
Aji terus memikirkan rencananya untuk membuat Abiyasa dan Ajeng merasa tidak aman di rumah sakit. Dia memutuskan untuk mempekerjakan seorang wanita untuk menyamar sebagai perawat di rumah sakit dan menyerang mereka.
Dia harus bisa menemukan dan memilih wanita itu dengan hati-hati. Dia harus cantik dan terlihat ramah. Aji menginginkan Abiyasa dan Ajeng merasa aman dengan kehadiran wanita itu, tetapi pada saat yang tepat, wanita itu akan menyerang mereka.
'Aku harus meminta Ruhian mencari perawat di rumah sakit itu, yang bisa diajak kerja sama.' Aji berkata dalam hatinya.
Akhirnya Aji menghuni Ruhian, agar segera mencari tenaga wanita yang dibutuhkan.
..."Halo Ruhian, aku butuh bantuan ini."...
..."Ya, Bos. Apa itu?"...
..."Cari perawat yang merawat Ajeng. Cari mereka yang bisa diajak kerjasama, tapi tetap pastikan dia tutup mulut!"...
..."Sip, Bos! Aku bisa diandalkan hanya untuk pekerjaan segampang itu. Hahaha..."...
..."Jangan sombong, kau! Kau sudah dua kali gagal pada targetnya, yaitu Abiyasa, meskipun tidak bisa dikatakan gagal semuanya."...
..."Yah, Bos. Itu cuma kurang pas aja waktunya. Tapi, hehehe... ini tidak akan. Pasti bisa berhasil, Bos!"...
Klik
"Hahhh! Dasar tidak becus!"
Aji membuang nafas kasar. Dia mengumpat kesombongan Ruhian, yang pada kenyataannya telah gagal mengeksekusi Abiyasa sebayak dua kali.
"Huhfff... Yayan. Harusnya ini jadi kerjaan Yayan di awal. Tapi, kenapa dia selalu gagal?" tanya Aji, yang tentunya tidak ada yang bisa memberikan jawaban secara pasti.
Sebenarnya Aji sudah tidak percaya dengan Ruhian, karena terbukti sudah dia kali gagal dalam menjalankan tugasnya. Tapi Yayan, juga tidak ada kabar setelah diberi tugas kedua. Bahkan Yayan seperti hilang ditelan bumi, karena jejaknya tidak ada sama sekali.
"Jika Yayan menghilang seperti ini, semoga saja dia sudah mati sekalian!" geram Aji saat ingat dengan Yayan.
***
Setelah perkelahian kemarin, yang terjadi antara Abiyasa, Ajeng, Indra, dengan Ruhian terjadi, kondisi Ajeng menjadi tidak stabil.
Ajeng yang terluka dan dibawa ke rumah sakit oleh Abiyasa dan Indra, sedangkan Ruhian sendiri berhasil kabur dan merasa senang karena rencananya berhasil sehingga bisa memberikan laporan kepada Aji.
__ADS_1
Setelah beberapa hari dirawat, kondisi Ajeng sudah mulai membaik. Membuat Abiyasa sedikit lebih lega, dan bisa beristirahat lenih tenang tanpa harus takut jika terjadi sesuatu pada istrinya secara tiba-tiba.
Pada suatu malam, ketika Abiyasa sedang tidur dan Ajeng sedang tertidur pulas di kamar rawat inap, ada seorang perawat wanita masuk untuk memeriksa kondisi Ajeng dan infusnya.
Tapi ternyata, perawat tersebut memasukkan atau menyuntikkan cairan ke dalam tabung infus Ajeng. Dia berharap cairan itu akan langsung bereaksi.
'Maafkan saya, Bu Ajeng. Saya terpaksa.'
Perawat tersebut mengucapkan permintaan maafnya di dalam hati, takut jika akan membangunkan Abiyasa yang sedang tidur di sofa tunggu yang ada di kamar ini.
Ternyata, perawat tersebut adalah orang suruhan Ruhian. Dia terpaksa harus mengikuti permintaan Ruhian karena membutuhkan uang yang banyak untuk pengobatan ibunya yang sedang sakit parah.
Perawat wanita itu melakukan tugas awalnya dengan sangat baik. Dia merawat Ajeng dengan penuh kasih sayang dan memastikan bahwa dia merasa nyaman di rumah sakit. Dia sering mengobrol dengan Ajeng dan Abiyasa, dan mereka berdua merasa senang dengan kehadirannya.
