
Pada saat ini, Indonesia telah mencapai tahap kemajuan yang sangat pesat. Namun, dalam situasi ini, masih banyak kejahatan dan pelanggaran hukum yang terjadi, termasuk dalam kasus seperti yang dilakukan oleh Abiyasa untuk menempuh jalur hukum untuk memenjarakan pengusaha seperti Aji dan Rian. Tidak hanya itu, dalam kasus seperti itu, ada banyak koneksi yang dapat memudahkan mereka untuk keluar dari penjara dan melakukan apa saja dengan uang yang mereka miliki.
Membuat keputusan hukum yang adil dan memenjarakan pelaku kejahatan memerlukan banyak waktu, sumber daya, dan kerja keras. Namun, ketika uang dan kekuasaan terlibat, hal ini dapat menjadi lebih sulit. Dalam situasi seperti ini, orang-orang dengan koneksi dan pengaruh dapat memanipulasi sistem hukum untuk membebaskan diri dari tuntutan hukum mereka.
Dalam kasus Aji dan Rian, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk keluar dari penjara hanya dengan kedatangan pengacara dan backing penguasa negeri ini. Hukum sering tidak ditegakkan secara adil dan orang kaya serta berpengaruh dapat memanipulasi sistem hukum untuk mempertahankan kekuasaan mereka dengan uang.
Ada beberapa alasan mengapa orang-orang dengan uang dan kekuasaan dapat memanipulasi sistem hukum. Salah satunya adalah karena negara ini masih memiliki banyak celah hukum dan ketidakpastian hukum. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin melanggar hukum dan tidak ingin dikenakan sanksi yang sesuai.
Selain itu, terdapat juga isu korupsi di mana para pejabat pemerintah dapat menerima suap dari orang-orang kaya dan berpengaruh. Hal ini dapat mempengaruhi keputusan mereka dalam proses hukum, membuatnya sulit untuk menghukum orang-orang yang melanggar hukum secara adil.
Tidak hanya itu, orang-orang kaya dan berpengaruh juga dapat memanipulasi proses hukum dengan menggunakan pengaruh mereka di media. Mereka dapat menggunakan media untuk memperoleh dukungan publik atau bahkan membujuk hakim dan jaksa untuk mengambil keputusan yang menguntungkan mereka.
Esok harinya, Rian datang ke kantor dan mengatakan bahwa 60% saham perusahaan adalah miliknya karena Aji telah menyerahkan sahamnya pada Rian. Dia memaksa Abiyasa untuk menuruti perintahnya dalam peraturan perusahan sesuai dengan keinginannya.
Abiyasa merasa terkejut ketika mendengar pernyataan dari Rian. Dia tidak percaya jika Aji telah menyerahkan 60% saham perusahaan kepada pamannya, Rian. Dia tidak percaya bahwa Aji akan melakukan hal seperti itu tanpa memberitahuan terlebih dahulu. Abiyasa merasa bahwa Rian sedang mencoba memaksa dirinya untuk menuruti keinginannya dalam peraturan perusahaan.
Kemungkinan besar ini adalah akal-akalan Rian yang telah menipu Aji.
"Maaf paman Rian, tapi Abi tidak percaya dengan apa yang paman katakan. Bagaimana mungkin kak Aji menyerahkan 60% saham perusahaan tanpa memberitahu saya?" tanya Abiyasa dengan tatapan biasa saja.
Rian tersenyum sinis mengejek, saat mendengar perkataan Abiyasa yang tidak percaya dengan apa yang dia katakan.
"Paman tidak peduli apakah kamu percaya atau tidak. Yang jelas, Aji telah menyerahkan sahamnya kepada paman dan sekarang 60% saham perusahaan ada di tangan paman. Kamu harus menuruti keinginan paman dalam peraturan perusahaan."
Abiyasa mengerutkan keningnya mendengar suara Rian yang terkesan terburu-buru. Ini menandakan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada kakaknya, Aji, dengan pamannya itu.
__ADS_1
"Tapi, maaf pak Rian. Saya sebagai pemilik saham mayoritas, saya berhak untuk membuat keputusan penting dalam perusahaan. Saya tidak bisa menyerah begitu saja pada keinginan Anda."
Abiyasa mengubah cara bicaranya menjadi formal saat berbicara dengan pamannya, yang saat ini datang dengan mengaku-ngaku sebagai pemilik saham terbesar.
"Sayangnya kamu salah, Abi. Dalam peraturan perusahaan, keputusan harus disetujui oleh pemegang saham mayoritas. Dan sekarang, itu adalah saya. Jadi, kamu harus menuruti keinginan saya dalam peraturan perusahaan."
Sekarang Rian mengikuti Abiyasa dengan berbicara secara formal, sebagaimana layaknya rekan bisnis di kantor.
Abiyasa tetap tidak percaya dan bersikap tenang dalam situasi ini. Dia tahu bahwa Rian memiliki kekuatan dalam perusahaan sekarang karena memiliki mayoritas saham. Abiyasa tahu harus berbuat apa setelah ini.
"Baiklah, saya akan menuruti keinginanmu dalam peraturan perusahaan. Tapi, tolong jangan lakukan hal-hal yang merugikan perusahaan atau karyawan." Abiyasa pura-pura mengalah.
Rian tersenyum penuh kemenangan, karena merasa sudah berhasil dengan rencananya.
