
"Hai, kalian semua terlihat sangat cantik malam ini. Apa yang kalian minum?" tanya Aji saat menghampiri wanita cantik yang duduk di sofa sebelah jendela apartemennya.
"Kami minum koktail ini, Tuan mau mencobanya?" tahta wanita tersebut dengan menyodorkan gelas yang dipegangnya.
Aji tersenyum penuh arti. "Tentu saja, saya tidak pernah menolak minuman dari wanita cantik."
Wanita tersebut memberikan Aji minuman koktail dengan tangannya sendiri.
Aji tidak peduli dengan telepon maupun pesan yang dikirimkan pamannya. Dia justru meneruskan acara pestanya dengan wanita-wanita yang dua undang, dengan minum dan bergoyang sesuka hatinya. Dia tak mau berurusan dengan pamannya yang kini telah di tanggap polisi. Aji tidak mau terlibat dalam kasus pamannya.
Aji merasa senang bisa berpesta dan bergoyang sesuka hatinya bersama para wanita yang hadir di acara tersebut. Dia tampak tidak terganggu oleh pesan dan panggilan telepon yang masuk ke ponselnya beberapa kali, sebab dia tidak tahu jika itu adalah dari pamannya.
Meskipun sebenarnya, panggilan dan pesan tersebut memang sangat penting, namun Aji tampaknya lebih memilih mengabaikannya.
Dalam keadaan yang semakin larut, Aji semakin lupa diri dan mulai mengeluarkan kata-kata yang kasar dan tidak sopan kepada beberapa tamu undangan di pestanya. Teman-teman Aji yang datang juga mencoba untuk menenangkan Aji, namun Aji justru semakin tidak terkontrol dan semakin asyik bergoyang.
Setelah beberapa jam berlalu, Aji mulai terpengaruh oleh alkohol yang dikonsumsinya. Dia mulai bicara tanpa kontrol dan keluar perkataan yang kasar dan tidak sopan. Dia merasa bahwa dirinya tidak perlu lagi peduli dengan urusan pamannya yang kini sudah ditangkap polisi.
Baginya, yang terpenting saat ini adalah dirinya dapat menikmati acara pesta yang dihadirinya dan menikmati kebebasannya tanpa harus merasa terbebani oleh urusan keluarga.
"Saya tidak peduli dengan pamanku yang ditangkap polisi, yang penting saya bisa menikmati acara pesta ini tanpa gangguan!"
"Kenapa kamu semua mengganggu saya? Saya ingin menikmati acara pesta ini tanpa gangguan!"
"Siapa yang butuh nasihat dari kalian semua? Saya adalah raja dari pesta ini dan tidak akan mendengarkan orang lain!"
"Tidak perlu repot-repot untuk menenangkan saya! Saya baik-baik saja dan bisa mengendalikan diri sendiri!"
__ADS_1
"Kalian semua ini lemah! Saya bisa minum lebih banyak dari kalian semua dan masih bisa berdiri tegak!"
Aji juga mulai merasa lebih percaya diri dan mulai memperlihatkan sifatnya yang kurang baik. Dia juga mulai mencoba memperdaya beberapa wanita yang hadir di pestanya dengan memberikan minuman beralkohol secara berlebihan dan mencoba mendekatinya dengan sikap yang tidak pantas. Wanita-wanita yang tidak menginginkan perlakuan tersebut mulai merasa tidak nyaman dan memilih untuk meninggalkan acara pesta tersebut.
"Aku ingin menikmati malam ini dengan cara yang aku suka, tidak peduli dengan siapa yang merasa terganggu!"
"Ini malam yang luar biasa! Saya akan minum sebanyak mungkin dan berdansa sepanjang malam!"
Beberapa tamu undangan yang hadir mulai merasa risih dengan sikap Aji yang semakin tidak terkontrol. Mereka mencoba untuk menenangkan Aji, namun hal tersebut justru membuat Aji semakin marah dan mengeluarkan kata-kata yang kasar dan mengancam. Dia merasa bahwa dirinya adalah raja dari acara pesta tersebut dan tidak perlu mendengarkan nasihat dari siapa pun.