Namun seperti rencana sebelumnya, perawat itu memiliki rencana jahat di balik tindakannya yang baik. Dia membawa sebuah botol kecil dengan cairan bening di dalamnya. Dia menunggu kesempatan yang tepat untuk mengambil aksinya.
Dan akhirnya, malam ini dia menyelesaikan tugasnya untuk memberikan cairan racun tersebut untuk membunuh Ajeng.
Beberapa saat kemudian.
Ketika Ajeng terbangun dari tidurnya, dia merasa sangat tidak nyaman. Dia merasa pusing dan sakit kepala. Dia memanggil Abiyasa supaya memanggil perawat dan mengatakan bahwa dia merasa tidak enak badan.
Abiyasa yang masih tertidur lelap, merasa terusik. Dia membuka matanya, mengumpulkan konsentrasinya terlebih dahulu karena baru saja terbangun.
"Mas, Abi..."
"Eh, iya. Iya, sayang. Ada apa?" tanya Abiyasa gugup dan cemas.
Ketika perawat wanita tadi melakukan tindakan kejamnya pada Ajeng, Abiyasa sedang tidur sangat lelap. Dia tidak menyadari apa yang terjadi pada istrinya.
Abiyasa yang melihat kondisi istrinya yang sedang kesakitan, dengan cepat memencet tombol merah untuk memanggil perawat jaga.
Tak lama kemudian, perawat dan dokter datang dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Mereka merasa khawatir, sehingga langsung keadaan Ajeng. Namun, kondisi Ajeng sudah benar-benar tidak berdaya. Bahkan alat pendeteksi detak jantung mulai memperlihatkan garis yang melemah, dan kadang kala lurus dalam waktu yang lama.
"Segera lakukan pacu!"
"Ganti tabung infus!"
__ADS_1
Periksa tekanan darah!"
Mereka melakukan segala cara untuk menyelamatkan Ajeng. Mereka memasukkan obat-obatan yang dibutuhkan ke dalam tubuhnya dan memberikan tindakan medis yang diperlukan.
Tik tik tik tiiiiitttt....
Namun, racun itu sudah terlalu kuat dan akhirnya, Ajeng meninggal dunia.
"Maaf," kata dokter dengan kepala menunduk.
Begitu juga dengan semua perawat yang ikut bersama menangani kondisi Ajeng pada malam menjelang pagi ini.
Abiyasa yang menunggu di sudut ruangan, terkejut dengan situasi ini. Dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan, yang mengisyaratkan bahwa istrinya kini telah tiada untuk selamanya.
"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin," ujar Abiyasa dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Puk
"Maaf, pak Abi. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin," kata dokter, kemudian berlalu dari kamar rawat inap tersebut.
"Laporkan pada pihak terkait untuk tindakan selanjutnya," perintah dokter pada perawat,
"Tidak. Ini tidak mungkin."
Abiyasa tidak percaya. Dia sangat marah ketika dia mengetahui bahwa istrinya meninggal dunia. Dia yakin jika istrinya baik-baik saja pada saat tidur. Tidak mungkin tiba-tiba meninggal tanpa sebab yang jelas seperti ini.
"Tidak. Ajeng, ini tidak mungkin!"
Abiyasa merasa hancur saat tahu bahwa istrinya, Ajeng, meninggal dunia. Dia tidak bisa mengendalikan emosinya dan merasa seperti dunianya runtuh. Abiyasa sangat mencintai Ajeng dan tidak pernah membayangkan hidup tanpa kehadirannya.
Abiyasa merasa marah dan frustrasi karena tidak bisa melindungi Ajeng dari bahaya. Ia merasa bersalah karena tidak bisa mempertahankan keselamatan Ajeng dan membiarkan dia terluka dan akhirnya meninggal dunia. Ia bertanya-tanya apa yang bisa dia lakukan untuk mengubah kenyataan, namun semua terasa sia-sia.
Dia merasa kehilangan dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa sepi tanpa kehadiran Ajeng di sisinya. Abiyasa merasa kehilangan segalanya dan tidak bisa melupakan rasa sakit yang menyesakkan dadanya.
Abiyasa sangat berduka atas kehilangan istrinya. Dia merasa kehilangan sosok yang selalu memberikan dukungan dan cinta kepadanya. Setiap saat, ia merasakan kehadiran Ajeng dan mencintainya dengan sepenuh hati.
"Aku harus melakukan sesuatu."
__ADS_1
Abiyasa tahu, apa yang harus dia lakukan saat ini, untuk mengetahui keadaan istrinya yang sebenarnya beberapa jam yang lalu sebelum terbangun dan merasakan kesakitan.