Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Suasana Duka


__ADS_3

"Huhfff..."


Nona Anna berkata dengan suara yang terdengar ragu-ragu. "Aku harus mengakui bahwa aku juga memiliki bagian tanggung jawab dalam kejadian yang salah ini. Aku membiarkan diriku terpengaruh oleh alkohol dan itu adalah kesalahanku juga."


Wajah Nona Anna mencerminkan keraguan, tapi juga sedikit bersyukur bahwa kejadian ini terjadi dengan Indra, seseorang yang sudah dekat dengannya, bukan dengan orang lain yang mungkin bisa memperburuk situasi.


Nona Anna melihat ke arah Indra dengan tatapan yang penuh pertimbangan, mencoba untuk mengungkapkan pemikirannya yang sedang berubah dalam situasi ini.


Dengan sedikit wajahnya yang berubah lebih tenang, seakan-akan bersyukur karena bulan orang lain yang tidak dikenalnya.


"Aku merasa lega bahwa kejadian ini terjadi denganmu, Indra, seseorang yang aku kenal dan percayai. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika ini terjadi dengan orang lain yang mungkin bisa memperburuk situasi."


Meskipun ada rasa kecewa karena dia sebenarnya tertarik pada Abiyasa, rekan kerjanya yang sudah dua tahun saling mengenal, dan yang paling penting adalah, Abiyasa masih sendiri, belum beristri lagi setelah istrinya meninggal.


Tapi sayangnya Abiyasa justru menolaknya, dan kini Indra yang ada di sampingnya. Menghabiskan waktu semalam bersama dengannya, sedangkan Indra sendiri sudah memiliki istri.


Nona Anna kembali berpikir dengan penuh pertimbangan, terlihat dalam gerak tubuh dan ekspresi wajahnya yang sedikit tegang.


Namun, dalam tatapannya masih terlihat rasa kecewa yang melintas, karena dia sebenarnya tertarik pada Abiyasa, rekan kerjanya, yang ternyata menolaknya.


Nona Anna kembali berkata dengan lirih, karena rasa kecewanya. "Aku harus menghadapi kenyataan bahwa harapanku terhadap Abiyasa tidak terpenuhi. Tapi sekarang, fokusku harus berada pada situasi ini dan menemukan cara untuk melanjutkan.'


Ekspresinya mencerminkan campuran perasaan antara penyesalan, kelegaan, dan kecewa. Dia menyadari bahwa dia juga harus memikul bagian tanggung jawab dalam situasi ini dan merenung tentang kesalahannya.


Meskipun rasa kecewa dan amarahnya yang sesaat, Nona Anna merasa bersyukur bahwa meskipun hal ini terjadi, Indra adalah seseorang yang telah dikenalnya dengan baik, meskipun masih ada perasaan kecewa yang timbul karena harapannya terhadap Abiyasa tidak terpenuhi. Tetapi saat ini, fokusnya adalah mengevaluasi situasi dan mencari jalan keluar yang terbaik.


Mereka terlihat lebih tenang, dengan Nona Anna yang duduk dalam keheningan dan pikiran yang terfokus. Tidak ada ekspresi emosional yang mencolok seperti tadi, tetapi terlihat dalam tatapan matanya bahwa dia sedang memikirkan langkah selanjutnya.

__ADS_1


Kesedihan, rasa syukur, dan kekecewaan terlihat dalam ekspresi dan postur tubuhnya saat dia berusaha mencerna semua yang telah terjadi dan mencari jalan untuk melanjutkan.


"Maaf, Nona Anna."


Indra, yang sedari tadi diam kembali meminta maaf. Dia juga tidak pernah menyangka jika semalam telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan.


Terdengar helaan nafas panjang Nona Anna saat mendengar permintaan maaf Indra yang kesekian kalinya. Kini dia bisa berbicara dengan suara yang lebih lembut, mengungkapkan perasaannya yang rumit dalam situasi ini.


"Aku juga minta maaf padamu, Indra. Kamu jadi ada dalam keadaan yang sulit seperti ini. Tapi aku perlu memikirkan langkah selanjutnya dengan cermat. Aku harus bertanggung jawab atas tindakanku dan mencari cara untuk memperbaiki situasi ini. Mungkin ada pelajaran berharga yang bisa aku ambil dari kesalahan ini."


Suara Nona Anna terdengar lebih tenang dan penuh pertimbangan saat dia memikirkan semua yang telah terjadi. Dia mencoba untuk mencari jalan keluar dan merencanakan langkah selanjutnya dengan bijaksana, meskipun masih ada rasa kecewa dan penyesalan yang tersisa.


