
Abiyasa merasa sangat khawatir dan panik ketika mendengar berita dari pihak kampus, jika saat ini Ajeng sedang diculik. Ia tidak ingin kehilangan Ajeng, yang telah menjadi cinta sejatinya. Abiyasa memutuskan untuk mengambil tindakan cepat untuk menyelamatkan Ajeng. Dia segera menghubungi Indra untuk membicarakan strategi selanjutnya.
"Indra, aku butuh bantuan mu lagi mengenai Ajeng. Endang dan Alex berencana menculik Ajeng karena mereka tidak ingin aku bersamanya. Tapi Endang sudah tidak ada, jadi hanya Alex tersangka utama saat ini." Abiyasa pembicara ke inti pada saat indra datang menemuinya.
Dia memang tidak ditahan oleh pihak kepolisian, karena dua rekaman cctv menunjukkan bahwa dia tidak bersalah. Jadi Abiyasa hanya dijadikan sebagai saksi saja.
Indra mendengarkan perkataan Abiyasa dengan seksama. "Tenanglah, Mas Abiyasa. Kita memang harus mengambil tindakan cepat untuk menyelamatkan Ajeng, tapi juga harus tetap tenang dan waspada. Apa rencana mas Abi selanjutnya?"
"Aku tidak tahu harus berbuat apa. Bisakah kamu membantuku membuat strategi untuk menyelamatkan Ajeng? Mungkin sama seperti pada waktu Ajeng diculik waktu itu."
Abiyasa mengusulkan agar menyewa orang-orang yang sama seperti kemarin pada saat Ajeng diculik komplotan para penipu dan penjualan manusia ke luar negeri.
"Tentu saja, Mas Abi. Pertama-tama, kita harus mengetahui di mana Ajeng berada. Apakah Mas Abi ada penglihatan, di mana mereka akan membawa Ajeng?" tanya Indra, yang menjadi satu-satunya orang yang mengetahui kelebihan Abiyasa selama ini.
Abiyasa terdiam sejenak mendengar pertanyaan Indra. "Tidak, aku tidak tahu di mana mereka akan membawanya. Tapi aku akan mencoba menghubungi teman-teman Ajeng untuk mencari tahu di mana dia berada. Atau kita harus ke kampus dulu untuk memastikan," usul Abiyasa
"Baiklah, sementara itu aku akan mencoba mengumpulkan informasi lain tentang Alex. Aku akan melacak panggilan telepon dan mengumpulkan bukti-bukti lainnya. Kita harus mengambil tindakan yang tepat dan cepat untuk menyelamatkan Ajeng."
Indra segera menghubungi orang-orang yang biasa bekerja untuknya, untuk menyadap ponsel Alex atau orang terdekatnya yang dipercaya Alex.
Beberapa jam kemudian, Abiyasa dan Indra tiba di kampus. Abiyasa segera melakukan apa-apa yang bisa membuat penglihatannya mampu melihat kejadian beberapa waktu lalu. Setelahnya, ia berhasil mengetahui di mana Ajeng berada. Dia segera pergi ke tempat tersebut bersama Indra untuk menyelamatkan Ajeng.
Ternyata dugaan Abiyasa benar, bahwa yang menculik Ajeng adalah orang-orang suruhannya Alex.
__ADS_1
Sebagai suami Ajeng, Abiyasa pastinya sangat khawatir dan berusaha melakukan segala cara untuk menyelamatkan istrinya dari para penculik meskipun saat ini hubungannya dengan Ajeng sedikit renggang akibat kematian Endang.
Abiyasa mencari informasi tentang keberadaan Ajeng, mulai dari lokasi tempat dia diculik dan identitas para penculiknya.
Setelah mengetahui informasi tersebut, Abiyasa kemudian mencari bantuan dari pihak keamanan atau meminta bantuan dari teman-temannya, melalui Indra, untuk membantunya menyelamatkan Ajeng. Dia juga meminta Indra agar meminta bantuan ahli dalam bidang penyelamatan dan pengamanan untuk membantunya merencanakan taktik penyelamatan yang efektif, sama seperti dulu saat Ajeng diculik di taman kota saat berada di kamar kecil.
"Aku tidak akan memaafkan siapa saja yang berani melukai Ajeng!" geram Abiyasa dengan mengepalkan tangannya kuat.
