Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Ada Titik Terang


__ADS_3

Setelah mendapatkan informasi penting dari perawat yang bertugas di rumah sakit malam itu, Indra memberitahu Abiyasa tentang apa yang dia ketahui. Abiyasa terkejut mendengar bahwa perawat tersebut yang bertanggung jawab atas kematian istrinya. Namun, Indra tidak berhenti di situ saja. Dia terus berusaha mencari tahu siapa yang memerintahkan perawat tersebut untuk melakukan hal tersebut.


"Jangan sampai lolos, Indra. Aku mau semuanya terungkap."


"Baik, mas Abi."


Abiyasa mengepalkan tangannya kuat. Dia ingin sekali menghajar semua orang yang sudah terlibat dalam rencana pembunuhan istrinya. Dia sangat marah,di saat ingat dengan Ajeng.


Abiyasa dan Indra sepakat untuk mengambil langkah selanjutnya dengan hati-hati. Mereka memutuskan untuk bertemu dengan perawat yang bertanggung jawab atas kematian Ajeng dan mencari tahu lebih lanjut tentang siapa yang memerintahkan perawat tersebut, yang memang sudah cuti selamat seminggu ini dengan alasan merawat ibunya yang sedang sakit parah.


Ketika Abiyasa dan Indra tiba di rumah perawat tersebut, perawat tersebut terlihat sangat gugup. Dia merasa bersalah atas kematian Ajeng dan tidak tahu harus berbuat apa. Abiyasa dan Indra mencoba untuk menenangkan perawat tersebut dan meminta perawat tersebut untuk memberikan informasi yang dia miliki.


"Pak, saya tahu saya salah. Saya seharusnya tidak melakukan hal itu. Saya sangat menyesal," kata perawat tersebut dengan suara gemetar.


Abiyasa meminta perawat tersebut untuk memberikan semua informasi yang dia miliki tentang kasus tersebut. Perawat tersebut mengatakan bahwa dia diperintahkan oleh seseorang yang tidak dikenal untuk menyuntikkan cairan racun ke tabung infus Ajeng. Dia mengatakan bahwa dia ditawari uang yang besar untuk melakukan hal tersebut.


"Tapi siapa yang memerintahkan mu untuk melakukan hal tersebut?" tanya Indra geram.


"Saya tidak tahu, Pak. Saya hanya diberikan instruksi melalui pesan teks. Saya tidak tahu siapa yang sebenarnya memerintahkan saya untuk melakukan hal tersebut," jawab perawat tersebut.


Abiyasa dan Indra bingung dengan jawaban perawat tersebut. Mereka tahu bahwa mereka harus mencari tahu siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kematian Ajeng. Abiyasa memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan tersebut dengan bantuan Indra.


"Apa kamu masih menyimpan nomornya?"


"Iya."


Akhirnya perawat tersebut memberikan nomor ponsel orang yang sudah memberinya pekerjaan itu. Dia juga menyebutkan sejumlah besar uang yang dia terima, sebelum dan sesudah tugas itu selesai.


Abiyasa dan Indra cepat menemukan keberadaan Ruhian, pemilik dari nomor yang menghubungi perawat tersebut. Mereka akan membawa Ruhian ke suatu tempat untuk dimintai keterangan.


"Mas Abi. Sebaiknya mas Abi kembali ke kantor, karena siang nanti ada pertemuan dengan Nona Anna lagi. Saya akan menyelesaikan tugas ini dengan orang-orang saya." Indra mengingatkan Abiyasa.


Sebenarnya Abiyasa ingin melihat siapa orang yang yang telah memberikan tugas pada perawat tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Tapi dia juga tidak bisa abai dengan tugasnya, karena ada banyak sekali kehidupan para karyawan dan keluarganya yang tergantung pada perusahaannya tersebut.


"Hahhh... baiklah. Aku berharap padamu, Indra. Selesaikan tugas ini dengan cepat!"


Indra mengangguk mengiyakan permintaan Abiyasa. Dia berjanji akan menyelesaikan semua tugasnya dengan sebaik mungkin sesuai dengan keinginan Bos-nya itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian kemudian, Indra berhasil menemukan Ruhian, orang yang diduga menjadi otak di balik semua ini. Indra mengejarnya dan akhirnya berhasil menangkapnya di sebuah rumah kontrakan kecil yang sepi dari penduduk setempat.


Ruhian terlihat panik saat ditemukan oleh Indra. Indra meminta Ruhian untuk memberikan informasi yang dibutuhkan dan menjanjikan imbalan yang besar jika Ruhian mau bekerja sama.


Bug


"Katakan! siapa yang menyuruhmu?" tanya Indra, dengan memukul perut Ruhian.


