Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Semakin Tegang


__ADS_3

"Ini tidak mungkin terjadi! Bagaimana mungkin kalian berdua bersekongkol untuk mengambil alih perusahaan ini?" Aji marah setelah Abiyasa berbicara.


Rian hanya menyahuti dengan suara rendah. "Paman juga merasa terkejut, tapi mungkin kita perlu mempertimbangkan pendapat Abiyasa terlebih dahulu."


Aji mengelengkan kepalanya cepat. "Tidak, Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil alih perusahaan ini. Aku sudah bekerja keras untuk membangun perusahaan ini. Aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil alih kendali perusahaan yang sudah aku kembangkan sejauh ini."


Indra melihat ke arah Abiyasa. "Maaf, Pak Aji, tapi kita semua memiliki hak yang sama dalam perusahaan ini. Apalagi saat ini, Pak Abiyasa memiliki saham terbesar dan perlu diberikan kesempatan untuk memperkenalkan dirinya dan rencana yang diusulkannya."


Aji semakin marah. Matanya melotot tajam seakan-akan ingin keluar. "Ini semua karena kamu, Indra! Kamu ingin mengambil alih perusahaan ini. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu!"


"Tenanglah, Aji. Kita semua di sini ingin memperbaiki perusahaan ini agar bisa berjalan lebih baik. Kita perlu bekerja sama dan mendengarkan pendapat semua pihak, termasuk Abiyasa." Rian mencoba untuk tetap bijak di mata kedua keponakannya.


"Aku tidak peduli dengan pendapat mereka. Aku akan mengambil tindakan dan melindungi perusahaan ini dari segala macam ancaman, termasuk darinya!"


Kemarahan dan ketidakpuasan Aji atas situasi yang terjadi, karena dia merasa tertipu oleh Abiyasa dan Indra.


Situasi semakin memanas ketika Abiyasa menjabarkan beberapa hal yang telah dia ketahui. Kecurangan yang direncanakan oleh Rian dan niatnya untuk mengambil alih perusahaan, serta semua perbuatan Aji di masa lalu yang merugikan Abiyasa, tentunya semakin membuat situasi menjadi mencekam dan sulit.


Percakapan di ruangan itu terdengar hening ketika Abiyasa memulai penjelasannya.


"Saya tahu semua kecurangan yang kalian lakukan, Paman Rian. Rencana untuk membuat kak Aji bangkrut dan kemudian mengambil alih perusahaan ini akan membuat kita semua merugi." Abiyasa mulai membuka kedok mereka satu persatu dengan tenang dan santai.

__ADS_1


Rian terbelalak ketika mendengar perkataan Abiyasa. Dia menundukkan kepalanya karena tidak bisa berkutik di depan Aji dan juga Indra. Apalagi berkas-berkas yang dijabarkan Abiyasa adalah yang asli, sedangkan yang sudah dipalsukan kini terpampang jelas di layar monitor yang ada di meeting room ini.


"Maafkan Paman, Abiyasa. Sebenarnya, Paman hanya ingin memperbaiki situasi keuangan perusahaan ini dan membuatnya lebih baik." Rian menundukkan kepalanya lebih rendah setelah selesai berbicara.


Abiyasa hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Rian yang membela dirinya sendiri dalam keadaan seperti sekarang ini. "Dan kamu, kakakku tercinta Aji. Anda melakukan banyak hal buruk di masa lalu, dan..."


"Itu tidak benar!"


Aji memotong kalimat Abiyasa yang belum selesai. Dia terlihat panik dengan perkataan Abiyasa yang menyinggung masa lalu. Tapi dia juga tidak tahu, dari mana Abiyasa mengetahui tentang dirinya yang sudah melakukan semua tindakan ekstrim pada adiknya sendiri, dan sepertinya semuanya akan terbongkar hari ini.


"Saya tidak pernah merugikan investor atau membayar upeti pada pejabat pemerintah. Semua itu hanya tuduhan palsu!"


Tiba-tiba Aji mengatakan hal lain, yang tidak sesuai dengan apa yang ingin dikatakan oleh Abiyasa tadi.


Abiyasa tersenyum tipis. Dia tidak menyangka jika tanggapan kakaknya secepat itu dengan kepanikan. Padahal dia belum menyinggung sama sekali soal kecelakaan dan rencana pembunuhan yang dilakukan oleh kakaknya, yang mengakibatkan dirinya harus berpura-pura menjadi orang yang bodoh.


