Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Frustasi


__ADS_3

Aji duduk di sofa, yang ada di ruangan kerja Abiyasa. Wajahnya terlihat lelah dan penuh penyesalan. Abiyasa yang baru saja masuk ke ruangan kerjanya, menyapa dengan pandangan bingung.


"Kakak, apa yang terjadi? Kamu terlihat sangat berbeda hari ini." Abiyasa bertanya pada Aji, yang datang tanpa memberi kabar.


Aji menghela nafas panjang kemudian membuangnya perlahan-lahan. "Hhhh... Abi, aku harus berbicara denganmu tentang sesuatu yang sangat penting. Aku merasa sangat bersalah atas semua kesalahan yang telah aku buat di masa lalu, dan semua kejadian yang ada dalam mengelola perusahaan ini."


Abiyasa memandang Aji dengan keheranan. "Kak Aji, tentu saja kita semua membuat kesalahan. Tapi bukankah kita selalu berusaha memperbaikinya bersama?"


Aji mengangguk pelan. "Aku tahu, Abi. Tapi aku merasa sudah tidak mampu lagi. Aku telah merusak banyak hal dalam perusahaan ini dan membiarkanmu menanggung beban beratnya. Sebagai bentuk rasa penyesalan dan harapan untuk memperbaiki semuanya, aku ingin memberikan semua kepemilikan saham perusahaan atas namaku ini padamu."


Abiyasa terkejut mendengar pengakuan kakaknya. Ia duduk di samping Aji, mencoba memahami situasi ini.


"Kak Aji, apa yang kamu bicarakan? Kita adalah saudara. Kita membangun perusahaan ini bersama-sama. Tidak ada yang salah dengan kesalahan yang kita lakukan. Itu adalah bagian dari proses belajar dan tumbuh."


Apa yang dikatakan oleh Abiyasa, justru membuat Aji semakin sedih. Dia bertambah besar rasa bersalahnya.


"Haahhh... Tapi, Abi, aku sudah terlalu banyak membuat kesalahan. Aku merasa perlu memberikan kesempatan padamu untuk memimpin perusahaan ini dengan lebih baik. Kamu telah memperlihatkan kemampuanmu dan aku yakin kamu bisa melakukannya dengan lebih baik daripada aku."


Abiyasa menatap kakaknya dengan campuran perasaan bangga dan sedih. Ia mengerti betapa besar penyesalan yang dirasakan oleh kakaknya, atas apa yang dilakukannya di masa lalu.


"Kak, kamu adalah saudaraku dan partner terbaikku. Tapi kita tidak bisa membiarkan kesalahan kita menghancurkan semuanya. Kita harus berjuang bersama, belajar dari kesalahan kita, dan membangun perusahaan ini menjadi lebih baik."


Abiyasa ingin kakaknya yang sudah mulai sadar, bisa bersama-sama dengannya membangun dan memajukan perusahaan peninggalan keluarganya.


Aji menatap Abiyasa dengan campuran harapan dan lega. Ia merasa terbebaskan dari beban yang selama ini ia rasakan.


"Apakah kamu yakin, Abi?" tanyanya ragu.


Abiyasa mengganggu cepat, meyakinkan kakaknya. "Aku yakin, kak Aji. Kita akan melalui ini bersama-sama. Kita akan belajar dari kesalahan masa lalu untuk kemajuan di masa yang akan datang."


Abiyasa sudah memiliki rencana untuk menyingkirkan pamannya, Rian. Karena selama ini, ternyata pamannya itu yang sudah membuatnya sengsara sejak kecil. Rian yang telah meracuni otak kakaknya, dengan sebagai doktrin, supaya membenci Abiyasa dan membuat Abiyasa selalu celaka.

__ADS_1


Abiyasa telah mempersiapkan diri dengan mengumpulkan bukti-bukti yang menunjukkan kelakuan buruk Rian sejak papanya masih hidup, termasuk bukti mengenai pengaruh negatif yang dialaminya sejak kecil dan upaya Rian dalam meracuni otak Aji. Bukti-bukti ini bisa berupa catatan, pesan, atau kesaksian dari orang-orang yang mengetahui situasinya.


Dia yakin, jika semuanya akan berjalan lancar. Apalagi saat ini, Aji sudah menyadari semua kesalahannya.


Aji juga telah menyadari bahwa pamannya, Rian, telah membuatnya buta dalam segala hal, termasuk tega mencelakai adiknya sendiri dengan berbagai rencana untuk pembunuhan yang selama ini dia lakukan.


