Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Canggung dalam Perjalanan


__ADS_3

Di dalam dada Abiyasa dan Nona Anna, ada perasaan yang tersembunyi namun tak terbantahkan. Mereka merasakan kehangatan yang tumbuh di antara mereka, tetapi keduanya belum siap untuk mengakui perasaan tersebut secara langsung.


Ketika mereka berada dalam satu ruangan, detak jantung mereka berdegup lebih cepat dan senyum yang tak terelakkan melintas di wajah mereka. Setiap tatapan yang saling bertemu membawa kegembiraan yang tak terucapkan. Meskipun tak ada kata-kata yang diucapkan, ada sebuah keakraban yang tercipta dalam setiap momen kebersamaan mereka.


Ketika mereka bercanda dan berbagi cerita, perasaan yang tak terungkap mulai mengemuka dalam setiap kalimat dan ekspresi mereka. Tetapi mereka tahu bahwa mengakui perasaan itu secara terbuka adalah suatu langkah besar yang memerlukan keberanian dan kepastian.


Seiring malam berjalan, candaan mereka semakin intim dan terselip dengan ungkapan rasa saling menghargai. Terkadang, mereka saling menyentuh lengan satu sama lain dengan lembut, menyiratkan keinginan untuk mendekat lebih dekat. Namun, rasa takut akan kemungkinan penolakan atau kesalahpahaman terus melingkari pikiran mereka.


Keduanya terjebak dalam keadaan yang rumit, di mana perasaan mereka saling berdesakan dalam diam. Mereka takut untuk mengekspresikan perasaan itu, khawatir tentang apa yang mungkin terjadi jika salah satu dari mereka mengambil langkah pertama. Kegelisahan dan antusiasme bercampur aduk dalam hati mereka, menciptakan ketegangan yang tak terucapkan.


Namun, meskipun mereka belum siap untuk mengakui perasaan itu, kehangatan yang mereka rasakan tidak bisa dipungkiri.


Setiap detik bersama menguatkan ikatan mereka, membangun fondasi yang kuat untuk mungkin menjadi lebih dari sekadar mitra bisnis. Meskipun mereka tidak bisa mengucapkan kata-kata cinta, bahasa tubuh mereka dan kebersamaan yang mereka bagi mengungkapkan lebih dari yang dapat diucapkan.


Ketika malam mendekati akhirnya, keduanya merasakan kesedihan yang tak terungkap karena perpisahan yang tak terelakkan. Mereka tahu bahwa besok adalah hari baru dengan tugas-tugas dan kewajiban mereka masing-masing. Namun, mereka juga tahu bahwa kehangatan dan ketertarikan yang mereka rasakan tidak akan pudar begitu saja.


Situasi ini terjadi setelah Abiyasa dan Nona Anna selesai makan malam bersama. Setelah makan malam, Abiyasa mengambil inisiatif untuk mengantar Nona Anna kembali ke hotel tempatnya menginap. Meskipun keduanya merasa canggung, sebenarnya mereka berdua ingin mempererat hubungan dan berbincang-bincang untuk menghilangkan rasa kaku yang ada di antara mereka.


Namun, sebagai rekan bisnis, mereka merasa perlu menjaga sikap profesional dan wibawa di antara mereka. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya batasan-batasan yang ditetapkan oleh hubungan kerja mereka. Oleh karena itu, mereka mungkin ragu untuk melanggar batasan ini dan mengubah suasana menjadi lebih santai dan hangat seperti saat makan malam tadi.


Situasi ini menciptakan suasana yang agak kaku dan tegang di dalam kendaraan atau di sepanjang perjalanan menuju hotel. Keduanya merasa sulit untuk menemukan topik pembicaraan yang tepat atau cara untuk memulai percakapan yang lebih santai. Meskipun di dalam hati mereka berdua ingin sekali berbincang-bincang, tetapi mereka tetap menjaga jarak dan berusaha untuk tidak melanggar batasan sebagai rekan bisnis.


"Jadi, bagaimana menurutmu Nona Anna, tentang makan malam kita tadi?" tanya Abiyasa memecah keheningan diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Oh, ya, makan malamnya enak. Terima kasih sudah mengajak saya, pak Abiyasa." Nona Anna terlihat jelas sedang gugup saat menjawab pertanyaan Abiyasa barusan.


Meskipun demikian, rasa canggung ini tidak berarti bahwa mereka tidak nyaman satu sama lain. Sebaliknya, ini mungkin mencerminkan kehati-hatian mereka dalam menjaga hubungan profesional mereka. Keduanya mungkin memiliki rasa hormat dan penghargaan satu sama lain sebagai rekan bisnis yang dapat menghambat mereka untuk melampaui batasan-batasan yang ada.