Nafas Aji memburu. Dia ketakutan seandainya Aji mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan oleh Yayan.


'Sial! Di mana Yayan? Kenapa di saat aku butuh dia justru tidak menampakkan diri? Aku bahkan sudah membayarnya dengan harga yang mahal!'


Aji mengerutu dalam kemarahannya, tapi hanya bisa di dalam hatinya saja. Dia tidak mungkin menghubungi orang-orangnya di saat terdesak seperti sekarang ini. Bahkan, Ruhian juga sedang berada di luar kota karena menghindari kejaran polisi setelah membakar rumah Endang.

__ADS_1


"Saya sudah melakukan investigasi dan menemukan bukti yang cukup. Saya memegang saham terbesar di perusahaan ini dan saya memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti semua ini."


Sayup-sayup telinga Aji mendengar penjelasan Abiyasa pada saat dia melamun. Dia menyipitkan matanya mendengar perkataan adiknya, yang ternyata tidak menyinggungnya sama sekali soal kecelakaan yang dialami oleh Abiyasa pada waktu remaja dulu.


'Ini... ini artinya Abiyasa tidak tahu penyebab kecelakaan yang terjadi padanya waktu itu?' pikir Aji tanda tanya.


Dalam ketakutannya seperti ini, Aji sudah tidak bisa berkonsentrasi pada pembicaraan mereka semua. Dia sibuk dengan berbagai macam praduga-praduga yang ada di dalam hati dan otaknya


Rian bahkan sudah membatah Abiyasa. "Tapi ini tidak adil! Saya dan Aji bekerja keras untuk membangun perusahaan ini."


Abiyasa tersenyum penuh arti, mendengar pembelaan diri pamannya. "Saya tahu, dan saya menghargai semua kerja keras kalian. Tapi saat ini, kita harus menyelesaikan masalah ini dengan cara yang adil dan sesuai dengan hukum."


Situasi ini sangat sulit dan penuh tekanan untuk Aji dan Rian. Namun, dengan adanya Abiyasa yang mengungkapkan kebenaran dan mencari solusi terbaik untuk keadaan ini, diharapkan bisa membawa perubahan positif bagi perusahaan dan semua pihak yang terlibat, meskipun harus membuat kedua orang petinggi perusahaan ketar ketir.


Setelah Abiyasa menjabarkan beberapa tuduhan dan bukti yang dimilikinya, Rian dan Aji merasa sangat tertekan dan terancam oleh situasi tersebut. Sebagai upaya untuk mengelak dari tuduhan Abiyasa, keduanya berusaha untuk menuduh balik Abiyasa sebagai pihak yang memfitnah mereka.


"Ini semua adalah fitnah! Kami tidak pernah melakukan hal-hal yang kamu tuduhkan, Abi. Kami sudah bekerja keras untuk membangun perusahaan ini. Lagipula, selama ini kamu hanya berada di rumah saja, jadi tidak pernah tahu kebenaran dari setiap kejadian yang berada di lapangan." Rian mencoba untuk mengelak.


"Betul! Abiyasa harus memberikan bukti yang lebih kuat untuk tuduhan ini. Kami tidak akan duduk diam dan menerima tuduhan palsu seperti ini. Kami bisa membuat laporan atas tuduhan ini untukmu Abiyasa dan Indra!" Aji semakin naik pitam.


Abiyasa tetap tersenyum dengan tenang mendapati keduanya panik. "Maaf Pak Aji dan Pak Rian yang terhormat. Saya memiliki bukti yang cukup untuk menunjukkan bahwa tuduhan saya benar. Kami harus menyelesaikan masalah ini dengan cara yang baik dan adil bagi semua pihak secara damai. Atau kalian mau ini masuk ke jalur hukum?"

__ADS_1


Rian dan Aji terus menolak tuduhan tersebut dan mencoba untuk mengelak dari tanggung jawab mereka atas situasi ini. Namun, Abiyasa tetap pada pendiriannya bahwa kebenaran harus diungkapkan dan bahwa semua pihak harus bertanggung jawab atas tindakan mereka. Situasi semakin sulit dan tegang ketika tidak ada pihak yang mau mengalah.


__ADS_2