
Aji mendekati Abiyasa yang sedang sibuk dengan pekerjaan. "Abi, bolehkah aku ikut serta dalam acara pembukaan hotel mu? Aku ingin merasakan kemeriahan dan kesuksesannya."
Abiyasa terkejut mendengar pertanyaan dari kakaknya, yang tiba-tiba datang tanpa sepengetahuannya. Dia juga heran melihat bagaimana wajah kakaknya yang seperti sedang memohon.
"Oh, hai kak Aji! Tentu, aku senang jika kamu ikut serta. Tapi, apakah kamu yakin? Acara ini bisa sangat sibuk dan mungkin aku tidak bisa memberikan perhatian penuh kepadamu."
Aji ingin merasakan bagaimana kemeriahan sebuah acara perusahaan. Sejak dia sadar akan semua kesalahannya kemudian menyerahkan semua kepemilikan saham miliknya pada Abiyasa, dia memang tidak pernah mengikuti kegiatan-kegiatan di perusahaan. Oleh karena itu, dia meminta izin terlebih dahulu pada adiknya, Abiyasa.
Aji sangat ingin melihat bagaimana acara tersebut berjalan dan merasakan kemeriahan serta kesuksesan usaha adiknya.
"Aku mengerti, Abi. Aku tidak akan merepotkan kegiatanmu. Aku hanya ingin merasakan suasana pembukaan dan melihat betapa besar pencapaianmu dalam membangun hotel ini."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh kakaknya, Abiyasa merasa terharu.
"Terima kasih, kak Aji. Aku benar-benar menghargai dukungan mu. Baiklah, kamu tentu saja bisa ikut. Tetapi, harap pahami bahwa aku mungkin harus sibuk menjalankan tanggung jawab sebagai tuan rumah acara."
Sebenarnya, Abiyasa memang menginginkan Aji ikut hadir. Tapi, dia tidak mengirim undangan secara resmi. Apalagi hubungan antara mereka berdua sudah membalik sehingga dia ingin mengundang kakaknya secara langsung dengan datang ke tempat tinggal kakaknya. Tapi ternyata kakaknya sendiri sudah mengetahui, dan justru meminta izin langsung padanya.
Abiyasa sedikit merasa malu karena takut jika kakaknya akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Karena bisa saja Aji merasa terabaikan olehnya.
"Maaf, kak Aji. sebenarnya aku ingin mengajakmu secara langsung dengan mengundang nanti malam. Aku akan datang ke apartemenmu, tapi ternyata justru kakak sudah datang sendiri ke sini. Maaf, aku terlambat datang dan menyampaikan permintaanku."
Aji tersenyum mendengar penjelasan yang diberikan oleh Abiyasa, meskipun dia tidak merasa tersinggung atas keterlambatan undangan dari Abiyasa.
"Tentu, Abi. Terima kasih. Aku akan menjaga diri sendiri dan tidak akan mengganggumu. Aku berjanji hanya akan menyaksikan dan menghormati upaya yang telah kamu lakukan."
"Baguslah. Terima kasih, ya kak Aji. Jadi, acara pembukaan hotelku akan dimulai besok pukul 18.00 di ballroom utama. Jangan terlambat ya, karena ada resepsi dan pidato pembukaan yang dijadwalkan."
__ADS_1
Aji mengganggukan kepalanya mengiyakan.
"Atau, kakak mau dijemput supir?" tanya Abiyasa berikan penawaran.
"Tidak perlu repot-repot, Abi. Aku bisa datang sendiri. Aku akan memastikan untuk datang tepat waktu, Abi. Aku tidak sabar melihat betapa megahnya hotel ini dan seberapa jauh kamu telah mencapai kesuksesan atas semua usahamu."
Abiyasa memeluk kakaknya dengan tersenyum senang.
Greppp
"Terima kasih lagi, kak Aji. Aku sangat menghargai dukungan mu. Ini akan menjadi momen spesial bagi kita berdua. Ayo, kita pastikan acara pembukaan ini berjalan dengan sukses!"
Abiyasa untuk mengizinkan Aji ikut serta dalam acara pembukaan hotelnya. Meskipun Abiyasa perlu fokus pada tugas-tugasnya sebagai tuan rumah, dia menghargai dukungan dan minat kakaknya dalam proyek tersebut.
Perasaan Aji tentu saja campur aduk. Dia merasakan kombinasi antara kegembiraan dan rasa bangga, namun juga sedikit rasa malu. Meskipun dia tidak lagi menjadi bagian dari perusahaan tersebut, dia masih merasa ikut memiliki perasaan khusus akan kesuksesan adiknya, Abiyasa.
