Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Serangan Ruhian


__ADS_3

Sudah dua hari Abiyasa dan Ajeng pulang dari berlibur. Abiyasa berencana untuk menyelesaikan semua yang menjadi rumor tentang keadaan dirinya, di media sosial dengan konferensi pers siang nanti.


Pagi ini, Abiyasa dan Ajeng baru saja keluar dari apartemennya. Tapi tengah perjalanan, tiba-tiba mereka dihadang oleh seorang pria tak di kenal.


Abiyasa sendiri mengenalnya, sebab pria tersebut adalah orang yang sama dengan orang yang membakar rumah Endang. Tapi dia hanya diam saja sambil terus mengamati apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria tersebut saat ini.


"Anda perlu apa?" tanya Abiyasa tetap dalam keadaan tenang.


"Besar juga nyalimu! Hahaha..."


Tawa Ruhian membahana, tapi wajah Ruhian terlihat sangat marah. Bahkan sekarang dengan cepat langsung menyerang Abiyasa dengan pisau yang dipegangnya.


Srettt


Bug bug bag dug


"Awas, mas Abi!"


Perkelahian keduanya tidak bisa dihindari lagi. Saat Ruhian menyerang Abiyasa dengan pisau, situasinya sangat kacau dan membingungkan. Abiyasa dan Ajeng yang tidak tahu apa-apa, tentu saja panik. Abiyasa yang terkejut dan panik, mencoba menghindari serangan Ruhian, sementara Ajeng berdiri di belakangnya.


Tag bug dug bug


Brakkk


Namun, tak lama kemudian, Indra tiba-tiba muncul dan dengan cepat berdiri di depan Abiyasa untuk melindunginya.


Indra, yang seorang pria yang terlatih dalam pertarungan, tentu saja dengan sigap menangkis serangan pisau Ruhian dengan tangannya dan menggunakan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Abiyasa. Namun sayangnya, Ajeng yang berdiri di belakang mereka, tidak terlindungi dan akhirnya terkena tusukan pisau yang seharusnya ditujukan untuk Abiyasa.


Meskipun Indra berhasil melindungi Abiyasa dari serangan pisau Ruhian, sayangnya Ajeng yang justru terluka. Tusukan pisau Ruhian yang seharusnya ditujukan untuk Abiyasa akhirnya mengenai Ajeng dan melukainya dengan sangat parah.


"Argh! Sial kau!"


Bug bag bug


Tag bug dug


Abiyasa yang sangat marah dan merasa sangat kesal melihat istrinya yang terluka berat, segera membalas serangan Ruhian dengan pukulan-pukulan keras dan meminta pertolongan secepatnya.


"Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu menyerang kami?" tanya Abiyasa pada Ruhian.


Ruhian tersenyum mengejek. "Kamu adalah musuhku. Kamu layak disingkirkan!"


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kamu melakukannya lagi. Aku juga tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja. Kamu telah melukai istriku dan itu tidak bisa diampuni."

__ADS_1


Abiyasa marah pada Ruhian, yang telah menyerangnya secara tiba-tiba dan kini melukai Ajeng.


"Cuihhh! Aku tidak takut denganmu, Abiyasa. Aku akan terus menyerangmu sampai kau mati. Hahaha..."


Bug bag dug


Tag srettt bug


Situasi tersebut sangat membingungkan dan penuh kepanikan, karena Ruhian yang terus menyerang dengan pisau membuat semua orang di sekitarnya merasa sangat terancam dan tidak aman. Abiyasa yang melihat istrinya terluka dengan parah, merasa sangat marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia segera menyerang Ruhian dengan pukulan-pukulan keras untuk membela dirinya dan istrinya.


Sementara itu, Indra mencoba untuk menenangkan situasi dan membantu Abiyasa yang sedang bertarung. Namun, suasana menjadi semakin tegang dan sulit diatur karena emosi yang terlalu memuncak dari semua pihak yang terlibat.


Karena situasinya sangat kacau dan terjadi dengan cepat. Perkelahian tersebut akhirnya berakhir ketika Abiyasa berhasil mengalahkan Ruhian, meskipun pria tersebut berhasil kabur. Dan Abiyasa segera meminta pertolongan secepatnya untuk Ajeng yang terluka.


"Indra. Cepat siapkan mobil?"


"Iya, mas. Ayo cepat!"


"Ajeng, Ajeng. Bagaimana keadaannya? A-pa kamu baik-baik saja?" tanya Abiyasa gugup.


Ajeng meringis menahan lukanya yang sakit.


"A-ku... ini sakit, mas Abi. Sakit sekali..."


"Baiklah, saya akan membantu mengangkat dan membawanya ke mobil. Tenang saja, mbak Ajeng. Kita akan membawamu ke rumah sakit secepatnya."


Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Ajeng segera mendapatkan pertolongan medis di IGD.


Beberapa saat kemudian.


