Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Kabar Yang Menyakitkan


__ADS_3

Di depan ruang operasi, Abiyasa mengingat kembali bagaimana cara Aji saat melindungi dirinya dari serangan paman mereka, Rian, yang membawa pisau lipat tajam. Abiyasa mengingat bagaimana Aji menjadi tameng untuknya dalam situasi tersebut, dan perasaan sedih dan marah yang dirasakan oleh Aji terhadap pamannya.


Abiyasa sadar jika Aji merasa khawatir dan panik saat melihatnya dalam bahaya dan perlu melindungi dengan mengorbankan dirinya sendiri sebagai tameng. Pastinya Aji tegang dan ketakutan, tetapi juga penuh keberanian dengan cepat mengambil tindakan untuk melindungi adiknya.


"Hahhh! Kenapa semuanya jadi seperti ini?"


Abiyasa merasakan kemarahan yang mendalam terhadap pamannya yang datang menyerang mereka dengan pisau lipat. Rasa marah timbul dari rasa pengkhianatan dan kekecewaan karena paman mereka yang seharusnya melindungi mereka malah berbalik melukai mereka. Bahkan membuat mereka berdua saling bermusuhan sejak kecil, dengan menghasut Aji supaya membenci dan menyingkirkan Abiyasa.


Semua karena kesadaran hati Aji, yang telah menyadari semuanya itu. Akhirnya dia bertekad untuk melindungi Abiyasa. Dia ingin memperbaiki ikatan persaudaraan yang kuat antara mereka berdua dan dedikasi Aji sebagai kakak yang melindungi dan peduli terhadap adiknya.


Di dalam ruang operasi, terjadi situasi yang tegang karena usaha dokter yang menunjukkan hasil yang baik.


"Kita akan memulai operasi untuk pasien segera. Bagaimana kondisinya saat ini?" tanya dokter pada asistennya.


"Kondisi pasien sedikit membaik setelah pemberian cairan intravena, tetapi denyut jantungnya masih tidak stabil. Saya akan memantau secara terus-menerus."


"Baik. Saya akan segera memulai pemasangan perangkat anestesi. Tolong pastikan obat-obatan yang diperlukan sudah disiapkan dengan tepat."


"Sudah siap, Dokter. Semua obat-obatan dan peralatan anestesi telah disiapkan dan diperiksa. Saya juga sudah memeriksa alat monitor vital dan menghubungkannya dengan pasien."


Dokter mengangguk mengerti. "Bagus. Sekarang mari kita mulai pemasangan instrumen bedah. Tolong pastikan semua instrumen steril dan siap digunakan. Juga, tolong berikan saya sarung tangan bedah dan masker."


Asisten yang sudah siap dengan semuanya mengangguk mengiyakan. "Sudah, Dokter. Semua instrumen telah disterilisasi dan diletakkan dengan rapi di atas meja bedah. Saya akan memberikan sarung tangan dan masker dengan segera."


"Terima kasih. Sebelum kita memulai operasi, mari kita periksa ulang hasil pemindaian dan gambar medis Aji. Saya ingin memastikan kami memiliki pemahaman yang jelas tentang cedera dan struktur yang terlibat."


"Tentu, Dokter. Saya akan menyiapkan hasil pemindaian dan gambar medis Aji. Apakah ada sesuatu yang harus saya perhatikan secara khusus?"


Dokter memperingatkan kembali apa yang harus dilakukan." Periksa ulang, apakah ada kerusakan pada organ-organ terdekat dengan luka tusukan. Ini akan membantu dalam perencanaan operasi dan menghindari komplikasi selama prosedur."


"Baik, Dokter. Saya akan memeriksa dengan cermat, secepatnya."


"Bagus. Setelah kita memeriksa hasil pemindaian dan gambar medis, kita akan memulai operasi. Saya akan membutuhkan dukungan Anda dalam memastikan kondisi steril selama prosedur. Mari bekerja sama dan berikan yang terbaik untuk Aji."


Dokter kembali memberikan instruksi sebelum memastikan operasi mereka siap dilakukan.


"Tentu, Dokter. Saya akan membantu sebaik mungkin dan memastikan segala sesuatunya berjalan dengan lancar selama operasi. Kita bisa melakukannya!"

__ADS_1


"Saya percaya kita bisa. Terima kasih atas kerjasama Anda. Mari mulai operasi dan selamat bekerja."


Dokter dan asisten berkomunikasi dan bekerja sama dalam menyelenggarakan operasi. Mereka saling memberikan informasi penting, menyiapkan peralatan dan obat-obatan, serta memastikan kondisi pasien dan ruang operasi tetap steril dan aman untuk mencegah kegagalan operasi.


Tit tit tit


Tit... tit...


Tit......


Layar pendeteksi jantung terdengar semakin melemah. Bahkan, grafiknya juga sudah tidak stabil dengan gerakan yang tidak lagi naik turun. Tapi semakin rata seiring melemahnya kondisi Aji.


Kondisi Aji melemah karena dia memang kehilangan darah yang cukup banyak dari tusukan Rian yang mengena jantung dan ulu hati. Ini membuat operasi yang dilakukan dokter gagal, sehingga dia dinyatakan meninggal dunia.


"Dok," panggil asisten saat melihat layar deteksi jantung yang ada di samping ranjang operasi.


"Lakukan kejut jantung!"


Gejleg tit


Geglek tit


Tit...


