Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Cinta Merubah Takdir


__ADS_3

Pagi harinya, Abiyasa yang baru saja terbangun dari tidurnya merasa sangat bahagia karena semalam sudah berhasil dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang suami yang sebenarnya pada Ajeng setelah lebih dari tujuh bulan lamanya, dan malam tadi adalah malam pertama mereka yang tertunda sekian lamanya. Dia melihat keadaan Ajeng yang masih tertidur pulas diperlukannya. Dia mengecup kening Ajeng sebagai tanda terima kasih. Tapi tindakannya itu justru membuat Ajeng terbangun dari tidurnya dan melihatnya dengan malu-malu.


Abiyasa merasa sangat bahagia pagi ini karena berhasil memulai kehidupan pernikahannya dengan Ajeng dengan baik, setelah beberapa waktu tertunda. Dia merasa sangat dekat dengan Ajeng setelah malam tadi dan merasa lebih mencintainya dari sebelumnya. Namun, saat Abiyasa mencium kening Ajeng, tindakannya justru membuat Ajeng terbangun dari tidurnya dan menatapnya dengan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Emhhh..."


"A-ku..."


Abiyasa merasakan adanya kecanggungan dalam situasi seperti ini dan mencoba mencari cara untuk membuat Ajeng merasa lebih nyaman. Dia mencoba mengajak Ajeng berbicara dan memberikan rasa aman dan kenyamanan. Abiyasa berusaha untuk memahami perasaan Ajeng dan memberikan dukungan pada saat yang sama.


"Maafkan aku, sayang. Aku hanya ingin menunjukkan rasa terima kasihku karena kamu sudah membuatku merasa sangat bahagia malam tadi," ujar Abiyasa dengan lembut.


Ajeng menatap Abiyasa dengan tatapan yang penuh kekhawatiran dan kecemasan. Dia merasa sedikit gugup dengan situasi ini dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, Abiyasa membuka pelukan dan mengajak Ajeng untuk bergabung dengannya di tempat tidur.


"Jangan khawatir, sayang. Aku di sini untukmu dan aku selalu akan ada untukmu," ucap Abiyasa lagi.


Ajeng akhirnya merasa sedikit lebih tenang dan merangkul Abiyasa. Dia merasa bahagia karena Abiyasa selalu ada untuknya dan menghargai perasaannya. Namun, dia juga merasa malu dan canggung karena kejadian semalam yang merupakan malam bersejarah baginya. Dia telah menjadi istri yang sebenarnya bagi Abiyasa.


"Ummm..."


Abiyasa merasa bahwa dia harus membuat Ajeng merasa lebih nyaman dan relaks. Dia mengambil handuk hangat dan menggosokkan ke wajah Ajeng dengan lembut. Abiyasa juga memberikan pijatan ringan pada pundak Ajeng dan mencium bibirnya dengan lembut.


Ajeng merasa sedikit lebih rileks dan menatap Abiyasa dengan mata yang penuh kasih sayang. Dia merasa sangat beruntung memiliki Abiyasa di sisinya dan tidak bisa membayangkan hidup tanpa dia.


"Makasih, Mas Abi. Aku merasa sangat bahagia bersamamu," ucap Ajeng dengan tersenyum lembut.


Abiyasa tersenyum dan mencium kening Ajeng lagi. Dia merasa sangat mencintai Ajeng dan merasa bersyukur karena telah memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintaimu, sayang. Dan aku selalu akan ada untukmu," ucap Abiyasa lagi, menyakinkan istrinya.


Ajeng merasa sangat tersentuh dan bakas mencium Abiyasa dengan penuh kasih sayang. Dia merasa sangat beruntung karena memiliki Abiyasa di sisinya dan tahu bahwa dia selalu akan ada untuknya. Mereka saling berpelukan, merangkul satu sama lain dengan erat, menikmati momen indah pagi yang cerah.


Secerah perasaan mereka berdua.


Tapi sayangnya gerakan-gerakan lembut dari keduanya kembali membakar sesuatu yang sama-sama mereka sadari. Kejadian semalam akhirnya kembali terulang lagi, bahkan sebelum mereka pergi ke kamar mandi pagi ini setelah bangun tidur.


Bahkan setelah mereka selesai sarapan pagi, mereka juga melakukan apa-apa lagi, yang bisa membuat mereka berdua lebih dekat satu sama lain dan mencecap rasa bahagia yang seharusnya menjadi lebih baik setelah semuanya berlalu.


