
Hari ini Aji sangat bersemangat dalam perjalanan menuju ke kantor. Nanti siang, dia akan kembali bertemu dengan Indra membahas investasi yang akan mereka lakukan bersama. Dia merasa sangat senang karena akhirnya bisa mendapatkan partner kerja yang menurutnya selevel, cerdas dalam memilih bisnis dan cekatan serta hangat dalam menjalin persahabatan.
Biasanya, saat berada di dalam perjalanan menuju ke kantor Aji akan sibuk dengan ponsel atau laptopnya. Tapi kali ini dia tidak melakukannya. Dia justru memperhatikan bagaimana kondisi jalanan yang macet dan tidak bersahabat, yang biasanya sangat di olehnya. Tapi kali ini semua itu menjadi pemandangan yang indah dan menarik karena keadaan hatinya yang sedang membaik.
Perasaan senang dan bersemangat dalam perjalanan menuju ke kantor karena kepercayaan Aji dan optimisme yang tinggi dalam kemitraan bisnisnya dengan Indra. Aji juga memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai kesuksesan dalam investasi yang mereka lakukan bersama kedepannya nanti.
"Aduh, macetnya parah sekali hari ini. Sudah setengah jam aku stuck di tempat yang sama." Penguna jalan mengerutu karena keadaan jalan pagi ini.
"Iya, aku juga udah bosen banget dengan kondisi ini. Setiap hari begitu terus, rasanya kayak nggak ada perbaikan sama sekali." Sahut penguna jalan yang lainnya.
Kondisi jalanan Jakarta pada saat pagi hari saat jam berangkat ke kantor sangat macet. Hal ini disebabkan oleh jumlah kendaraan yang sangat banyak, terutama kendaraan pribadi, yang saling bersaing untuk mendapatkan jalur yang lebih cepat.
Banyak jalan yang menjadi padat dan lambat karena kendaraan yang berhenti atau parkir sembarangan. Selain itu, juga terdapat kendaraan umum seperti bus dan angkutan kota yang berhenti di sembarang tempat dan membuat lalu lintas semakin tersendat.
Kondisi jalanan yang macet ini membuat perjalanan menuju kantor menjadi lebih lama dan melelahkan. Selain itu, juga menimbulkan polusi udara yang berdampak pada kesehatan. Kondisi jalanan Jakarta yang macet sering menimbulkan rasa frustrasi dan stress pada para pengemudi, terutama jika harus menghadapi situasi macet yang sama setiap hari.
Tapi semua itu tidak berlaku untuk Aji pagi ini.
Aji yang sedang duduk di dalam mobil, dikemudian oleh sopirnya, tampak tenang dan biasa saja tidak seperti hari-hari sebelumnya. Keadaan yang berbeda ini memang lain dari kebiasaan Aji. Biasanya Aji akan sibuk sendiri dengan ponsel atau laptopnya saat dalam perjalanan menuju ke kantor dan merasa kesal terhadap kondisi jalanan yang macet dan tidak bersahabat. Namun, kali ini Aji tidak melakukan hal tersebut. Ia justru memperhatikan kondisi jalanan yang biasanya tidak indah dan menjadi lebih berbeda karena keadaan hatinya yang sedang senang dan bersemangat.
Keadaan hati seseorang memang dapat mempengaruhi cara pandang dan respons terhadap situasi sekitar, termasuk Aji yang pagi ini lebih menghargai dan menyadari keindahan kecil dalam keadaan yang biasanya ia anggap negatif.
"Sama nih, setiap pagi aku selalu terjebak macet di sini. Padahal udah coba berangkat lebih pagi, tapi masih aja kayak gini."
"Nggak hanya itu, lihatlah juga polusi udaranya semakin parah. Tiap kali keluar mobil, rasanya mata dan hidung langsung perih." komentar pengguna jalan yang lain.
"Bener banget, kayaknya butuh solusi yang serius dari pemerintah nih. Ini kan nggak cuma masalah waktu tempuh, tapi juga berdampak pada kesehatan dan kualitas hidup kita."
__ADS_1
"Ya udah, mending ngobrol aja biar nggak bosen di jalan. Tapi tetep, semoga ada perbaikan kondisi ini secepatnya ya."
Aji tersenyum tipis mendengar perkataan orang-orang yang sama seperti dirinya, dalam keadaan terjebak macet.
Tapi semuanya itu tampak biasanya saja bagi Aji untuk hari ini. Dia bahkan memberikan uang yang cukup besar pada seorang pengemis tua yang ada di lampu merah. Hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini, karena tiap ada pengemis yang mendekati mobilnya, Aji akan menggerutu dengan mengatakan mereka adalah pemalas.
