
Di tempat lain, Endang berkunjung ke apartemen anaknya, yaitu Ajeng. Saat ini Abiyasa sedang berada di rumah dan tidak mengenakan sarung tangan.
Saat berjabat tangan dengan Endang, Abiyasa mendapatkan penglihatan tentang rencana Endang yang telah bekerja sama dengan Alex dan Rian untuk menghancurkan dirinya.
Sebenarnya, pada saat Endang tiba di apartemen putrinya, Ajeng, sudah terlihat gugup dan cemas. Dia merasa tidak enak karena telah bekerja sama dengan Alex dan Rian untuk menghancurkan Abiyasa, suami dari anaknya sendiri, Ajeng. Tapi karena sedari awal dia juga tidak suka dengan Abiyasa, dia mau saja diajak bekerjasama dengan iming-iming uang yang banyak.
Endang tahu bahwa rencana mereka bisa berisiko dan bahkan berbahaya jika Abiyasa mengetahui tentang itu. Rumahnya yang sedang dibangun Abiyasa bisa-bisa gagal. Tapi demi uang yang dia inginkan, Endang mau-mau saja tanpa berpikir lebih jauh.
Setelah berbicara dengan Ajeng, Endang duduk di ruang tamu menunggu Abiyasa datang. Beberapa menit kemudian, Abiyasa keluar dari dalam kamar dan berjalan ke arah Endang untuk bersalaman.
"Mama Endang. Bagaimana kabarnya?" tanya Abiyasa berbasa-basi.
Endang tersenyum tipis mendengar pertanyaan tersebut. "Baik-baik saja, Abiyasa. Mama, mama hanya mampir saja tadi."
Abiyasa berusaha untuk tetap tenang, meskipun melihat kegugupan dan kecanggungan mama mertunya. "Tidak apa-apa. Abi senang Mama mau datang berkunjung. Maaf, Abi justru tak pernah datang ke apartemen Mama."
Saat mereka berjabat tangan, tiba-tiba Abiyasa merasa aneh. Dia merasakan sensasi aneh pada telapak tangannya, seolah-olah ada sesuatu yang tidak beres. Banyak sekali kejadian yang berputar-putar memperlihatkan gambaran-gambaran yang berbeda-beda.
Abiyasa merasa ada sesuatu yang tidak beres dan memutuskan untuk segera memakai sarung tangannya lagi untuk menetralkan kemampuannya. Dia tahu bahwa mulai sekarang dia harus lebih waspada karena merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan apa yang dilihatnya tadi.
Setelah berbincang-bincang sejenak, Endang mengucapkan terima kasih dan segera pamit untuk pulang lebih cepat dan tidak ada drama seperti biasanya jika dia datang berkunjung.
"Mama balik dulu ya, Ajeng, Abi."
"Iya, Ma. Hati-hati," sahut Ajeng memeluk dan mencium pipi mamanya.
__ADS_1
"Mama balik dulu ya, Abi."
Tapi saat pamit pulang pada Abiyasa, Endang menyalami tangan Abiyasa cepat dan segera ditarik kemudian segera pulang.
Setelah Endang pergi, Abiyasa berpikir bahwa dia merasakan sensasi aneh pada telapak tangannya ketika berjabat tangan dengan Endang. Dia tiba-tiba menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan memutuskan untuk berhati-hati dengan orang-orang di sekitarnya.
Dengan kepala yang diputar-putar, Abiyasa berusaha memikirkan siapa yang mungkin menjadi dalang di balik rencana untuk menghancurkan dirinya. Dia tahu bahwa dia harus tetap waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Dia merasa bahwa hidupnya sedang terancam dan harus melakukan segala yang mungkin untuk melindungi dirinya dan perusahaannya. Sebab kali ini bukan hanya dari satu kubu, tapi ada dua kubu yang menargetkan dirinya.
***
Hari ini Endang datang tiba-tiba datang ke kantor Abiyasa, dia bermaksud untuk menagih janji Abiyasa, yang katanya akan segera membangun rumahnya lagi setelah kebakaran waktu itu.
Endang datang ke kantor Abiyasa dengan perasaan cemas dan gelisah. Dia telah menunggu kesempatan yang tepat untuk menagih janji Abiyasa untuk membangun rumahnya kembali setelah kebakaran yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Dia tahu bahwa Abiyasa sudah mengirim bahan-bahan baku untuk pembangunan rumahnya.