Dia mencoba memahami peran dan kesalahan dirinya sendiri serta merenungkan harapannya yang tidak terpenuhi. Meskipun masih ada kekhawatiran, Nona Anna berusaha mencari jalan untuk berdamai dengan dirinya sendiri dengan bijaksana.


Melihat Indra yang masih duduk di sampingnya dalam keadaan memantung, Nona Anna memintanya untuk segera pergi dari kamarnya.


Mendengar perkataan Nona Anna, Indra seakan-akan tersadar dari lamunannya. Dia segera berdiri dan merapikan penampilannya. Dia juga merasa bersalah pada istrinya atas kejadian semalam, yang pastinya akan membuat masalah.


"Maaf, Nona Anna. Saya harus pergi."


Nona Anna hanya mengangguk mengiyakan. Dia tahu jika Indra juga sedang dalam keadaan yang sulit.


***


Di rumah sakit.


Abiyasa berada di ruang tunggu rumah sakit, mengenakan pakaian serba hitam dan menggenggam foto kenangan kakaknya dengan penuh keharuan. Dia sedang bersiap-siap untuk mengiringi ambulans yang akan membawa jenazah kakaknya ke pemakaman. Sebuah perasaan campuran antara kesedihan yang mendalam dan kebingungan melingkupi dirinya.

__ADS_1


Di sekitarnya, terdapat kegiatan yang sibuk dan suasana yang hening di ruang tunggu rumah sakit. Para perawat dan dokter dengan serius melaksanakan tugas mereka, bergerak dengan terburu-buru.


Abiyasa berusaha menjaga ketenangan dan mengatasi kesedihannya yang mendalam. Dia berbicara dengan petugas rumah sakit untuk memastikan segala persiapan pemakaman dilakukan dengan baik. Membicarakan detail prosedur pemakaman dan memberikan petunjuk tentang tempat pemakaman yang telah dipersiapkan untuk kakaknya.


"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Abiyasa memastikan.


"Sudah, Pak. Tinggal menunggu jam pemberangkatan jenazah."


Abiyasa mengangguk. Dia berusaha untuk tetap terlihat tenang dan tidak terpengaruh dengan apapun, meskipun sebenarnya sibuk menjaga ketenangan dalam menghadapi kesedihan mendalamnya dan tetap fokus pada persiapan pemakaman.


Di sekitarnya, suasana rumah sakit masih saja sama seperti biasanya. Memperlihatkan kesibukan dan seriusnya pekerjaan medis yang dilakukan oleh para profesional kesehatan. Abiyasa menghadapi kenyataan kehilangan yang besar atas meninggalnya Aji.


"Maaf, Mas Abi."


Indra datang dengan langsung mengucapkan permintaan maafnya. Dia terlihat lelah, tapi tetap bersikap profesional seperti biasanya.


"Tidak apa-apa. Semuanya sudah ditangani oleh pihak rumah sakit," kata Abiyasa memaklumi kondisi Indra yang tentunya juga lelah atas semua tugas dan tanggung jawab sebagai asistennya.


Tak lama kemudian, ambulans siap berangkat dengan diiringi oleh mobil Abiyasa dan yang lainnya menuju ke pemakaman yang sudah dipersiapkan.


Suasana pemakaman Aji penuh dengan kesedihan dan keheningan yang kental. Abiyasa sengaja langsung membawanya ke arena pemakaman, karena mereka tinggal di apartemen dan rumah besar keluarga mereka telah lama kosong. Karena itu, tidak ada kesempatan untuk membawa jenazah Aji pulang terlebih dahulu.


Ketika Abiyasa tiba di arena pemakaman, suasana hatinya terasa sepi dan sunyi hingga di udara. Langit mendung dan hujan gerimis mulai turun, menambah suasana yang melankolis. Beberapa kerabat dan teman-teman Aji maupun Abiyasa sudah hadir, menunggu kedatangan mereka. Mereka berkumpul di sekitar liang lahat yang telah digali di tengah lapangan pemakaman.


Pemandangan di sekitar arena pemakaman juga mencerminkan suasana yang sedih. Bunga-bunga segar diletakkan di sekitar liang lahat, menambah aroma harum namun menyedihkan di udara. Peti mati Aji diletakkan dengan hati-hati di atas alat pengangkat dan diperlahankan turun ke dalam liang lahat oleh beberapa orang pria yang bertugas.


Wajah-wajah sedih dan berlinang air mata terlihat di antara kerabat dan teman-teman yang hadir. Mereka saling menguatkan satu sama lain, berbagi kenangan indah dengan Aji, dan mengungkapkan rasa kehilangan mereka dengan sosok Aji semasa hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2