Di satu sisi, Aji merasa bangga terhadap adiknya yang telah mencapai pencapaian besar dengan membangun hotel tersebut. Dia melihat kesuksesan Abiyasa sebagai sesuatu yang patut diacungi jempol dan merasa terhormat dapat menyaksikan momen penting dalam kehidupan adiknya. Kegembiraan Aji terletak pada dukungan dan cinta keluarga yang ia rasakan terhadap kesuksesan adiknya.
Namun, di sisi lain, Aji juga merasakan sedikit rasa malu atau canggung. Meskipun dia ingin berbagi kegembiraan dan kesuksesan Abiyasa, dia juga menyadari bahwa dia tidak lagi menjadi bagian aktif dalam perusahaan tersebut karena rasa bersalahnya yang besar.
Ada perasaan bahwa dia telah tertinggal atau tidak sejajar dengan perkembangan karier Abiyasa. Meskipun demikian, rasa bangga dan cinta keluarga yang dirasakan oleh Aji yang sekarang, jauh lebih kuat daripada rasa malu tersebut.
Perasaan Aji saat ini adalah campuran antara kegembiraan, rasa bangga, dan rasa malu. Dia senang dapat ikut serta dalam acara pembukaan hotel adiknya, meskipun tidak lagi menjadi bagian dari perusahaan tersebut. Aji berharap dapat mendukung Abiyasa dengan sepenuh hati dan ikut merayakan kesuksesannya dengan penuh kebanggaan sebagai saudara.
"Kak, aku mau ada meeting yang terakhir untuk acara pembukaan besok. Apakah kakak mau ikut ke ruangan meeting?" Abiyasa bertanya pada Aji, memberikan penawaran.
"Sungguh, aku sangat senang Abi. Tapi, lebih baik aku kembali." Aji menolak untuk ikut meeting bersama adiknya dan tim.
__ADS_1
"Hai, kak. Kakak baru saja datang, ayolah!"
Tapi Aji tetap menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau terlibat secara langsung dalam kegiatan perusahaan.
"Aku senang karena kamu memberikan izin padaku untuk ikut dalam acara pembukaan hotel mu. Aku benar-benar berbangga dan tidak sabar untuk melihat betapa besar kesuksesan yang telah kamu capai. Tapi aku tidak mau terlibat secara langsung."
Abiyasa mendengarkan alasan yang diberikan oleh kakaknya dengan seksama. Dia tidak menyangka jika sikap Aji sejauh itu dalam kesadarannya yang sekarang.
"Meskipun aku tidak lagi menjadi bagian dari perusahaan ini, aku masih merasa terhubung dengan kesuksesanmu, Abi. Ini adalah momen yang luar biasa, dan aku merasa bangga sebagai saudaramu."
Aji melanjutkan kalimatnya, karena melihat Abiyasa tidak menyahuti perkataannya dan hanya memperhatikannya dengan baik.
"Ya, mungkin ada sedikit rasa canggung karena aku tidak lagi terlibat secara langsung di perusahaan ini , tapi itu tidak mengurangi rasa bangga dan sukacita yang kurasakan. Aku akan mendukungmu sepenuh hati dalam acara pembukaan ini."
Abiyasa haru mengetahui bagaimana perasaan kakaknya. Beberapa waktu yang lalu, sebenarnya dia sudah meminta pada kakaknya untuk kembali aktif ke kantor. Tapi ternyata Aji menolaknya.
"Terkadang aku merasa seperti aku telah tertinggal, tapi saat ini, aku ingin fokus pada kesuksesanmu, Abi. Aku senang bisa menyaksikan perjalananmu dan merasakan kemeriahan acara ini bersamamu nanti."
"Melihat seberapa jauh kamu telah mencapai dan bangga melihat usahamu, membuatku sangat bahagia. Aku akan hadir di acara pembukaan dengan perasaan bangga dan rasa cinta sebagai saudaramu."
Ungkapan-ungkapan perasaan Aji yang campuran antara kegembiraan, rasa bangga, dan rasa canggung karena rasa malu. Tapi Abiyasa menggelengkan kepalanya, memberikan isyarat supaya kakaknya tidak perlu merasa sungkan.
Meskipun ada rasa canggung karena tidak lagi menjadi bagian dari perusahaan ini, Aji tetap merasa bangga dan bersemangat untuk mendukung dan merayakan kesuksesan Abiyasa dalam acara pembukaan hotel.
"Kak, tidak pernah sungkan untuk semua yang berkaitan dengan perusahaan ini. Kita bisa menjalankannya bersama dan sukses bersama-sama."
Aji tersenyum mendengar perkataan adiknya. Dia tahu jika Abiyasa adalah adiknya yang berhati malaikat. Dia semakin merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukannya selama ini.
__ADS_1