
Tadi, saat Abiyasa duduk di depan laptop, dia melihat semua gerak gerik yang dilakukan Ajeng melalui kamera laptop yang sedang aktif. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Ajeng mengerucutkan bibirnya dan mendengus dingin karena kesal dengannya.
Namun, Abiyasa justru tersenyum tipis melihat reaksi Ajeng. Dia merasa senang dengan perubahan sikap Ajeng yang cemburu atas kedatangan Elok tadi. Bagi Abiyasa, ini menunjukkan bahwa Ajeng secara tidak langsung sudah memberitahu jika dia memiliki perasaan dan perhatian padanya.
Atau bisa juga dikatakan bahwa Ajeng sudah mulai mencintainya dan memperhatikannya.
"Ini moment langka," gumam Abiyasa samar sehingga tidak bisa didengar oleh Ajeng.
Dalam hati Abiyasa bersorak-sorai senang dengan situasi ini. Dia merasa sedikit puas dengan membuat Ajeng cemburu dan mengakui bahwa dia sangat menikmati momen ini.
Namun, Abiyasa juga menyadari bahwa dia harus memperhatikan perasaan Ajeng dan tidak membiarkan kecemburuan Ajeng berlarut-larut. Dia merasa perlu untuk berbicara dengan Ajeng dan menjelaskan situasi sebenarnya agar Ajeng tidak merasa terabaikan atau tidak dihargai.
Abiyasa berpikir, "Aku harus berbicara dengan Ajeng dan membuatnya merasa dihargai. Aku tidak ingin membuatnya merasa tidak aman atau tidak nyaman dalam hubungan kita."
Meskipun senang dengan situasi ini, Abiyasa tahu bahwa dia harus bertindak dewasa dan bertanggung jawab atas perasaan Ajeng yang sedang tidak baik-baik saja. Dia akan memastikan bahwa hubungan mereka tetap sehat dan bahagia.
Akhirnya Abiyasa beranjak dari tempat duduknya, berjalan keluar menuju ke arah dapur, bermaksud untuk menyusul dan mengajak Ajeng berbicara. Tapi Ajeng tidak ada, sehingga dia kembali berjalan mencari-cari keberadaan istrinya yang ternyata tidak menuju ke dapur.
"Ternyata dia ada di sana."
Bayangan Ajeng yang duduk seorang diri di balkon, terlihat jelas dari balik jendela kaca. Abiyasa mendekat, mau melihat lebih jelas jika istrinya itu sedang cemburu sehingga pura-pura kesal dan jengkel dengan caranya.
Samar-samar Abiyasa justru mendengar gumamam Ajeng yang sedang kesal dan jengkel dengannya.
'Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sepertinya dia lebih peduli dengan Indra dan urusannya daripada aku.'
__ADS_1
'Kenapa dia tidak bisa menghargai kehadiranku di sini? Aku merasa diabaikan dan tidak dianggap penting.'
'Aku tahu dia punya banyak tanggung jawab dan pekerjaan yang harus diselesaikan, tapi bukankah aku juga penting bagi dia?'
'Mungkin aku harus memberitahunya bagaimana perasaanku. Dia harus tahu bahwa aku juga ingin dihargai dan dianggap penting olehnya.'
'Hiksss... ini tidak bisa dibiarkan.'
'Mengapa Abiyasa tidak menyadari betapa pentingnya aku bagi dia? Apakah dia benar-benar lebih peduli dengan pekerjaannya daripada keluarganya sendiri?'
"Ehem... ehem!"
Ajeng cepat menoleh ke arah datangnya Abiyasa. Wajahnya tampak jelas pucat, di bawah penerangan lampu balkon kamar yang terang. Jadi Abiyasa tahu jika Ajeng terkejut dengan kedatangannya.
Abiyasa menghampiri Ajeng yang sedang duduk membeku, tidak berani bergerak karena gugup. Apalagi Abiyasa menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang. "Sayang, kenapa kamu kesal?" tanya Abiyasa dengan lembut, kemudian duduk di sebelahnya Ajeng.
Abiyasa memahami betul sikap Ajeng yang gugup tapi masih mode on sedang kesal dan mencoba untuk meredakan perasaannya. "Tidak, sayang. Aku bisa merasakan bahwa kamu sedang kesal dengan aku. Ada apa sebenarnya?" tanya Abiyasa menebak tapi juga pura-pura tidak tahu penyebabnya.
Ajeng masih tidak mau mengakui perasaannya dan terus pura-pura kesal pada Abiyasa. "Tidak ada yang salah. Aku hanya merasa sedikit diabaikan, itu saja," jawabnya singkat.
