Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Memang Berbeda


__ADS_3

"Mas Abi, ada kabar dari Alex? Saya mendengar ia sudah tertangkap dan terluka saat pengejaran."


Indra datang memberikan laporan bahwa Alex, dalang dari penculikan Ajeng, sudah tertangkap dan dalam keadaan terluka akibat tembakan yang dilakukan oleh pihak kepolisian saat pengejaran. Kini Alex berada di rumah sakit untuk menjalani operasi pengangkatan peluru yang ada di kaki dan punggungnya.


Laporan ini dianggap sebagai perkembangan yang signifikan dari kasus penculikan Ajeng. Penangkapan Alex oleh pihak kepolisian dapat memberikan keadilan bagi Ajeng dan membantu mengurangi ketakutan dan trauma yang ia alami.


"Benarkah? Aku belum mendapat kabar yang sama. Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Abiyasa ingin tahu.


Indra memberikan penjelasan sedikit tentang apa yang dia ketahui mengenai kejadian yang menimpa Alex.


"Dia sedang menjalani operasi pengangkatan peluru yang ada di kaki dan punggungnya di rumah sakit. Tapi menurut laporan dokter, kondisinya stabil."


Abiyasa menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang dikatakan oleh Indra. "Baiklah, aku berharap semuanya berjalan lancar dan Alex bisa mendapatkan hukuman yang setimpal. Terima kasih, Indra. Kamu sudah memberi tahu saya."


"Tentu saja, mas Abi. Oh ya, bagaimana dengan pekerjaan di kantor? Saya sudah mengecek semuanya dan semua berjalan dengan lancar. Apakah mas Abi masih ada sesuatu yang harus saya kerjakan?" Indra mulai membahas tentang pekerjaan kantor.


"Terima kasih banyak, Indra. Aku sangat menghargai bantuan mu. Kamu memang orang kepercayaan ku yang paling bisa diandalkan."


Abiyasa menepuk-nepuk pundak Indra beberapa kali, karena dia memang tahu jika Indra adalah orang yang bisa dipercaya.


"Tidak usah terima kasih, mas Abi. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan. Saya selalu siap membantu mas Abi kapan saja."


"Saya tahu, Indra. Itu sebabnya aku sangat menghargai mu sebagai orang kepercayaan yang sedari dulu selalu bisa membantuku. Semoga kita bisa terus bekerja sama dengan baik seperti ini."


Hubungan keduanya, antara Abiyasa dan Indra sebagai orang kepercayaannya, memang kuat dan Indra juga bisa memberikan bukti bahwa dia bisa dipercaya. Indra memberikan informasi yang dibutuhkan oleh Abiyasa dan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, sementara Abiyasa menghargai bantuan Indra dan menunjukkan kepercayaannya padanya.


Abiyasa mengucapkan terima kasih kepada Indra, dan menyerahkan semua urusan pekerjaan di kantor pada Indra sebagai orang kepercayaannya yang sudah terbiasa melakukan apa-apa yang harus dilakukan.

__ADS_1


Abiyasa percaya dengan Indra, karena sedari dulu hanya Indra saja yang bisa dipercaya. Tidak dengan kakaknya sendiri, dan juga pamannya yang justru memiliki niatan jahat padanya.


Abiyasa memiliki kepercayaan yang kuat pada Indra dan merasa bahwa hanya Indra yang dapat diandalkan untuk menangani urusan pekerjaannya. Hal ini mungkin terkait dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya di mana Abiyasa merasa bahwa dia tidak bisa mengandalkan orang-orang terdekatnya, termasuk kakaknya sendiri, yang sudah berusaha mencelakainya sejak masih remaja. Sedangkan pamannya, Rian, justru memiliki niat jahat padanya dengan mengadu domba dirinya dengan kakaknya, yaitu Aji.


Sayangnya, sampai saat ini Aji tidak menyadari bahwa dia dimanfaatkan oleh pamannya, yaitu Rian, yang sudah mengadu domba mereka berdua sebagai dua saudara laki-laki satu darah.


"Oh ya, apakah paman Rian masih datang ke kantor?" tanya Abiyasa, saat ingat jika pamannya itu tidak tahu bahwa dia sudah mengetahui tentang semua rencana pamannya bersama dengan mendiang Endang.


"Kadangkala datang, tapi sudah dua hari ini dia tidak datang ke kantor."


