Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Investigasi


__ADS_3

Ketika kepolisian menerima laporan pihak keamanan apartemen tentang pembakaran sebuah mobil penghuni di area parkir apartemen, mereka segera mengambil tindakan untuk melakukan penyelidikan.


Langkah pertama yang mereka lakukan adalah menutup area parkir untuk sementara waktu agar proses penyelidikan dapat dilakukan dengan lebih efisien. Setelah itu, mereka mulai memeriksa CCTV di beberapa sudut apartemen untuk mencari petunjuk tentang siapa pelaku pembakaran mobil tersebut.


Namun, saat mencoba mengaktifkan CCTV, mereka menemukan bahwa sistem tersebut telah diretas terlebih dahulu. Hal ini menambah kesulitan dalam upaya mereka untuk menemukan pelaku pembakaran mobil. Kepolisian merasa bahwa mereka harus segera menemukan siapa yang menjadi dalang dari pembakaran mobil tersebut sebelum hal serupa terjadi lagi di area parkir tersebut.


“Kita harus segera menemukan siapa yang melakukan pembakaran mobil ini,” kata Kepala Kepolisian kepada timnya. “Kita perlu mencari petunjuk lain untuk bisa menemukan pelakunya.”


Tim penyelidik kemudian mulai melakukan wawancara dengan saksi-saksi yang berada di area parkir pada saat kejadian terjadi. Mereka mencari tahu apakah ada orang yang mencurigakan yang terlihat di area parkir pada saat itu.


“Apakah ada yang terlihat mencurigakan di area parkir pada saat kejadian?” tanya seorang anggota tim penyelidik kepada salah satu saksi.


“Saya tidak melihat siapa-siapa yang mencurigakan,” jawab saksi tersebut. “Tapi saya mendengar suara orang berbicara di belakang mobil saya sebelum suara ledakan terdengar.”


Tim penyelidik mencatat informasi ini dan bergerak lebih lanjut dalam mencari petunjuk baru. Mereka memeriksa rekaman suara dari CCTV yang masih dapat diakses untuk mencari tahu apakah suara yang didengar oleh saksi tersebut terdengar jelas di rekaman.


“Apakah kalian mendengar suara orang berbicara sebelum suara ledakan terdengar di rekaman CCTV ini?” tanya Kepala Kepolisian kepada tim penyelidik.


“Ya, suara itu terdengar jelas di rekaman,” jawab salah satu anggota tim penyelidik. “Tapi suaranya agak samar-samar, jadi kita tidak bisa mengidentifikasi siapa yang berbicara.”


“Apakah kalian bisa mengirimkan rekaman suara itu ke lab forensik untuk dianalisis?” tanya Kepala Kepolisian.


“Tentu, Pak,” jawab anggota tim penyelidik tersebut.

__ADS_1


Setelah rekaman suara dikirim ke lab forensik, mereka menemukan bahwa suara tersebut berasal dari seorang pria yang belum dapat diidentifikasi. Namun, mereka menemukan petunjuk baru ketika mereka memeriksa bangku yang ada di dekat lokasi kejadian.


“Kami menemukan sejumlah benda di bangku itu yang dapat menjadi petunjuk penting,” kata anggota tim penyelidik. “Ada bungkus rokok bekas, korek api, dan botol untuk tempat bahan bakar tak jauh dari lokasi kejadian."


Setelah tim penyelidik melakukan wawancara dengan saksi-saksi di area parkir, mereka memutuskan untuk bertemu dengan Abiyasa, pemilik mobil yang terbakar, untuk mencari tahu apakah ada hal yang bisa memberikan petunjuk penting tentang siapa pelaku pembakaran mobil tersebut.


"Selamat siang, Pak Abiyasa. Kami ingin bertanya tentang insiden yang terjadi pada mobil Anda di area parkir apartemen." Pihak kepolisian mulai mewawancarai Abiyasa sebagai korban.


"Selamat siang, Pak Kepala Kepolisian. Ya, saya siap memberikan jawaban sesuai dengan apa yang saya ketahui. Ada yang ingin saya bantu untuk proses penyidikan?" tanya Abiyasa kooperatif.


"Ya, kami sedang melakukan penyelidikan tentang siapa yang bertanggung jawab atas pembakaran mobil Anda. Kami ingin tahu apakah ada hal yang dapat membantu kami dalam menyelidiki kasus ini."


