Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Kerja Cepat


__ADS_3

"Bos, aku ingin memberitahumu bahwa rencana kita berhasil. Perawat yang kita bayar berhasil menyuntikkan racun ke dalam tabung infus Ajeng."


Ruhian datang ke apartemen Aji, melaporkan keberhasilan tugasnya. Perawat wanita yang telah dia ajak kerjasama, memang tidak tahu nomor ponsel Aji atau tahu tentang Aji. Ini murni dari Ruhian, agar keamanan Aji terjaga. Jadi perawat tersebut hanya bisa berhubungan dengan Ruhian sebagai orang yang memberinya tugas.


"Bagus sekali! Akhirnya kita bisa menyingkirkan Ajeng dan membuat Abiyasa merasa tidak tenang. Hahaha..."


Aji tertawa terbahak-bahak mendengar laporan yang disampaikan oleh Ruhian. Dia puas dengan hasil tugas Ruhian kali ini.


"Ta-pi ada sedikit masalah, Bos."


Kening Aji mengerut saat mendengar perkataan Ruhian yang ragu untuk bicara. Dia perlu tahu, apa yang menjadi masalah tersebut. "Apa masalahnya?" tanya Aji.


"Sepertinya, kasus kematian Ajeng ini akan berlanjut dan diselidiki. Abiyasa tidak mungkin diam tanpa melakukan penyidikan, Bos. Jadi, kita harus tetap hati-hati."


Aji menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang dikatakan oleh Ruhian. Dia juga tidak mau jika aksinya ini ketahuan lagi, sehingga semua rencana yang sudah berjalan ini akan berantakan.


"Tapi sekarang kita harus berhati-hati. Polisi pasti akan mencari pelaku yang bertanggung jawab atas kematian Ajeng."


"Pasti, Bos. Perawat itu sudah aku minta untuk cuti atau keluar kerja saja untuk sementara waktu, dengan alasan jaga ibunya yang sedang sakit." Ruhian menjelaskan.


"Jangan khawatir, kita sudah mengambil tindakan pencegahan yang cukup. Kita akan menangani situasi ini dengan cerdas dan tidak akan tertangkap."


Aji berkata dengan tenang untuk melanjutkan rencana mereka selanjutnya. Dia akan terus melakukan teror yang membuat adiknya merasa tertekan secara mental tanpa sadar.


"Baiklah, aku percaya padamu Bos. Tapi kita harus lebih berhati-hati, karena adikmu sekarang bukan seperti yang dulu."


Mendengar peringatan Ruhian, Aji tersenyum masam. Dia tahu jika saat ini posisi Abiyasa tidak lagi seperti dulu. Abiyasa yang sekarang sudah memiliki nama dan kedudukan untuk kalangan atas dan para pembisnis. Ada kekuatan dan kekuasaan yang pastinya di belakang Abiyasa.


"Tentu saja. Kita akan merencanakan cara baru untuk menyingkirkan Abiyasa." Tegas Aji.

__ADS_1


***


Suasana pemakaman Ajeng terasa sangat sedih dan penuh kesedihan. Banyak kerabat, teman, dan orang yang mencintai Ajeng berkumpul di sekitar tempat pemakaman. Bunga-bunga, karangan bunga, dan peralatan pemakaman lainnya sudah disiapkan untuk menghormati dan mengenang Ajeng.


Abiyasa, suami Ajeng, merasa sangat sedih dan terpukul atas kehilangan istrinya. Dia duduk di dekat peti mati Ajeng, dengan kepala tertunduk dan mata yang penuh air mata.


"Ajeng... hahhh..."


Terdengar helaan nafas panjang setiap kali Abiyasa menyebut nama istrinya. Dia tidak tahu bagaimana keadaan dirinya saat ini.


"Mas, yang sabar. Kita akan menyelesaikannya semuanya secepat mungkin."


Indra mencoba untuk menenangkan dan memberikan dukungan pada Abiyasa, dengan menyentuh bahunya dan memberikan kata-kata penghiburan.


Suasana pemakaman terasa sangat sedih, namun juga penuh dengan keharuan di saat orang-orang berbagi cerita dan kenangan tentang Ajeng. Baik dari teman, mahasiswanya ataupun orang-orang yang mengenalnya.


'Bu Ajeng itu sabar, gak galak dan gak buru-buru jika kasih tugas.'


'Mbak Ajeng itu orangnya ramah. Dia juga gak sombong, dengan membedakan mana tukang parkir atau dosen. Dia baik bener.'


