Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Situasi Yang Berbeda


__ADS_3

Aji segera membuka bajunya sendiri, setelah melihat tubuh kedua wanita tersebut pada bagian gunung kembar yang seakan-akan menantangnya karena memang menonjol. Tak lama kedua tangan Aji mulai menyentuh tubuh keduanya secara bersamaan.


"Ah... sssttt... "


Kedua wanita tersebut menikmati sentuhan Aji yang kasar seperti biasanya, tapi tetap membuat mereka berdua menyukainya. Bahkan mereka juga ikut aktif dalam kegiatan ini, dengan melakukan pijatan-pijatan yang diperlukan agar Aji bertambah semangatnya.


Aji membiarkan keduanya mengambil alih permainan, karena dia memang tidak suka membuang energi. Dialah yang seharusnya dipuaskan, jadi tidak perlu melakukan apa-apa untuk mereka berdua.


Tapi setelah beberapa lama kemudian, Aji merasa tidak nyaman karena tidak melakukan sesuatu. Dia ingin sesuatu yang berbeda untuk malam ini, karena perasannya juga sedang tidak baik-baik saja.


Aji marah dan kesal pada kedua wanitanya, yang tidak bisa membuatnya segera terpuaskan. Dia ingin menghajar mereka berdua dengan caranya.


Srettt


Brukkk


Aji membalikkan tubuhnya dengan menarik tangan salah satu dari mereka untuk ditindih. Dia mengecup bibir wanita tersebut dengan kasar agar wanita itu berteriak kesakitan. Tapi pada kenyataannya, wanita tersebut justru mengarang keenakan. Wanita tersebut justru berpikir bahwa Aji sedang ingin memberinya kepuasan..


"Aah… Aah… t-uan Aji, ohhh..."


Suara 3rang4n kenikmatan terdengar keras dari mulut wanita yang berada di bawah kungkungan tubuh Aji, membuat wanita satunya merasa iri.


Plak


"Ahhh..."


"Kamu harus mendapatkan pelajaran yang setimpal karena tidak bisa memuaskan aku!"


Aji menampar salah satu gunung kembar wanitanya, tapi itu semua justru membuat wanita tersebut mengerang nikmat lebih kencang, karena Aji sambil terus menggerakkan pinggulnya maju dan mundur. Membuat guncangan pada sofa tempat mereka bermain-main.


"Aah… tu-an Aji tetap perkasa, aah…"


Wanita tersebut terus menger4ng dengan ekspresi keenakan, sedangkan yang satunya menstimulasi dirinya sendiri agar lebih siap saat mendapatkan serangan dari Aji setelah temannya selesai.


Melihat ekspresi wanita yang berada di bawahnya keenakan dan sangat menggairahkan ini, membuat Aji hilang kontrol dan semakin bernafsu. Ia kemudian menjilati dengan rakus salah satu puncak gunung kembar yang berwarna pink kecoklatan. Melahapnya, seakan-akan sedang kehausan dan tidak pernah mendapatkan asupan gizi seperti ini.


Di saat yang sama, tangan kiri wanita tersebut memberikan pijatan dan remasan juga pada temannya yang satu lagi, dengan memainkan gunung kembarnya. Mereka bertiga saling berbagi kenikmatan dengan memilin-milin puncak gunung kembar lawannya. Sedangkan Aji dengan masih menggerakkan pinggul, menjilat, dan juga memilin kasar mangsanya.


Aji seakan-akan lupa semua permasalahannya, dengan melakukan permainan bersama dua wanita secara bersamaan dan berganti tanpa henti selama dua jam lamanya.

__ADS_1


Hal ini membuat tubuh kedua wanita tersebut menggelinjang hebat, padahal apa yang dilakukan oleh Aji ini benar-benar kasar. Tapi keduanya menyukai permainan kasar Aji, sehingga seluruh tubuhnya seperti tersetrum karena dialiri aliran listrik.


Peluh kenikmatan telah bercampur dengan cairan kenikmatan ketiganya, tapi semua itu tidak membuat mereka merasa risih.


Bau khas hasil kegiatan mereka justru menjadi sebuah aroma terapi yang lebih membangkitkan semangat untuk melanjutkan permainan sampai pagi.


"Aah... terus... Aah…"


"T-uan A-ji... ahhh!"


