Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Emosi Rian


__ADS_3

"Paman selalu terlihat baik denganku. Tapi ternyata semua itu hanyalah sebuah tipuan untuk menutupi semua rencana dan strategi serta kesalahan yang dilakukannya."


Abiyasa merenung tentang perjalanan mereka, dirinya dan kakaknya, sebagai saudara dan bagaimana pamannya, Rian, yang telah merusak hubungan mereka. Dia menyadari bahwa proses memperbaiki hubungan mereka tidak akan mudah, dan bahwa Aji membutuhkan waktu dan ruang untuk menyembuhkan luka emosional yang dialaminya.


Di dalam hati Abiyasa, ada kebingungan, kekhawatiran, dan keputusan sulit yang harus diambil. Dia merasa tertekan dan juga tertantang untuk mencoba mengembalikan ikatan persaudaraan yang telah hilang dengan Aji selama ini.


Dengan demikian, Abiyasa berupaya memperkuat dirinya sendiri. Dia menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara mengasuh dirinya sendiri dan membantu Aji. Abiyasa menyadari bahwa dia harus menghadapi pamannya, Rian, dengan melawan pengaruhnya yang kuat, sambil tetap menjaga keamanan dan kesejahteraan dirinya sendiri.


"Semoga kakak sadar, bahwa aku tetap menginginkan dia sebagai kakakku. Apa gunanya hidup tanpa memiliki saudara? Atau, paman juga yang sudah menghancurkan ayah?" tanya Abiyasa, dengan praduganya.


Ayahnya, Gilang, semasa hidupnya juga tidak sehat dan terus sakit-sakitan. Bahkan setelah istrinya meninggal dunia, Gilang harus terkenal serangan jantung karena kaget saat mendengar berita tentang kecelakaan tersebut.


"Apa paman Rian juga, yang telah mengatur semuanya?" tanya Abiyasa lagi.


Jika memang benar bahwa Rian yang seharusnya bertanggung jawab atas kematian kedua orang tuanya, Abiyasa tidak akan pernah melepaskan pamannya, meskipun sekarang sudah berada di dalam penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di perusahaan.


"Aku harus tahu tentang hal ini. Jika benar, aku juga bisa melakukan banyak hal meskipun harus berbuat kotor untuk bisa menyiksanya di dalam penjara."


Akhirnya Abiyasa bertekad untuk mencari tahu kebenaran tentang masa lalu kedua orang tuanya.


***


Pada hari yang ditunggu-tunggu, peresmian peletakan batu pertama pembangunan hotel yang merupakan hasil kerja sama antara perusahaan Abiyasa dan Nona Anna akhirnya tiba. Meskipun Nona Anna tidak bisa hadir secara fisik karena sudah kembali ke Eropa, dia berpartisipasi dalam peresmian tersebut melalui layar virtual yang disediakan.


Kehadirannya melalui teknologi ini menunjukkan komitmen dan keterlibatan Nona Anna dalam proyek ini, meskipun secara fisik berada di benua yang berbeda.

__ADS_1


Di hadapan sejumlah tamu undangan dan para pekerja konstruksi, Abiyasa berdiri di panggung peresmian dengan wibawa dan semangat. Dengan tongkat peresmian di tangannya, dia siap untuk meletakkan batu pertama yang akan menjadi awal dari pembangunan hotel yang akan menjadi simbol keberhasilan kerja sama mereka.


Abiyasa berkata dengan suara lantang, "selamat datang, semua orang! Hari ini adalah momen yang sangat penting bagi kami, sebagai perwakilan dari perusahaan, saya, Abiyasa dan kerja sama kami dengan Nona Anna. Dengan rendah hati, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada semua yang hadir di sini untuk merayakan tonggak awal dalam pembangunan hotel ini."


Plok plok plok


Prok prok prok


Tepuk tangan dan sorakan riuh memenuhi ruangan ketika Abiyasa memulai pidatonya. Semua mata terarah padanya, termasuk layar virtual yang menampilkan Nona Anna, yang mengamati acara ini dari jarak jauh.


Senyum nona Anna menghiasi wajahnya yang terlihat sangat cantik untuk kehadirannya dalam acara peresmian kali ini.


"Saya ingin mengungkapkan rasa hormat dan apresiasi kepada Nona Anna, mitra bisnis kami yang luar biasa, yang telah mempercayai kami untuk mewujudkan visi dan impian bersama. Walaupun Nona Anna tidak dapat hadir secara fisik, kehadirannya melalui teknologi ini membuktikan komitmen dan dedikasinya dalam proyek ini. Kami berbagi tujuan yang sama untuk menciptakan hotel yang unik, elegan, dan berkualitas tinggi bagi para tamu kami."


Abiyasa melihat layar virtual yang menampilkan Nona Anna dan dia melihat kekaguman terpancar dari wajahnya. Meskipun dalam hati Abiyasa terdapat perasaan hangat yang tumbuh, dia tetap menjaga wibawanya dan fokus pada momen yang sedang berlangsung.


