
Kantor polisi.
Setelah penangkapan Aji dan Rian, kantor polisi sangat sibuk dan penuh dengan aktivitas. Terdapat banyak petugas polisi yang sibuk mencatat data-data penting dari kedua tersangka, seperti identitas, alamat, pekerjaan, dan sebagainya. Ada juga petugas yang melakukan pemeriksaan fisik terhadap mereka, seperti pengukuran tinggi badan, berat badan, dan memeriksa barang-barang bawaan mereka. Selama proses ini, Aji dan Rian tetap bersikap acuh tak acuh dan bersikeras bahwa mereka tidak bersalah.
Ketika polisi sudah selesai dengan pemeriksaan fisik dan data, mereka membawa Aji dan Rian ke ruang interogasi. Di sana, mereka menanyakan sejumlah pertanyaan terkait dengan kejadian yang telah terjadi. Aji dan Rian tetap bersikeras bahwa mereka tidak bersalah dan tidak terlibat dalam tindakan kriminal apapun. Namun, polisi tetap bertekad untuk mencari bukti yang cukup untuk memenjarakan mereka.
"Kami tidak bersalah!" Aji tetap pada jawaban yang sama setiap mendapatkan pertanyaan dari tim penyidik.
"Abiyasa yang sebenarnya pembohong!" Rian ikut menimpali.
Pada saat yang sama, pengacara Aji dan Rian tiba di kantor polisi. Mereka datang untuk memastikan bahwa hak-hak kliennya terjaga dan mendapatkan akses ke proses hukum yang adil. Polisi menyambut pengacara tersebut dengan sopan dan mempersilakan mereka masuk ke ruang interogasi.
Ternyata, saat polisi datang menjemput mereka di kantor perusahaan, Aji maupun Rian sempat menghubungi pihak pengacara dengan meminta mereka untuk segera datang ke kantor polisi.
"Selamat siang, saya adalah Anthony Hopkins lawyer pihak pak Aji, dan yang ini adalah Andre Vellare lawyer pak Rian." Salah satu dari mereka memperkenalkan dirinya sendiri dan temannya.
Setelah memperkenalkan diri, pengacara tersebut mulai berbicara dengan Aji dan Rian. Dia menanyakan detail kejadian yang terjadi dan mencoba untuk memahami alasan mengapa kliennya dituduh melakukan kejahatan tersebut. Namun, Aji dan Rian tetap bersikeras bahwa mereka tidak bersalah dan bahwa mereka telah dipersalahkan tanpa alasan yang jelas.
Pengacara tersebut kemudian mencoba untuk meminta informasi lebih lanjut dari polisi tentang bukti yang mereka miliki terhadap kliennya. Polisi menjawab dengan singkat dan menyatakan bahwa mereka sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap kasus tersebut. Mereka menyebutkan bahwa mereka telah menemukan bukti awal yang cukup untuk menuduh Aji dan Rian melakukan kejahatan.
Pengacara tersebut kemudian meminta agar kliennya dibebaskan dan diberi waktu untuk mempersiapkan diri untuk proses hukum selanjutnya. Namun, polisi menolak permintaan tersebut dan menyatakan bahwa mereka harus tetap berada di penjara sampai proses hukum selesai dilakukan.
"Kami tidak bersalah."
Setelah percakapan singkat, pengacara tersebut meninggalkan ruang interogasi dan berbicara dengan rekan-rekannya di luar. Mereka membahas strategi yang akan digunakan untuk membela kliennya di pengadilan, serta mencari bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa Aji dan Rian tidak bersalah. Mereka menyadari bahwa tugas mereka sangat sulit, mengingat kekuatan dan koneksi yang dimiliki oleh kliennya. Namun, mereka tetap bertekad untuk melakukan yang terbaik untuk membela hak-hak kliennya.
Setelah keluar dari kantor polisi, Aji, Rian, dan pengacara mereka duduk di sebuah kafe terdekat untuk membahas situasi mereka.
"Baiklah, sekarang mari kita bicarakan strategi kita untuk menghadapi kasus ini di pengadilan. Kita butuh bukti-bukti yang bisa membuktikan bahwa kalian tidak bersalah."
__ADS_1
"Tapi kami tidak melakukan apa-apa. Kami tidak terlibat dalam kejahatan apa pun." Rian kekeh tidak mengakui kesalahannya.
"Iya, ini semua tidak adil. Mengapa kami harus dituduh melakukan sesuatu yang tidak kami lakukan?" Aji menimpali dengan suara keras dan tegas.
Pengacara tersenyum menenangkan. "Saya tahu kalian merasa tidak adil, tapi sekarang kita harus berfokus pada tugas kita yaitu membela hak kalian di pengadilan. Kita harus menemukan bukti-bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa kalian tidak bersalah."
"Tapi bagaimana caranya? Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kami tidak tahu siapa yang menuduh kami atau apa bukti yang mereka miliki." Aji memasrahkan diri pada pamannya, karena dia begitu percaya dengan Rian.
