Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Hari ini hari Minggu. rumah sepi karena Endang sedang mengikuti arisan sosialita di luar kota selama seminggu, sekalian rekreasi. Hal ini membuat Abiyasa merencanakan sesuatu untuk memanfaatkan waktu dengan jalan-jalan ke taman bersama dengan Ajeng, karena sebelumnya.


Kesempatan langka ini tentu saja tidak disia-siakan oleh Abiyasa. Dia akan memanfaatkan waktu yang sangat bagus ini untuk mengajak istrinya jalan-jalan ke taman kota, mempererat hubungan mereka yang belum bisa dikatakan normal seperti sepasang suami istri pada umumnya.


Abiyasa mencoba berbagai berbicara, mengajak Ajeng yang sedang membersihkan meja makan.


Karena Endang sedang tidak berada di rumah, Abiyasa bersikap seperti orang normal pada umumnya, tidak berperan sebagai seorang idiot lagi.


"Bagaimana kalau pergi jalan-jalan? Emhhh, maksudku, kita."


Ajeng menoleh ke arah suaminya, yang sedang melihat ke arahnya juga. Dia bertanya lewat tatapan mata, memastikan bahwa suaminya memang mengajaknya pergi jalan-jalan.


"Iya. Kita bisa pergi jalan-jalan, ke taman kota atau ke tempat lainnya untuk mencari suasana baru. Apa kamu tidak bosan berada di rumah terus?"


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya, Ajeng paham bahwa semua itu adalah perasaan yang dirasakan oleh suaminya selama ini. Dan dia akhirnya setuju, karena waktunya juga tepat, dengan tidak adanya mamanya di rumah.


"Itu ide yang bagus. Aku suka sekali berjalan-jalan di taman. Apa Mas Abi mau berangkat sekarang?" tanya Ajeng dengan jalan mendekat ke arah suaminya duduk.


"Hehehe, aku juga suka sekali. Kita bisa berjalan-jalan di sekitar taman, melihat pemandangan yang indah, dan juga bisa berbicara-bicara juga."


"Ya, pasti akan sangat menyenangkan. Kapan kita akan pergi? atau menunggu sampai mama pulang?" sindir Ajeng, karena melihat Abiyasa masih duduk dan tidak segera bersiap-siap.


"Eh, iya sekarang! kita pergi sekarang saja, mumpung cuacanya sedang cerah dan sangat cocok untuk pergi ke taman." Cepat Abiyasa berdiri, kemudian mengajak Ajeng untuk bersiap.


"Baiklah, aku bersiap-siap dulu. Kita bisa membawa bekal dan duduk di bangku taman sambil menikmati suasana." Ajeng memberikan usulan.


Abiyasa terkekeh mendengar usulan suaminya. "Hehehe, itu adalah ide yang bagus. Aku akan mempersiapkan bekal, jadi kita tidak perlu khawatir tentang makanan dan minuman."


Tanpa menunggu jawaban dari Ajeng, Abiyasa berjalan menuju ke arah dapur untuk mengemas makanan ataupun camilan yang berada di lemari pendingin untuk dibawa.


"Terima kasih, Mas Abi. Aku bersiap dulu."


Abiyasa mengangguk mengiyakan, kemudian melanjutkan kegiatannya. "Jangan terlalu lama ya! Nanti aku bosan dan memilih berada di rumah lagi."


Ajeng mendelik mendengar ancaman yang diberikan oleh suaminya. Tapi dia tahu jika itu hanya bermaksud untuk bercanda saja.


"Baiklah, aku tidak akan lama. Just five minute!" Ajeng meminta waktu 5 menit untuk bersiap-siap.

__ADS_1


Percakapan antara mereka berdua, Abiyasa dan Ajeng semakin akrab dan dekat, tidak seperti di awal-awal pernikahan kemarin. Tapi ini terjadi pada saat Endang tidak berada di rumah. Mereka bisa saling mendukung dan berusaha untuk membuat suasana menyenangkan untuk sebuah hubungan yang baru, yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.


***


"Ajeng, lihatlah pemandangan di sini. Sungguh indah sekali, bukan?" Abiyasa berusaha menunjukkan suasana yang berbeda, apalagi taman dipenuhi orang-orang yang sedang menikmati hari libur mereka.


Ajeng tersenyum mendengar perkataan suaminya yang memang jarang pergi keluar dari rumah. "Ya, benar sekali. Taman ini memang sangat cantik dan menenangkan."


"Apa kamu tahu bahwa pohon sakura ini hanya mekar selama dua minggu setahun? Kita beruntung sekali bisa melihatnya saat sedang mekar."


Mendengar perkataan tersebut, dengan tangan Abiyasa yang menunjuk ke arah pohon sakura, membuat Ajeng takjub melihat pemandangan indah di depan matanya sekarang ini.


"Benarkah? Aku tidak tahu. Tapi, sungguh menyenangkan bisa melihatnya mekar bersama denganmu, Mas Abi."


Selepas bicara seperti itu, Ajeng langsung menutupi mulutnya sendiri dengan telapak tangannya. Wajahnya juga memerah karena tersipu malu-malu dengan apa yang dia katakan barusan.


