Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Ketakutan Ajeng Diculik


__ADS_3

Ajeng yang diculik oleh Alex ketakutan. Dia mengalami trauma karena ini adalah kedua kalinya dia di culik. Abiyasa, sebagai suami menemaninya dalam keadaan Ajeng yang seperti ini.


Situasi ini sangat mengkhawatirkan dan menegangkan. Ajeng telah mengalami trauma akibat diculik sebelumnya, dan sekarang dia mengalami situasi serupa lagi. Kecemasan dan ketakutan yang dirasakan Ajeng sangat besar, dan juga memicu reaksi fisik. Denyut jantungnya yang cepat, keringat dingin yang berlebih, dan juga gemetar.


Abiyasa sebagai suami, merasa khawatir dan cemas atas kondisi istrinya. Dia sudah mencoba untuk menenangkan Ajeng, memberikan dukungan dan mengurangi ketakutannya. Namun, Abiyasa juga merasa marah dan putus asa karena situasi ini terjadi lagi, dan dia tidak bisa melindungi istrinya sepenuhnya.


"Sshh, jangan takut, sayang. Aku di sini bersamamu. Kita akan keluar dari situasi ini, aku janji." Abiyasa memeluk Ajeng untuk memberikan dukungan.


"A-ku, aku takut, Mas Abi. Kenapa ini harus terjadi lagi? hiksss hiks hiks..."


Ajeng terisak-isak mengingat kembali semua kejadian yang terjadi padanya. Hal yang tidak pernah dia inginkan.


Abiyasa menghela nafas panjang saat mendengar perkataan Ajeng yang mengiris hati. Apalagi Ajeng juga mengatakannya dengan keadaan menangis.


"Aku tahu, sayang. Tapi kamu harus percaya padaku. Kita akan keluar dari situasi ini bersama-sama. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu. Maaf, aku tidak bisa bergerak cepat untuk membantu dan menyelamatkanmu."


Abiyasa kembali memeluk Ajeng, memberinya ketenangan dan kenyamanan dalam situasi seperti ini.


"Bagaimana kalau dia membunuhku?" tanya Ajeng ketakutan.


Sepertinya Ajeng masih merasa jika dia dalam keadaan di dalam situasi penculikan. Dia melihat keadaan sekitar dengan rasa takut seakan-akan para penculik masih berada disekitarnya.


"Jangan berpikir seperti itu, sayang. Kita harus tetap tenang dan berusaha untuk mengatasi situasi ini. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi kamu. Kamu bisa mempercayai aku."


Ajeng menggigil ketakutan. "Baiklah, Mas Abi. A-ku, aku akan mencoba untuk tenang."


"Itu bagus, sayang. Tarik napas dalam-dalam, dan biarkan aku menenangkan mu. Kita akan keluar dari situasi ini, bersama-sama. Sini, aku peluk!"


Cup cup cup


Abiyasa memeluk dan menciumi kening Ajeng, mencoba untuk menyalurkan rasa nyaman dan aman, agar Ajeng merasa terlindungi olehnya.

__ADS_1


Abiyasa berpikir bahwa situasi ini memerlukan tindakan cepat dan tegas untuk memastikan keselamatan Ajeng dan mengatasi trauma yang dia alami. Dia berfikir untuk meminta bantuan dari ahli kesehatan mental, membantu Ajeng supaya pulih dari trauma ini.


Akhirnya Abiyasa mengajak Ajeng untuk berobat ke dokter spesialis dan spikiater agar bisa mengurangi rasa traumanya. Dia berusaha untuk membujuk Ajeng, supaya mau ikut bersama dengannya.


"Ajeng, aku tahu kamu masih trauma setelah kejadian kemarin. Aku ingin membantumu mengurangi rasa takut dan kecemasanmu dengan membawamu ke dokter spesialis dan psikiater. Mau, ya?" Abiyasa berusaha bertanya dengan suara rendah dan lembut.


