
Abiyasa sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan adanya anggota polisi yang akan menangkap Aji dan Abiyasa. Dia akan memproses mereka berdua, kakak dan pamannya secara hukum, setelah upaya-upaya untuk menyelesaikan masalah ini secara baik-baik tidak membuahkan hasil.
"Sudah waktunya untuk mengambil tindakan hukum terhadap tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh Pak Aji dan Pak Rian. Saya sudah menghubungi polisi dan mereka akan segera datang ke sini untuk menangkap kalian berdua." Abiyasa berkata dengan nada yang menyakinkan.
Aji dan Rian terperanjat mendengar perkataan Abiyasa yang menyebutkan pihak kepolisian dan juga hukum. Mereka berdua tentu saja panik karena memang banyak sekali kesalahan yang mereka lakukan.
"Apakah Anda yakin ini adalah langkah yang tepat, Pak Abiyasa? Mungkin masih ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini tanpa harus melibatkan pihak kepolisian. Kalian adalah keluarga." Indra mengingatkan.
Abiyasa memutuskan untuk mengambil tindakan tegas dengan melibatkan pihak kepolisian, karena mereka, Aji dan Rian, telah melanggar hukum dengan tindakan mereka dan mereka harus bertanggung jawab atas tindakan mereka.
Dan itu bukan hanya sekali dua kali saja kesalahan demi kesalahan mereka lakukan, karena mereka telah melakukan kesalahan tersebut sejak Abiyasa masih remaja.
"Saya sudah mencoba berbagai cara untuk menyelesaikan masalah ini secara baik-baik, namun tidak ada yang berhasil. Saya tidak bisa lagi membiarkan Pak Aji dan Rian terus merusak perusahaan ini dan merugikan karyawan serta para pemegang saham lainnya. Tindakan hukum harus diambil untuk menunjukkan bahwa tindakan mereka tidak bisa dibiarkan begitu saja." Abiyasa masih berbicara secara formal, hanya mengulik masalah perusahaan saja, bukan masalah pribadi dengannya.
Situasi semakin tegang ketika anggota polisi datang dan menangkap Aji dan Rian. Kedua pihak tersebut masih mencoba untuk membela diri dan menuduh balik Abiyasa atas tindakannya. Namun, semua tuduhan tersebut sudah diatur dan Abiyasa siap untuk membuktikan kebenaran di pengadilan.
Aji: "Ini semua fitnah belaka! Abiyasa pasti telah memalsukan bukti-bukti dan mengatur segalanya agar aku dan Rian ditangkap!"
Rian: "Benar sekali, pak polisi! Abiyasa adalah penjahat yang melakukan konspirasi untuk menyingkirkan kami dari perusahaan ini. Dia pasti membayar orang untuk memalsukan bukti-bukti dan membuat kami terlihat bersalah!"
Polisi: "Sudah cukup, tolong simpan tenaga dan bicaramu untuk pengadilan nanti. Kami hanya menjalankan tugas kami untuk menangkap kalian berdua atas tuduhan kejahatan yang dilakukan."
Aji memberontak dan marah-marah. "Kami tidak pernah melakukan kejahatan apapun! Ini semua hanya karena Abiyasa ingin mengambil alih perusahaan kami!"
__ADS_1
"Tolong lihat bukti-bukti yang Abiyasa berikan, pasti semuanya tidak benar! Kami tidak pernah merencanakan kecurangan atau kejahatan apapun!" Rian ikut mengelak.
"Tidak perlu membela diri atau menuduh siapa-siapa. Biarkan proses hukum berjalan dan kalian akan memiliki kesempatan untuk membuktikan diri di pengadilan nanti." Abiyasa tetap tenang menanggapi keduanya
Endang yang tiba-tiba datang ke kantor dan bermaksud untuk bertemu dengan Rian terkejut dengan penangkapan Aji dan Rian. Dia juga terkejut melihat Abiyasa, menantunya Endang sendiri, yang biasanya tampak bodoh dan tidak tahu apa-apa kini berpenampilan rapi dan seperti layaknya eksekutif muda, bahkan menjadi pemimpin perusahaan mengantikan posisi Aji.
Endang sangat terkejut dan tidak percaya dengan situasi yang terjadi di kantor perusahaan. Dia merasa seperti semua hal yang dia tahu tentang perusahaan telah berubah begitu cepat dan tanpa sebab yang jelas.
Dia melihat Aji dan Rian ditangkap oleh polisi, sementara Abiyasa yang dulunya terlihat tidak berdaya dan bodoh kini menjadi pemimpin perusahaan. Hal ini membuat Endang tidak dapat menahan rasa terkejut dan tidak percaya akan penglihatan yang sendiri.
"Abiyasa, Mama sangat terkejut melihatmu sebagai pemilik saham terbesar di perusahaan ini dan mengambil alih posisi Aji." Endang meneliti penampilan Abiyasa.
