
Aji sedang duduk di ruang kerjanya dan mengecek beberapa laporan keuangan perusahaannya ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengambil telepon dan mendengar suara Indra di seberang sana.
"Selamat pagi, Pak Aji. Saya ingin memberitahu Anda bahwa saya telah berhasil memiliki 30% saham perusahaan Anda. Jadi, saya sekarang memiliki kepemilikan saham yang cukup untuk mendapatkan hak suara mayoritas dalam rapat pemegang saham," kata Indra dengan nada tenang.
Aji merasa seperti dihantam petir ketika mendengar berita tersebut. Dia merasa seperti segalanya runtuh dalam sekejap, terutama karena dia tahu bahwa Indra adalah rekan kerja barunya yang dia percaya.
"Apa? Bagaimana bisa? Saya tidak pernah setuju untuk menjual saham saya!" Aji terdengar marah dan kecewa.
"Saya memahami itu, Pak Aji. Tapi seperti yang Anda ketahui, perusahaan Anda membutuhkan investasi besar dan sayalah satu-satunya yang siap memberikan dana yang dibutuhkan. Saya hanya melakukan bisnis, Pak," jelas Indra dengan tenang.
Aji merasa kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia merasa marah dan sedih karena perusahaannya sekarang berada di bawah kendali orang yang tidak dia percayai.
"Kamu tidak bisa melakukan ini, Indra. Aku akan mengambil tindakan hukum jika perlu," ancam Aji.
"Saya mengerti perasaan Anda, Pak Aji. Tapi saya hanya melihat peluang bisnis yang bagus dan memanfaatkannya. Sekarang, saya menyarankan agar Anda berpikir ulang dan menerima tawaran saya untuk bekerja sama dalam mengelola perusahaan Anda," kata Indra dengan nada meyakinkan.
Aji merasa tidak punya pilihan lain selain menerima situasi ini. Dia tahu bahwa jika dia tidak bekerja sama dengan Indra, dia akan kehilangan kendali atas perusahaannya.
"Baiklah, saya akan memikirkannya," jawab Aji dengan suara rendah.
Setelah menutup telepon, Aji merenungkan situasi yang dia hadapi. Dia merasa sedih dan marah karena merasa dikhianati oleh orang yang dia anggap sebagai teman dan rekan bisnis yang akan membawa kesuksesan usahanya di masa depan. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya, namun dia tahu bahwa dia harus berjuang untuk mempertahankan perusahaannya dan menjaga kehormatannya sebagai pemilik perusahaan yang telah melakukan segala cara untuk mempertahankan perusahaan keluarganya ini.
Bahkan dia rela mencelakai adiknya sendiri supaya bisa berada di puncak perusahaan seorang diri tanpa ada yang akan menjegalnya jika ada kebijakan yang berseberangan.
__ADS_1
***
Rian sendiri, sebagai paman yang berusaha menutupi kecurangannya dengan bersikap seolah-olah dia adalah orang yang bijak dan tidak memihak padahal itu adalah sebuah rencana terselubung yang dia miliki.
Sebagai paman Abiyasa dan Aji, Rian telah melakukan banyak kecurangan dalam mengambil alih perusahaan keluarga mereka. Namun, dia berusaha menutupi hal itu dengan bersikap bijak dan tidak memihak pada siapa pun. Dia berpura-pura mempertahankan keseimbangan dalam keluarga dan bisnis, seolah-olah dia hanya ingin menjaga perdamaian antara keponakan dan saudaranya.
Namun, sebenarnya Rian sedang menyusun rencana terselubung untuk memperkuat posisinya dalam perusahaan Aji. Dia tahu bahwa jika Abiyasa berhasil mengambil alih perusahaan, maka posisinya sebagai paman akan terancam. Oleh karena itu, dia berusaha untuk mempertahankan kekuasaannya dengan cara-cara yang tidak fair.
"Hai, Elok. Apa kabar hari ini?" tanya Rian begitu datang ke kantor pagi hari.
