
Rian, terjebak dalam perasaan ketidakpuasan dan penyesalan, merenungi pikirannya yang kelam dengan penuh rencana jahat dan niat balas dendam. Dalam kegelapan yang menyelimuti selnya, tanpa seorang pun pendengar kecuali dirinya sendiri, Rian memancarkan kata-kata penuh kebencian dan ketidaksabaran. Dalam ketakutan, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti, ia akan membalas segala kesuksesan Abiyasa dengan menghancurkan kehidupan Abiyasa yang akan membuatnya terjerumus lebih dalam ke dalam kehancuran.
'Awas kamu, Abi! Aku tidak akan mengulang kembali sejarah masa lalu yang telah membuat ayahmu sukses. Kamu harus hancur di tangan saudaramu sendiri!'
Rian, dilanda oleh rasa ketidakpuasan yang membelenggu, merenung dalam kegelapan jiwa yang menghancurkannya sendiri.
Pikirannya dipenuhi oleh rencana jahat dan keinginan tak terbatas untuk membalas dendam. Terperangkap sendirian dalam selnya, Rian mengeluarkan kata-kata penuh kebencian dan ketidakberdayaannya, tanpa ada yang mendengar selain dirinya sendiri.
Dalam keputusasaan, ia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa suatu hari kelak ia akan membalas semua kesuksesan yang telah diraih oleh Abiyasa dengan membawa Abiyasa ke dalam kehancuran dan keputusasaan yang lebih besar.
'Rasakan pembalasanku pada waktunya, Abiyasa!' teriak Rian dalam hati, dengan tangan yang terkepal kuat hingga kukunya menancap pada telapak tangannya sendiri.
Rian, dipenuhi oleh perasaan ketidakpuasan dan penyesalan yang meluap-luap, meratapi kegelapan pikirannya yang sarat dengan rancangan jahat dan niat balas dendam. Hanya ada Rian seorang di selnya, karena dia mendapatkan fasilitas terbaik dengan beberapa jumlah uang yang dia sodorkan. Dan dengan kebencian yang membara dan ketidakmampuan untuk sabar, ia melontarkan kata-kata penuh kekecewaan. Ia bersumpah pada dirinya sendiri, berjanji bahwa suatu saat nanti ia akan membalas setiap kesuksesan Abiyasa dengan menghancurkan kehidupan Abiyasa itu sendiri, menjadikan Abiyasa semakin terpuruk dalam keterpurukan yang lebih dalam.
"Arghhh... kamu harus hancur, Abiyasa! Harus hancur tak tersisa!"
"Kamu tidak bisa mengabaikan kemampuanku selama ini. Aku sudah terbukti dengan kesengsaraan kalian bersaudara. Hahaha..."
Rian, terperangkap dalam kegelapan yang dipenuhi ketidakpuasan dan penyesalan, melibatkan pikirannya dalam rencana jahat dan keinginan untuk membalas dendam. Tanpa pendengar di dalam selnya, ia melontarkan kata-kata penuh kebencian dan ketidakteraturan di hati, membuat janji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari ia akan menggagalkan setiap kesuksesan yang dicapai oleh Abiyasa, dengan maksud menjatuhkan Abiyasa dalam kesengsaraan yang semakin dalam. Rian berusaha keras untuk menyusun strategi balas dendam yang akan menghancurkan hidup Abiyasa, dan kegelapan pikirannya semakin dalam saat ia merenungkan cara-cara untuk melaksanakan rencananya.
"Aku akan merencanakan sesuatu yang lebih besar, meskipun tanpa bantuan Aji."
Rencana Rian akan di memulai dengan menyebarkan fitnah atau informasi palsu yang merusak reputasi Abiyasa, sama seperti yang pernah dia lakukan saat memberikan usulan tersebut pada Aji beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Ia akan mencoba menghubungi orang-orang yang dikenal oleh Abiyasa, teman-teman, rekan kerja, atau partner bisnis untuk memperburuk citra Abiyasa di mata mereka.
"Ya, aku akan melakukannya. Aku masih punya reputasi dan nama. Dan mereka justru lebih dulu mengenalku dibandingkan dengan nama Abiyasa."
Rian mencari cara untuk merusak peluang karir Abiyasa. Dia memanfaatkan kesempatan untuk merusak atau menghapus pekerjaan atau proyek yang sedang dikerjakan oleh Abiyasa, melalui orang-orang yang bisa diajak kerjasama seperti dulu. Rian juga akan berusaha mencegah Abiyasa mendapatkan promosi atau kesempatan kerja yang lebih baik dengan menghalangi informasi atau memberikan laporan palsu yang merugikan ke rekan bisnis yang akan bekerja sama dengan Abiyasa.