Abiyasa merasa tidak nyaman dengan situasi ini dan mencoba untuk memperjelas apa yang sebenarnya terjadi. "Sayang, aku tahu kamu tidak sedang marah padaku. Aku bisa melihat bahwa kamu sedang cemburu pada Elok yang datang tadi. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa kamu adalah istriku. Kedudukannya jauh lebih tinggi dibanding dengan Elok yang hanya temanku saja."
"Lagipula, siapa yang berani menggantikan posisimu di sini?" imbuhnya dengan pertanyaan, sedangkan jari tangan Abiyasa menunjuk ke arah dadanya sendiri.
Ajeng terdiam sejenak dan memandang Abiyasa dengan tatapan terkejut dan tidak percaya begitu saja. Tapi saat melihat manik mata suaminya, tatapan mata Ajeng mulai agak lembut. Dia merasa sedikit lega karena Abiyasa bisa membaca perasaannya dengan benar. Tapi di saat sadar, Ajeng langsung membuang mukanya dengan pucat berganti dengan merah karena tersipu malu-malu.
__ADS_1
"Aku tahu jika kamu hanya merasa sedikit cemburu karena aku terlihat sangat akrab dengan Elok. Tapi aku tahu jika itu tandanya kamu juga memiliki perasaan yang sama seperti aku, bukan?"
Abiyasa tersenyum dan menggenggam jemari tangan Ajeng erat-erat. "Tentu saja, sayang. Kamu tidak perlu menegaskan, karena kamu adalah istriku yang aku cintai dan aku tidak akan pernah membuatmu merasa tidak dihargai atau tidak aman dalam hubungan kita," ucapnya berjanji.
Ajeng tersenyum dan merasa senang karena Abiyasa bisa menghargai perasaannya. Mereka saling menggenggam tangan, dan Abiyasa membawa genggaman tangan tersebut ke depan wajahnya, mencium punggung tangan Ajeng dengan lembut. Membuat Ajeng memutuskan kontak mata dan menundukkan wajahnya malu.
Perlahan tapi pasti, Abiyasa memajukan wajahnya, kemudian mencium kening istrinya berkali-kali. Setelahnya tanpa dikomando, entah siapa yang memulai, mereka berdua sudah berciuman dengan penuh kasih sayang dan keduanya sama-sama berjanji untuk selalu memperhatikan perasaan masing-masing agar tidak ada kesalahpahaman antara mereka berdua.
Setelah itu, mereka berdua mulai berbicara, Abiyasa merasa perlu mengatasi ketegangan antara dirinya dan Ajeng. Dia ingin menunjukkan perhatiannya dan memperbaiki situasi agar Ajeng merasa lebih baik dan tidak kesal lagi.
"Masih kesal?" tanya Abiyasa dengan menatap lekat gadis didepannya, yang sudah menjadi istrinya sejak tujuh bulan yang lalu.
Ajeng diam saja dan tidak berani melihat ke arah suaminya. Dia malu karena bersikap seperti anak-anak.
Abiyasa mulai mendekatkan tubuhnya pada Ajeng dengan senyum hangat di wajahnya, kemudian memeluk tubuh Ajeng erat-erat. "Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Aku hanya terlalu sibuk dengan pekerjaanku," ucap Abiyasa dengan lembut.
Ajeng sedikit terkejut dengan tindakan Abiyasa, tapi dia juga merasa hangat dan tenang dalam pelukan suaminya. Dia membalas pelukan Abiyasa dan merasa lega ketika dia merasakan sentuhan lembut dari suaminya. "Aku juga minta maaf, Mas Abi. Aku tahu kamu pasti sibuk dengan pekerjaan, tapi kadang aku merasa kesepian," ucap Ajeng dengan suara lembut.
Abiyasa mengangguk paham dan mencium kening Ajeng. "Aku tahu, sayang. Aku akan mencoba lebih memberikan perhatian padamu dan membuatmu merasa lebih berarti," ucap Abiyasa.
Ajeng tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya, dia merasa hangat dan merasa dicintai. "Terima kasih, Mas Abi. Aku akan mencoba memahami bagaimana kesibukan-kesibukan yang kamu miliki," ucap Ajeng dengan penuh cinta.
Abiyasa tersenyum dan mencium bibir Ajeng dengan lembut, lagi. "Aku juga mencintaimu, sayang. Dan aku akan selalu ada untukmu," ucap Abiyasa dengan lembut.
Ajeng merasa luluh dengan tindakan dan ucapan suaminya. Dia merasa lebih tenang dan dicintai. Mereka berdua melanjutkan pelukan mereka, merasa lebih dekat dan lebih mencintai satu sama lain.
__ADS_1
Mereka berdua merasa lebih lega setelah saling terbuka satu sama lain, dengan mengungkapkan perasaan yang ada di dalam hati masing-masing dan menekan ego yang merajai keduanya selama ini.