
"Sialan kau, paman Rian! Kau benar-benar biadab! Bagaimana kau bisa melakukan ini terhadap kak Aji? Kau tidak berperasaan!"
Abiyasa jengkel dan marah terhadap pamannya, Rian, karena perbuatannya yang menyebabkan cedera parah pada Aji, hingga menghilangkan nyawanya.
"Apa yang kau pikirkan saat menusuk? Kau pikir kau bisa melarikan diri tanpa merasakan pembalasanku? Kau akan membayar untuk apa yang kau lakukan!"
Abiyasa mengutuk Rian dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas sebagai bentuk ekspresi kemarahan dan ketidakpuasannya.
"Paman Rian, kutukan terburuk bagimu! Kau telah menghancurkan hidup keluarga kami. Kau tidak layak hidup! Setiap tetes darah kak Aji, akan menjadi kesakitan untuk hidupmu!"
Abiyasa mengeluarkan semua emosinya melalui kata-kata yang kasar. Dia tidak peduli dengan beberapa orang yang kebetulan lewat dan melihat keadaannya. Dia tidak peduli dengan apapun.
Setelah emosinya mulai mereda dan bisa menguasai diri, Abiyasa memberikan instruksi pada anak buahnya yang memang sudah datang tapi ada pada jarak aman untuk mengurus urusan rumah sakit terkait prosedur jenasah Aji yang meninggal dunia.
"Tolong kalian urus semua urusan rumah sakit. Pastikan semuanya berjalan dengan baik dan benar!"
"Siap, Pak Abi!"
Abiyasa segera pergi ke hotel di mana Rian sedang ditahan oleh Indra. Dia ingin menemui Rian untuk menghadapinya langsung dan melampiaskan kemarahannya.
Abiyasa tiba di hotel dan langsung menuju ke ruangan di mana Rian ditahan. Dia berjalan dengan langkah tegap dan penuh kemarahan.
Sesampainya di ruangan itu, Abiyasa menemui Rian yang duduk di kursi dengan penjaga keamanan di sekitarnya. Emosi marah yang menggebu-gebu terpancar dari wajah Abiyasa.
Bug bug bag bug
"Argh... uhhh!
"Paman Rian! Kau benar-benar jahat! Kau telah mengambil nyawa kakakku! Aku akan memastikan kau membayar setimpal atas perbuatanmu ini!" teriak Aji dengan memukuli pamannya.
Abiyasa dengan penuh kemarahan dan ketidakpuasan, berusaha melampiaskan emosinya dengan kata-kata yang tajam dan tegas serta memberikan pukulan-pukulan untuk melampiaskan kemarahannya.
Bug bug bug
"Kau pikir kau bisa melarikan diri dariku? Kau salah besar! Aku akan memastikan kau mendapat ganjaran yang setimpal atas apa yang telah kau lakukan!"
Abiyasa, dengan suara penuh kemarahan, berteriak lagi. "Paman Rian, kau benar-benar tidak memiliki rasa bersalah, bukan? Bagaimana kau bisa dengan seenaknya membunuh, kak Aji? Kau mau mengejek aku setelah apa yang telah kau lakukan?"
Rian tersenyum dengan nada sinis. "Oh, kasihan sekali Abiyasa. Kakakmu memang lemah dan mudah ditaklukkan. Aku hanya memberinya apa yang seharusnya dia dapatkan."
__ADS_1
Mendengar perkataan pamannya, Abiyasa yang sudah berusaha menahan emosi sekuat-kuatnya, akhirnya kembali meledak dengan kemarahan dan kekecewaan yang tidak dapat disembunyikan.
"Rrrghhh..."
Bug bug
Brakkk
"Kakakku tidak akan pernah kembali karena tindakanmu! Kau telah menghancurkan keluarga kami! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Sayangnya, meskipun sudah dihajar oleh Abiyasa, bukannya merasa bersalah Rian justru mengejeknya dengan meremehkan. Hal ini membuat Abiyasa semakin emosi.
"Hehhh... hahaha..."
Rian justru tertawa dengan sinis.
"Korban? Apa maksudmu? Aku hanya membantu Aji menemukan tempat yang seharusnya dia tempati. Kau tidak tahu apa-apa! Cuihhh!"
Abiyasa semakin marah.."Kau tidak memahami apa-apa! Kakakku adalah korban dari kebiadabanmu. Tindakanmu tidak dapat dibenarkan!"
Dengan menggertakkan gigi, Abiyasa kembali mengangkat pamannya dengan mencengkeram kuat rahangnya.
Bukannya takut, Rian justru berkata dengan sombong. "Keadilan? Jangan berharap terlalu banyak, Abiyasa. Aku tidak takut pada ancamanmu. Coba saja sebisamu."
Situasi semakin tegang antara Abiyasa dan Rian, sebab pamannya itu dengan sengaja mengejek dan meremehkan Abiyasa, yang memicu kemarahan dan kekecewaannya.