"Hahaha... ternyata otakku tetap brilian, dan itu karena aku memang pintar! Hahaha..."
Rian memuji dirinya sendiri dengan semua rencana yang dia pikir akan sukses, sama seperti yang pernah dia lakukan untuk kakaknya, yaitu Gilang. Papa dari Aji dan Abiyasa yang telah meninggal dunia saat mendengar berita kecelakaan istrinya.
"Otakku ini punya stok yang tidak terbatas untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga kalian. Aku akan melakukan apa saja untuk menjadi seseorang yang nomor satu!"
"Cuihhh! Persetan dengan yang katanya saudara! Nyatanya semua pujian dan sanjungan hanya untuk kalian, tidak pernah ada untukku."
Dia berencana untuk mengisolasi Abiyasa secara sosial dengan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya agar menjauhinya. Rian akan berusaha menciptakan kesalahpahaman, membangkitkan konflik, atau bahkan memutarbalikkan fakta untuk membuat orang-orang merasa tidak nyaman atau tidak percaya pada Abiyasa.
"Dengan usaha banding yang aku ajukan, aku berharap agar bisa menyerang Abiyasa dengan tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik. Itu akan menjadi serangan balik yang tidak pernah dia sangka-sangka. Hahaha..."
Rian akan menggunakan segala cara untuk menyerang emosi Abiyasa. Ini bisa berupa serangan balik di pengadilan saat banding atau orang-orangnya akan mengirim pesan-pesan yang penuh dengan kebencian, mengungkit luka-luka masa lalu, atau bahkan mengancam keselamatan fisik Abiyasa dan orang-orang terdekatnya. Rian akan berusaha membuat Abiyasa merasa putus asa dan terpuruk secara emosional.
"Kamu sudah menjadi orang yang bodoh selama bertahun-tahun. Aku berharap itu akan menjadi kenyataan, dan dengan demikian aku mudah untuk menyingkirkanmu untuk selamanya. Hahaha..."
"Aku akan kembali sukses diantara para pengusaha, dan namaku tetap diperhitungkan!"
__ADS_1
Selain menghancurkan hidup Abiyasa, Rian akan menggunakan kesuksesannya sendiri sebagai alat balas dendam. Ia akan bekerja keras untuk mencapai prestasi dan kesuksesan yang lebih besar dari Abiyasa, dengan harapan bahwa ini akan membuat Abiyasa merasa semakin terpuruk dan hancur melihat pencapaian Rian.
***
Siang hari ini, pengacara Rian datang. Dia memberi tahu jika banding yang diajukan diterima. Rian, tentu merasa sangat senang. Dia justru terdorong untuk melarikan diri agar dapat segera melaksanakan rencananya.
'Sepertinya itu adalah waktu yang pas, tapi...'
Rian merasa gugup dan tegang setelah mengetahui bahwa bandingnya telah diterima. Ia merasa bahwa waktu sedang berjalan dengan cepat dan ia harus segera mengambil tindakan sebelum kesempatannya hilang. Rasa gugup dan kecemasannya ini justru membuatnya semakin nekad untuk segera melarikan diri.
Rencana Pelarian: Rian akan memulai dengan merencanakan pelarian yang matang dan berusaha untuk tidak meninggalkan jejak yang dapat mengungkapkan identitas atau keberadaannya. Ia mungkin akan mencari tempat perlindungan yang aman atau menghubungi seseorang yang dapat membantunya dalam pelarian.
Rian berkata dengan gugup.
"Pak, a-ku... aku senang mendapatkan kabar bahwa bandingku diterima. Ta-pi... Aku merasa ingin secepatnya melarikan diri dari sini agar bisa melaksanakan rencanaku. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rian pada pengacaranya.
Tentu ini bukan melarikan diri yang sebenarnya,sama seperti rencananya dengan napi lain tempo hari.
"Pak Rian, saya mengerti bahwa Anda merasa terdesak sehingga tidak sabar. Tetapi perlu diingat bahwa melarikan diri bukanlah solusi yang baik. Kita harus mematuhi proses hukum yang ada. Kami dapat mengevaluasi langkah-langkah legal yang dapat diambil untuk menyelesaikan kasus ini sebaik mungkin. Percayalah, pak Rian. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk memenangkan kasus Anda."
***
Maaf ya Gan, Bos. TK numpang promo Novel teman, dan tenang ini juga temanya mafia. Ayuklah mampir ya ke othor Ramanda. Seru!!!
__ADS_1