
"Ruhian, kami sudah mengetahui semuanya. Jangan coba-coba untuk berbohong lagi. Siapa yang memerintahkan kamu untuk menyuntikkan racun ke tabung infus istriku?"
Abiyasa mengepalkan tangannya kuat saat mengajukan pertanyaan pada Ruhian. Dia ingin menghajar Ruhian, tapi di tahan oleh Indra supaya tidak mengotori tangannya sendiri.
Tadi, Abiyasa sudah diberitahu oleh Indra saat mereka bertemu di jalan. Jadi, mereka berdua langsung meluncur ke markas dan kini keduanya berada di markas untuk bertanya pada Ruhian secara langsung.
"Cuihhh! Sama saja!"
Ternyata Ruhian memang memiliki nyali yang sangat besar. Dalam keadaan tidak berdaya seperti ini, masih saja tidak ada takutnya sama sekali.
"Arghhh..."
Bug bag bug
Dug tag bug
Abiyasa hilang kendali. Dia menghajar Ruhian tanpa ampun. Dia ingin melampiaskan kemarahannya atas semua yang sudah terjadi pada Ajeng.
"Kamu pantas mati!"
Bug bag bug
Dug bug bag bug
Indra tidak bisa lagi menghalangi Abiyasa yang seperti orang kerasukan. Dia paham dengan apa yang dirasakan oleh Abiyasa saat ini, sebab dia tahu betul bagaimana perjuangan Abiyasa untuk memberikan kenyamanan dan keselamatan Ajeng sejak penculikan yang pertama, kedua dan kemarin saat menjaga dan merawat Ajeng di rumah sakit.
"Hahaha..."
Tawa Ruhian seakan-akan mengejek Abiyasa. Dia meremehkan adiknya Aji, yang dia tahu memiliki kepribadian ganda, sama seperti yang dikatakan oleh Aji. Sebab dulu pura-pura bodoh hingga dewasa, dan tiba-tiba muncul seperti seorang pahlawan tanpa dosa.
"Kamu benar-benar ingin mati!"
Brukkk
Bug bag bug
"Arghhh!"
Abiyasa benar-benar mengamuk karena merapat diabaikan dan direndahkan oleh Ruhian. Orang yang jelas-jelas mempunyai rencana dan hubungan dengan orang yang menginginkan kematian Ajeng dan bahkan dirinya juga.
Kondisi Ruhian benar-benar memprihatinkan. Wajahnya penuh dengan darah akibat pukulan demi pukulan yang dilakukan oleh Abiyasa, yang seperti orang kesetanan.
Srettt
"Eghhh... arhhh!"
__ADS_1
"Sa-ya, maafkan saya, Pak Abiyasa. Sa-ya, saya hanya disuruh oleh seseorang untuk melakukan itu."
Akhirnya Ruhian mengaku saat Abiyasa siap mengorok lehernya dengan sebuah pisau yang diambil dari tangan anak buahnya Indra.
"Siapa orangnya? Segera katakan sekarang juga sebelum semuanya terlambat." Abiyasa mengancam Ruhian, dengan pisau di leher.
"D-ia, dia adalah seorang pria asing, saya tidak tahu namanya. Dia memberi saya uang banyak untuk melakukannya. Saya tidak tahu kalau istri bapak akan meninggal."
Ternyata Ruhian mengulur-ulur waktu dengan permainan yang tidak seharusnya dia lakukan. Abiyasa kalap dan...
Srettt
"Arghhh!"
Darah segar keluar dari leher Ruhian yang disayat Abiyasa. "Baiklah, sekarang kamu tidak mau membantu kami menemukan orang tersebut. Siapa yang menghubungi kamu dan memberi uang?" tanyanya masih dengan pisau di leher yang terluka
"Arghhh... D-ia, dia kakak Anda."
Srettt
Jleb street jleb
Bug brukkk
Darah mengalir deras dari tubuh Ruhian pada bagian leher dan perut, juga beberapa anggota tubuh yang tadi kena pukulan dan amukan Abiyasa.
"Bereskan!"
***
Dengan emosi yang meluap, Abiyasa datang ke apartemen kakaknya, yaitu Aji, karena ternyata semua ini adalah Aji yang menjadi dalangnya. Ajeng mati karena ulah kakaknya sendiri. Dia memastikan bahwa tidak akan melepaskan Aji begitu saja, meskipun Aji adalah kakaknya.
Bruk bruk bruk
Abiyasa menggebrak dan menggedor-gedor pintu apartemen kakaknya. Dia tidak sabar dengan memencet bel atau memanggil dengan sopan dan lembut sebagimana layaknya seorang saudara.