Tadi, setelah sarapan, Abiyasa dan Ajeng duduk di teras rumah sambil menikmati segelas jus jeruk. Suasana sudah tidak secanggung tadi pagi pada saat bangun tidur, setelah kejadian semalam. Abiyasa ingin memperbaiki suasana hati Ajeng yang masih terlihat sedikit malu-malu.


"Maafkan aku, sayang. Aku tahu aku biasa terlalu fokus dengan pekerjaanku dan kadang-kadang melupakanmu," ujar Abiyasa dengan suara lembut.


Ajeng mengangguk pelan, "Aku tahu, tapi kadang-kadang aku jadi merasa terabaikan." Ajeng mengakuinya.


Ajeng tersenyum lebar mendengar ucapan Abiyasa. "Aku juga mencintaimu, Mas Abi. Ta-pi a-ku, aku masih merasa canggung tentang semalam. Ja-di aku tidak tahu apa yang harus kukatakan." Ajeng gugup.


Abiyasa mengusap lembut punggung tangan Ajeng. "Jangan khawatir tentang itu, sayang. Aku suka kok, dan kita hanya membutuhkan waktu untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Aku bersedia jika kamu mau, sampai kapanpun." Abiyasa justru menggoda Ajeng dengan sengaja.


Ajeng tersenyum-senyum dengan menundukkan wajahnya, tapi dia merasa lega. "Terima kasih, Mas Abi. Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu."


Abiyasa tersenyum penuh cinta. "Aku juga merasa beruntung memiliki istri sebaik kamu, sayang."


Mereka melanjutkan obrolan mereka dengan penuh keakraban dan tawa, seakan-akan semua kecanggungan di antara mereka sudah hilang. Abiyasa mencoba untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat Ajeng lebih dekat dengannya, seperti mengajaknya untuk pergi jalan-jalan bersama, menonton film, atau sekedar mengobrol.


"Apakah kamu mau?" tanya Abiyasa meminta persetujuan Ajeng.

__ADS_1


"Ummm."


Ajeng mengangguk mengiyakan pertanyaan Abiyasa, karena dia juga ingin menghirup udara segar setelah semua kejadian yang terjadi pada mereka kemarin-kemarin.


"Aku siap-siap dulu ya, Mas Abi."


Setelah beberapa saat kemudian, Abiyasa mengajak Ajeng pergi ke pantai untuk menikmati pemandangan indah dan bermain air. Mereka berdua berlari ke pantai sambil saling melempar air satu sama lain. Ajeng tertawa terbahak-bahak melihat Abiyasa yang basah kuyup dan berlari ke arahnya.


"Hey, jangan lari, Mas Abi! Ayo main air lagi," Ajeng memanggil.


Abiyasa menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku sudah kedinginan. Ayo kita berhenti sejenak dan menikmati pemandangan ini."


Ajeng mengangguk dan mereka berdua duduk di pasir sambil menikmati suara ombak dan angin laut yang menyejukkan. Mereka saling memandang dengan penuh kebahagiaan di hati.


"Apa masih sakit?" tanya Abiyasa perhatian.


Abiyasa bertanya demikian karena kondisi Ajeng yang memang belum sepenuhnya pulih, ditambah dengan apa yang mereka lakukan semalam dan tadi pagi. Dia khawatir jika Ajeng hanya menahannya seorang diri.


"Tidak, Mas Abi." Ajeng menjawab pertanyaan tersebut dengan wajah tersipu malu-malu l, kemudian kembali berkata untuk mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih sudah membawa aku ke sini, Mas Abi. Aku merasa sangat bahagia," ujar Ajeng sambil memeluk Abiyasa.


Abiyasa membalas pelukan itu dengan erat. "Aku juga merasa bahagia, sayang. Aku senang bisa melihat senyummu setiap hari."


Mereka berdua saling pandang kemudian sama-sama tersenyum, mengingat bahwa mereka bisa melalui semuanya ini bersama-sama. Dalam hati Abiyasa berjanji untuk menjaga dan merubah takdir Ajeng sebisa mungkin. Dia tidak akan pernah membiarkan terjadi sesuatu pada istrinya.


'Aku akan mengubahnya, Ajeng.'

__ADS_1


Kira-kira bagaimana dengan Aji dan yang lainnya, jika mereka melihat perubahan pasangan suami istri yang tidak pernah mereka sangka-sangka???


__ADS_2