Plok plok plok


Prok prok prok


Suasana antusias terasa di udara saat para tamu dan pekerja konstruksi memberikan tepuk tangan dan sorakan semangat untuk mendukung peresmian tersebut.


Tak lupa, Abiyasa juga menyampaikan salam kepada Nona Anna, dengan melihat penuh ke layar virtual untuk menghormati rekan bisnisnya yang sekarang ini berada di Eropa. Tepatnya negara Jerman.


"Nona Anna, terima kasih atas kepercayaan Anda kepada kami. Kami berjanji untuk melampaui harapan Anda dalam setiap aspek pembangunan dan operasional dalam mewujudkan hotel kita ini."

__ADS_1


Nona Anna terlihat tersenyum senang dengan menganggukkan kepalanya, melihat dengan penuh atensi ke arah Abiyasa yang menyapanya.


Setelahnya, acara berlanjut sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan sebagai rangkaian acara peresmian pembangunan hotel.


***


Di balik jeruji besi penjara, Rian duduk sendirian dalam kehampaan selnya. Berita tentang keberhasilan Abiyasa yang semakin sukses dalam bisnisnya telah mencapai telinga Rian. Hal ini memicu gelombang rasa muak dan kekesalan yang mendalam. Dia merasa terkikis oleh ketidakberdayaannya yang terikat dalam penjara, tidak mampu melakukan apapun untuk menghalangi kesuksesan Abiyasa, ditambah lagi dengan tidak ada kabarnya Aji dan juga Elok.


Rian sudah berusaha dengan berbagai cara untuk menemukan mereka berdua, tapi semuanya gagal. Bahkan, apa yang dia dapatkan justru membuatnya semakin terpuruk. Istrinya, yang sudah diungsikan ke villa, sekarang justru menggugat cerai setelah ketahui semua kasus yang melibatkan dirinya.


Rasa amarah melonjak di dalam diri Rian, dan kemarahan tersebut memenuhi selnya dengan aura negatif. Dalam kegelapan yang menyelimuti ruangannya, Rian merutuki nasibnya sendiri dan mencari-cari cara untuk membalas dendam pada Abiyasa yang berhasil membangun keberhasilan tanpa campur tangan Rian.


"Arghhh... sial!" Rian berteriak dengan penuh kemarahan dan kekesalan.


"Ah, Abiyasa! Kau pikir kau begitu pintar, bukan? Sukses ini hanyalah sementara! Aku akan menemukan cara untuk menghancurkan mu, melihatmu jatuh dari puncak yang kau banggakan!"


Dengan setiap kata yang terlontar dari bibirnya, Rian semakin terperangkap dalam kebencian dan kegagalan rencana yang sudah dibuat sedari dulu. Dia menggerutu dan meratap tentang betapa tidak adilnya hidup ini, merasa bahwa Abiyasa telah mencuri segala keberuntungan yang seharusnya menjadi miliknya.


Dengan nada sinis, Rian kembali berkata-kata, mengungkapkan segala sesuatu yang menjadi kekecewaan hatinya.


"Oh, tentu saja kau berhasil, Abiyasa. Kau selalu dianggap sebagai anak yang berbakat, sementara aku hanya dianggap sampah sejak dulu. Tapi lihatlah sekarang, kau tak bisa menyentuhku di sini! Tidak bisa menghentikan diriku membalas semua kekejaman yang telah kau lakukan padaku!"


Dalam kegelapan yang menyelimuti sel penjara Rian, suara marahnya memantul dan menghiasi ruangan tersebut. Namun, kebencian dan kemarahan itu tidak lebih dari sisa-sisa kepahitan yang menyertainya. Rian tahu bahwa kekuasaannya terbatas di belakang jeruji besi, tetapi dia juga tidak bisa menahan perasaan frustasinya yang tumbuh setiap kali ingat tentang Abiyasa yang mencapai kesuksesan baru.


Rian kembali berkata dengan suara penuh penyesalan. "Mereka akan melihat, Abiyasa. Kau tidak akan terus bahagia dan sukses seperti ini. Aku akan menemukan cara untuk menghancurkan mu, walaupun itu berarti aku harus melakukan apapun yang diperlukan!"

__ADS_1


Dengan kata-kata yang penuh dengan ketidakpuasan dan penyesalan, Rian membenamkan dirinya dalam kegelapan pikirannya yang penuh dengan rencana jahat dan balas dendam. Meskipun tidak ada pendengar di selnya selain dirinya sendiri, Rian berbicara dengan penuh kebencian dan ketidaksabaran, berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari ia akan membalas semua kesuksesan Abiyasa dengan kehidupan Abiyasa yang akan menjadikan dirinya semakin terpuruk.


"Aku tidak akan tinggal diam!"


__ADS_2