Aji benar-benar seperti orang lain, dalam keadaan yang berbeda dari biasanya dan lebih peka terhadap keadaan sekitar. Aji memberikan uang yang seratusan warna merah pada seorang pengemis tua di lampu merah, yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
Ucapan terima kasih dari pengemis yang sedang berbahagia, diangguki Aji dengan membalas senyum juga.
Benar-benar luar biasa pagi ini untuk Aji. Sebuah rekor kebaikan bagi Aji selama hidupnya, dengan memberikan sedekah tanpa embel-embel ingin mendapatkan pujian atau keuntungan lainnya.
Supir hanya tersenyum tipis, melihat perubahan Bos Besar-nya. Dia bersyukur dalam hati, berpikir bahwa Bos Besar-nya sudah benar-benar berubah.
Padahal perubahan sikap Aji terhadap pagi ini karena suasana hatinya yang sedang membaik, memikirkan pertemuan ya nanti bersama dengan Indra yang akan membawanya pada sebuah kemajuan.
Di perusahaan Aji.
Pertemuan siang hari antara Aji dan Indra berlangsung dalam ruangan yang luas dan nyaman, dengan cahaya alami yang masuk melalui jendela besar. Meja bulat di tengah ruangan dihiasi dengan buku catatan, laptop, dan segelas air mineral untuk setiap peserta.
Indra sudah ada di ruangan ini bersama dengan Aji. Keduanya serius dan fokus saat membahas rencana investasi dan kerjasama perusahaan mereka. Aji memulai presentasinya dengan menyajikan laporan yang rinci tentang kondisi pasar dan potensi keuntungan dari investasi yang mereka rencanakan. Indra mendengarkan dengan seksama dan sesekali bertanya untuk mengklarifikasi beberapa poin.
"Selamat siang, Pak Indra. Terima kasih telah datang untuk membahas rencana investasi dan kerjasama kita."
"Selamat siang juga, Pak Aji. Saya senang bisa berada di sini untuk membahas hal ini bersama Anda."
"Jadi, saya ingin memulai dengan memberikan laporan tentang kondisi pasar dan potensi keuntungan dari investasi yang kita rencanakan. Seperti yang Anda lihat di sini," terang Aji sambil menunjuk ke layar presentasi.
__ADS_1
"Pasar sedang dalam tren positif dan saya yakin kita bisa meraih keuntungan yang signifikan dari investasi ini." Aji kembali melanjutkan keterangannya.
"Saya setuju, Pak Aji. Namun, saya ingin tahu lebih banyak tentang risiko yang terkait dengan investasi ini. Apa yang akan kita lakukan jika pasar berubah arah?"
"Bagus, itu pertanyaan yang bagus. Saya pikir kita harus memiliki strategi yang fleksibel dan siap untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pasar yang berubah. Namun, saya yakin bahwa kita dapat mengelola risiko tersebut dengan baik."
Indra mengangguk. "Saya juga setuju dengan strategi fleksibel dan siap beradaptasi. Namun, saya memiliki beberapa ide tentang bagaimana kita bisa meminimalkan risiko ini. Bagaimana menurutmu?"
Ketika Aji selesai dengan presentasinya, Indra memberikan tanggapannya dengan memberikan pandangan yang matang dan memberikan beberapa saran yang berguna. Keduanya saling bertukar ide dan berdiskusi dengan sangat terbuka, dan terlihat bahwa mereka berdua memiliki visi yang sama tentang arah yang harus diambil oleh perusahaan mereka.
Aji tersenyum mendengar penjelasan dari ide-ide Indra. "Saya sangat tertarik mendengar ide-ide Anda, Pak Indra. Mari kita diskusikan lebih lanjut tentang hal ini."
Keduanya terus berdiskusi dan bertukar ide-ide hingga akhirnya mereka sepakat untuk bekerja sama dalam proyek investasi tersebut.
Baiklah, jadi sepakat bahwa kita akan bekerja sama dalam proyek ini. Saya pikir kita memiliki visi yang sama tentang arah yang harus diambil oleh perusahaan kita."
"Ya, saya setuju dengan Anda, Pak Aji. Saya senang kita bisa berada di sini hari ini dan membicarakan hal ini bersama-sama."
Keduanya saling jabat tangan untuk kesepakatan bersama.
"Saya pikir kita sudah selesai untuk hari ini. Terima kasih, Pak Indra."
"Terima kasih juga, Pak Aji. Saya senang bisa bekerja sama dengan Anda."
Pertemuan berlangsung lancar dan sukses, dengan kesepakatan bahwa mereka akan bekerja sama dalam proyek investasi tersebut.
Aji benar-benar tidak menyadari, bahwa dia sudah masuk kedalam perangkap yang sudah dibuat oleh Indra, yang tentunya disetir oleh Abiyasa sebagai Bos Besar-nya Indra Herlambang.
__ADS_1