
Setelah mendengar keluhan Rian tentang keadaannya di dalam tahanan, pengacaranya merasa sangat prihatin dengan kondisi kliennya. Pengacaranya sangat memahami betapa beratnya Rian berada di dalam tahanan yang tidak nyaman dan bersama dengan para napi yang kasar dan menyeramkan.
Pengacaranya berjanji untuk melakukan segala yang mungkin untuk membantu Rian bebas dari tahanan tersebut. Pengacaranya tahu bahwa itu bukanlah pekerjaan mudah, tetapi dia bertekad untuk melakukan yang terbaik.
"Saya pasti akan melakukan apa-apa yang terbaik untuk Anda, pak Rian."
"Harus! Saya akan menaikkan intensif Anda, jika berhasil."
Pengacara tersebut menganggukan kepalanya mendengar perkataan Rian. Dia akan segera mencari tahu apakah Rian memenuhi persyaratan untuk mendapatkan pembebasan sementara dari tahanan. Dia juga akan memeriksa dokumen dan bukti-bukti yang dapat digunakan untuk mendukung alasan pembebasan Rian.
Pengacara tersebut juga akan berbicara dengan keluarga dan teman-teman Rian untuk meminta bantuan mereka dalam memberikan jaminan kehadiran dalam persidangan selanjutnya.
Setelah memeriksa persyaratan, pengacaranya akan menyiapkan permohonan pembebasan sementara untuk Rian. Dia akan menyusun surat permohonan yang jelas dan lengkap, dan memastikan bahwa semua persyaratan terpenuhi. Setelah itu, pengacaranya akan mengajukan permohonan ini kepada pihak berwenang dan menunggu keputusan.
Namun, pengacaranya juga menyadari bahwa pembebasan sementara ini harus diambil dengan hati-hati. Dia harus memastikan bahwa keputusan ini tidak akan berdampak negatif pada proses persidangan selanjutnya. Oleh karena itu, pengacaranya akan bekerja sama dengan timnya untuk mempersiapkan semua dokumen dan bukti-bukti yang dibutuhkan dalam persidangan, dan memastikan bahwa Rian dapat terlibat secara aktif dalam proses tersebut.
Pengacaranya tahu bahwa proses ini akan memakan waktu dan usaha yang besar, tetapi dia bersedia melakukannya untuk membantu kliennya. Dia berharap bahwa dengan kerja keras dan kerja sama, mereka dapat mencapai tujuannya dan membantu Rian keluar dari tahanan tersebut.
***
Sementara itu, di tempat lain, Abiyasa kembali menemani isterinya pergi ke psikiater untuk terapi traumanya setelah penculikan.
Ajeng masih merasa kesulitan untuk mengatasi trauma yang dialaminya saat diculik beberapa waktu yang lalu. Kecemasan dan rasa takut masih kerap menghampirinya. Namun, dia merasa sedikit tenang karena Abiyasa selalu ada di sampingnya. Memberikan yang terbaik untuknya.
Mereka pergi ke psikiater untuk melanjutkan terapi trauma Ajeng. Ketika mereka sampai di klinik, Ajeng kembali terlihat gugup dan tegang. Abiyasa merasa prihatin melihat keadaan istrinya dan berusaha untuk menenangkannya.
"Jangan khawatir, sayang. Aku di sini denganmu. Aku akan selalu ada untukmu," ucap Abiyasa dengan lembut sambil memeluk Ajeng.
Ajeng tersenyum kecil dan merasa sedikit lega. Dia merasa senang bahwa Abiyasa selalu ada untuknya dan memberikan dukungan moral. Mereka kemudian masuk ke ruang tunggu dan menunggu panggilan dari psikiater.
Saat di ruang terapi, Ajeng mulai bercerita tentang pengalamannya saat diculik. Dia menjelaskan betapa ketakutan dan trauma yang dia rasakan. Psikiater kemudian mulai memberikan terapi dengan berbicara kepada Ajeng, membantu Ajeng mengatasi emosi yang sulit untuk diungkapkan.
Sementara itu, Abiyasa duduk di sampingnya dan memberikan dukungan dengan mengelus punggung Ajeng. Dia merasa prihatin dengan keadaan istrinya dan berusaha membantu Ajeng melalui terapi ini.