"Siang, Abiyasa. Mama, Mama datang."
Endang membuka mulutnya untuk mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. "Aku datang untuk menanyakan mengenai rumahku. Apakah pembangunannya bisa dipercepat? Mama sudah rindu untuk tinggal di rumah sendiri."
"Hemmm iya, Abi masih ingat. Bukannya bahan baku untuk pembangunan rumah sudah datang? tinggal menunggu kontraktor dan tenaganya saja. Mereka akan segera mengerjakannya. Mama tenang saja."
Abiyasa menenangkan Endang supaya tidak usah terlalu khawatir dengan pembangunan rumahnya. Dia akan membuat rumah itu kembali baik, bahkan lebih baik dari yang kemarin.
Awalnya, Rian yang menyanggupi pembangunan rumahnya Endang. Tapi ternyata dana yang akan digunakan untuk keperluan pembangunan juga diambil dari dana perusahaan dengan budget yang lebih besar, akhirnya diambil alih oleh Abiyasa.
"Tapi Abi, Mama tidak bisa menunggu terlalu lama. Rumah itu adalah rumah peninggalan papanya Ajeng, dan hanya tinggal rumah itu saja aset yang Mama miliki."
__ADS_1
Ternyata butik yang dikelola oleh Endang juga sudah dijual karena merugi. Endang tidak pandai mengelola keuangan butik yang dimilikinya sehingga tidak bisa menutupi biaya operasional. Akhirnya butik tersebut dijualnya pada salah satu teman arisannya.
Abiyasa sangat memahami situasi yang terjadi pada mama mertunya. Tapi semua perlu perencanaan dan pelaksanaan, dan itu sudah diserahkan pada kontraktor yang akan melakukan pembangunan.
"Abi. Mama harap kamu bisa mempercepat pembangunannya. Mama tidak mau jika di usir dari apartemen pamanmu, karena kalian sedang berselisih. Mama tidak bisa menunggu terlalu lama."
Abiyasa menghela nafas panjang kemudian membuangnya perlahan-lahan. " Abi akan coba berusaha untuk memberikan bantuan finansial sebaik mungkin. Mama tenang saja."
"Baiklah. Mama mengerti. Terima kasih atas waktu dan perhatiannya." Setelahnya Endang segera pergi dari ruangan kerja Abiyasa.
"Terima kasih juga, Ma. Abi akan berusaha untuk membantu dan mengabulkan permintaan Mama secepatnya."
Meskipun Abiyasa berusaha untuk menenangkan Endang, ia tetap merasa khawatir dengan penglihatan demi penglihatan yang dilihatnya kemarin malam pada saat Endang datang ke apartemennya.
Beberapa praduga atau deduksi yang ada di dalam benaknya Abiyasa, sangat mengganggu pikirannya.
Endang, mama mertuanya, tidak menyukainya dan ingin menggantikannya dengan suami baru yang lebih baik. Hal ini sama seperti pada saat kasus Alex yang akan dijodohkan dengan Ajeng.
Tapi penglihatan Abiyasa juga ada pamannya. Jadi besar kemungkinan Alex dan Rian bekerjasama karena mereka merupakan orang-orang yang tidak dapat dipercaya dan bertindak dengan motif yang tidak jelas, yang memiliki dendam secara langsung dengan Abiyasa sendiri.
Endang, Alex, dan Rian memiliki rencana jahat untuk menghancurkan hidupnya. Jadi kemungkinan besar Endang dijadikan alat oleh Alex dan Rian untuk mencelakai dirinya.
"Huhfff... aku harus lebih waspada karena ini bukan hanya dari pihak luar saja, tapi dari keluarga yang sudah terang-terangan menyerang."
Rian memang sudah mulai menyerang Abiyasa secara terbuka, apalagi kepemilikan saham Aji sudah digabungkan dengan miliknya Rian. Itu artinya Abiyasa ada dibawahnya Rian.
__ADS_1
"Secara tidak langsung, paman telah merebut saham kakak. Apa kakak tidak sadar jika diperdaya oleh paman?"
Abiyasa terus berdialog dengan dirinya sendiri, memikirkan berbagai kemungkinan yang sedang dia hadapi saat ini dan kedepannya nanti.