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Indra, kening Abiyasa mengernyit heran. Padahal jika tidak ada Abiyasa di kantor, pamannya itu akan berlaku seperti seorang penguasa satu-satunya di perusahaan.


"Tumben? Lalu, Elok bagaimana?" tanya Abiyasa lagi, saat teringat dengan Elok.


"Dia juga tidak datang ke kantor."


Untungnya Abiyasa bisa memanipulasi situasi sehingga keterlibatan Elok tidak terungkap dan tersentuh oleh orang-orang pamannya yang tentu saja juga orang-orang profesional. Tapi saat mendengar bahwa elok juga tidak datang ke kantor membuat Abiyasa merasa khawatir dengan keselamatan teman masa kecilnya itu.


"Ke mana mereka berdua?" tanya Abiyasa bergumam untuk dirinya sendiri.


***


Di tempat lainnya, Rian sedang menyetir mobil sendiri untuk pergi dan menghindari hal-hal yang berkaitan dengan kematian Endang, sebab Endang sudah mati akibat bunuh diri dengan meminum racun yang seharusnya diberikannya pada Abiyasa.


Rian merasa gelisah dan khawatir saat dia melihat berita tentang penangkapan Alex, dalang dari penculikan Ajeng. Rian merasa khawatir bahwa Alex akan mengatakan segalanya tentang rencananya untuk meracuni Abiyasa melalui mama mertunya, Endang, yang sekarang sudah meninggal. Rian merasa sangat terancam oleh keberadaan Alex dan merasa bahwa dia harus segera mengambil langkah-langkah untuk melindungi dirinya sendiri.


Itulah sebabnya, Rian memutuskan untuk pergi ke luar kota untuk sementara waktu dan menghindari segala hal yang berkaitan dengan kematian Endang. Dia tidak ingin menjadi tersangka dalam kasus ini, apalagi jika Alex memberitahu polisi tentang rencananya untuk meracuni Abiyasa. Rian merasa bahwa dia harus melindungi dirinya sendiri dan menemukan cara untuk menghilangkan jejaknya.

__ADS_1


"Elok, kamu bisa menggantikan aku menyetir? aku sangat lelah."


Ternyata Rian pergi keluar kota bersama dengan Elok, sekretaris sekaligus kekasih gelapnya.


"Iya, Om."


Rian menepikan mobilnya. Elok segera keluar, bersamaan dengan Rian karena mereka berdua akan berganti posisi.


Setelah mobil kembali berjalan, Elok mencoba untuk bertanya kepada Rian. "Sebenarnya kita ke mana, Om?"


"Kita akan pergi ke luar kota untuk sementara waktu atau beberapa hari. Anggap saja kita sedang liburan, Elok." Rian tidak memberi jawaban yang pasti kepada Elok.


Mendengar jawaban tersebut, Elok terdiam. Dia memang tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya, selain urusan pekerjaan dan ranjang, Rian tidak pernah melibatkan dirinya.


"Kenapa tidak ke villa saja, Om?" tanya Elok, yang sudah beberapa kali diajak Rian pergi ke villanya di puncak.


"Tidak. Anak-anak sedang berlibur di sana bersama dengan mamanya."


Elok langsung terdiam mendengar jawaban yang diberikan oleh Rian. Itu artinya, istri dan anak-anaknya Rian sedang berlibur ke villa mereka, sedangkan Rian beralasan tugas keluar kota padahal pergi bersama dengannya untuk berlibur juga.


"Kamu tenang saja, kita bukan untuk tugas kantor. Jadi, kita bisa melakukan apa-apa yang bisa membuat kita puas, Elok."


Rian mengelus lengan Elok sambil tersenyum penuh arti setelah berkata demikian. Dia memang ingin keluar dari kecemasannya yang berkaitan dengan semua masalahnya dengan Abiyasa.


'Kenapa sulit sekali untuk menyingkirkan Abiyasa sejak dulu? Dia juga tidak mudah dipengaruhi seperti Aji.'


Batin Rian bertanya-tanya tentang perbedaan Aji dengan Abiyasa. Dia sangat tahu jika kedua keponakannya itu memiliki kepribadian dan karakter yang sangat jauh berbeda.

__ADS_1


'Aku pasti bisa menyingkirkan Abiyasa secepatnya!'


__ADS_2