"Br3ngs3k!"
Tag bug dug bug
Tubuh Rian terjerembab dan roboh. Tapi semua perlakuan Abiyasa tidak membuatnya takut dan merasa bersalah. Rian juga tidak minta maaf pada Abiyasa atas semua yang sudah dia lakukan sehingga menghilangkan nyawa Aji.
Abiyasa kalap dan memberikan pelajaran pada Rian. Sedangkan Indra dan anak buahnya diam saja melihat bagaimana Abiyasa yang sedang melampiaskan kemarahannya. Indra tahu jika Rian memang sudah sangat keterlaluan.
Tiba-tiba Nona Anna datang ke kamar yang digunakan untuk menahan Rian. Dia panik melihat Abiyasa yang menghajar Rian sehingga cepat menarik tangan Abiyasa dan menciumnya upaya berhenti. Dia tidak mau jika Abiyasa melakukan tindak kekerasan sehingga membunuh Rian.
Nona Anna dengan suara panik dan cepat berlari. "Pak Abiyasa, berhenti! Jangan lakukan ini! Kekerasan tidak akan memperbaiki apa pun. Kita harus menyerahkan kasus ini kepada hukum dan memastikan keadilan tercapai."
Nona Anna, yang panik dan prihatin dengan situasi yang sedang berlangsung, dengan cepat mendekati Abiyasa untuk menghentikan tindakan kekerasan tersebut. Ia mencoba menarik tangan Abiyasa dan menciumnya sebagai tanda untuk menghentikan serangan-serangan yang dilakukan oleh Abiyasa. Dia tidak mau jika Abiyasa menjadi seorang pembunuh.
__ADS_1
Abiyasa yang dalam keadaan marah dan bingung tidak mau mendengar. "Tapi dia... dia telah membunuh kakakku, Aji! Dia pantas mendapatkan hukuman!"
"Aku tahu, Pak Abiyasa, dan aku mengerti betapa sakit hatimu. Tetapi membunuhnya tidak akan mengembalikan Aji atau membawa keadilan. Mari kita mengikuti jalur hukum yang benar dan memastikan dia bertanggung jawab atas perbuatannya."
Nona Anna berusaha menjaga ketenangan dan memberikan pemahaman kepada Abiyasa, serta mengingatkan mereka tentang pentingnya mematuhi hukum.
"Tidak! Dia sudah sering membeli hukum. Aku tidak akan pernah membiarkannya lolos lagi!"
Greppp
Cup cup...
"Ehhh... ummhh"
Abiyasa kaget dan akhirnya sadar setelah dicium Nona Anna. Tapi dia berusaha menolak perlakuan dan simpati Nona Anna dengan melepaskan pelukan Nona Anna. Dia segera berbalik dan meminta pada Indra untuk mengurus Rian. Dia akan segera ke rumah sakit mengurus jenazah kakaknya.
"Maaf, Nona Anna."
"Indra, urus paman! Aku akan kembali ke rumah sakit." Abiyasa memberikan perintah pada Indra.
Abiyasa kembali berkata dengan suara sedih dan tegar. "Indra, aku minta tolong untuk mengurus paman Rian. Aku harus segera pergi ke rumah sakit untuk mengurus jenazah kakakku."
Indra hanya mengangguk mengiyakan. Dia akhirnya mengurus Rian tapi juga menenangkan Nona Anna yang tersinggung dengan penolakan Abiyasa.
Nona Anna, yang tersinggung dengan penolakan Abiyasa, merasa perlu untuk menjelaskan maksud baiknya dan memberikan dukungan kepada Abiyasa.
"Tunggu, pak Abiyasa! A-ku hanya mencoba membantu dan mencegah lebih banyak kekerasan terjadi. Aku peduli padamu dan keluargamu. Mohon terimalah dukunganku dalam situasi ini."
Indra, yang sadar akan situasi yang sensitif, mencoba menenangkan Nona Anna sambil memastikan Rian akan ditangani dengan baik.
"Nona Anna, saya mengerti bahwa Mas Abiyasa sedang mengalami banyak emosi saat ini. Mari kita saling mendukung dalam mengatasi situasi ini dengan cara yang terbaik. Saya akan mengurus Pak Rian dengan bijaksana dan memastikan keadilan Anda tolong tenang ya?"
"T-api, tapi dia menolakku. Dia mengabaikan aku, Indra!"
Orang seperti Nona Anna, yang tidak pernah mendapatkan penolakan tentu saja tersinggung dengan sikap Abiyasa yang dingin tadi. Dia tidak sadar jika situasi yang terjadi saat ini berbeda dengan keadaan yang biasanya normal.
"Aku kecewa."
Meskipun tidak begitu jelas, tapi Indra mendengar dengan baik perkataan Nona Anna yang sedang dalam keadaan kecewa.
__ADS_1