Setelah selesai terapi, mereka berdua keluar dari klinik. Ajeng merasa sedikit lelah, tapi juga merasa lega karena telah dapat mengungkapkan emosinya.
Abiyasa menyentuh pundak Ajeng dan berkata, "Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Ajeng tersenyum dan berkata, "Sedikit lelah, tapi aku merasa lega karena telah berbicara tentang pengalaman itu."
Abiyasa menggenggam tangan Ajeng dan berkata, "Aku sangat bangga denganmu, sayang. Kamu sangat kuat dan tabah."
__ADS_1
Ajeng tersenyum lebar dan berkata, "Terima kasih, sayang. Kamu selalu menjadi sumber kekuatanku."
Ketika mereka berjalan pulang, Abiyasa bertanya pada Ajeng tentang apa yang ingin dilakukannya untuk membantu Ajeng mengatasi trauma tersebut. Ajeng berpikir sejenak dan berkata, "Aku ingin mengikuti kursus yoga atau meditasi. Aku pikir itu akan membantu aku merasa lebih tenang dan relaks."
Abiyasa setuju dan berkata, "Aku akan mencarikan tempat yoga atau meditasi yang bagus untukmu. Aku yakin itu akan membantumu merasa lebih baik."
Ajeng tersenyum. "Terima kasih, sayang. Aku sangat beruntung memiliki suami yang peduli seperti kamu."
Abiyasa tersenyum dan memeluk Ajeng, berkata, "Aku selalu akan ada untukmu, sayang. Aku akan selalu berusaha membantumu melalui masa sulit ini."
Dalam perjalanan pulang, mereka berbicara tentang banyak hal dan beberapa obrolan ringan untuk mengisi waktu perjalanan pulang mereka.
Abiyasa memandangi istrinya dengan penuh kasih sayang. Ia berusaha memberikan semangat pada Ajeng yang masih terlihat rapuh setelah terapi traumanya tadi.
"Bagaimana perasaanmu, sayang? Apakah sedikit lebih baik sekarang?" tanya Abiyasa dengan lembut.
Ajeng menatap suaminya dan memberikan senyuman kecil. "Iya, sedikit lebih baik. Terima kasih telah menemaniku ke sana, dan selalu ada untukku," jawabnya dengan suara lembut.
Abiyasa menggenggam tangan Ajeng dan berkata, "Kau tahu aku selalu ada untukmu, sayang. Dan aku ingin membantumu melewati masa-masa sulit ini."
Ajeng tersenyum dan merasa bersyukur memiliki suami seperti Abiyasa. Ia merasa lebih tenang dan aman berada di samping suaminya.
"Mari, ayo kita pergi ke Mall dan berbelanja sepuasnya. Kau bisa memilih apa saja yang ingin kau beli," ajak Abiyasa.
Ajeng terlihat ragu untuk menerima ajakan suaminya. "Tapi aku khawatir akan merepotkan dan juga mengganggu waktumu, mas Abi."
Abiyasa menggelengkan kepalanya. "Kau tidak akan mengganggu aku. Aku ingin membantumu merasa lebih baik. Selain itu, kita juga bisa makan bersama dan menikmati waktu bersama-sama."
Ajeng tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, mas Abi. Aku akan merasa lebih baik jika bersama denganmu."
Mereka berdua kemudian pergi ke Mall dan berbelanja sepuasnya. Abiyasa membelikan Ajeng apa saja yang diinginkannya. Mereka juga makan bersama di restoran yang ada di dalam Mall.
Mereka berdua terlihat bahagia dan menikmati waktu bersama-sama. Ajeng merasa lebih tenang dan nyaman berada di samping Abiyasa. Ia merasa seperti ada seseorang yang selalu mendukung dan memberikan kekuatan padanya.
Setelah berbelanja dan makan, mereka berdua kembali pulang ke rumah. Abiyasa membantu Ajeng membawa semua barang belanjaan ke dalam rumah.
"Terima kasih banyak, mas Abi. Hari ini aku merasa sangat bahagia dan tenang," ujar Ajeng dengan senyum lebar di wajahnya.