"Saya tidak peduli dengan konsekuensi dari tindakan saya! Saya bisa melakukan apa saja yang saya inginkan!"
"Wanita-wanita di sini sangat cantik! Saya bisa memanfaatkan mereka sepuasnya!"
"Aku merasa kuat dan percaya diri! Tidak ada yang bisa menghentikan saya!"
Salah satu dari mereka bertanya, seakan-akan peduli dengan keadaan keluarga Aji saat ini. "Bagaimana dengan pamanmu yang ditangkap polisi? Apa kabar dia?"
Aji tersenyum sinis. "Saya tidak peduli dengan itu. Saya ingin menikmati malam ini dengan cara yang saya suka, tanpa gangguan!"
Teman Wanita yang lainnya lagi bertanya. "Kamu tidak takut terlibat dalam kasus ini, tuan Aji?"
"Tidak, saya tidak terlibat dalam masalah itu. Saya hanya ingin menikmati pesta ini sepuasnya!" Aji menjawab dengan cepat.
Dua teman Wanitanya kini bergoyang di atas meja dan sofa tamu, dan Aji bergabung dengan mereka sambil terus tertawa-tawa senang dengan acaranya ini.
"Kalian berdua sangat hebat! Mari kita minum lagi!" Aji memuji mereka berdua, dengan membelai pipi wanita-wanita tersebut secara bersamaan.
__ADS_1
Dua teman Wanitanya tadi justru memberikan minuman lagi pada Aji, dan mereka terus menari dan bernyanyi bersama-sama.
Beberapa saat kemudian ponsel Aji kembali berdering, membuatnya merasa kesal dan jengkel karena terganggu. Kemudian, Aji dan teman-temannya bergabung dengan beberapa orang lain di ruangan dan mulai berbicara dengan semakin keras dan agresif.
"Saya tidak suka dengan cara orang lain mengelola bisnisnya. Saya bisa melakukannya dengan lebih baik!"
Aji bicara tidak karuan, berbicara asal karena sudah terpengaruh dengan alkohol.
Teman Wanita satu mulai merayu Aji. "Ya, benar! Kamu sangat pandai dan bisa melakukan apa saja, tuan Aji!"
"Pasti! Saya merasa sangat percaya diri malam ini!" Aji berkata dengan bangga.
Teman Wanitanya menyentuh lengan Aji, mengusap-usap dengan senyumnya yang menawan dan khas sebagaimana mestinya.
"Kamu tahu, tuan Aji, aku selalu menyukaimu. Apa kamu tertarik padaku?" tanyanya dengan bibir yang tersenyum penuh arti juga.
"Hahaha... Tentu saja, aku tertarik pada setiap wanita yang cantik seperti kamu, dan kamu!"
Kedua Teman Wanitanya saking pandang dan tersenyum, kemudian mengangguk setuju. Mereka berdua seakan-akan sudah menguasai Aji, yang biasanya arogan dan kasar jika sedang bermain dan merasa tidak terpuaskan.
Aji dan teman-temannya terus minum dan bergoyang hingga larut malam, tanpa mempedulikan konsekuensi dari tindakan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa perilaku mereka yang mabuk dan agresif dapat merugikan diri mereka sendiri dan orang lain.
Setelah beberapa saat berlalu, Aji akhirnya mulai merasakan efek negatif dari alkohol yang dikonsumsinya. Dia mulai merasa mual dan pusing, dengan pandangan mata yang kabur.
Tak berselang lama efek dari alkohol itu juga mulai bereaksi di tubuh Aji yang mulai memanas karena sentuhan-sentuhan sensual kedua wanita-wanita tersebut.
"Sekarang bakal gampang," ujar satu dari mereka sambil membuka kancing bajunya sendiri satu persatu.
__ADS_1
Yang satunya lagi tersenyum penuh arti, dengan tangannya yang masih memberikan stimulasi menyenangkan sesuai dengan kebutuhan yang akan mereka lakukan pada tubuhnya Aji.