"Ya, saya memang mempunyai saham terbesar di perusahaan ini. Namun, saya tidak pernah bermaksud mengambil alih posisi Aji dengan cara seperti ini." Abiyasa berkata dengan suara rendah.
Endang mengamati Abiyasa dengan seksama, mencari tanda-tanda yang mungkin mengungkapkan rencana jahat atau motivasi tersembunyi di balik tindakan Abiyasa. Namun, dia tidak dapat menemukan apa pun yang mencurigakan atau yang menunjukkan bahwa Abiyasa melakukan tindakan yang salah.
Namun, meskipun terkejut dan tidak percaya, Endang mencoba untuk tetap tenang dan berpikir rasional. Dia menyadari bahwa dia harus mencari tahu lebih banyak tentang situasi ini sebelum dia dapat membuat keputusan yang tepat tentang langkah selanjutnya.
Dan yang pasti, dia harus segera meminta maaf dan mengubah perilakunya dalam memperlakukan menantunya ini.
"Mama meminta maaf atas perilaku dan sikap Mama padamu selama ini, Abiyasa. Kenapa kamu harus pura-pura bodoh dan idiot?"
"Terima kasih banyak, ya atas bantuan mu dan perlindungan yang kamu berikan untuk anak Mama. Mama tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak membantu Ajeng."
__ADS_1
Ternyata, Endang baru saja melihat video Abiyasa yang sempat viral. Dan di saat dia menghubungi Ajeng, Ajeng mengiyakan dan memberitahu bahwa Abiyasa sedang berada di perusahaan sedang melakukan meeting.
"Tidak usah terima kasih, Mama Endang. Saya adalah suaminya Ajeng, sudah sepantasnya membantu dan memastikan keselamatan serta kebahagiaan Ajeng sebagai seorang istri." Abiyasa menanggapi perkataan mama mertuanya dengan tenang.
"Mama sangat terkejut melihatmu sekarang, Abi. Dulu kamu terlihat tidak berdaya dan bodoh. Tapi sekarang kamu terlihat sangat bijaksana dan mampu mengatasi masalah perusahaan dengan baik." Tak lupa Endang memuji Abiyasa.
"Saya hanya mencoba yang terbaik untuk menyelamatkan perusahaan, dan saya yakin dengan kerja keras semua karyawan, perusahaan akan kembali bangkit dan jaya."
"Benar sekali, Abiyasa. Saya berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan kajian berdua. Kamu juga bisa lebih keras lagi untuk memperbaiki keuangan perusahaan dan saya berharap kamu bisa membantu Mama, ya."
Akhirnya Endang bicara mengenai rumahnya yang kebakaran. Dia juga baru tahu, jika rumahnya terbakar bukan karena kesalahan Abiyasa melainkan ada orang yang dekat sengaja membakar rumahnya malam itu.
Abiyasa mengangguk mengiyakan permintaan mama mertuanya. "Tentu saja, Mama Endang. Saya akan bekerja sama untuk membangun perusahaan dan memperbaiki keuangan dengan semua karyawan. Dan jangan khawatir tentang masalah rumahmu, saya akan membantumu untuk segera membangunnya kembali."
Endang tersenyum penuh kebahagiaan. "Mama benar-benar tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasih. Kamu sangat baik hati, Abiyasa. Terima kasih."
"Tidak usah mengucapkan terima kasih, Mama Endang. Ini adalah tanggung jawab saya sebagai menantu Mama."
Setelah Endang meminta maaf kepada Abiyasa, dia memuji-muji Abiyasa atas kepemimpinan yang baik dan kini memimpin perusahaan dengan baik. Abiyasa tidak merasa senang dengan pujian Endang dan hanya mengucapkan terima kasih. Namun, dia juga mengingatkan Endang bahwa sekarang dia harus berusaha lebih keras lagi untuk membangun kembali keuangan perusahaan yang terpuruk akibat ulah Aji dan Rian.
Abiyasa juga menawarkan bantuan kepada Endang dalam mengatasi masalah keuangan dan membangun rumahnya kembali. Endang merasa sangat terharu dengan tawaran Abiyasa dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Dia tidak menyangka bahwa Abiyasa yang sebelumnya terlihat bodoh dan tidak berdaya, ternyata sangat bijaksana dan juga memiliki hati yang besar.
"Maafkan, Mama. Mama merasa sangat malu untuk mengingat kembali semua sikap Mama yang dulu-dulu. Hiks hiks hiks..."
__ADS_1
"Maaf, Ma. Sebaiknya Mama pulang. Saya masih ada banyak pekerjaan."
Abiyasa meminta Endang untuk pulang ke rumah saja, sebab dia ada banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan dan diselesaikan.