Elok tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya hormat. "Baik-baik saja, Pak Rian. Terima kasih. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Rian langsung tersenyum penuh arti. "Saya butuh beberapa informasi penting tentang keuangan perusahaan. Bisakah kamu memberikan saya akses ke akun keuangan untuk bulan ini?" tanya Rian disertai usapan lembut pada punggung tangan Elok.
Orang seperti ini berperilaku sebagai orang yang bertanggung jawab dan mencoba untuk terlihat sebagai orang yang berkontribusi bagi perusahaan dan terkesan care. Termasuk yang dilakukan oleh Rian pada Aji maupun Abiyasa.
Rian ikut terlibat dalam keputusan bisnis penting dan memberikan saran yang terdengar masuk akal bagi Aji. Sedangkan pada Abiyasa, dia penuh perhatian dengan memberikan uang yang berkecukupan menurutnya.
"Tentu saja, saya bisa memberikan akses ke akun keuangan perusahaan tanpa persetujuan dari siapapun, Pak Rian." Elok menjawab dengan suara rendah, bahkan terkesan sangat lembut.
Apa yang dilakukan oleh Elok tentu saja membuat Rian senang. "Kamu juga bisa memberikan informasi tentang anggaran kita, kan? Ini untuk membantu kita membuat keputusan bisnis yang lebih baik."
Setelah berkata demikian, Rian mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum penuh arti pada Elok.
__ADS_1
Di balik tindakan Rian, sebenarnya dia sedang merencanakan dan melakukan aksi-aksi yang tidak jujur. Dia dapat menyalahgunakan dana perusahaan, memalsukan laporan keuangan, atau mencuri rahasia perusahaan untuk keuntungan pribadinya sendiri.
Perilaku curang seperti ini tentu saja merugikan perusahaan, bahkan bisa merusak reputasi perusahaan dan hubungan antar keluarga jika sampai ketahuan.
"Tentu, saya bisa memberikan informasi itu dengan sangat mudah. Bapak tidak perlu khawatir tentang apapun itu."
"Baiklah, saya mengerti. Kamu memang benar-benar bisa diandalkan, Elok. Tapi jika ada sesuatu yang penting, bisakah kamu memberitahukan saya terlebih dahulu?" Rian kembali meminta lebih pada sekertaris Elok.
"Tentu, saya akan memberitahu Anda jika ada hal yang penting. Namun, Anda tahu betul apa yang saya inginkan juga, Pak Rian." Elok tersenyum dengan membahasi bibirnya.
Rian mencoba untuk merayu Elok agar memberikan akses ke informasi penting tentang keuangan perusahaan. Sedangkan Elok sendiri juga memiliki kepentingan pribadi untuk keuntungannya.
Mereka berdua memang pasangan yang kompak dalam hal kecurangan.
Rian sering kali mengadakan pertemuan dengan beberapa pemilik saham perusahaan Aji, dan berusaha meyakinkan mereka untuk tetap mempertahankan posisinya di perusahaan. Dia menggunakan berbagai taktik licik, seperti menawarkan imbalan yang besar atau mengancam akan membuka kecurangan yang mereka lakukan jika mereka tidak setuju dengan rencananya.
"Kita perlu cara-cara khusus dan taktik yang tepat untuk sebuah hasil."
Begitulah kira-kira pemikiran dan tekad Rian yang haus akan kekuasaan dan kekuatan yang bisa membuatnya merasa di tempat yang paling tinggi.
Namun, Rian tidak menyadari bahwa rencananya akan segera terbongkar. Indra, yang sedang bekerja untuk Abiyasa, sedang memantau semua gerak-gerik Rian. Dia mencurigai bahwa Rian bermain kotor dalam mengambil alih perusahaan Aji dan berencana untuk mengungkapkan kecurangan Rian kepada Abiyasa.
Tidak lama lagi, Abiyasa akan mengetahui rencana jahat Rian. Bisa dipastikan Abiyasa akan merasa sangat kecewa dan marah karena merasa dibohongi oleh pamannya sendiri yang seharusnya bisa dipercaya.
__ADS_1
Tunggu saja di bab berikutnya!