
Darah segar mengalir dari dada dan perut Aji, akibat tusukan-tusukan pisau yang dilakukan oleh Rian, sehingga membuat Abiyasa panik. Begitu juga dengan semua tamu undangan.
Semua tamu panik, baik yang melihat maupun yang tidak melihat kejadian.
"S-aya tidak tahu, semuanya begitu kacau! S-aya hanya ingin keluar dari sini dengan selamat. A-pakah kita harus memanggil polisi?"
"Ya, s-aya setuju. Ini situasi yang sangat tidak aman. S-aya akan mencoba menghubungi polisi sekarang. Tetap tenang, kita akan menyelesaikan ini."
"T-api s-aya sangat takut. A-pakah ada pintu darurat atau jalur evakuasi yang dapat kita gunakan?"
"Sa-ya melihat beberapa staf hotel berusaha menenangkan situasi. Kita harus mengikuti petunjuk mereka dan mencoba tetap tenang. M-ungkin mereka akan membantu kita keluar dari sini dengan selamat."
"Tolong, jangan panik! Tetap tenang dan bergerak perlahan menuju pintu keluar terdekat. Kita harus bekerja sama dan melindungi satu sama lain. Semoga semuanya akan berakhir baik-baik saja."
Kepanikan terus terjadi di tempat acara, bahkan mereka yang tidak ikut menyaksikan kejadian Rian menusuk Abiyasa dan mengenai Aji, secara langsung pun ikut merasa khawatir dan cemas.
"Apakah kamu melihat, Pak Abiyasa? Apa yang terjadi padanya? Kita harus melindunginya jika , Pak Rian mencoba menyerangnya!" tanya salah satu dari mereka yang merasa lebih dekat atau kenal.
"Saya tidak tahu di mana pak Abiyasa berada sekarang. Tetapi, kita harus menjaga keamanan diri kita sendiri terlebih dahulu. Segera mencari tempat perlindungan dan berusaha menghubungi petugas keamanan untuk membantu, Pak Abiyasa."
Sementara itu, Aji terluka akibat tusukan pisau yang dilakukan oleh Rian, segera di bawa ke rumah sakit oleh Abiyasa untuk mendapatkan pertolongan.
Setelah serangan yang dilakukan oleh Rian tadi, suasana di sekitar acara pembukaan semakin tegang dan penuh kepanikan. Orang-orang yang mencoba membantu Aji dan Abiyasa dalam mengatasi situasi tersebut, memberikan bantuan pertama sebisanya.
Abiyasa akan berusaha untuk menstabilkan keadaan Aji, memastikan bahwa cedera tersebut tidak semakin parah, dan meminta bantuan medis yang diperlukan secepat mungkin. Ia segera menghubungi pihak-pihak terkait kemudian segera berlari dengan membopong tubuh kakaknya.
Abiyasa tidak sabar menunggu ambulans ataupun yang lainnya, jadi langsung membawa kakaknya sendiri ke rumah sakit.
"Kak Aji, tenanglah, kita akan segera sampai di rumah sakit dan mendapatkan bantuan medis yang diperlukan." Abiyasa mencoba menenangkan kakaknya yang tergolek di kursi penumpang.
"Kamu kuat, kak Aji. Semua akan baik-baik saja. Aku ada di sini bersamamu."
Dia terus berbicara, supaya Aji tetao sadar dan tidak mama temukan matanya dengan tangannya yang menekan luka-lukanya.
"Tahanlah, kak Aji. Kami sudah hampir sampai ke rumah sakit. Mereka akan merawatmu dengan baik. Jangan pejamkan matamu!"
"Dengar, kak Aji, kita akan melalui ini bersama-sama. Aku akan selalu mendampingi mu."
__ADS_1
Meskipun Abiyasa berusaha untuk tetap tenang dan memberikan kata-kata semangat untuk Aji, tapi raut wajah dan getaran suaranya tetap memperlihatkan bahwa dia juga dalam keadaan cemas dan panik.
Tak lama kemudian, mobil Abiyasa sudah tiba di rumah sakit. Dan langsung menghentikan mobilnya di depan IGD.
"Pak tolong!"
Security rumah sakit, sigap membantu Abiyasa menurunkan Aji dari dalam mobil. Me
"Percayalah padaku, kak Aji, dokter akan segera datang dan mengobati luka tusukan ini. Kamu akan pulih." Abiyasa masih memberikan semangat untuk kakaknya.