"A-ku, aku... ini sakit, mas Abi. Aku takut akan kehilangan, mas Abi. Hiksss hiks hiks..."


Ajeng menangis setelah berada di ruang rawat inap, dan Abiyasa duduk menunggu di sampingnya. Dia menggenggam tangan Abiyasa, begitu juga dengan Abiyasa yang menggenggam tangan Ajeng.


"Jangan khawatir, sayang. Aku akan selalu menjagamu. Kamu adalah segalanya bagiku dan aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi. Kamu jangan banyak pikiran, ya."


Sepanjang hari, Abiyasa menemani Ajeng. Dia membatalkan konferensi pers yang telah direncanakan untuk membuat klarifikasi dari beberapa berita mengenai dirinya.


Peristiwa ini tentu saja sangat mengguncang Abiyasa dan Ajeng. Mereka merasa sangat tidak nyaman dan tidak aman setelah peristiwa tersebut terjadi.


Abiyasa dan Ajeng merasa bahwa mereka tidak aman dan sangat khawatir bahwa hal ini bisa terjadi lagi di kemudian hari.


Namun, Abiyasa tidak hanya memikirkan keamanan saja, ia juga khawatir dengan keamanan psikologis Ajeng pasca kejadian barusan. Dia merasa bahwa kejadian itu pasti akan meninggalkan bekas yang cukup dalam di hati Ajeng, sama seperti peristiwa penculikannya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


***


Aji duduk di ruangannya, sambil menunggu laporan dari Ruhian. Ketika ponselnya berdering, dia langsung mengangkatnya.


Aji, menerima laporan melalui telepon dari Ruhian. Dia merasa senang meskipun bukan Abiyasa yang terluka. Tapi setidaknya rencana mereka berhasil. Aji akan memikirkan rencana berikutnya, untuk Abiyasa dan Ajeng yang saat ini berada di rumah sakit.


Setelah menunggu beberapa saat kemudian, Ruhian akhirnya datang ke apartemen Aji.


"Malam, pak Aji."


"Ya, Ruhian. Apa kabarnya kamu setelah tadi? Kamu aman, kan? Gak ada yang mengikuti kamu ke sini, kan?" tanya Aji memastikan. Dia tidak mau jika ada seseorang yang mengikuti Ruhian sampai ke apartemennya ini.


"Kabar baik, Bos. Aman kok, Bos. Yang penting rencana kita berhasil," jawab Ruhian dengan nada senang.


"Bagus. Apakah Abiyasa ada yang terluka?" tanya Aji dengan penasaran.


"Tidak, Bos. Sayangnya, serangan saya tidak mengenai dia atau Indra sama sekali. Tapi setidaknya Ajeng terluka," jawab Ruhian dengan nada sombong.


"Mmm, itu baik-baik saja. Ini akan membuat Abiyasa semakin marah dan itu adalah apa yang kita butuhkan. Dia akan menjadi mudah diprovokasi," kata Aji dengan suara rendah.


"Saya mengerti, Bos. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Ruhian.


"Abiyasa dan Ajeng sedang berada di rumah sakit. Ini adalah kesempatan kita untuk menyerang mereka lagi. Kita harus membuat mereka merasa tidak aman di mana pun mereka berada," jawab Aji dengan tegas.


"Tapi, Bos, bagaimana jika mereka mengetahui bahwa kita yang melakukan semua ini? Mereka akan melapor ke polisi dan kita akan ditangkap," kata Ruhian dengan kekhawatiran.


"Aku sudah merencanakan semuanya, Ruhian. Kita akan menggunakan orang lain untuk melakukan tindakan kita selanjutnya. Kita akan menggunakan seseorang yang tidak terduga," kata Aji dengan suara tenang.


"Siapa orangnya, Bos?" tanya Ruhian dengan penasaran.


"Kita akan mempekerjakan seseorang untuk menyerang Abiyasa dan Ajeng di rumah sakit. Seseorang yang tidak akan pernah terpikir oleh mereka," kata Aji dengan tersenyum.


"Apa maksud Bos?" tanya Ruhian.


"Kita akan membayar seorang wanita untuk menyerang mereka. Seorang wanita yang akan membuat mereka tidak waspada. Kita akan membuat mereka merasa aman dengan kehadiran wanita itu, tetapi pada saat yang tepat, wanita itu akan menyerang mereka," kata Aji dengan tegas.


Ruhian mengangguk setuju, meskipun dia merasa sedikit ragu. Dia tahu bahwa rencana Aji selalu berhasil dan dia percaya pada kemampuan Aji untuk mengendalikan situasi.


"Baiklah, Bos. Saya akan mempersiapkan semuanya," kata Ruhian dengan suara rendah.


"Ayo lakukan itu, Ruhian. Kita akan membuat Abiyasa dan Ajeng merasakan akibatnya. Hahaha..."


"Hahaha... bagus, Bos!"

__ADS_1


__ADS_2