Setelah mengetahui bahwa Aji adalah dalang di balik kematian Ajeng, Abiyasa merasa sangat marah dan kecewa. Dia tidak mau berpikir panjang lagi, sehingga langsung menuju apartemen Aji untuk memberikan pelajaran pada kakaknya itu.
Dor brukkk brakkk
Abiyasa masih menggedor-gedor pintu apartemen, karena tidak segera dibukakan.
Clek
"Aji!"
__ADS_1
Abiyasa langsung berteriak memanggil kakaknya, karena ternyata yang membuka pintu bukanlah Aji, melainkan seorang wanita yang sedang memakai kimono.
"Pergi kamu dari sini, sebelum kamu terlibat dan menerima akibatnya!"
Indra memberikan peringatan kepada wanita tersebut supaya menyingkir dari apartemen Aji. Dia yakin jika saat ini Abiyasa juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pada Ruhian terhadap Aji.
Dengan wajah terkejut dan takut, wanita tersebut mengambil barang-barangnya kemudian keluar dari apartemen Aji masih dengan menggunakan kimono. Mungkin wanita tersebut bertempat tinggal di apartemen ini juga, atau mungkin dia akan mengenakan pakaiannya di kamar kecil lainnya yang tersedia untuk umum.
Abiyasa yang datang dengan kemarahan yang besar, menemukan kakaknya sedang duduk santai di sofa hanya mengenakan kaos dan celana pendek.
"Apa yang kamu lakukan, Aji?! Kamu yang membunuh Ajeng!!" Teriak Abiyasa dengan mencengkeram kuat kaos kakaknya.
Aji berdiri dari duduknya dan tersenyum miring mendengar pertanyaan adiknya yang datang ke apartemennya dengan kemarahan yang sangat besar.
"Hahaha, kamu bodoh sekali Abi. Kau benar-benar menikahi seorang perempuan yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Aku tidak melakukannya sendiri, aku hanya mengatur semuanya agar terjadi dengan mudah."
Aji tertawa-tawa senang mengejek adiknya. Dia ingin mempermainkan emosi Abiyasa, agar terlihat bodoh dan lucu di matanya.
Abiyasa semakin geram melihat kelakuan kakaknya yang tidak pernah bersikap baik dengannya. "Kamu sangat kejam, Aji. Bagaimana kamu bisa melakukan hal seperti itu pada saudaramu sendiri?!"
Aji terseyum sinis. "Kamu tidak pernah memahami aku, Abi. Kamu selalu terlihat lemah di mataku. Dan Ajeng, cuihhh! Ada banyak wanita di luar sana. Hilang Ajeng, cari yang lain!"
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Aji, Abiyasa tidak bisa mengontrol lagi emosinya.
Bug bug
Dia memukul perut kakaknya dua kali, hingga Aji terjatuh ke sofa lagi.
"Tidak masuk akal! Kamu tidak boleh mengambil nyawa seseorang hanya karena perasaan cemburu padaku atas semua perbedaan kita! Kamu pantas mendapat hukuman berat!"
Tag bug bag bug
"Haahhh, aku tidak peduli apa yang kamu pikirkan. Aku sudah mendapatkan yang aku inginkan. Dan sekarang, kau akan merasakan apa yang aku rasakan. Hahaha... teruslah jadi pecundang Abiyasa, adikku tercinta."
Abiyasa merasa sangat marah dan kecewa dengan kakaknya yang sangat kejam dan tidak punya hati nurani. Dia mulai berteriak dan memukul Aji lagi. Namun, Indra yang menemaninya tiba-tiba berhasil meredakan situasi yang semakin memanas.
"Tenang, mas Abi. Jangan biarkan dia memengaruhi emosimu." Indra memperingatkan Abiyasa.
"Bagaimana aku bisa tenang, Indra? Aji membunuh Ajeng, istriku sendiri. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan." Abiyasa tidak terima atas nasehat yang diberikan oleh Indra.
"Ya, tapi tidak dengan cara ini. Kita harus membiarkan hukum yang menyelesaikan masalah ini. Kita tidak bisa mengambil tindakan sembarangan."
Tapi setelah bicara demikian, Indra berbisik di telinga Abiyasa. "Bawa ke markas dan siksa di sana. Di apartemen, cara pembersihannya akan lebih sulit dan membutuhkan biaya yang sangat besar, mas Abi. Ingat itu, mas Abi!"
Akhirnya Abiyasa mengerti dengan maksud perkataan Indra barusan.
__ADS_1
"Baiklah."