Abiyasa tersenyum bahagia mendengar perkataan istrinya yang keluar dari dalam hatinya. "Aku juga merasa sangat bahagia bisa berada di sini bersamamu. Kamu tahu, aku selalu merasa tenang setelah berbagi keadaanku yang sebenarnya denganmu."


Abiyasa meraih tangan Ajeng, kemudian menggenggamnya erat. Dia tidak mau Ajeng merasa malu sendiri karena tidak mendapat respon darinya setelah perkataannya yang jujur tadi.


"Terima kasih, Mas Abi. Ya, aku juga merasakan hal yang sama. Maaf, jika aku selalu memperlakukanmu dengan tidak baik."


Abiyasa menggelengkan kepalanya, meminta pada istrinya supaya atau merasa bersalah. "Tidak usah merasa bersalah. Semua itu karena kamu tidak tahu, dan kamu juga sering membela aku jika mama sedang marah-marah sama aku."


Abiyasa tidak sedang merayu, karena apa yang dia katakan memang benar. Ajeng sering membelanya pada saat Endang memaki atau berkata kasar pada Abiyasa.


"Apakah kamu ingin berjalan-jalan di sekitar taman ini?" tanya Abiyasa mencairkan suasana yang canggung.


Ajeng mengangguk mengiyakan. "Tentu. Tentu saja, aku sangat senang. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di sepanjang jalan setapak yang ada di taman ini?"


"Hehehe, bagus ide kamu. Ayo, kita mulai dari sini." Kini mereka berdua berjalan dengan masih bergandengan tangan di jalan setapak yang ada di taman.


Mereka saling berbicara tentang kehidupan mereka dan menikmati keindahan alam di sekitar mereka. Suasana romantis semakin terasa ketika matahari mulai terbenam dan langit berubah menjadi oranye keemasan.


"Ajeng, lihatlah langit. Warnanya sangat indah sekali, bukan?"


Ajeng mendongak menatap ke arah langit. "Ya, benar sekali. Aku suka sekali dengan warna langit saat matahari terbenam."

__ADS_1


"Kamu tahu, aku... aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


Deg deg deg


Jantung Ajeng berdetak lebih kencang saat Abiyasa berkata ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Apa itu, Mas Abi?"


"Aku menyukaimu, Ajeng. Aku merasakan perasaan ini selama aku menjadi suamimu. Kamu mau menerima aku, membela aku dan sabar jika aku sedang berperan sebagai seorang yang bodoh sehingga aku tidak bisa menjadi suami yang berguna."


Ajeng terdiam. Dia sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. "Mas Abi, aku... a-ku..."


Abiyasa mengelengkan kepalanya beberapa kali mendengar perkataan Ajeng yang gugup. Dia tahu jika istrinya itu belum siap dan masih merasa tidak percaya dengan perubahannya yang secepat ini.


'Aku juga, mas Abi. Tapi, apa kamu percaya? aku bahkan tidak pernah merawatmu sebagaimana mestinya seorang istri pada suaminya.' Batin Ajeng berperang sendiri.


***


"Mas, aku pergi ke kamar kecil dulu."


Ajeng pamit untuk pergi ke kamar kecil. Taman ini memang dilengkapi dengan fasilitas umum yang lengkap, jadi ada fasilitas yang sangat diperlukan oleh orang-orang jika berada di taman, terutama kamar kecil.


"Perlu di antar?" tanya Abiyasa menawarkan dirinya untuk mengantar ke kamar kecil.


"Gak usah, Mas. Cuma ke kamar kecil di sebelah sana saja, kok." Ajeng tidak ingin merepotkan Abiyasa, apalagi jarak kamar kecil dari tempat mereka berada cuma beberapa meter saja.


Abiyasa mengangguk, mempersilahkan Ajeng supaya menyelesaikan kebutuhannya.


Ketika Ajeng pergi ke kamar mandi taman, dia tidak menyadari bahwa dia telah diincar oleh sindikat perdagangan manusia yang mengintai di sekitar tempat itu. Setelah Ajeng masuk ke dalam kamar mandi, dia ditarik masuk ke dalam suatu tempat yang gelap dan tidak dikenal. Ajeng merasa sangat ketakutan dan panik, karena dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dan siapa yang telah menculiknya.


Srettt


"Emhhh... ummm..."


"Diam, atau aku akan membunuhmu!"


Saat dia mencoba untuk berteriak meminta tolong, para pelaku yang menculiknya langsung membekap mulutnya, memberikan ancaman dan memaksa Ajeng untuk tetap diam dengan pisau yang ditekankan pada leher bagian belakang Ajeng.

__ADS_1


Mereka mengikat dan membekap mulut Ajeng agar dia tidak bisa berteriak atau melarikan diri. Ajeng merasa sangat ketakutan dan cemas karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.


Para pelaku kemudian membawa Ajeng ke suatu tempat yang jauh dari taman di mana dia diculik. Mereka membawa Ajeng ke dalam sebuah kendaraan dan membawanya pergi dari tempat kejadian. Ajeng merasa sangat lemah dan tidak berdaya, karena dia masih terikat dan terbebat dalam kendaraan tersebut.


__ADS_2