"Jangan khawatir, saya akan memastikan bahwa perusahaan tetap berjalan lancar dan karyawan tetap mendapatkan penghasilan yang layak. Tapi, kamu harus mengikuti keputusan-keputusan penting yang saya buat dalam perusahaan. Saya juga sudah memiliki berpengalaman yang banyak dibandingkan denganmu."
'Ada yang tidak beres.'
Abiyasa hanya bisa membatin, mengetahui keadaan mereka yang dengan mudah lepas dari jeratan hukum..
Abiyasa tentu saja tidak percaya dengan perkataan Rian yang miliki akal licik. Dia meminta pada Indra, yaitu orang kepercayaannya untuk menyelidiki apa yang terjadi di kantor polisi. Kenapa Rian dan Aji bisa keluar sebelum kasusnya di tangani secara hukum.
"Indra, tolong kamu selidiki apa yang terjadi di kantor polisi." Abiyasa memberikan tugas pada Indra.
"Baik, Pak Abi."
__ADS_1
Indra menerima perintah Abiyasa dan mulai menyelidiki kasus tersebut. Dia memulai dengan mencari tahu siapa pengacara yang membantu Aji dan Rian.
Tak butuh waktu lama, Indra sudah mendapatkan semua informasi yang dia diperlukan .
Dari informasi yang dia dapatkan, pengacara tersebut ternyata memiliki hubungan dekat dengan salah satu pejabat tinggi di kepolisian setempat. Bahkan salah satu dari lawyer tersebut adalah anggota dewan.
Indra juga memeriksa rekam jejak keuangan Aji dan Rian serta hubungannya dengan pejabat-pejabat yang memiliki pengaruh di wilayah tersebut. Dia menemukan bukti-bukti yang mengarah pada kemungkinan adanya upaya penyuapan terhadap pihak kepolisian untuk membebaskan Aji dan Rian dari tuntutan hukum.
Indra kemudian mempresentasikan bukti-bukti ini kepada Abiyasa dan menjelaskan bahwa Aji dan Rian mungkin telah menggunakan uang mereka untuk memperoleh perlindungan dari pihak kepolisian dan memanipulasi peraturan perusahaan agar Rian dapat menguasai saham mayoritas.
Abiyasa sangat terkejut dan marah mendengar hal tersebut. Dia merasa kecurigaannya ini benar-benar terbukti. Aji dan Rian yang telah memanfaatkan situasi sulit yang sedang dihadapinya. Abiyasa memutuskan untuk mengambil tindakan hukum terhadap Aji dan Rian. Dia juga akan mengganti seluruh staf di perusahaannya untuk memastikan keamanan dan ketertiban di dalam perusahaan, agar tidak ada lagi orang-orang yang berada di bawah naungan dan setia pada kakaknya, dan juga pamannya.
Indra pun dilibatkan untuk membantu Abiyasa dalam proses hukum ini dan bekerja sama dengan pihak detektif swasta untuk mendapatkan bukti-bukti agar bisa menangkap Aji dan Rian beserta pihak-pihak yang terlibat dalam tindakan korupsi tersebut.
Indra bergerak cepat untuk menyelidiki keanehan kasus Rian dan Aji. Ternyata ada backingan penguasa negeri yang membuat mereka berdua bisa keluar dengan mudah dari jeratan hukum.
Indra memperdalam penyelidikannya dan menemukan bukti yang menunjukkan bahwa ada beberapa pihak berpengaruh yang terlibat dalam membebaskan Aji dan Rian dari jeratan hukum. Ada dugaan bahwa para pihak berpengaruh tersebut telah memberikan dukungan finansial dan politik untuk mengamankan kebebasan Aji dan Rian.
Indra mengumpulkan bukti-bukti tersebut dan mempresentasikannya kepada Abiyasa. Mereka berdua memutuskan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum dan meminta bantuan dari lembaga pemerintah terkait yang berwenang untuk menindaklanjuti kasus ini.
Namun, mereka menyadari bahwa akan ada banyak rintangan dan tantangan dalam upaya mereka untuk membawa para pihak berpengaruh itu ke hadapan hukum. Para pihak tersebut memiliki kekuatan dan koneksi yang sangat besar, sehingga mereka dapat menggunakan berbagai cara untuk menghalangi upaya Abiyasa dan Indra dalam membawa kasus ini ke hadapan hukum.
Abiyasa dan Indra memutuskan untuk berhati-hati dan melibatkan berbagai pihak untuk mendukung upaya mereka, termasuk meminta bantuan dari organisasi anti-korupsi dan aktivis hak asasi manusia. Mereka juga mengajukan petisi kepada pihak berwenang dan meminta dukungan dari masyarakat untuk menekan pihak berpengaruh agar bertanggung jawab atas tindakan mereka.
Meskipun mereka menyadari bahwa perjuangan mereka akan sulit dan memakan waktu yang lama, Abiyasa dan Indra tetap bertekad untuk mengungkap kebenaran dan membawa para pelaku korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan ke hadapan hukum. Mereka berdua yakin bahwa kebenaran dan keadilan akan selalu menang pada akhirnya, dan tidak ada yang dapat menghalangi mereka dalam mencapai tujuan mereka.
__ADS_1
"Kalian akan mempertanggungjawabkan perbuatan kalian, hingga membusuk di dalam penjara." Abiyasa bergumam seorang diri.