
Di tempat lain, Rian yang sedang berada di sebuah hotel luar kota dikepung oleh Indra dan anggota polisi yang menyamar. Mereka akan segera menangkap Rian yang telah berencana untuk meracuni Abiyasa. Sedangkan Endang, orang yang diminta oleh Rian membawa racun justru sudah meninggal dunia.
Indra dan timnya telah berhasil menemukan keberadaan Rian di sebuah hotel di luar kota sesuai dengan petunjuk Abiyasa. Mereka segera melakukan penyergapan dan mengepung kamar tempat Rian berada. Rian sendiri terkejut ketika dia menyadari bahwa dia telah dikepung oleh polisi dan Indra.
"Pak Indra, apa yang terjadi?" tanya Rian dengan pura-pura kebingungan.
Elok, terkejut dan segera berlari ke arah kamar mandi dengan selimut yang dililitkan pada tubuhnya.
Untung saja Rian sudah memakai celana pendek sehingga tidak semua tubuhnya polos seperti beberapa jam yang lalu pada saat mereka sedang melakukan permainan.
Indra menatap Rian dengan tajam. "Kami tahu semuanya, pak Rian. Kamu telah merencanakan untuk meracuni pak Abiyasa melalui nyonya Endang. Kamu akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara."
Rian terlihat sangat panik. "Sa-ya, saya tidak merencanakan apa-apa! Sa-ya tidak punya rencana untuk meracuni siapa pun!" elaknya.
"Jangan berbohong, pak Rian," tegas Indra. "Kami sudah menemukan bukti yang cukup untuk menangkap mu. Sekarang, lebih baik menyerah saja."
Namun, Rian hanya terdiam dan tidak memberikan respons. Indra dan timnya langsung menangkap Rian tanpa banyak melakukan perlawanan.
"Sudah saya katakan, saya tidak membawa racun," kata Rian dengan tergesa-gesa. "Mungkin salah alamat atau salah informasi," lanjutnya membela diri.
"Ini ada bukti yang lebih akurat. Dan bukti yang lain sudah dikumpulkan di kantor polisi jadi kamu tidak bisa mengelak."
Indra memperlihatkan sebuah video, yang menggambarkan tentang pertemuan Rian dengan Endang disebuah restoran. Di sana juga ada beberapa orangnya Rian yang tampak berjaga-jaga.
Rian tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk membela diri. Dia pasrah untuk dibawa kantor polisi untuk diperiksa lebih lanjut. "Kita bawa pak Rian ke kantor polisi sekarang juga, karena semua bukti-bukti yang lain sudah berada di kantor polisi."
Tim polisi segera membawa Rian ke mobil dan membawanya ke kantor polisi. Dan untuk pihak hotel, sudah diberitahu sebelumnya. Jadi mereka tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya menerima permintaan kerjasama untuk penangkapan Rian.
__ADS_1
Elok, sekretaris sekaligus kekasihnya Rian tentu saja sangat terkejut dengan kedatangan Indra dan anggota polisi yang menangkap Rian. Dia tidak tahu apa-apa sehingga Indra mencoba memenangkannya, sesuai dengan permintaan Abiyasa, Indra harus segera membawa Elok pergi dan tidak melibatkannya dalam kasus Rian.
Tok tok tok
"Nona Elok, keluarlah. kami butuh bicara denganmu," kata Indra dengan suara tenang saat mengetuk pintu kamar mandi, dimana tadi Elok bersembunyi.
Elok merasa semakin panik, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan atau katakan. "Apa yang terjadi, Pak Indra? Apakah masih ada banyak orang?" tanya Elok belum berani membuka pintu kamar mandi.
"Sudah tidak ada. Ini, aku bawakan pakaianmu."
Elok membuka pintu sedikit, kemudian mengintip dan mengambil pakaian yang disodorkan oleh Indra.
Beberapa saat kemudian, Elok kekuar dari dalam kamar mandi dengan pakaiannya yang lebih sopan.
Indra memandang Elok dengan serius. "Kami sudah menangkap Rian. Kamu harus pergi bersama kami sekarang."
Indra kemudian menjelaskan bahwa Rian telah merencanakan untuk meracuni Abiyasa lewat mama mertunya, dan bahwa mereka tidak ingin Elok terlibat dalam kasus tersebut.
"Nona Elok, mas Abiyasa memintaku untuk membawamu pergi dari sini. Dia tidak ingin kamu terlibat dalam kasus ini," ujar Indra dengan lembut.