Di rumah sakit, Aji segera mendapatkan perawatan medis segera. Tim medis melakukan pemeriksaan terhadap luka-luka tusukan, menghentikan pendarahan, dan memberikan perawatan yang sesuai. Dokter juga memeriksa cedera lainnya yang mungkin terjadi akibat serangan tersebut, karena ini berhubungan dengan organ dalam.
"Jangan khawatir, kak Aji. Kamu dalam perawatan yang baik sekarang. Kita harus tetap tenang dan memberikan kerjasama kepada tim medis."
"Ingat, kak Aji, kita kuat sebagai keluarga. Kita akan mengatasi ini bersama-sama."
Dokter memang mengijinkan Abiyasa yang bermaksud untuk memberikan kekuatan dan semangat pada kakaknya sehingga tidak diusir keluar saat mereka melakukan perawatan.
"Abi yakin tim medis akan melakukan segalanya untuk menyembuhkan mu. Kamu tidak sendirian, kak Aji."
"Tetaplah fokus pada napas mu, kak Aji, dan biarkan kami mengurus sisanya. Kita akan membuatmu merasa lebih baik."
"Aku sangat peduli denganmu, kak Aji. Kita akan segera mendapatkan pertolongan yang kamu butuhkan. Bersabarlah."
Setelah itu, Abiyasa diminta oleh dokter untuk ke luar ruangan terlebih dahulu. "Silahkan Bapak tunggu di luar, ya?"
Meskipun Abiyasa merasa cemas dan khawatir akan kondisi Aji, dia tetap mengangguk mengiyakan kemudian berjalan dengan langkah gontai menuju ke arah pintu.
Abiyasa sadar untuk tetap tenang dan memberikan dukungan kepada kakaknya. Dan saat ini, di saat Aji sedang ditangani oleh dokter, Abiyasa segera menghubungi Indra untuk mengetahui keadaan di hotel yang di tinggalkan begitu saja saat panik dengan keadaan kakaknya.
Abiyasa harus segera mengurus kekacauan di sana, memberikan perintah pada Indra untuk mengurus Rian yang telah melakukan kekacauan dan penyerangan terhadap dirinya, tapi mengenai kakaknya.
Tut tut tut
Di saat bada ketiga, Indra menerima panggilan telponnya.
..."Halo, mas Abi. Bagaimana dengan Pak Aji? Sudah mendapatkan perawatan?" ...
__ADS_1
..."Iya, Indra. Terima kasih sudah peduli."...
..."Syukurlah kalau begitu, mas Abi."...
..."Indra, situasi ini sangat serius. Paman Rian telah menyebabkan kekacauan dan menyerang kakakku. Aku perlu kamu untuk mengambil tindakan segera." ...
..."Tentu, mas Abiyasa. Apa yang saya harus lakukan? Ini, pak Rian sudah saya amankan di kamar khusus, di hotel." ...
..."Apakah kamu, atau yang lainnya ada yang menghubungi pihak kepolisian?" ...
..."Ya, ada. Di bawah sana ada satu kompi polisi yang datang memeriksa dan memberikan pengamanan." ...
..."Lalu, apakah mereka bertanya tentang paman Rian?" ...
..."Ya. Mereka meminta keterangan dari beberapa tamu." ...
..."Jangan biarkan polisi membawa paman. Aku tidak mau jika dia harus bebas dari tanggung jawabnya. Aku ingin memberikan hukuman sendiri padanya!" ...
..."Baik, mas Abi." ...
..."Lakukan apapun, yang penting jangan sampai paman Rian dibawa pihak kepolisian!" ...
..."Siap, mas Abi." ...
..."Oh ya, Nona Anna? Aku melupakan keberadaannya karena panik dan khawatir." ...
..."Nona Anna aman. Dia sudah berada di dalam kamar hotel, setelah tadi sempat panik dan khawatir dengan keadaan mas Abi dan juga pak Aji." ...
..."Baiklah. Terima kasih, Indra. Aku percayakan semuanya padamu. Aku tahu, kamu pasti bisa mengatasi situasi ini." ...
..."Baik, mas Abi." ...
Klik
Abiyasa menghela nafas panjang. Dia tidak pernah menyangka jika pamannya akan melakukan penyerangan seperti tadi, di tempat umum saat pembukaan hotel.
Sebenarnya sudah lama Abiyasa memikirkan tentang rencana pamannya, yang ingin membalas dendam padanya. Tapi dia tidak pernah menyangka, jika seperti inilah rencana yang telah disusun oleh pamannya, Rian.
__ADS_1
"Kak Aji, aku akan melakukan apa saja untuk memberikan pelajaran pada paman Rian!" geram Abiyasa, dengan mengepalkan kedua tangannya.