
Elok mulai mengingat-ingat kembali peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu ketika Abiyasa meminta bantuan untuk membuka kedok Rian. Dia teringat akan permintaan Abiyasa untuk membocorkan informasi rahasia tentang Rian yang sebenarnya telah melakukan tindakan curang dalam perusahaan. Elok merasa ragu-ragu, tetapi pada saat yang sama, dia juga merasa tertekan karena harus memilih antara membantu Abiyasa atau tetap setia pada Rian. Ini sulit untuk diputuskan oleh Elok.
"Bagaimana ini?"
"Aku tidak mungkin mengkhianati kepercayaan pak Rian. Tapi aku juga ingin mendapatkan perhatian dari mas Abi."
Elok bergumam seorang diri sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.
Akhirnya Elok memutuskan untuk mengabaikan permintaan Abiyasa, karena dia tahu bahwa itu adalah tindakan yang salah. Dia tahu bahwa membocorkan informasi rahasia Rian akan merugikan perusahaan dan juga akan melanggar kode etik yang berlaku dalam pekerjaannya. Namun, sekarang dia merasa cemas dan takut karena dia khawatir bahwa Abiyasa akan semakin menjauhinya.
Elok mengambil nafas dalam-dalam dan mencoba untuk fokus pada pekerjaannya. Dia mencoba untuk melupakan masalah yang sedang terjadi dan berusaha untuk tetap profesional dalam menjalankan tugasnya. Namun, ketika dia membuka email-nya, dia melihat bahwa dia telah menerima email dari Abiyasa.
"Apa ini? Mas Abi mengirim pesan apa?"
Elok merasa tegang ketika membuka email tersebut. Dia tidak tahu apa yang akan ditulis oleh Abiyasa untuknya, dan dia merasa khawatir dengan isi email tersebut. Setelah membaca email tersebut, Elok merasa sangat terkejut. Abiyasa tidak hanya membocorkan informasi rahasia tentangnya kepada Rian, tetapi dia juga telah menuduh Elok melakukan tindakan yang tidak etis dan merugikan perusahaan karena telah bersekongkol dengan Rian yang berbuat curang.
Elok merasa sangat marah dan sedih ketika membaca email tersebut. Dia merasa sangat tertekan karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dia merasa bahwa dia telah terjebak dalam situasi yang sulit dan dia tidak tahu cara keluar dari situasi tersebut.
"Apa aku harus membicarakan tentang hal ini dengan pak Rian?" tanya Elok ragu.
"Ya. Sebaiknya aku ceritakan saja."
Elok hampir saja berbicara dengan Rian tentang email tersebut, tetapi Rian terlihat sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk mendengarkan keluhannya. Elok merasa sangat kesal dan frustasi dengan sikap Rian yang tidak peka terhadap perasaannya. Dia merasa bahwa Rian tidak peduli dengan kesulitan yang sedang dia hadapi.
"Ummm, bagaimana ini?"
__ADS_1
"Hahhh... Aku benar-benar ada di dalam situasi dilema," keluh Elok dengan menghela nafas panjang dengan mata terpejam.
Elok merasa sangat sendirian dalam situasi ini. Dia merasa bahwa dia tidak memiliki siapa-siapa yang bisa dia percayai dan dia merasa terjebak dalam situasi yang sulit.
***
Aji yang memang sekantor dengan paman Rian, marah besar saat tahu apa yang dilakukan oleh pamannya itu di kantor. Padahal dia sedang kehilangan saham 30% yang saat ini dikuasai oleh Indra. Aji marah besar sehingga meminta Rian untuk segera mengadakan meeting dadakan.
Rian berada di ruangannya, masih merasa tegang setelah beberapa dokumen hilang dari meja kerjanya. Dia mencoba fokus pada tugas-tugasnya yang masih ada, namun pikirannya seringkali terlempar pada masalah hilangnya dokumen tersebut.
Tiba-tiba, telepon Rian berdering. Rian mengambilnya dan mendengar suara Aji di seberang telepon. "Paman Rian, aku butuh Paman datang ke ruangan ku sekarang. Ada masalah serius yang harus kita bahas," kata Aji dengan suara yang terdengar tegang.
