Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Terbakar


__ADS_3

Di kantor polisi, Aji duduk di kursi polisi dengan wajah merah padam. Ia terlihat sangat marah dan emosi karena merasa tidak bersalah atas tuntutan yang diberikan kepadanya dari pihak mal. Dia menunggu kedatangan pengacaranya yang ia hubungi untuk mendampingi dirinya selama proses pemeriksaan berlangsung.


Aji marah-marah dan emosi karena merasa tidak bersalah. Dia tidak mau mengakui kesalahannya, dan juga tidak mau menjawab pertanyaan dari pihak penyidik. Dia ingin menunggu kedatangan pengacaranya. Dia tidak mau diperiksa tanpa ada pihak pengacara yang mendampingi.


"Apa yang kamu maksud dengan saya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini tanpa ada pengacara?" ujar Aji dengan nada tegas, saat pihak penyidik memberinya pertanyaan.


"Kamu bisa diwakili oleh pengacara saat proses pemeriksaan berlangsung. Tapi, kita membutuhkan jawaban dari kamu terlebih dahulu," jawab polisi yang bertugas.


Aji menggelengkan kepala dengan keras. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan tanpa ada pengacara yang mendampingi. Dia tidak mau dirugikan karena tindakan yang dilakukan oleh pihak keamanan mal yang menuduhnya telah menganggu ketertiban umum.


"Saya tidak mau menjawab tanpa ada pengacara. Saya punya hak untuk didampingi oleh pengacara selama proses pemeriksaan berlangsung," ujar Aji tegas.


Polisi yang bertugas mencoba untuk menjelaskan kembali bahwa proses pemeriksaan harus dilakukan dengan cepat agar tidak mengganggu aktivitas kepolisian yang lain. Namun, Aji tetap bersikeras untuk menunggu kedatangan pengacaranya.


"Saya tidak peduli dengan aktivitas kepolisian yang lain. Saya punya hak untuk didampingi oleh pengacara dan saya akan menunggu sampai pengacara saya datang," ujar Aji dengan tegas.


Polisi yang bertugas mencoba untuk memberikan beberapa pertanyaan kepada Aji agar proses pemeriksaan tidak berlangsung terlalu lama. Namun, Aji tetap tidak mau menjawab dan terus menunggu kedatangan pengacaranya.


"Kalau begitu, kita akan menunda proses pemeriksaan sampai pengacara mu datang. Tapi, proses ini harus selesai dalam waktu yang singkat," ujar polisi yang bertugas.


Aji hanya mengangguk dan duduk kembali di kursinya. Ia merasa kesal dengan situasi yang terjadi. Dia merasa tidak bersalah dan tidak mau dijadikan korban oleh pihak keamanan mal yang menuduhnya telah menganggu ketertiban umum.


Setelah beberapa saat, pengacara Aji akhirnya datang dan mendampingi kliennya selama proses pemeriksaan berlangsung. Aji merasa lega dan siap untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pihak kepolisian.


"Kenapa lama sekali?" tanya Aji pada pengacaranya yang baru saja datang.


"Maaf, pak Aji. Jalanan Jakarta tidak ada yang tidak macet." Pengacara tersebut memberikan alasan yang biasa terjadi.


"Ck! Alasan."

__ADS_1


"Sudah siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pihak kepolisian?" tanya pihak penyidik setelah melihat kedatangan pengacaranya Aji.


Aji mengangguk dan siap untuk menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh pihak kepolisian. Ia merasa lebih tenang setelah didampingi oleh pengacaranya dan siap untuk membela dirinya dalam proses ini.


Proses pemeriksaan akhirnya berlangsung dengan lancar dan Aji berhasil membela dirinya dengan baik. Dia berhasil membuktikan bahwa dia tidak bersalah dengan bantuan pengacaranya.


Akhirnya Aji dibebaskan dengan bersyarat. Dia senang karena akhirnya bisa bebas lagi. Dia akan merencanakan sesuatu untuk membalas dendam pada Abiyasa karena telah mempermalukan dirinya di depan umum saat di mal dalam perkelahian mereka.


"Sialan Abiyasa, dia akan mendapat balasannya. Tunggu saja nanti," ujar Aji dengan nada tegas.


Aji keluar dari ruang pemeriksaan dengan senyuman di wajahnya. Dia berhasil membela dirinya dan dibebaskan dengan syarat. Dia merasa lega dan senang karena tidak terlibat dalam masalah hukum yang lebih besar.


