
Setelah melerai pertikaian antara Abiyasa dan Aji, pihak keamanan meminta mereka berdua untuk duduk di pos keamanan dan memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi. Petugas keamanan menyadari bahwa situasi ini sangat serius dan perlu ditangani dengan hati-hati.
"Pertama-tama, saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini," kata petugas keamanan. "Bisa Anda menceritakan kepada saya apa yang terjadi dari awal?"
Abiyasa mulai menceritakan kejadian dari awal, menjelaskan bahwa Aji telah memukulnya dan dia membalas dengan memukul kembali.
"Saya hanya ingin menghentikan kekerasan dan melindungi istri saya dari situasi ini," kata Abiyasa.
Abiyasa juga menjelaskan bahwa ia meminta Aji untuk menghentikan kekerasan tapi Aji tidak mendengarkan dan terus melakukan kekerasan. Abiyasa kemudian menjelaskan bahwa dia takut Ajeng, istrinya yang masih dalam masa pengobatan Psikiater menjadi kambuh jika melihat situasi kekerasan seperti yang terjadi tadi.
"Saya hanya ingin membuat kak Aji menghentikan kekerasan," kata Abiyasa. "Saya takut istri saya menjadi kambuh karena situasi ini."
"Apa yang Anda lakukan?" tanya petugas keamanan.
"Saya memintanya untuk menahan diri supaya tidak berkelahi, tapi dia tidak mau."
Petugas keamanan kemudian meminta Aji untuk memberikan penjelasan dari perspektifnya. Aji terlihat cemas dan terus-menerus berbicara dengan nada yang tinggi.
"Saya hanya membalas pukulan yang Abiyasa berikan kepada saya," kata Aji. "Dia mulai kekerasan dan saya merasa terancam."
Petugas keamanan kemudian menanyakan pertanyaan yang lebih rinci untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang situasi yang terjadi. Pihak keamanan meminta keterangan dari beberapa saksi mata dan melihat rekaman kamera CCTV untuk memahami situasi tersebut dengan lebih baik.
Setelah mempertimbangkan semua keterangan dari kedua belah pihak, petugas keamanan akhirnya menetapkan bahwa Aji lebih bertanggung jawab dalam kejadian ini karena dia telah memicu kekerasan dengan memukul Abiyasa terlebih dahulu. Aji kemudian dikenakan sanksi oleh pihak keamanan dan dituntut bertanggung jawab atas tindakannya.
Sementara itu, Abiyasa diberikan nasihat oleh petugas keamanan untuk tidak menggunakan kekerasan dan mencari cara lain untuk menyelesaikan masalah. Mereka juga memberikan saran agar Abiyasa membawa Ajeng ke konsultasi psikiater jika memang masih mengalami trauma dan perlu diobati.
"Terima kasih, pak. Saya juga baru saja pulang dari psikiater dan mengajak istri saya untuk menyegarkan pikirannya. Tapi kejadian ini justru membuatnya kembali ketakutan."
Abiyasa memeluk Ajeng lebih erat, membuat Ajeng mendongak menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Semua sudah terkendali."
Ajeng hanya mengangguk, tapi dia tidak mau melihat ke arah sekitarnya. Dia belum bisa melihat bagaimana orang-orang yang akan memperhatikan dirinya juga.
Setelah semua tindakan yang dilakukan pihak keamanan, suasana di mal kembali tenang dan aman. Pengunjung merasa lega dan bersyukur bahwa situasi ini segera ditangani dengan baik oleh pihak keamanan.
"Syukurlah, semuanya sudah selesai."
"Iya, kasian istrinya mas yang tadi dipukul lebih dulu ya. Dia jadi ketakutan."
***
Ajeng masuk ke dalam apartemen mereka dengan hati yang berdebar. Ia khawatir dengan keadaan Abiyasa yang terluka. Saat ia melihat suaminya berjalan menuju sofa, ia buru-buru mencari kotak obat untuk mengobati luka-luka yang ada pada tubuh Abiyasa.
"Kamu harus beristirahat dan biarkan aku mengobati luka-luka mu, mas Abi," ujar Ajeng sambil mengambil perban dan obat-obatan dari kotak obat yang ia simpan di dapur.