Banyak orang merasa terinspirasi oleh hidup Ajeng dan bagaimana dia mempengaruhi orang-orang di sekitarnya.


Kisah tragis ini bermula dari dendam yang dipendam oleh Aji terhadap adiknya, Abiyasa. Dendam itu sangat dalam sehingga dia rela melakukan segala cara untuk menghancurkan adiknya, bahkan jika itu berarti membunuh orang yang dicintai Abiyasa, yaitu istrinya Ajeng.


Aji menugaskan Ruhian, orang suruhannya, untuk meracuni Ajeng dengan cara menyuntikkan cairan racun ke dalam tabung infus yang digunakan Ajeng. Tapi melalui tangan perawat yang sedang terdesak oleh keadaan karena kekurangan uang.


Saat ini, Abiyasa merasakan kehilangan yang besar, yang tidak mampu dia terima dengan mudah. Ia merasa sedih, kecewa, dan marah pada orang yang bertanggung jawab atas kematian istrinya.


Setiap kali ia melihat foto Ajeng atau mengingat kenangan indah bersama, rasa sakit itu kembali lagi. Abiyasa merasa dirinya telah kehilangan segalanya. Kematian Ajeng telah membawa dampak yang besar pada hidupnya. Selain merasa sedih dan kecewa, Abiyasa juga merasa marah dan frustasi.

__ADS_1


"Ajeng, aku akan memberikan keadilan untukmu. Aku pasti akan mencari cara untuk menemukan dalang di balik semua ini."


Abiyasa marah, apalagi saat dia duduk di samping tempat tidur Ajeng yang kosong, sambil memandangi fotonya yang berada di atas meja. Air mata mengalir di pipinya dan ia merasakan kekosongan yang mendalam di dalam hatinya. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ajeng telah pergi.


Namun, di balik kesedihannya, Abiyasa memiliki tekad untuk menemukan siapa pelaku di balik kematian Ajeng dan memberikan keadilan bagi istrinya. Dia bersumpah untuk tidak berhenti sampai dia menemukan pelakunya dan menghukumnya sesuai dengan hukum yang berlaku. Ini menjadi sumber motivasi bagi Abiyasa untuk terus berjuang dan mencari kebenaran.


Pada saat yang sama, di tempat lain, Aji merasa puas dengan tindakannya. Dendamnya terhadap adiknya telah terbalaskan.


Aji merasa senang karena rencananya berhasil. Dia menunggu dengan sabar untuk mendapatkan berita tentang kematian Ajeng yang bisa membuat adiknya hancur.


***


Sesuai dengan permintaan Abiyasa, Indra langsung menyelidiki kebenaran tentang kematian Ajeng. Mulai dari laporan penyebab kematiannya, dan obat apa saja yang terakhir dikonsumsi oleh Ajeng.


Indra juga mengecek semua rekaman cctv yang ada di beberapa sudut rumah sakit, yang ada di sekitar kamar rawat inap Ajeng supaya bisa mengetahui situasi dan kondisi serta keadaan saat Ajeng dinyatakan meninggal dunia malam dini hari.


"Tolong cek beberapa karyawan yang bertugas malam itu." Indra juga meminta tim-nya untuk memeriksa semua karyawan rumah sakit yang bersangkutan dengan Ajeng pada malam itu.


"Dokter dan juga security-nya!"


Indra pembeli berteriak pada anak buahnya supaya tidak lupa memeriksa dokter dan juga security yang berjaga. Dia tidak mau melewatkan satu hal kecil yang kemungkinan akan menjadi penyebab dari kematian Ajeng.


Dalam hal ini, Indra sebenarnya bukanlah seorang polisi atau ahli penyidik. Tapi dirinya yang sudah lama ikut bersama dengan Abiyasa, sudah terbiasa dengan keadaan yang penting dan penting. Dia cepat belajar sehingga bisa melakukan apa saja demi dukungan Abiyasa.


"Sebuah sudah ada dalam chip ini, pak Indra."


Indra menerima chip khusus untuk memuat semua data-data yang diperlukan. Anak buahnya Indra bekerja dengan cepat, karena mereka juga memiliki banyak koneksi diberbagai bidang.


"Terima kasih. Saya akan menghubungi lagi jika perlu sesuatu. Untuk pembayaran akan segera ditransfer hari ini."

__ADS_1


"Sip, pak Indra. Senang bekerja sama dengan Anda, dan semoga semuanya segera terungkap."


__ADS_2