Setelah keluar dari kantor polisi, Aji langsung mencari tempat yang sepi untuk merencanakan aksinya. Dia ingin membalas dendam pada Abiyasa karena telah mempermalukannya di depan umum. Dia tidak akan membiarkan Abiyasa merusak citranya di depan orang banyak.


Dia mengingat kejadian di mal tadi, ketika Abiyasa menolak bertengkar dengannya. Aji merasa sangat kesal dan memutuskan untuk membalas dendam pada Abiyasa dengan cara yang lebih keras. Dia tidak ingin dianggap lemah oleh orang lain.


Dia berjalan-jalan di sekitar kota sambil memikirkan rencananya. Dia ingin membuat Abiyasa merasakan apa yang dia rasakan tadi di mal. Dia merasa kesal dan tidak sabar untuk melancarkan aksinya.


Setelah berjalan-jalan selama beberapa jam, Aji akhirnya menemukan ide yang cocok untuk melancarkan aksinya. Dia berencana untuk membakar mobil Abiyasa yang sedang diparkir di apartemen atau kantor, tapi tentunya bukan dengan tangannya sendiri.


"Aku harus menghubungi Ruhian. Ke mana dia bersembunyi setelah gagal menghabisi Abiyasa dalam kebakaran?"


Aji tahu, kemana dia harus mencari tangan untuk balas dendamnya. Meskipun ini adalah tindakan yang sangat berbahaya, tapi dia merasa tidak sabar untuk melancarkan aksinya.


"Sudahlah, Abiyasa harus merasakan apa yang aku rasakan tadi di mal. Dia harus tahu bahwa aku tidak bisa dianggap remeh begitu saja," ujar Aji dengan nada tegas.


Dia mengambil ponselnya dan mencari kontak Ruhian.


Tut tut tut

__ADS_1


Tut tut tut


"Ck! Kenapa tidak aktif?"


Ternyata no ponsel Ruhian tidak aktif, atau bisa jadi untuk sementara waktu, Ruhian sengaja memblokir dirinya agar tidak terganggu dalam persembunyiannya.


Akhirnya Aji nekat melakukan aksinya sendiri. Dia tidak mau menunda rencananya karena sudah tidak sabar ingin membuat perhitungan dengan Abiyasa, yang sebenarnya adalah adiknya sendiri. Dia sudah tidak percaya dengan orang lain lagi, karena semua orang yang membuat rencana untuk menghabisi abiasanya, nyatanya tidak bisa dan gagal semua.


Aji membawa sebotol bensin yang dia beli di bengkel mobil dan menuju ke apartemen Abiyasa. Dia tidak ingin menunda lagi aksinya dan siap untuk melancarkan serangan balas dendam sekarang juga.


"Itu dia mobilnya Abiyasa."


"Ini baru permulaan, Abiyasa bodoh!"


Sampai di tempat parkir apartemen Abiyasa, Aji mengambil sebotol bensin yang dia bawa tadi dan menuangkannya ke mobil Abiyasa. Dia menyulut korek api dan melemparkannya ke mobil Abiyasa. Mobil Abiyasa langsung terbakar dan membuat Aji merasa puas dengan aksinya.


"Dia harus tahu bahwa aku tidak bisa dianggap remeh begitu saja," ujar Aji sambil melihat mobil Abiyasa yang terbakar.


Setelahnya, Aji segera pergi dari tempat tersebut agar tidak ketahuan.


Tidak lama kemudian, polisi datang ke tempat kejadian dan melakukan olah TKP. Mereka mendapatkan laporan dari pihak keamanan apartemen.


"Apa yang terjadi?" tanya Abiyasa, saat dihubungi oleh pihak keamanan.


Kini Abiyasa melihat mobilnya yang sudah hangus terbakar, bahkan bara api masih terlihat sangat panas dengan kepulan asapnya yang hitam mengudara.


"Kerjaan siapa lagi ini?" tanyanya penasaran.


Abiyasa tidak mungkin memegang rongsokan mobilnya yang sudah hangus, sebab dia belum bisa memegang apapun dari bangkai mobilnya yang dalam keadaan panas seperti itu. Apalagi pihak kepolisian juga belum melakukan olah TKP, sebab masih berusaha memadamkan api bersama dengan pihak damkar apartemen.

__ADS_1


__ADS_2