Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Malu Mengakui


__ADS_3

Abiyasa meminta pada Indra untuk menyelidiki kasus kebakaran yang terjadi di rumah mertuanya. Dia yakin ada pihak tertentu yang merencanakan ini, sebab dari kemampuannya melihat suatu kejadian, ada sesosok pria menyelinap masuk ke dalam rumahnya melalui loteng dan melakukan sesuatu hingga kebakaran tersebut terjadi seperti konsleting listrik dari kabel atap rumah.


Panggilan telepon Abiyasa segera tersambung dan diterima Indra.


Tut tut tut


..."Ya, halo Mas Abi."...


..."Halo Indra, terima kasih sudah ikut membantu menyelidiki kasus kebakaran di rumah mertuaku."...


..."Tentu saja, Mas Abi. Sudah ada bukti atau informasi yang bisa saya lakukan untuk mempermudah penyelidikan?"...


..."Iya, aku melihat seorang pria menyelinap masuk ke dalam rumah melalui loteng sebelum kebakaran terjadi. Saya curiga ini adalah bagian dari rencana untuk membuat kebakaran ini terjadi. Dan targetnya adalah aku sendiri."...


..."Emhhh... Baik, itu informasi yang sangat berharga. Nanti akan kami mulai dengan memeriksa loteng dan mencari tanda-tanda masuknya orang yang Mas Abi lihat."...


..."Oke, aku pasti akan membantumu dan juga pihak kepolisian."...


..."Iya, Mas Abi. Pertama-tama, kita cek kabel listrik di atap rumah. Mungkin ada kerusakan atau konsleting yang menyebabkan kebakaran."...


..."Bagus, nantinya aku akan menunjukkan kepadamu di mana kabel listrik itu berada. Maksudnya titik terang dari petunjuk yang ada."...


"Saya akan mencari sisa-sisa api juga. Mereka bisa menunjukkan di mana api dimulai dan memberikan petunjuk tentang apa yang mungkin menjadi penyebabnya."


..."Oke, kita bicarakan ini di saat bertemu."...


..."Aku juga akan berbicara dengan para tetangga dan saksi mata lainnya. Mereka mungkin telah melihat aktivitas mencurigakan atau aneh sebelum kebakaran terjadi."...

__ADS_1


..."Baiklah, saya akan mencatat informasi mereka jika mereka memiliki informasi yang berguna. Mungkin juga ada beberapa titik cctv yang bisa digunakan untuk menguatkan informasi ini."...


..."Iya, terakhir nanti, aku akan mencari benda-benda yang terbakar dan mengumpulkan sampel bahan bakar yang digunakan. Analisis forensik dapat membantu menentukan penyebab kebakaran dengan lebih akurat. Tapi aku akan menggunakannya untuk mencari petunjuk juga."...


Kesibukan Abiyasa yang sedang mengirim email dan pesan atau telepon dengan Indra, membuat Ajeng justru merasa kesal karena berpikir jika terabaikan oleh Abiyasa. Padahal dia sedang mode cemburu pada saat Elok datang menjenguk mereka barusan. Tapi Abiyasa seolah-olah tidak peka dengan perasaan Ajeng sehingga Ajeng uring-uringan sendiri di tempat tidur.


Abiyasa masih duduk di depan laptopnya dengan sibuk mengetik email kepada Indra, sedangkan telepon genggamnya berdering di sebelahnya. Dia merasa terganggu dengan panggilan masuk dan memutuskan untuk tidak menjawabnya.


Tak lama kemudian, Ajeng bangkit dan berjalan menuju ke tempat Abiyasa, duduk di sampingnya Abiyasa. Dia mencoba untuk memulai percakapan dengan suaminya, tetapi Abiyasa sepertinya terlalu sibuk dengan email-nya. Ajeng merasa kesal karena merasa Abiyasa tidak peduli dengan dirinya dan tidak menghargai kehadirannya.


"Sudah berapa lama kamu di sini?" tanya Abiyasa dengan tatapan kosong.


"Kenapa? Apa aku menganggu aktivitas mu?" tanya Ajeng dengan bibir mengerucut.


"Oke, baiklah. Aku hanya sibuk menyelesaikan beberapa email penting dengan Indra. Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?" tanya Abiyasa melirik sekilas ke arah Ajeng.


Ajeng merasa kesal mendengar jawaban suaminya yang seolah-olah meremehkan kehadirannya dan memprioritaskan pekerjaannya daripada dirinya. Namun, dia tidak mengatakan apapun dan hanya memilih untuk diam.


"Oh begitu ya, tapi sebaiknya kamu makan dulu aku akan menyelesaikan ini kemudian menyusul." Abiyasa benar-benar tidak bisa menanggapi dengan baik apa yang dinginkan oleh Ajeng.