Sementara itu, Ajeng mulai membersihkan luka-luka yang ada pada tubuh Abiyasa. Ia merasa khawatir karena luka-luka itu terlihat cukup dalam dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Ajeng kemudian memberikan obat untuk mengurangi rasa sakit pada suaminya.
Saat Ajeng mulai membersihkan luka-luka yang ada pada tubuh Abiyasa, suaminya merasa kesakitan dan meringis menahan rasa sakit. Ia mencoba untuk tetap tenang dan menghindari menunjukkan rasa sakitnya pada Ajeng.
Namun, Ajeng bisa merasakan bahwa Abiyasa sedang kesakitan. Ia berusaha untuk memperlambat gerakan tangannya agar tidak menyebabkan rasa perih yang lebih parah pada suaminya. Ia juga memberikan obat untuk mengurangi rasa sakit pada Abiyasa.
"Maafkan aku, mas Abi. Aku tahu ini sakit. Tapi, ini harus dilakukan agar luka-luka kamu bisa cepat sembuh," ujar Ajeng sambil terus membersihkan luka-luka pada tubuh Abiyasa.
Abiyasa hanya mengangguk dan mencoba untuk tetap tenang. Ia merasa beruntung memiliki istri yang begitu perhatian dan peduli dengan kesehatannya. Meski sedikit kesakitan, ia merasa nyaman karena ada Ajeng yang selalu ada di sisinya.
Saat Ajeng mulai memberikan perban pada luka yang ada di lengan Abiyasa, suaminya tiba-tiba merasa sangat kesakitan. Ia meringis dan menahan rasa sakit yang sangat parah. Ajeng kemudian menghentikan gerakannya dan memastikan bahwa Abiyasa merasa nyaman.
"Apakah kamu baik-baik saja, mas Abi?" tanya Ajeng sambil memeriksa luka pada lengan Abiyasa.
__ADS_1
Abiyasa menggelengkan kepala. "Ini sakit sekali, Ajeng. Tapi aku bisa menahannya."
Ajeng hanya mengangguk dan memberikan obat yang lebih kuat untuk mengurangi rasa sakit pada Abiyasa. Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya dan mencoba untuk merawat luka-luka pada tubuh suaminya dengan lebih hati-hati dan lembut.
Ketika Ajeng sedang memberikan perban pada luka yang ada di lengan Abiyasa, suaminya tiba-tiba berkata, "kak Aji itu memang sulit diatur. Ia selalu menimbulkan masalah di mana pun ia berada. Maunya menang sendiri."
Ajeng hanya tersenyum. Ia mengenal Aji sebagai kakaknya Abiyasa yang cukup kejam dan sering membuat masalah. Namun, ia tidak pernah mengira bahwa Aji akan sampai sejauh itu dan menyerang Abiyasa di tempat umum seperti tadi.
Setelah beberapa saat, Ajeng akhirnya selesai merawat luka-luka pada tubuh Abiyasa. Suaminya merasa lega dan berterima kasih pada Ajeng karena sudah merawatnya dengan baik. Ia merasa lebih baik setelah menerima perawatan dari Ajeng dan siap untuk beristirahat.
"Terima kasih, Ajeng. Kamu selalu menjadi yang terbaik untukku," ujar Abiyasa sambil tersenyum pada istrinya.
Ajeng hanya tersenyum dan merangkul suaminya dengan erat. Ia merasa senang bisa membantu suaminya dan berharap agar Abiyasa cepat sembuh dari luka-lukanya.
"Maafkan aku karena tidak bisa melindungi kamu dengan baik," ujar Abiyasa.
Ajeng hanya menggelengkan kepala. "Kamu sudah melakukannya dengan baik, mas Abi. Kamu sudah menyelamatkan aku dari bahaya. Sekarang biarkan aku merawat luka-lukamu."
Mendengar perkataan Ajeng, Abiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya senang. Dia mengelus-elus rambut hitam Ajeng dengan penuh kasih sayang.
Cup
"Terima kasih, sayang."
Ajeng tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari suaminya, yang disertai kecupan singkat pada bibirnya.
"Aku tidak mungkin bisa mengungkapkan rasa terima kasih lebih dari ini untuk saat ini. Tapi jika aku sembuh nanti, kamu harus siap."
Ajeng tersenyum dan menganggukkan kepalanya malu-malu, mendengar perkataan suaminya yang penuh makna barusan.
__ADS_1