"Cuihhh! Jangan bermimpi!"


Ternyata, meskipun sudah dalam keadaan terdesak, Ruhian tidak mau mengaku siapa yang sudah memberi tugas padanya.


"Besar juga nyalimu!" bentak Indra.


Dug bug bug


"Egh... aghh!'


Indra kembali memukuli Ruhian, karena saat ini kedua tangan Ruhian dipegang oleh orang-orangnya Indra. Dia memang tidak sendiri saat mengejar Ruhian yang sulit untuk ditangkap, jadi Indra harus ada teman saat pengejaran. Pengintaian juga dilakukan orang-orang Indra, sebab Indra juga harus menemani Abiyasa dalam kegiatan bisnisnya.


"Argh..."


"Katakan, atau aku akan mematahkan kedua tangan dan kakimu?" ancam Indra kejam.


Setelah beberapa saat dihajar oleh Indra, Ruhian akhirnya mengakui semuanya. Dia takut jika ancaman Indra tidak main-main. Ruhian mengatakan bahwa dia diperintahkan oleh seseorang untuk menyuruh perawat tersebut melakukan hal itu. Ruhian mengaku bahwa dia hanya seorang pion di dalam kasus ini dan dia tidak tahu siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kematian Ajeng.


"Gue hanya orang suruhan."


"Siapa?" tanya Indra mencengkeram kuat rahang Ruhian.


Sebenarnya Indra sudah gregetan dengan sikap Ruhian yang mengulur-ulur waktu, tidak mau langsung mengaku sehingga pekerjaannya tidak terlalu lama.


Tapi meskipun sudah diancam, Ruhian tidak juga mau mengaku. Dia bungkam dan hanya tersenyum disudut bibirnya yang telah robek dan mengeluarkan darah sedari tadi.


"Di mana rumah perawat yang kamu pekerjakan?"


Akhirnya Indra, mengalihkan pertanyaan mengenainya perawat tersebut. Perawat yang bertugas untuk mengeksekusi Ajeng.

__ADS_1


Sebenarnya, Indra sudah mengetahui semua mengenai perawat tersebut. Bahkan dia juga sudah bertemu dengan perawat bersama dengan Abiyasa. Tapi dia ingin mengetahuinya secara langsung dari Ruhian, mencoba membuat Ruhian mengaku.


"Cuihhh! Seharusnya loe sudah tahu. Ngapain tanya lagi?" Ruhian cukup memiliki nyali yang besar karena dalam keadaan seperti ini masih tidak merasa takut akan semuanya yang bisa saja terjadi padanya.


Plakkk


Bug


Indra sudah sangat kesal, sehingga menampakkan memukul Ruhian lagi. Dia merasa dipermainkan oleh orang yang hanya mendapat bayaran atas permintaan seseorang. Dan Indra sudah bisa menebak siapa yang bertanggung jawab atas sikap Ruhian ini.


"Ikat dia, dan bawa ke markas!"


Dua orangnya Indra segera melakukan perintah. Sekarang, Ruhian dalam keadaan terikat kedua tangan dan kakinya. Semua ini untuk berjaga-jaga supaya Ruhian tidak bisa melarikan diri.


Setelah itu, Indra pergi untuk bertemu dengan Abiyasa. Sedangkan dua orang lagi membawa Ruhian pergi ke tempat yang sudah ditentukan dan hanya menjadi rahasia mereka saja. Tempat yang baru saja dijadikan markas untuk membahas rencana dan strategi yang akan mereka kerjakan.


Tapi karena hari sudah malam, Indra tidak datang ke kantor melainkan langsung pergi ke apartemen Abiyasa. Dia tahu jika Abiyasa pasti sudah pulang dari kantor.


Drettt drettt drettt


Ponsel Indra bergetar, dan bisa dipastikan jika panggilan tersebut dari Abiyasa. Indra segera menyalakan handset bluetooth agar tidak perlu menepi.


..."Halo Indra, ada di mana kamu?" ...


^^^"Ada di jalan menuju ke apartemen, mas Abi. Apa mas Abi sudah ada di apartemen?" ^^^


..."Aku juga baru diperjalanan pulang. Posisi kamu di jalan mana?" ...


..."Jalan raya xxxx."...


..."Kamu berhenti di sana saja! Aku akan segera tiba di sana juga, jadi tidak perlu sampai ke apartemen." ...


..."Baik, Mas Abi." ...


Klik


Ternyata Abiyasa masih ada di perjalanan dan belum sampai di apartemen. Abiyasa meminta Indra untuk menunggunya di jalan tersebut, agar bisa bertemu dan berbicara dengan cepat. Tidak perlu menunggu sampai di apartemennya.

__ADS_1


__ADS_2