"Baiklah," jawab Ajeng dengan wajah sedih, tapi juga masam karena kesal.


"Aku sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada beberapa email dan pesan yang harus dijawab," kata Abiyasa seperti mengerti dan bisa membaca pikirannya Ajeng.


Ajeng merasa semakin kesal mendengar Abiyasa menyebut pekerjaannya sebagai prioritas utama, sementara dia sendiri merasa diabaikan dan tidak dihargai.


Setelah beberapa saat, Ajeng merasa kesal dan marah. Dia memilih untuk pergi ke dapur untuk mencari makanan, meninggalkan yang masih berkutat dengan laptop dan ponselnya di dalam kamar.

__ADS_1


"Dia benar-benar kesal dan cemburu?" tanya Abiyasa dengan menggeleng.


Sementara itu, Abiyasa kembali sibuk dengan pekerjaannya, tetapi akhirnya menyadari bahwa istrinya merasa kesal dan tidak senang. Akhirnya dia pergi ke dapur menyusul Ajeng yang sudah pergi terlebih dahulu. Dia ingin berbicara dengan Ajeng dan memperbaiki situasi yang tidak menyenangkan ini.


Di balkon kamar, Ajeng duduk di kursi yang ada di sana. Ternyata dia tidak pergi ke dapur, sama seperti pada saat dia pamit pada Abiyasa. Dia merasa kesal dan tidak senang dengan Abiyasa yang seolah-olah tidak peduli dengan keberadaannya.


"Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sepertinya dia lebih peduli dengan Indra dan urusannya daripada aku," gumam Ajeng pada dirinya sendiri sambil mengerutkan kening.


"Kenapa dia tidak bisa menghargai kehadiranku di sini? Aku merasa diabaikan dan tidak dianggap penting," tambahnya lagi dengan nada yang meninggi.


"Aku tahu dia punya banyak tanggung jawab dan pekerjaan yang harus diselesaikan, tapi bukankah aku juga penting bagi dia?" lanjut Ajeng sambil merenung, kemudian menghapus air matanya yang hampir mengalir.


"Mungkin aku harus memberitahunya bagaimana perasaanku. Dia harus tahu bahwa aku juga ingin dihargai dan dianggap penting olehnya," ujarnya lagi dengan nada kesal dan hidung yang kembang kempis.


Ajeng merasa frustasi dengan situasinya dan merasa Abiyasa harus menyadari bahwa dia tidak bisa diabaikan seperti itu. Dia merasa perlu untuk berbicara terus terang dengan Abiyasa agar suaminya mengerti perasaannya dan memberikan perhatian yang pantas untuknya.


"Hiksss... ini tidak bisa dibiarkan."


Tapi karena Ajeng malu serta gengsi, Ajeng hanya bisa menahan kekesalan sendiri di balkon ini. Dia mengerucutkan bibirnya dan mendengus dingin serta tidak bisa tenang dengan melihat pemandangan kota yang penuh kemerlip lampu-lampu, yang tempat seperti bintang-bintang di langit.


Ajeng duduk sendirian, masih merasa kesal dan tidak senang dengan Abiyasa yang seolah-olah tidak memperhatikannya. Dia merasa malu untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung pada Abiyasa karena takut dikatakan terlalu cemburu dan merasa tidak bisa bersikap dewasa.


Namun, kekesalan Ajeng semakin memuncak sehingga dia tidak bisa tenang. Bibirnya mengerucut dan dia mendengus dingin, menunjukkan rasa kesal yang terpendam.


Dia berpikir, "Mengapa Abiyasa tidak menyadari betapa pentingnya aku bagi dia? Apakah dia benar-benar lebih peduli dengan pekerjaannya daripada keluarganya sendiri?"


Kesal dan frustrasi, Ajeng terus memikirkan situasi ini dengan kebingungan. Dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Abiyasa dan membuat suaminya memperhatikannya tanpa terlihat terlalu cemburu.

__ADS_1


Meskipun merasa tidak nyaman dengan situasi ini, Ajeng masih terus menahan kekesalannya sendiri dan tidak berbicara tentang perasaannya pada Abiyasa. Dia berusaha untuk tetap tenang meskipun merasa tidak adil dengan situasi ini.


Sebenarnya Abiyasa memperhatikan semua gerak gerik yang dilakukan Ajeng, melalui kamera laptop yang sedang on. Abiyasa tersenyum tipis melihat bagaimana Ajeng yang bergerak gelisah karena kesal dengannya. Dalam hati Abiyasa tersenyum-senyum sendiri, bersorak-sorak senang dengan perubahan sikap Ajeng yang pada kenyataannya sedang cemburu atas kedatangan Elok tadi.


__ADS_2