Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Rumah atau Markas


__ADS_3

Dalam situasi di mana Abiyasa dan Aji berkelahi, Indra merasa sangat tidak nyaman dan sedih. Ia tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan pertengkaran tersebut dan hanya bisa menyaksikan dari tempatnya berada. Dia yang hidup sendirian di dunia ini selalu merasa sepi setelah ayahnya meninggal dunia.


'Untung mas Abi mau berteman dan mempercayakan semuanya padaku. Lalu, bagaimana bisa aku tidak harus patuh padanya?' Indra ingat posisinya.


Indra sendiri mereda sedih karena dia tidak memiliki saudara. Bahkan, ayahnya juga sudah tiada karena sakit keras dan dia tidak pernah tahu di mana ibunya berada. Indra menyayangkan sikap Aji yang merasa iri dengan saudaranya sendiri.


"Iri hati itu membuat seseorang menjadi buta dan menyebabkan kehancuran," gumam Indra sambil mengusap-usap dagunya sendiri.


Dia sedih karena tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki saudara yang bisa diajak bertengkar, bertukar cerita, dan saling memahami. Indra merenung sendiri dengan membandingkan keadaannya.


Seketika, Ingatan Indra kembali ke masa kecilnya. Dia teringat ketika dirinya masih kecil, setiap kali mendengar temannya bercerita tentang saudara kandung mereka, Indra selalu merasa cemburu dan kesepian. Indra sering bertanya-tanya di mana saudaranya dan ibunya yang tak pernah dia kenal, sebab dia hanya mengenal ayahnya saja sejak kecil.


Indra selalu merasa kesepian di keluarga kecilnya. Ayahnya meninggal saat dia masih remaja. Indra dibesarkan oleh Abiyasa dengan biaya yang diberikan oleh Abiyasa juga. Masa sulit dan keadaan yang ada, membuat Indra terbiasa hidup sendiri dan mandiri. Namun, Indra selalu merasa ada yang kurang, seperti kehangatan sebuah keluarga yang seharusnya ia miliki.


Mengetahui kisah Aji dan Abiyasa membuat Indra semakin merasa sedih dan tidak bisa membayangkan bagaimana bisa ada orang yang merusak hubungan persaudaraan dengan cara seperti itu. Indra berpikir bahwa kehadiran saudara seharusnya membuat hidup lebih berarti, bukan justru memunculkan iri dan kebencian.


Saat itu, Indra merenung tentang bagaimana ia dapat membangun keluarga sendiri suatu saat nanti, agar tidak merasa kesepian dan dapat merasakan kebahagiaan memiliki keluarga yang utuh. Dia merasa bertanggung jawab untuk tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, dan mengajarkan nilai-nilai kekeluargaan pada anak-anaknya kelak.


Bug bag bug


Brukkk


Indra terkesiap ketika mendengar dan melihat tubuh Aji yang ambruk ke lantai.

__ADS_1


"Mas, cukup!"


Indra kembali memperingatkan Abiyasa, agar tidak sampai membunuh Aji di apartemen ini. Dia tidak mau jika kewalahan dan perbuatan Abiyasa ini terbongkar apalagi terendus media sosial. Itu artinya, reputasi Abiyasa bisa tercoreng dan hancurlah bisnis yang mereka miliki dan kembangkan saat ini.


Aji yang telah terluka parah, dibiarkan begitu saja tanpa dibantu ataupun diobati Abiyasa. Dia pergi dari apartemen Aji, setelah puas menghajar kakaknya itu.


Indra dan yang lainnya, yang bertugas untuk membereskan semua perkataan yang terjadi di apartemen Aji ini.


***


Rumah-rumah besar yang terletak di perumahan elit, memiliki desain yang menarik dan mewah, dengan beberapa lantai dan taman yang luas di sekitarnya. Dindingnya terbuat dari bahan yang berkualitas tinggi, seperti batu bata atau marmer, dan jendela-jendelanya juga berukuran besar dan terbuat dari kaca yang tebal.


Namun, meskipun rumah-rumah besar tersebut terletak di perumahan elit, suasana di sekitarnya terasa sepi dan sunyi sebab kurangnya hubungan sosial antara para penghuni perumahan.


"Kenapa kamu milih rumah di sana?" tanya Abiyasa saat Indra memberi tahu jika sudah membeli rumah di perumahan elit tersebut.


"Privasi pemilik rumah benar-benar terjaga dan aman. Rumah ini adalah markas kita, mas Abi. Jadi harus jauh dari keramaian dan sorotan juga, bukan?"


