
Rian merasa tertekan dengan keadaan dirinya yang sekarang berada di dalam tahanan bersama para napi yang tampak kasar dan menyeramkan baginya.
'Aku tidak tahan berada di sini. Kenapa aku harus dipenjara bersama orang-orang seperti mereka?'
'Mereka semua terlihat kasar dan menyeramkan. Aku merasa takut dan tidak aman di sini.'
'Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa bertahan hidup di sini selama masa tahanan?'
'Aku merindukan keadaan diriku yang biasanya, keluargaku, teman-temanku, dan kebebasanku. Kenapa aku harus mengalami ini semua?'
'Aku merasa sedih dan frustasi. Ini bukan hidup yang aku inginkan!'
Rian yang biasa rapi dan berada di tempat bersih, merasa jijik dan menunjukkan sikap yang menyebalkan bagi para napi lainnya. Dia merasa kesulitan beradaptasi dengan lingkungan tahanan yang kotor dan berantakan.
Para napi lainnya, tentu saja tidak memahami perasaan Rian dan bisa meresponsnya dengan meremehkan atau mempermalukannya karena perilaku atau kebiasaan mereka yang berbeda. Mereka tidak sabar dengan Rian dan cenderung menganggapnya sebagai ancaman atau pengganggu.
Situasi ini akhirnya menimbulkan ketegangan dan konflik di antara para napi, terutama karena Rian terus menunjukkan sikap yang tidak ramah atau menolak untuk berinteraksi dengan yang lainnya.
"Cuihhh! penjahat kelas ayam mau sok jagoan. Hajar saja!"
"Iya, Bos. Kita kasih pelajaran saja dia."
"Kita kuliti rame-rame, hahaha..."
Rian waspada terhadap apapun yang akan terjadi, karena mereka bertiga ramai-ramai berjalan mendekat ke tempatnya berdiri.
Dua hampir saja berteriak saat tangan kekar pria bertato menarik mencengkeram mulutnya dari bawah dagu. Dan telapak tangan pria tersebut terasa sangat besar dan kasar di kulit wajah Rian.
"Eghhh... umhhh..."
Rian tidak bis mengeluarkan suara, karena cengkeraman tangan tersebut. Bahkan kedua pria lainnya menahan kedua tangan dan kakinya agar tidak bisa bergerak.
__ADS_1
"Jangan sok jagoan di sini! Loe gak ada yang bakalan ngelindungi jika berani ngelawan, apalagi ma gue!" Pria bertato banyak itu memberikan ancaman, tepat di depan wajah Rian yang gemetar ketakutan.
Brukkk
Tubuh Rian terjengkang ke arah belakang karena dihempaskan oleh pria tersebut.
"Ingat! Kau akan mendapatkan lebih dari ini jika berani macam-macam."
Setelah berkata demikian, pria tersebut membuka resleting celananya. Rian sudah berpikir macam-macam sebagaimana kadang dia membaca berita-berita yang ada terkait kasus di dalam tahanan.
Currr...
Ternyata pria tersebut kencing tepat di samping Rian! Membuat Rian terbelalak kaget meskipun ada rasa lega di dalam hatinya.
"Hahaha... loe pikir gue doyan ma lubang loe? Cuihhh! Gak bakalan!"
Rian membuang muka saat pria tersebut menertawakan dirinya, yang entah seperti apa keadaanya yang sekarang ini. Tapi rasa lega Rian berganti dengan kemarahan, karena dua pria lainnya memaksa dirinya untuk membersihkan lantai yang tadi digunakan untuk kencing pria bertato.
***
Siang hari, Rian dikunjungi oleh pengacaranya.
"Halo, selamat siang, pak Rian. Bagaimana kabar Anda saat ini?" tanya pengacaranya.
Rian berdecak kesal mendengar pertanyaan tersebut. "Ck! saya tidak baik-baik saja. Saya sangat tidak nyaman dan tidak tahan dengan kondisi di dalam tahanan ini."
"Jika bisa, cepat usahakan agar saya bisa keluar dari sini!" imbuh Rian dengan nada geram dan memaksa.
Dia meminta pengacaranya untuk segera membebaskan dirinya dari dalam tahanan ini karena tidak tahan dengan keadaan dan kondisi di dalam tahanan.
"Saya mengerti, pak Rian. Saya tahu betapa beratnya kondisi yang Anda alami. Apa yang membuatmu tidak nyaman di dalam tahanan?"
__ADS_1
Rian justru semakin kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh pengacaranya. "Saya terbiasa hidup rapi dan bersih, tapi di sini saya harus berada di dalam ruangan yang kotor dan tidak nyaman. Selain itu, saya juga merasa sangat jijik dengan keadaan sekitarnya dan saya tidak suka bersama dengan para napi yang kasar dan menyeramkan."
