yang dikhianati oleh keluarga sendiri dan merasa bahwa kepercayaan yang diberikan tidaklah beralasan.
Selain itu, ia juga merasa prihatin dengan pertengkaran yang terjadi antara Abiyasa dan Aji saat ini. Indra merasa bahwa situasi ini sangat memilukan dan ia merasa tidak bisa berbuat banyak untuk membantu. Karena Aji memang ada pada posisi yang salah, sedangkan Abiyasa perlu melampiaskan amarahnya yang sudah meledak-ledak.
'Padahal mereka berdua adalah saudara kandung dengan banyak materi yang bisa tercukupi lebih dari orang-orang pada umumnya. Tapi iri hati yang ditambah dengan ambisi untuk kekuasaan dan kekayaan semakin memperparah keadaan seperti mereka berdua.'
Namun, Indra juga berpikir bahwa masalah ini sebenarnya sudah berlangsung lama dan melibatkan banyak faktor yang rumit, termasuk rasa iri dan dengki antar saudara. Ia merasa bahwa kebencian dan dendam yang sudah bertahun-tahun ditumpuk hanya akan memperburuk situasi dan tidak akan membawa solusi apapun.
Oleh karena itu, ia berusaha untuk tetap tenang dan berpikir jernih agar bisa membantu Abiyasa untuk menyelesaikan masalah ini dengan caranya.
__ADS_1
"Mas, cukup!"
Indra kembali memperingatkan Abiyasa, agar tidak sampai membunuh Aji di apartemen ini. Dia tidak mau jika kewalahan dan perbuatan Abiyasa ini terbongkar apalagi terendus media sosial. Itu artinya, reputasi Abiyasa bisa tercoreng dan hancurlah bisnis yang mereka miliki dan kembangkan saat ini.