"Tidak. Aku tidak mau, Mas Abi. Aku tidak ingin pergi ke dokter. Aku sudah cukup takut dan terluka setelah kejadian kemarin. Aku tidak ingin disentuh oleh orang lain lagi."


Abiyasa memejamkan matanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Ajeng. Dia tahu jika Ajeng takut bertemu dengan orang lain yang tidak dikenalnya.


"Mas paham, Ajeng. Tapi kesehatanmu sangat penting, dan kita perlu melakukan segala hal yang bisa kita lakukan untuk membantu kamu pulih dari trauma ini. Dokter spesialis dan psikiater bisa memberikan bantuan dan perawatan yang kamu butuhkan untuk meredakan gejala trauma dan mencegah masalah yang lebih serius di masa depan."


Abiyasa mencoba untuk memberikan penjelasan secara perlahan-lahan, supaya Ajeng mau ikut bersama dengannya pergi ke dokter spesialis.


"Ta-pi, tapi bagaimana kalau mereka tidak bisa membantu aku? Bagaimana jika aku merasa lebih buruk setelah pergi ke sana? Bagaimana jika mereka adalah orang jahat?"


"Kita tidak akan pernah tahu kepastian tanpa mencobanya. Dan dokter bukanlah orang jahat. Aku akan selalu bersamamu di setiap langkah, dan akan menemanimu ke dokter untuk memberikan dukungan dan memastikan bahwa kamu merasa nyaman. Kita akan menemukan solusi bersama."


"Baiklah, Mas Abi. A-ku, Ajeng akan mencoba pergi ke dokter, tapi hanya jika kamu menemaniku."


Abiyasa tersenyum penuh haru mendengar jawaban yang diberikan oleh istrinya. "Tentu saja, Ajeng. Aku akan selalu ada untukmu. Kita akan melewati ini bersama."


Setelahnya, Abiyasa kembali memeluk Ajeng untuk memberinya kenyamanan.


Tapi di luar dugaan, Abiyasa melihat masa depan Ajeng saat menyentuh tangannya. Dia melihat bagaimana Ajeng yang berusaha untuk bunuh diri akibat depresi setelah kejadian ini dan kehilangan mamanya yang meminum racun secara tidak sengaja seberapa hari kemarin, karena ingin meracuni Abiyasa. Ajeng merasa bersalah atas apa yang terjadi pada mamanya, yang selalu ingin mencelakai Abiyasa.


Saat Abiyasa ingin memastikan penglihatan nyata di, dia kembali menyentuh tangan Ajeng. Tapi penglihatan yang tetap sama. Dia merasa seolah-olah ia dapat melihat masa depan Ajeng. Dia melihat bagaimana Ajeng sedang berjuang melawan depresi setelah kejadian traumatis yang baru saja dialaminya. Abiyasa juga melihat bagaimana Ajeng merasa bersalah atas kematian ibunya yang ingin mencelakai Abiyasa dengan cara meracuninya.


Abiyasa merasa sangat prihatin dan khawatir tentang masa depan Ajeng yang mungkin akan lebih buruk. Ia ingin melakukan segala yang ia bisa untuk membantu Ajeng mengatasi rasa bersalah dan trauma yang ia alami. Abiyasa berjanji akan selalu mendukung Ajeng dan membantunya dalam proses penyembuhan. Ia juga berencana untuk mencari bantuan profesional dari psikolog dan terapis yang berpengalaman untuk membantu Ajeng mengatasi masalah mentalnya.


Abiyasa merasa sedih dan kecewa bahwa Ajeng harus melewati semua ini. Namun, ia tetap bertekad untuk selalu menjadi pendukung Ajeng, dan akan melakukan apapun yang ia bisa untuk membantu Ajeng bangkit dari rasa takut dan trauma yang sedang dialaminya.

__ADS_1


***


Setelah Abiyasa melihat masa depan Ajeng dan menyadari bahwa Ajeng sedang berjuang dengan depresi dan trauma yang dalam, Abiyasa merasa bertanggung jawab untuk membantu Ajeng agar ia tidak sampai melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri seperti bunuh diri.