Abiyasa pasti akan merasa sangat marah dan frustasi terhadap para penculik yang telah menculik Ajeng. Dia takut dan khawatir untuk keselamatan Ajeng, tetapi dia harus berani dan siap berjuang untuk menyelamatkan istrinya dalam situasi apapun.
"Indra, pastikan orang-orang mu siap berada di tempat yang sudah ditentukan."
"Ya, Mas Abi."
"Hei, kau siapa? Apa kau ingin mati?"
Abiyasa terkejut saat ada seorang penculik yang memergoki kehadirannya. "Aku suami dari Ajeng. Aku datang untuk menyelamatkan istriku. Jadi, lepaskan dia sekarang juga!"
Penculik tersebut justru tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban yang diberikan oleh Abiyasa.
"Kau jangan berbicara seperti itu, atau kau akan menyesal. Kami punya persyaratan untuk membebaskan Ajeng. Jika kau mengikuti persyaratan kami, dia akan selamat." Penculik tersebut berusaha untuk bernegosiasi bersama suaminya Ajeng.
Abiyasa mengerutkan keningnya mendengar perkataan penculik tersebut. "Apa persyaratannya? Aku akan berusaha untuk memenuhi apa yang kalian inginkan asalkan Ajeng tidak terluka."
__ADS_1
"Bagus. Kami ingin uang sebesar 10 miliar rupiah dalam waktu satu hari. Jika tidak, Ajeng tidak akan hidup." Penculik tersebut memberikan sebuah persyaratan dan ancaman.
"Itu jumlah uang yang sangat besar. Bagaimana aku bisa memenuhi persyaratan itu dalam waktu satu hari?" Abiyasa berusaha untuk mengulur-ulur waktu.
"Bukan urusanku! Kau harus mencarikan uang itu jika ingin Ajeng hidup. Kami akan menghubungi kau lagi untuk memberikan instruksi lebih lanjut."
Abiyasa terdiam dan berusaha untuk terlihat mengalah. "Baiklah, aku akan berusaha untuk memenuhi persyaratan kalian. Tapi, jangan menyakiti Ajeng. Dia adalah istriku," terang Abiyasa dengan suara yang dibuat setelah mungkin meskipun kemarahan memenuhi dadanya saat ini.
Niat Abiyasa hanyalah agar bisa memberikan waktu pada Indra dan teman-temannya, yang sedang bergerak menuju ke tempat masing-masing sesuai rencana yang sudah dibuat oleh mereka sebelumnya.
Dalam situasi ini, Abiyasa berjuang untuk melawan para penculik dengan tangan kosong atau menggunakan benda-benda di sekitarnya sebagai senjata, jika memang harus menggunakan kekerasan. Dia akan menggunakan keahlian bela dirinya untuk melindungi dirinya dan Ajeng, dan pastinya tidak akan mundur sebelum berhasil menyelamatkan istrinya dari para penculik yang telah disewa Alex.
Sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya, Abiyasa pasti akan berjuang habis-habisan untuk melawan para penculik dan menyelamatkan Ajeng. Namun, dalam situasi seperti ini, keamanan diri dan keamanan orang lain juga menjadi prioritas utama. Abiyasa akan berusaha untuk mengalahkan para penculik dengan cara yang aman dan efektif.
'Aku rasa tempat ini setelah dibersihkan sebelumnya.Di sini tidak ada balok atau apapun yang bisa aku jadikan sebagai senjata saat melawan mereka.'
'Tapi di mana sebenarnya ruangan yang digunakan untuk menyembunyikan Ajeng?'
Batin Abiyasa terus berdialog saat melihat keadaan sekitar dan juga pertanyaan tentang tempat ajeng berada saat ini.
Abiyasa mencari benda-benda di sekitarnya yang bisa digunakan sebagai senjata, seperti batu besar atau tongkat. Dia akan berusaha untuk menggunakan benda-benda tersebut dengan cara yang cerdas dan efektif, misalnya dengan melemparkan benda tersebut ke arah penculik untuk mengejutkannya atau menghantam penculik dengan benda tersebut.
Tapi semua benda tersebut tidak ada. Tempat ini bersih dan seperti bukan sebuah rumah kosong atau gudang yang tidak terurus.
__ADS_1
'Tempat apa ini sebenarnya?' tanya Abiyasa dalam hati, karena tempat yang digunakan untuk menyembunyikan Ajeng saat ini bukanlah tempat yang sebagimana layaknya gudang rumah kosong yang kumuh.