Abiyasa mengangguk paham dengan maksud pertanyaan yang diajukan oleh pihak penyidik.


"Saya tidak tahu pasti siapa yang bisa melakukan hal seperti itu. Dari hasil laporan pihak keamanan apartemen yang sudah memeriksa rekaman CCTV dari apartemen, mereka mendapatkan bahwa CCTV tersebut sudah diretas."


Abiyasa terdiam sejenak, seakan-akan sedang berpikir. "Saya tidak tahu pasti, pak. Saya jarang berinteraksi dengan orang-orang karena saya sedang fokus dengan pemulihan kondisi kesehatan istri saya yang sedang mengalami trauma."


"Apakah Anda punya informasi tentang orang-orang yang mungkin bisa terdekat, bisa teman, saudara atau rekan kerja?" pihak kepolisian kembali memberikan pertanyaan yang kira-kira bisa membantu mereka untuk mempercepat proses penyidikan ini.


"Maaf, pak. Saya tidak tahu karena tidak ada petunjuk apapun untuk mencurigai seseorang."


Kepala Kepolisian menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Baiklah. Terima kasih atas informasinya, Pak Abiyasa. Kami akan mencoba mencari bukti-bukti yang lain supaya kasus ini segera terselesaikan."

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Saya berharap pelakunya bisa segera ditangkap dan dibawa ke pengadilan."


Abiyasa sebenarnya dengan sengaja tidak mau memberikan keterangan kepada pihak kepolisian, sebab dia sudah tahu siapa sebenarnya yang telah membakar mobilnya. Dia ingin membuat perhitungan sendiri dengan kakaknya, karena yang membakar mobilnya adalah kakaknya sendiri, yaitu Aji.


Ini Abiyasa ketahui dari kemampuannya melihat sesuatu, setelah dia memegang bangkai mobilnya yang dalam keadaan hancur akibat kebakaran beberapa saat kemudian.


***


Abiyasa duduk di depan meja di kamarnya, merenung tentang kejadian pembakaran mobilnya. Dia tahu siapa yang bertanggung jawab atas kejadian itu, tapi dia merasa ragu untuk memberitahu pihak kepolisian.


"Kakakku sendiri yang membakar mobilku," gumamnya dalam hati. "Tidak mungkin aku melaporkannya ke polisi. Aku harus membuatnya sadar dengan caraku sendiri."


Abiyasa mengingat kembali percakapan dengan kakaknya beberapa waktu sebelum kejadian tersebut. Mereka bertengkar tentang masalah perusahan dan semua kesalahpahaman Aji tentang Abiyasa di mal.


"Mungkin dia tidak terima, apalagi kejadiannya di tempat umum seperti mal. Tapi itu adalah kesalahannya sendiri, yang memukulku terlebih dahulu."


"Aku harus menghadapi kakakku sendiri," pikir Abiyasa. "Dia harus tahu betapa buruk tindakannya itu. Aku tidak bisa membiarkannya lolos dari hukuman, tapi aku juga tidak bisa melaporkannya ke polisi lagi, jika dia bisa mendapatkan kemudahan untuk bebas bersyarat."


Abiyasa mengingat kembali penglihatannya atas kejadian di area parkir apartemen pada malam kebakaran mobilnya. Dia melihat kakaknya Aji berdiri di belakang mobilnya yang terbakar, dan kemudian berlari menjauh saat orang-orang yang mulai datang untuk memadamkan api. Abiyasa merasa sedih dan kecewa melihat kakaknya melakukan hal seperti itu, tapi dia juga tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah ini.


"Aku tidak bisa membicarakannya dengan pihak kepolisian," pikir Abiyasa.


"Aku tidak ingin kakakku masuk penjara, tapi dengan mudah bebas juga. Dia harus bertanggung jawab atas tindakannya, dengan caraku sendiri."

__ADS_1


Abiyasa memutuskan untuk menghadap kakaknya dan mencoba membicarakan masalah ini. Dia tahu bahwa tidak akan mudah, tapi dia merasa bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik.


"Dia tidak bisa diajak bicara baik-baik. Mungkin dia memang suka kekerasan yang dapat membuatnya kapok."


__ADS_2