Abiyasa tersenyum. "Senang mendengarnya, sayang. Aku juga merasa bahagia bisa membantumu merasa lebih baik. Kita harus selalu saling mendukung dan berada di samping satu sama lain."
Ajeng mengangguk dan berpelukan dengan suaminya. Mereka berdua merasa lebih dekat satu sama lain setelah hari ini. Ia merasa terharu memiliki suami seperti Abiyasa yang selalu mendukung dan memberikan kekuatan padanya.
__ADS_1
"Hari ini merupakan hari yang sangat istimewa. Terima kasih sudah ada untukku."
Tapi di Mall, sebelum mereka berdua keluar untuk pulang, mereka justru bertemu dengan Aji. Yaitu kakaknya Abiyasa yang jahat dan berkelakuan berbanding terbalik dengan Abiyasa selama ini.
Abiyasa dan Ajeng merasa terkejut ketika melihat Aji di mal. Mereka belum pernah bertemu dengan Aji setelah insiden yang ada di kantor perusahaan waktu itu.
Aji memandang Abiyasa dengan tatapan tajam dan penuh dendam. Abiyasa merasa tidak nyaman dengan tatapan itu, tapi tetap berusaha untuk tenang dan tidak terpengaruh. Sementara itu, Ajeng merasa was-was karena merasa situasinya semakin tidak nyaman.
"Kak Aji, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Abiyasa, mencoba membuka obrolan.
Aji hanya menatap Abiyasa dengan tatapan tajam dan tidak menjawab. Abiyasa merasa semakin tidak nyaman dan mencoba menenangkan situasi.
"Kak Aji, kita bisa bicara dengan tenang dan mencari solusi terbaik untuk masalah kita," kata Abiyasa dengan suara lembut.
Ajeng mencoba menarik tangan Abiyasa dan berbisik, "Mas Abi, kita harus pergi dari sini. Ajeng merasa tidak nyaman dengan kehadiran, kak Aji."
Namun, Aji tidak mengizinkan mereka pergi begitu saja. Dia menghalangi mereka dan berbicara dengan suara yang rendah, tapi penuh dengan amarah.
"Kamu berdua memang pandai menyembunyikan kebenaran. Kamu pikir aku tidak tahu bahwa kamu yang merampok perusahaan keluarga kita?" kata Aji dengan suara merendahkan.
Abiyasa terkejut mendengar kata-kata Aji. Dia tidak pernah membayangkan bahwa Aji akan menuduhnya seperti itu. Abiyasa mencoba membela diri, "Aku tidak melakukan itu, kak Aji. Kamu memutar balik fakta."
Ajeng mencoba meredakan situasi dan berkata, "Kak Aji, kita bisa bicara dengan tenang dan mencari solusi terbaik untuk masalah kita. Tidak perlu saling menuduh."
Namun, Aji tidak mendengarkan kata-kata Ajeng dan semakin marah. Dia merasa bahwa Abiyasa dan Ajeng telah mencurangi dirinya.
"Kalian berdua telah mencurangi aku! Aku tidak akan membiarkan kalian pergi begitu saja!" ucap Aji dengan suara meninggi.
Abiyasa dan Ajeng merasa tidak nyaman dengan situasi yang semakin memanas. Mereka mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi tersebut tanpa mengganggu keamanan dan ketertiban di mal.
"Kami tidak pernah mencurangi kamu, kak Aji. Dan kamu sendiri tahu betul apa yang terjadi sebenarnya dan aku justru berusaha untuk memperbaikinya," kata Abiyasa dengan suara yang tenang.
Ajeng panik dan mencoba mencari bantuan dari orang-orang di sekitar mereka. Dia berharap ada yang bisa membantu mereka keluar dari situasi yang semakin tidak terkendali.
"Ayo, Mas Abi. Kita pergi dari sini sekarang. Kita tidak ingin membuat masalah di sini," kata Ajeng sambil menarik tangan Abiyasa.
Bug bug
"Argh... mas Abi!"
Aji memukul Abiyasa, membuat Ajeng yang melihatnya menjerit ketakutan.
__ADS_1