Dalam situasi ini, dokter menggeleng dan memerintahkan asistennya untuk membuat laporan. Dia keluar untuk akan mencari Abiyasa, anggota keluarga Aji yang tadi menunggu di luar ruang operasi.


"Dok, bagaimana?" tanya Abiyasa, begitu melihat dokter keluar dari pintu ruan operasi.


"Maafkan saya, apakah Anda anggota keluarga pasien yang sedang dioperasi di dalam tadi?" tanya dokter memastikan.


Abiyasa mengangguk dengan tidak sabar. "Ya, saya Abiyasa. Apa yang terjadi dengan kakak saya, Aji? Bagaimana kondisinya?"


"Saya sangat menyesal untuk ini. Tapi saya harus memberitahukan ini kepada Anda, tetapi kondisi kakak Anda telah memburuk secara signifikan selama operasi. Sayangnya, meskipun upaya maksimal kami, kami tidak dapat menyelamatkan nyawanya. Kakak Anda meninggalkan dunia."


Abiyasa tersentak dan terkejut. "Oh tidak... Bagaimana bisa...?"


"Kami memahami bahwa ini adalah berita yang sangat mengejutkan dan menyakitkan. Kami melakukan segala yang kami bisa untuk menyelamatkan Aji, tetapi luka yang dialaminya terlalu parah dan komplikasi yang timbul tidak dapat diatasi sepenuhnya. Kami berada di samping Aji selama operasi dan memantau setiap perkembangan dengan cermat."

__ADS_1


Abiyasa mulai terisak. "Hiksss... Saya tidak tahu harus berkata apa... Bagaimana ini bisa terjadi? Kak, Aji..."


"Kami menyadari betapa beratnya berita ini bagi Anda dan keluarga. Operasi yang kami lakukan memiliki risiko tinggi, dan sayangnya, dalam kasus ini, komplikasi yang muncul terlalu parah untuk ditangani. Kami ingin menekankan bahwa kami telah melakukan semua yang kami bisa untuk pasien dan memperjuangkan nyawanya."


Abiyasa mengangguk pasrah. "Terima kasih atas upaya Anda... Apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanyanya kemudian.


"Kami akan memberikan Anda waktu untuk berduka dan mengumpulkan keluarga. Ada beberapa prosedur administrasi yang perlu kami lakukan, dan kami akan membantu Anda dalam mengatur pemulangan jenazah pasien. Selain itu, jika ada pertanyaan atau bantuan yang Anda butuhkan, jangan ragu untuk menghubungi kami. Kami akan mendukung Anda dalam proses ini."


Dokter memberikan kabar yang menyedihkan kepada keluarga pasien, dengan berusaha menjelaskan situasi saat ada di ruan operasi secara jujur dan empati. Dia menawarkan dukungan dan bantuan dalam proses selanjutnya, termasuk administrasi dan pengaturan pemulangan jenazah.


Abiyasa merasa marah, kecewa, sedih, dan campur aduk saat mengetahui bahwa kakaknya tidak bisa selamat. Ini sangat menyakitkan dan sulit untuk dihadapinya setelah kebahagiaan yang baru dia dapat dua tahun selama kakaknya menjadi orang baik.


Abiyasa Marah karena kehilangan yang mendalam dan kecewa terhadap hasil operasi yang tidak berhasil. Abiyasa merasa frustasi terhadap situasi yang tidak bisa dikendalikan dan merasa tidak adil bahwa Aji harus pergi dengan cara seperti itu.


Kekecewaan juga melanda Abiyasa karena harapan dan impian untuk kesembuhan Aji telah pupus, karena dia berharap operasi akan berhasil dan Aji akan kembali pulih.


"Ini tidak adil! Mengapa Aji harus pergi seperti ini? Mengapa operasinya tidak berhasil?"


"Aku tidak bisa menerima kenyataan ini! Aji adalah kakakku, dan dia seharusnya masih hidup!"


"Dokter dan tim medis seharusnya melakukan lebih banyak! Bagaimana mereka bisa gagal menyelamatkan nyawa Aji?"


Aji meluapkan kekesalannya, kesedihan dan keputusasaan dengan berteriak-teriak di depan ruang operasi. Dia frustasi tidak bisa menyelamatkan kakaknya yang sudah mengorbankan diri untuk melindunginya.


Sedih adalah perasaan alami yang muncul ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai. Abiyasa merasa hancur, merindukan kehadiran Aji, dan kesedihan mendalam atas kehilangan tersebut.


"Saya merasa dikhianati oleh tubuh Aji sendiri. Mengapa dia tidak bisa melawan dan bertahan hidup? Kak Aji!"


"Mengapa hidup begitu kejam? Kami memiliki rencana dan impian bersama, dan semuanya hancur sekarang!"


"Sial! Aku pastikan akan menghukummu, paman Rian! Kamu br3ngs3k!"


"Apa gunanya semua upaya dan harapan kami? Rasanya seperti sia-sia."


Abiyasa merasa bingung, tidak tahu harus bagaimana atas rasa bersalah karena tidak dapat membantu Aji selamat.


"Kak Aji adalah orang yang baik dan tidak pantas mengalami nasib seperti ini. Semua orang harus tahu betapa tidak adilnya ini!"

__ADS_1


"Bagaimana aku akan melanjutkan hidup tanpa kak Aji? Semuanya akan berubah dan terasa kosong."


"Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Semua perasaan ini begitu membingungkan dan menyakitkan. Arghhh..."


__ADS_2