Abiyasa segera mengambil tindakan dengan mencari bantuan dari para ahli seperti psikolog, psikiater dan terapis untuk membantu Ajeng mengatasi masalah mental yang ia alami. Ia juga memastikan bahwa Ajeng mendapatkan perawatan medis yang diperlukan untuk membantunya pulih dari trauma yang dialaminya.


Selain itu, Abiyasa selalu ada untuk Ajeng, mendukung dan menemaninya di setiap langkah yang diambilnya. Ia memastikan Ajeng merasa didengar, dipahami dan dicintai. Abiyasa berusaha memberikan waktu dan perhatian yang cukup kepada Ajeng serta menunjukkan bahwa ia selalu ada untuk Ajeng, baik dalam kebahagiaan maupun kesedihan.


Abiyasa juga berbicara secara terbuka dengan Ajeng tentang masalah yang sedang dialami, memberikan dukungan dan memastikan bahwa Ajeng merasa didengar dan dihargai. Abiyasa berusaha membantu Ajeng menyelesaikan masalah dan memotivasi Ajeng untuk bangkit dari rasa takut dan trauma yang sedang dialaminya.


"Sayang, aku tahu kalau kejadian yang terjadi pada kita membuat kamu merasa sangat tertekan. Tapi, aku ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian dan ada aku selalu ada untukmu." tegas Abiyasa dengan menatap secara penuh ke arah Ajeng.


"A-ku, aku takut, Mas Abi. A-ku takut ke dokter dan nggak bisa sembuh." Ajeng berkata dengan gugup.


Abiyasa menangkup kedua sisi wajah Ajeng dengan kedua tangannya. "Jangan takut, sayang. Dokter spesialis dan psikiater yang aku temukan ini bisa membantu kita mengatasi masalah ini bersama-sama. Aku yakin mereka akan membantu kita merasa lebih baik."


"Ta-pi, aku merasa bersalah. A-ku selalu merasa seperti ini semua adalah salahku dan aku nggak tahu bagaimana cara mengatasinya." Ajeng masih diliputi dengan perasaan bersalah.


Abiyasa mengeleng. "Sayang, kamu nggak bersalah. Kamu tidak tahu kalau jus yang dimasukkan oleh mamamu ke dalam gelas itu beracun. Dan kamu tidak punya niat untuk mencelakai siapapun. Jangan terlalu berat untuk menanggung beban ini sendirian."


Ajeng terisak-isak mengingat kembali kejadian itu. "Hiksss hiks hiks... Ta-pi, tapi bagaimana dengan mama, Mas Abi? Dia meninggal akibat racun yang mama minum sendiri. Apakah ini juga kesalahan Ajeng? Apa ini karena Ajeng tidak mau menuruti keinginan mama?"


Rasa bersalah Ajeng karena merasa bahwa apa yang dilakukan oleh mamanya, semuanya karena dia tidak menuruti keinginan mamanya yang ingin dia berpisah dengan Abiyasa kemudian memilih Alex.


"Mama Endang pergi karena suatu hal yang di luar kendali kita, sayang. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa membuat keputusan yang baik untuk masa depan. Maukah kamu ikut denganku ke dokter dan kita cari bantuan untuk mengatasi masalah ini? Aku pasti menemanimu."


"Ba-iklah, Mas Abi. A-ku, aku akan mencoba untuk melawan rasa takut dan ikut bersamamu ke dokter."


Abiyasa tersenyum senang mendengar jawaban yang diberikan oleh Ajeng.


"Bagus sekali, sayang. Aku selalu mendukungmu dan kita akan melewati ini bersama-sama."

__ADS_1


Dengan bantuan dari para ahli dan dukungan dari Abiyasa, diharapkan Ajeng semakin kuat dan mampu mengatasi masalah mental yang ia alami. Abiyasa terus berjuang untuk membantu Ajeng memulihkan diri dan membimbingnya menuju masa depan yang lebih baik bersama dengannya.


__ADS_2