Tak lama kemudian, Aji meninggalkan wanitanya yang terkulai lemas setelah pelepasan, kemudian dia beralih pada wanita satunya untuk segera mencapai puncak yang belum selesai dia dapatkan.


Plak


"Ayo bergerak bagikan kuda. Aku suka, cepat!"


Plak


"Ohhh, t-uan... Umhhh... arghhh..."


Aji benar-benar bermain dengan kasar, membuat kedua wanita tersebut kewalahan meskipun tetap ikut menikmati permainan yang dilakukan oleh Aji.


Srettt


Aji memuluki pantat dan pinggul wanita keduanya, sedangkan wanita yang tadi masih terkulai lemas.


"Arghhh..."


3rang4n kesakitan dan kenikmatan menjadi satu, membuat Aji kalap. Dia tidak bisa membedakan mana yang paling menyenangkan dan menyakitkan pasangannya, yang penting dia merasa puas.


Aji tidak peduli dengan lawan mainnya, sebab dia memang menyukai pergerakan yang kasar dan cepat.


Plak


Tangan Aji kembali bertindak dengan memukul dan juga meremas kuat kedua gunung kembar secara bergantian.


Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi, tapi pergumulan mereka bertiga belum juga selesai. Sepertinya Aji tidak akan pernah membiarkan keduanya selamat dan bisa berjalan esok paginya hingga beberapa hari kedepannya.


***

__ADS_1


Di dalam tahanan, Rian mendapatkan sambutan dari para senior narapidana. Dia bahkan mendapatkan sesuatu yang tidak pernah dia sangka-sangka sebelumnya.


"Ohhh, ini dia Sengkuni yang telah menghancurkan dua keponakannya!"


Satu pria dengan banyak tatto, menyambutnya dengan tatapan yang tajam serta senyuman miring yang menyeramkan.


Meskipun Rian adalah orang yang jahat dan berkelakuan buruk, tapi dia selalu bermain rapi dengan segala sesuatu yang rapi juga. Jadi dia tentu tidak pernah menyangka akan berhubungan dengan pria kasar dan garang seperti yang saat ini berada di depannya.


"Maaf. Saya tidak tahu apa maksud, Anda."


Rian berbicara dengan sopan dan formal, sebagaimana biasanya dia yang terbiasa berhadapan dengan para pengusaha dan eksekutif muda maupun tua.


"Cuihhh!"


Pria tersebut meludah ke samping, membuat Rian waspada. Otaknya langsung memberikan alarm untuk tanda bahaya, karena dia berada di tempat yang tidak bisa membuatnya kabur dari situasi paling buruk sekalipun.


"Loe pikir bisa lepas dari gue? Gak bisa semudah loe yang bisanya membuat rencana selama ini. Gue bakal ngelakuin apa-apa yang justru biasanya loe rencanakan. Hahaha..."


Dua pria yang berada di belakang pria bertato tersebut, ikut tersenyum sinis ke arahnya. Ini membuat Rian semakin ketakutan, meskipun dia berusaha tetap bersikap wajar.


"A-pa mau, kalian?" tanyanya gugup.


Ketiga pria tersebut saling pandang dengan tatapan meremehkan. Mereka sangat senang dengan keberhasilan membuat Rian merasa ketakutan. Ini memang sudah menjadi rencana Abiyasa, yang ingin memberikan tekanan dan intimidasi emosional pada pamannya saat berada di dalam penjara.


"Gue gak butuh uang ataupun rencana-rencana licik yang loe buat selama ini. Mari kita buktikan sendiri, siapa yang seharusnya berada di dalam penjara ini hingga membusuk!"


Rian tidak mengerti maksud dari perkataan pria tersebut. Tapi melihat tampang dan perkataan mereka-mereka yang kasar dan menyeramkan, sudah membuatnya bergidik ngeri membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.


"Saya punya pengacara yang handal dan sudah menuju ke mari. Dia akan segera membebaskan saya. Kalian bertiga tidak bisa melakukan apapun, jika itu melanggar aturan dan hukum."


"Hahaha... aturan, hukum? Hahaha..."


"Cuihhh! Gak guna!"


"Kita-kita gak butuh aturan dan hukum!"


Rian mundur beberapa langkah, karena ketiga pria tersebut melangkah maju mendekat ke tempatnya berdiri.


"Stop! Kalian mau apa?" tanya Rian penuh dengan kewaspadaan.

__ADS_1


__ADS_2