"Iya, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa kami tidak bersalah jika kami tidak tahu apa yang kami hadapi?" Rian justru mengalihkan perhatian dengan pertanyaan yang sama seperti Aji.
Pengacara menganggukkan kepalanya paham. "Kita akan mencari tahu. Saya akan meminta bantuan dari tim investigasi untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Mereka akan mencari bukti-bukti yang bisa kita gunakan untuk membela kalian di pengadilan. Selain itu, saya akan mencari tahu siapa yang menuduh kalian dan apa yang menjadi dasar tuduhan tersebut."
"Apakah Anda yakin bisa menyelesaikan ini?" tanya Aji memastikan.
"Iya, kita harus memperjuangkan hak kita. Kami tidak bisa duduk saja dan menyerah begitu saja." Rian juga sama seperti Aji.
"Tentu saja. Saya akan bekerja keras untuk membela hak kalian di pengadilan. Kalian bisa mempercayai saya." Pengacara Andre memastikan bahwa kliennya akan aman.
Entah bagaimanpun caranya, mereka berdua tidak akan tinggal diam dan membiarkan Abiyasa tenang.
Sekarang, Aji dan Rian duduk di sebuah kafe, membicarakan rencana mereka untuk membalas Abiyasa yang telah merebut perusahaan mereka. Mereka merasa tidak adil dan ingin membalas dendam pada Abiyasa.
"Paman, apa yang harus kita lakukan sekarang? Abiyasa telah merebut perusahaan kita, dan kita tidak punya banyak pilihan." tanya Aji geram.
"Kita harus berpikir dengan tenang dan menemukan cara untuk membalas dendam pada Abiyasa, Aji." Rian memikirkan beberapa rencana yang bisa mereka lakukan.
Aji menghembuskan nafas panjang. "Hahhh, tapi apa yang bisa kita lakukan? Dia memiliki koneksi dan kekuatan yang lebih besar dari kita dengan nyata."
Rian mengelengkan kepalanya. "Kita tidak bisa hanya tinggal diam dan menyerah begitu saja. Kita harus melakukan sesuatu untuk memperjuangkan hak kita. Apa kamu lupa, kita juga punya banyak backingan di luar sana. Hahaha..."
__ADS_1
"Eh, aku setuju, Paman. Tapi apa yang bisa kita lakukan?" tanya Aji meminta pendapat pada pamannya, Rian
Rian mengelus-elus dagunya sendiri. "Kita bisa mencari tahu kelemahan Abiyasa dan memanfaatkannya untuk keuntungan kita."
Aji menyipitkan matanya mendengar jawaban yang diberikan oleh Rian. "Bagaimana kita bisa menemukan kelemahannya?" tanyanya bingung.
"Kita bisa meminta bantuan orang-orang yang berada di lingkaran Abiyasa. Pasti ada banyak orang yang tidak senang dengan Abiyasa dan mungkin bersedia membantu kita." Rian memberikan usulan.
Aji memiringkan kepalanya mendengar perkataan pamannya yang membuatnya lebih pusing. "Aku rasa itu akan sangat berisiko. Bagaimana jika mereka mengkhianati kita?" tanyanya kemudian.
"Kita hanya perlu memilih orang-orang yang bisa kita percaya, Aji. Aku sudah mengenal beberapa orang yang bisa kita ajak bekerja sama untuk kepentingan kita ini."
"Tapi bagaimana kita bisa memastikan mereka tidak mengkhianati kita?" Aji tampaknya masih ragu.
Rian membuang nafas terlebih dahulu sebelum berkata lagi. "Kita harus memilih orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama dengan kita. Mereka juga akan mendapatkan manfaat dari rencana kita dan tidak akan mengkhianati kita," terangnya.
"Aku tidak tahu, paman. Ini semua terlalu berisiko." Aji tetao ragu-ragu.
"Kita harus mengambil risiko untuk memperjuangkan hak kita. Abiyasa tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Kita harus berani melawan dia." Rian memandang jauh ke depan.
"Baiklah, paman. Aku percaya pada, paman. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Aji memasangkan semuanya kepada Rian.
Rian mulai memberikan penjelasan secara singkat kepada Aji. "Kita akan memulai dengan meminta bantuan dari orang-orang yang bisa kita percayai. Setelah kita memiliki tim yang kuat, kita akan mulai merencanakan tindakan kita."
"Baiklah, paman. Aji siap untuk melawan Abiyasa." Tegas Aji kemudian
Rian tersenyum senang mendengar jawaban yang diberikan oleh Aji. "Itu dia, Aji. Kita tidak akan tinggal diam dan membiarkan dia tenang. Kita akan memperjuangkan hak kita sampai titik darah penghabisan."
Dengan tekad yang kuat, Aji dan Rian pun memulai rencana mereka untuk membalas dendam pada Abiyasa dan memperjuangkan hak mereka, versi mereka sendiri.
__ADS_1
Mereka tahu bahwa perjuangan mereka akan berat dan berisiko, tetapi mereka yakin bahwa dengan kerja keras dan keberanian, mereka bisa mengalahkan Abiyasa dan memenangkan pertarungan ini.