Akhirnya Rian memberikan beberapa contoh beberapa hal yang dia terima, dan itu merupakan perlakuan yang tidak menyenangkan bagi siapa saja.
"Ya, saya bisa memahami perasaan Anda. Tapi, sebelum kita mengambil keputusan untuk membebaskanmu dari tahanan, ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan terlebih dahulu."
"Apa saja itu, pak?" tanya Rian cepat.
"Pertama-tama, kita perlu memastikan apakah kamu memenuhi persyaratan untuk mendapatkan pembebasan sementara dari tahanan. Persyaratan ini biasanya meliputi jaminan kehadiran dalam persidangan selanjutnya, bukti-bukti yang memperkuat alasan pembebasan, dan kesediaan keluarga atau penjamin untuk menjaminmu selama berada di luar tahanan."
Meskipun pengacara Rian ini sudah ikut bekerja dengannya beberapa waktu lamanya, dia tetap memberikan penjelasan sesuai dengan aturan yang berlaku. Tapi tentu saja dia tetap berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk pelayanan yang terbaik untuk kliennya, dengan memenuhi permintaan Rian, bagaimanapun caranya.
"Saya siap memenuhi semua persyaratan itu, pak. Saya sudah sangat tidak tahan dengan keadaan di sini."
Pengacara tersebut menganggukkan kepalanya paham. "Yang kedua, kita harus mempertimbangkan dampak dari pembebasan sementara ini terhadap hasil persidangan selanjutnya. Kita harus memastikan bahwa pembebasan sementara ini tidak akan berdampak negatif pada proses persidangan dan keterlibatanmu dalam proses tersebut." Pengacara tersebut kembali memberikan penjelasan pada Rian.
"Saya mengerti, pak. Tapi saya benar-benar tidak tahan lagi dengan keadaan di sini. Apakah saya bisa membuat tuntutan untuk para napi yang telah menyiksaku?" tanya Rian cepat, sebab dia ingin membalas dendam pada para napi yang telah menggangunya.
Ketika pengacaranya datang berkunjung ke penjara, Rian dengan gugup menceritakan kondisinya yang sangat tidak nyaman dan menyebalkan selama berada di dalam tahanan. Rian memohon agar pengacaranya dapat segera membantunya keluar dari tahanan, karena ia merasa tidak mampu lagi bertahan dengan keadaan yang ada di sana.
Pengacara Rian mengerti betul betapa beratnya kondisi yang dialami Rian selama di dalam tahanan. Dia merasa prihatin dengan kondisi kliennya dan ingin membantunya sebisa mungkin. Namun, sebelum mengambil keputusan, pengacara Rian harus memperhatikan beberapa hal terlebih dahulu.
"Saya tidak bisa memastikan karena tidak ada bukti. Tapi untuk pembebasan sementara , baiklah, saya akan mengajukan permohonan pembebasan sementara untuk Anda. Tapi, Anda harus bersiap-siap dengan semua persyaratan yang harus dipenuhi."
"Baiklah. Terima kasih banyak, pak. Saya akan mempersiapkannya dengan baik. Saya berharap dapat segera keluar dari tahanan ini, dan jika memungkinkan saya juga bebas dari segala tuntutan. Anda harus bisa bekerja keras, pak."
Rian memberikan penekanan di akhir kalimatnya yang ditunjukkan pada pengacaranya tersebut.
Sistem hukum pidana yang ada di Indonesia menetapkan bahwa seorang terdakwa harus menjalani masa tahanan ketika masih dalam proses persidangan. Masa tahanan ini dilakukan untuk menjaga keamanan terdakwa dan memastikan dia hadir dalam persidangan selanjutnya. Namun, bagi beberapa orang, menjalani masa tahanan dapat menjadi pengalaman yang sangat berat dan mengganggu. Sama seperti yang dialami oleh Rian, sebagai salah satu orang yang merasakan beban berat ketika berada di dalam tahanan.
Rian, yang terbiasa hidup rapi dan bersih, mendapati dirinya ditahan di sebuah penjara tempat terpisah dari keluarga, teman dan dunia luar. Dia berada di tempat yang tidak familiar dan berada di antara para napi yang kasar dan menyeramkan. Rian merasa terjebak di dalam lingkungan yang tidak nyaman dan sangat tidak cocok dengan kepribadian dan kebiasaannya. Rian merasa jijik dan tidak nyaman dengan keadaan sekitarnya, serta menunjukkan sikap yang menyebalkan bagi para napi lainnya sehingga mendapatkan perlakuan dan intimidasi dari sesama napi.
__ADS_1