Elok merasa sedikit lega mendengar itu, meskipun dia masih merasa cemas. "Ba-iklah, Pak Indra. Sa-ya, saya akan pergi bersama dengan Anda."
Indra dan timnya segera membawa Elok ke mobil dan membawanya ke tempat yang aman. Elok merasa sangat cemas dan takut, tetapi dia merasa lega bahwa dia tidak akan terlibat dalam masalah Rian yang satu ini.
"Pak Indra, a-pa yang sebenarnya terjadi?" tanya Elok dengan suara gemetar.
Indra menjelaskan semuanya dengan detail dan memberikan beberapa informasi tambahan tentang kasus tersebut. Dia juga meminta Elok untuk tidak memberitahu siapa pun tentang apa yang terjadi, sebelum semuanya terungkap di pengadilan.
__ADS_1
"Elok, aku minta maaf jika ini membuatmu cemas dan takut," kata Indra. "Tetapi ini adalah tugasku yang diberikan oleh mas Abiyasa untuk melindungimu. Kamu harus tetap tenang dan jangan khawatir, mas Abi tidak akan melibatkan dirimu dan menjaga kamu dengan baik."
Elok merasa sangat terharu dengan ucapan Indra. Dia merasa aman dan dilindungi. "Terima kasih, Pak Indra. Sa-ya sangat menghargai apa yang kamu lakukan untuk melindungi saya. Terima kasih untuk mas Abi juga, tolong sampaikan."
Indra tersenyum dan kemudian membawa Elok ke tempat yang aman untuk sementara waktu, menunggu situasi mereda dan kasus Rian selesai ditangani.
Semua ini adalah permintaan Abiyasa sendiri, agar keluarga pamannya, yaitu istrinya Rian, tidak menyalahkan Elok atau menyerangnya dengan tuduhan sebagai pelakor. Bagaimanapun juga, Elok adalah temannya Abiyasa sejak kecil. Dan Elok selau berbuat baik dengannya.
***
Di apartemen lainnya, Aji tidak tahu menahu mengenai pamannya, yaitu Rian, yang sekarang sudah tertangkap. Dia justru sedang bermain dengan wanitanya, setelah beberapa saat tadi mendapatkan pesan dan telepon dari pamannya agar tidak perlu khawatir dengan keadaannya yang sudah berada di luar kota.
"Kita harus menikmati malam ini sebaik-baiknya, girls!" ucap Aji dengan nada gembira. "Siapa yang mau minuman?"
Para wanita menjawab serentak dengan senyum dan riuh tawa. Beberapa di antaranya memesan koktail dan Aji segera memanggil pelayan untuk memesannya.
Aji sedang asyik berpesta dengan beberapa wanita di apartemennya. Dia menari-nari dengan gembira sambil meneguk minuman keras. Tiba-tiba, ponselnya bergetar dan Aji mengambilnya. Dia terkejut melihat pesan dari pamannya, Rian, yang memberitahunya bahwa dia telah tertangkap oleh polisi. Aji merasa sedikit khawatir namun dia tidak terlalu memperdulikan hal tersebut. Dia bahkan mengabaikan pesan tersebut dan kembali fokus pada pesta yang sedang dihadirinya. Namun, dalam benaknya, Aji tidak bisa menahan kecemasan tentang masa depannya setelah penangkapan pamannya.
Aji sedang berada dalam suasana pesta yang ramai dengan beberapa wanita yang menyertainya. Dia tampak santai dan tanpa beban, menikmati minuman dan musik yang dimainkan. Beberapa wanita yang ada di sekitarnya tertawa dan menari bersamanya, menciptakan suasana yang semakin meriah.
"Tunggu sebentar, aku mau posting di Instagram dulu nih," ujar salah satu wanita sambil mengeluarkan ponselnya.
Aji tersenyum dan mengambil ponselnya sendiri, lalu berpose bersama para wanita.
"Hashtag: party all night long!" tulisnya sebagai caption foto tersebut.
Saat pesta semakin memanas, ponsel Aji kembali berdering. Dia mengangkatnya dan memeriksa pesannya dengan cepat. Namun, setelah membacanya, Aji tampaknya tidak terlalu peduli dan kembali berdansa dengan para wanita di sekitarnya, meskipun rasa cemas tetap mengganggu di dalam benaknya.
__ADS_1
"Ck, paman sudah tidak bisa diandalkan!"