Rian langsung merasa khawatir mendengar suara keponakannya yang terdengar begitu serius. Dia merasa bahwa masalah yang harus dibahas pasti sangat penting. Rian berjalan menuju ruangan Aji dengan langkah yang cepat dan hati yang berdebar. Bahkan dia tidak sempat pamit pada Elok.
Tapi saat sampai di depan pintu ruangan Aji, Rian merusaha untuk menetralkan raut wajahnya terlebih dahulu.
"Masuk."
Rian masuk ke dalam ruang kerja Aji. Sesampainya di ruangan Aji, Rian melihat keponakannya itu sedang duduk di meja dan wajahnya yang terlihat sangat marah. Rian merasa khawatir dengan keadaan Aji, dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi.
"Apa yang terjadi, Aji?" tanya Rian dengan suara lembut.
Aji menatap Rian dengan tajam dan langsung menyampaikan masalah yang ada. "Indra, telah mengambil alih saham sebanyak 30%. Dan dia tidak akan menghentikan ekspansinya sampai dia mendapatkan kendali penuh atas perusahaan kita," ujar Aji dengan suara marah.
Rian merasa sangat terkejut mendengar kabar tersebut. Dia merasa bahwa situasinya semakin rumit dengan hilangnya beberapa dokumen penting. Rian berpikir keras tentang apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah ini.
__ADS_1
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Rian dengan suara lemah.
Aji menghela nafas dan berbicara dengan suara yang lebih tenang. "Kita harus mengadakan rapat darurat dengan seluruh anggota dewan direksi dan membahas strategi untuk mengatasi masalah ini. Kita harus menemukan cara untuk mengembalikan saham kita dan mengambil kendali penuh atas perusahaan," kata Aji.
Rian mengangguk setuju dan berjanji untuk mengatur rapat darurat secepat mungkin. Dia merasa bahwa situasi ini sangat sulit dan membutuhkan kerja keras dari seluruh tim perusahaan.
Meskipun Aji merasa sedih dan khawatir dengan kehilangan saham 30%, dia tetap berusaha untuk fokus pada solusi dan meminta bantuan pada pamannya untuk mengatasi masalah ini.
Aji masih sangat percaya dengan pamannya.
Elok duduk di meja kerjanya dan masih teringat dengan percakapan dan kejadian yang baru saja terjadi dengannya dan Rian. Dia merasa sedikit lega karena Rian akhirnya berhasil tenang setelah Elok menenangkan dan memberikan dukungan padanya dengan permainan yang mereka lakukan. Namun, tiba-tiba telepon Elok berdering dan suara Rian terdengar di seberang telepon.
"Elok, cepat datang ke ruanganku sekarang. Ada masalah serius yang harus kita bahas," kata Rian dengan suara tegang.
Elok langsung merasa khawatir dan berjalan menuju ruangan Rian dengan hati yang berdebar. Sesampainya di ruangan Rian, Elok melihat bahwa Rian sedang duduk di meja dan wajahnya yang terlihat sangat tegang.
'Apa lagi ini?' tanya Elok dalam hati.
"Elok, aku baru saja mendengar kabar bahwa Indra telah memegang 30% saham perusahaan ini. Dan itu artinya dia memiliki kedudukan yang sama denganku," ujar Rian dengan suara yang terdengar sedih.
Elok kaget mendengar kabar tersebut. Dia merasa bahwa situasinya semakin rumit karena Indra memiliki posisi yang sama dengan Rian, meskipun secara jabatan Rian lebih tinggi karena menjabat sebagai komisaris perusahaan.
"Ki-ta harus mengambil tindakan cepat untuk mengatasi masalah ini," kata Elok dengan suara sedikit gemetar.
Rian mengangguk setuju dan berjanji untuk mengadakan rapat darurat dengan seluruh anggota dewan direksi. Dia merasa bahwa situasi ini membutuhkan kerja keras dari seluruh tim perusahaan.
__ADS_1
Elok sendiri benar-benar kaget saat tahu jika Indra, rekan bisnis Aji yang baru, telah memegang 30% saham perusahaan Aji. Itu artinya kedudukan Indra sama seperti Rian, meskipun secara jabatan Rian sebagai pamannya Aji jauh lebih tinggi karena menjabat sekaligus menjabat sebagai komisaris perusahaan.