Abiyasa merasa bersyukur atas perubahan yang telah terjadi pada Aji. Ia merasa lega bahwa kakaknya telah menyadari kesalahannya dan berkomitmen untuk berubah. Abiyasa ingin memastikan pada Aji, bahwa mereka dapat melupakan kejadian lama dan fokus pada masa depan yang lebih baik dari pada sebelumnya.


Aji menatap Abiyasa dengan campuran harapan dan keraguan, mencari tanda-tanda dukungan dan pengertian.


"Apakah kamu yakin, Abi? Aku merasa sangat bersalah atas semua yang telah terjadi."


Abiyasa tersenyum penuh pengertian, merasa terharu melihat perubahan kakaknya kali ini.


"Kak, aku sangat bersyukur melihatmu sadar dan berubah. Aku tidak ingin mempermasalahkan soal kejadian lama lagi. Yang terpenting, kita harus fokus pada kehidupan kita yang akan datang dan membangun masa depan yang lebih baik."


Aji merasakan kelegaan di hatinya. Ia tersenyum kembali, merasa didukung oleh perkataan Abiyasa yang tulus memaafkan dirinya dengan semua kesalahan yang pernah dilakukannya pada adiknya itu.


"Itu adalah sikap yang luar biasa, kak Aji. Kita adalah saudara, dan kita akan melewati segala hal bersama-sama. Jangan biarkan penyesalan masa lalu menghambat langkah kita ke depan."


Aji mengangguk setuju, merasa terinspirasi oleh kata-kata Abiyasa.


"Aku tidak ingin membiarkan kesalahan-kesalahan itu menghancurkan hubungan kita. Aku ingin kita melangkah maju dan membangun perusahaan ini dengan visi yang lebih kuat."


"Itulah semangat yang kuat, kak. Ayo kita bekerja sama, belajar dari masa lalu, dan menciptakan masa depan yang cerah."


Mereka berdua saling tersenyum, merasakan semangat baru yang mengalir di antara mereka. Mereka siap untuk meninggalkan masa lalu dan melihat masa depan dengan penuh harapan dan dedikasi.


Dalam situasi ini, Abiyasa dengan tegas menegaskan kepada kakaknya bahwa mereka akan fokus pada kehidupan yang akan datang. Ia menyakinkan pada Aji, bahwa mereka akan melupakan masa lalu dan membangun masa depan bersama, tanpa mempermasalahkan kesalahan yang telah terjadi. Dengan dukungan dan semangat yang diberikan Abiyasa, Aji merasa diterima dan mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun hubungan mereka yang kuat.


***

__ADS_1


Dia lain pihak, Rian mendapati dirinya ditinggal sama sekretarisnya, yaitu Elok dan istrinya juga telah menceraikan dirinya karena tahu, jika Aji bermasalah dengan penggelapan dana di perusahaan serta berselingkuh dengan sekertarisnya.


"Arghhh... aku itu akan membiarkan ini terjadi! Aku adalah seorang yang berkuasa!"


Rian juga marah karena mendengar berita tentang Aji, yang memberikan kepemilikan sahamnya kepada Abiyasa. Apalagi sekarang ini, orang-orang, teman dan koneksi Rian, serta teman-temannya juga sudah mulai meninggalkannya.


Akhirnya, Rian bertambah stres. Dia tidak percaya ada pada posisi seperti sekarang ini.


Srakkk


Brakkk


Rian mengamuk. Dia membuang dan melempar apa saja yang ada di dekatnya. Dia tidak peduli dengan apapun, karena yang saat ini dia pikirkan adalah kondisi Abiyasa yang telah melampaui dirinya.


"Aku akan menang!"


"Kamu hanya anak ingusan kemarin sore, Abiyasa! Aku akan menghancurkan apa yang telah kamu miliki!"


"Br3ngs3k! Sialan!"


"Arghhh..."


Srekkk


Brakkk


Rian benar-benar frustasi. Dia bahkan tidak mempedulikan tangannya sendiri, yang kini tergores pinggiran meja yang patah akibat ulahnya sendiri. Dia tidak mempedulikan apapun, karena hatinya sedang panas melihat keberhasilan Abiyasa dan kesadaran Aji yang tidak berpihak padanya lagi.


"Aku akan menghancurkan kalian berdua! Ingat itu Aji, Abiyasa!"


"Kalian berdua br3ngs3k!"

__ADS_1


"Kalian berdua akan hancur di tanganku! Hahaha..."


__ADS_2