Abiyasa mengangguk setuju dengan jawaban dan alasan yang dibuat oleh Indra.


"Meskipun suasana di sekitar rumah terasa sepi, lingkungan perumahan memiliki fasilitas yang lengkap dan berkualitas tinggi, seperti kolam renang, lapangan tenis, dan pusat kebugaran. Namun, penggunaan fasilitas ini terbatas karena kurangnya partisipasi sosial dari para penghuni perumahan."


"Mereka sibuk semua?" tanya Abiyasa lagi.

__ADS_1


Indra mengangguk cepat, sebab pemilik-pemilik rumah di perumahan elit tersebut adalah para pengusaha dan pelaku bisnis. Perumahan yang hanya berjumlah dua puluh rumah tersebut, tidak ada yang memiliki art. Tidak ada tukang sayur atau tukang ojek yang diperbolehkan masuk ke dalam kompleks perumahan, bahkan tukang bakso dan reaksi juga tidak ada yang bisa masuk. Semuanya aman terkendali.


Sama seperti rumah yang dijadikan Indra sebagai markas mereka, rumah ini juga tidak tersentuh oleh orang-orang yang tidak berkepentingan karena jika ada yang masuk ke dalam perumahan ini harus memiliki kartu khusus sebagai tanda bahwa dia adalah penghuni perumahan atau jika ada tamu, maka tamu tersebut hanya bisa sampai di pos keamanan tanpa bisa masuk ke dalam sebelum tuan rumah menjemputnya. Jadi keamanan di wilayah perumahan ini sangat ketat melebihi apartment.


"Ketat sekali Indra?" tanya Abiyasa tidak percaya dengan sistem keamanan di kompleks perumahan tersebut.


"Mas Abi boleh coba, kapan-kapan jika mau datang dan tidak memberitahuku terlebih dahulu. Maka, mas Abi dengan alasan apapun tidak akan diperbolehkan masuk ke dalam kompleks perumahan, dan akan ditahan di pos keamanan.


Perumahan elit yang dijaga ketat ini terletak di area yang terpencil atau jauh dari keramaian. Ada gerbang masuk perumahan dilengkapi dengan pagar tinggi sebagai pagar listrik dan dipantau oleh petugas keamanan yang siaga 24 jam sehari. Pada gerbang masuk, ada pos keamanan tempat para penghuni atau tamu harus menunjukkan kartu akses khusus atau melakukan verifikasi identitas sebelum diizinkan masuk ke dalam perumahan.


Rumah-rumah di dalam perumahan memiliki garasi atau tempat parkir yang aman dan tertutup untuk mobil penghuni. Di setiap rumah dilengkapi dengan sistem keamanan yang canggih, seperti kamera pengintai, alarm, dan sensor gerak untuk mencegah kejahatan.


Karena perumahan ini memiliki sistem keamanan yang sangat ketat, para penghuni merasa aman dan nyaman tinggal di dalamnya meskipun harus membayar dengan harga yang sangat tinggi untuk bisa mendapatkan rumah di komplek perumahan tersebut. Belum lagi iuran bulanan untuk keamanan dan fasilitas yang lainnya.


"Bagus. Itu cocok untuk markas kita, Indra. Aku tidak sabar untuk segera membawa musuh-musuhku agar mereka terisolasi."


Sekarang, mobil Indra masuk bersama dengan mobil Abiyasa ke perumahan elit tersebut. Indra memang terdaftar sebagai salah satu penghuni rumah di kawasan perumahan ini, sehingga bisa membawa Abiyasa.


Di dalam mobilnya Indra, ada dua orang dan satu orang tawanan yang akan mereka bawa ke rumah. Tawanan tersebut adalah Aji, kakaknya Abiyasa yang jahat dan telah membunuh Ajeng. Sedangkan satu orang lainnya adalah Abiyasa sendiri bersama dengan anak buahnya Indra. Mobilnya Abiyasa di bawa anak buahnya yang lain dibelakang mobilnya Indra.


"Selamat datang di perumahan kita, mas Abiyasa. Semoga betah di sini," sambut Indra saat gerbang rumah terbuka secara otomatis.


"Hahaha... bisa saja kamu, Indra."

__ADS_1


Indra tersenyum tipis mendengar tawa Abiyasa yang lepas. Sudah lama Abiyasa tidak terlihat tertawa seperti ini. Bahkan, Abiyasa seperti tidak pernah menikmati hidupnya, karena dikejar rasa takut sejak remaja yang dipenuhi teror Aji.


__ADS_2