Situasi ini menunjukkan kompleksitas dalam menjaga keseimbangan antara hubungan profesional dan hubungan personal. Keduanya mungkin berusaha untuk tetap menjaga profesionalitas mereka tetapi juga merindukan momen-momen santai dan kehangatan seperti yang mereka alami sebelumnya.


"Tidak apa-apa, Nona Anna. Anda tahu, ini bagian dari rencana bisnis kita untuk memperkuat hubungan dengan mitra. Kita harus memastikan semuanya berjalan dengan baik, bukan?" Abiyasa berusaha menghangatkan suasana di antara mereka berdua lagi.


Nona Anna mengangguk setuju. "Ya, tentu saja. Memang penting untuk menjaga hubungan profesional yang kuat."


Tapi sayangnya, keadaan kembali sunyi meskipun hanya sejenak, karena Abiyasa mulai mencari topik pembicaraan yang lain.


Sebenarnya, Nona Anna ingin memanggil taksi dan pulang ke hotel sendiri. Tapi itu tidak mungkin dibiarkan begitu saja oleh Abiyasa. Dia akan mengantar Nona Anna kembali ke hotel tempatnya menginap sebagai bentuk sopan santun, meskipun pada akhirnya seperti sekarang. Mereka berdua terlihat cangung satu sama lain saat ada di dalam perjalanan.


Nona Anna menjawab dengan gugup. "Oh, ya, presentasinya bagus. Anda melakukan pekerjaan yang hebat."


Pujian yang diberikan oleh Nona Anna, membuat Abiyasa tersenyum dikulum. Dia sedang mendengar pujian yang baru saja diucapkan oleh Nona Anna.


"Terima kasih, Nona. Tapi kita harus tetap fokus dan menghadapi tantangan yang ada."


Nona Anna menganggukkan kepalanya, kemudian suasana kembali sunyi lagi. Hingga Nona Anna yang memulai berbicara terlebih dahulu membelah kesunyian.


"Ada rencana bisnis apa lagi yang harus kita diskusikan setelah pembangunan dimulai?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Kami akan melanjutkan diskusi tentang pengembangan produk baru. Saya akan mengirimkan beberapa proposal kepadamu lewat email, setelah semuanya siap."


Nona Anna mengangguk. "Baiklah, saya akan menunggu proposal tersebut."


Setelahnya, keadaan kembali sunyi hingga tiba di depan hotel.


Suasana canggung terlihat dari percakapan yang terbatas dan terkesan formal. Keduanya mencoba menjaga percakapan tetap pada topik profesional dan bisnis, tanpa memperdalam atau mengungkapkan perasaan pribadi mereka.


Mereka berbicara dengan nada yang sedikit tegang dan terkadang ada keheningan yang terasa kurang nyaman di antara percakapan mereka. Ini mencerminkan usaha mereka untuk menjaga jarak sebagai rekan bisnis dan mempertahankan sikap profesional.


Dalam kegelapan malam, ketika mereka berdiri saat mau berpisah, pandangan mata mereka mengandung keinginan yang tak terucapkan. Keduanya merasakan getaran emosi yang tak terjelaskan, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang berharga antara mereka. Dengan senyuman yang hangat, mereka saling berpelukan sebentar, mengekspresikan rasa terima kasih dan penghargaan mereka satu sama lain.


Dengan hati yang berat, mereka merangkul kenyataan jika mereka berdua adalah dua individu yang bebas dan harus saling menghargai satu sama lain tanpa harus memaksakan diri.


***


Di dalam kamar hotel, Nona Anna melamun sendiri tentang Abiyasa. Dia mengangumi sosok duda yang masih sendiri tersebut. Ada rasa kagum tapi juga malu dengan dirinya sendiri yang mengagumi sosok Abiyasa. Padahal baru beberapa kali bertemu.


Akhirnya Nona Anna mengeleng beberapa kali, mencoba untuk menghilangkan rasa yang berbeda di dalam hatinya.


"Kenapa aku merasa seperti ini? Kami baru beberapa kali bertemu dan hanya dalam konteks bisnis. Tapi mengapa sosok Abiyasa membuat hatiku berdebar-debar?"


Di dalam kamar hotel yang sepi, Nona Anna duduk sendirian, merenungkan perasaan yang dia alami. Ada kebingungan dan perasaan campur aduk di dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2